Tiga Kelompok Manusia Dalam Menyikapi Nash-Nash Tentang Hari Kiamat & Tanda-Tanda Kedatangannya.

Posted on

Secara umum, manusia terbagi menjadi tiga kelompok di dalam menyikapi nubuwat Rasulullah Saw tentang peristiwa-peristiwa akhir zaman:

Pertama: Kelompok yang beriman dan yakin dengan semua yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw tentang dekatnya kehancuran alam semesta (kiamat), yang itü semua didahului dengan tandatanda kecil dan beşar yang mendahuluinya. Kelompok ini terbagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Mereka yang menerima nash-nash tersebut apa adanya.
  2. Mereka yang menerima nash-nash tersebut dengan penuh keyakinan, namun bersikap melampaui batas dalam menterjemahkan sekaligus mengaktualisasikan.
  3. Kelompok yang menerima nash-nash tersebut dengan penuh keyakinan, bahwa semua itu benar apa adanya dari Nabi Saw.

Kedua: Mereka yang kurang peduli dengan nash-nash tentang peristiwa akhir zaman dan tidak banyak mengkajinya karena dianggap kurang realistis dan bukan masanya. Mereka menganggap bahwa pembicaraan tentang petaka akhir zaman sebagai penghalang menuju kemajuan, karena merasa telah dibatasi Oleh takdir tentang berakhirnya alam semesta. Apalagi jika peristiwa akhir zaman itu dikaitkan dengan kemenangan umat Islam di bawah kepemimpinan Al-Mahdi yang akan menaklukkan seluruh dunia, mereka menganggapnya hanyalah ilusi dan mimpi kosong. Kelompok ini ini terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Mereka yang secara lahir adalah kelompok ilmuan (ulama) yang banyak bergelut dengan dunia ilmu dan penelitia. Mereka menakwilkan hadits-hadits tentang akhir zaman dan hanya mau menerima yang bisa diterima oleh akal dan sesuai dengan logika.
  2. Mereka yang secara umum termasuk umat islam yang tidak memiliki kepedulian terhadap ilmu syar’i, tidak pernah mempelajari perkara-perkara iman kecuali sebatas jumlah dan nama rukun iman.

Ketiga: Mereka yang tidak yakin akan datangnya kiamat. Kelompok ini banyak diwakili oleh kebanyakan bangsa barat atau timur (semisal Jepang dan Korea) yang tidak mengimani adanya hari akhir. Kelompok ini didominasi Oleh mereka yang tidak menganut agama samawi. Kecanggihan teknologi yang mereka miliki menjadikan mereka memiliki kesimpulan tersendiri tentang nasib dunia di masa mendatang. Termasuk kelompok ini adalah darwinisme dan mereka yang sepaham dengannya.

Secara umum setiap agama samawi (Islam, Kristen, dan Yahudi) mengajarkan keyakinan tentang datangnya hari pembalasan. Masing masing agama samawi itu memiliki kitab suci yang menginformasikan tentang kepastian adanya hari kiamat. Bahkan Taurat dan Injil banyak mewartakan kisah-kisah tentang peristiwa akhir zaman secara berlebih-lebihan.

Adapun mereka yang mengingkari adanya kiamat, mungkin lebih disebabkan oleh pengaruh pemikiran dari luar agama mereka yang lebih bernilai politis. Di satu sisi mereka merasa memiliki teknologi yang sangat modern untuk meneliti tentang hakikat alam semesta, hingga bisa menyimpulkan bahwa matahari masih akan bersinar 5 milyar tahun lagi, namun mereka juga memiliki misi untuk menggiring manusia agar tidak mengekor kepada agama yang terlalu banyak membelenggu. Mereka ingin membuktikan bahwa banyak ajaran agama (terkhusus Islam) yang sangat tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan modern, tidak realistis dan sulit diterima akal. Sehingga, jika mereka berhasil meyakinkan manusia akan sesatnya kehidupan beragama, maka dengan mudah mereka meyakinkan manusia bahwa kebenaran selalu bersama mereka, bersama teknologi modern yang mereka miliki.

Demikianlah berbagai golongan manusia dalam menyikapi berbagai fitnah akhir zaman dan tanda-tanda yang mengiringinya. Sikap terbaik yang harus diambil oleh setiap muslim dalam menghadapi semua itu adalah sebagaimana yang diambil oleh golongan pertama dari kelompok terakhir, yaitu mereka yang menerima nash-nash tersebut dengan penuh keyakinan, lalu berusaha untuk mengambil posisi yang benar terhadap hadits-hadits tersebut secara proposional. Mereka tidak cuek dan tidak terlalu kaku, namun tidak juga terlalu ekstrim dan berlebihan. Mereka berusaha menjadikan semua nash-nash nubuwah Rasulullah Saw sebagai pijakan hidup, agar setiap langkah mereka tidak keliru. Mereka juga selalu mencari tahu tentang hakikat sebenarnya dari hadits-hadits fitnah, dengan maksud agar mereka selamat dari fitnah tersebut tanpa melakukan pemastian-pemastian pada hal-hal yang belum qath’i.

Terhadap fitnah Dajjal, mereka sangat waspada jika suatu ketika mereka berada di zamannya. Maka pada setiap shalat yang mereka lakukan selalu diiringi dengan doa perlindungan fitnah Dajjal. Mereka juga melakukan persiapan-persiapan amal nyata, jika suatu ketika apa yang diisyaratkan oleh Rasulullah Saw benar-benar nyata di depan mata. Termasuk di antara persiapan pokok yang mereka lakukan adalah mengkaji dan memahami dengan benar hakikat Dajjal dan fitnahnya. Mereka dalami dalil-dalil yang berkaitan dengannya, mereka bicarakan persoalan ini, dan mereka sebarkan kepada umat di sekitarnya. Sebab, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah Saw, sesungguhnya Dajjal akan muncul di saat manusia sudah banyak melupakannya, di saat para khatib dan imam tidak lagi menyebut dan memperbincangkannya di mimbar-mimbar mereka.  Mereka lakukan semua ini agar umat selamat dari fitnah dan bahaya Dajjal yang sewaktu-waktu menghampiri mereka. Wallahu a’lam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *