6 Gambaran Surga Menurut Islam (Tersebut dalam Al-Quran)

Surga Menurut Islam

Gambaran Surga Menurut Islam – Sepanjang yang bisa saya ingat, ada gambaran tertentu tentang Surga dan Neraka yang digambarkan dalam budaya populer saat ini. Surga selalu bercahaya, putih, dan di awan, sementara neraka gelap, merah, dan berapi-api di bawah tanah. Kami selalu ingat dan melihat adegan ini sebagai seorang anak, tetapi selalu ada suasana komedi di dalamnya. Dalam Islam, tidak ada yang lucu tentang topik Surga dan Neraka – mereka adalah kenyataan yang sangat serius.

Surga dan Neraka sering menjadi tema yang diulang dalam Al-Qur’an, karena itu berfungsi sebagai pengingat bagi umat manusia tentang sifat sementara dunia ini. Seseorang akan diwafatkan dan dimintai pertanggung jawaban atas tindakan mereka selama hidup di bumi ini, dan pada akhirnya, mereka akan berakhir di Surga atau Neraka. Tempat-tempat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dapat berfungsi sebagai motivasi bagi orang untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan yang buruk. Di bawah ini hanya beberapa ayat tentang Surga. Mereka melukis gambar indah pemandangan yang menanti orang-orang yang menghabiskan hidup mereka demi melakukan amalan yang baik.

Gambaran Surga Menurut Islam
Gambaran Surga Menurut Islam

6 Gambaran Surga Menurut Islam Berdasarkan Al-Quran

Baca: 7 Orang Yang Diriwayatkan Tidak Bisa Mencium Bau Surga

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًا ۗوَلَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah [2]: 25)

Ungkapan “taman di bawah aliran sungai” adalah pemandangan yang sangat umum digambarkan tentang Surga yang kekal. Gambaran yang lain juga menyebutkan bahwa disana subur, hijau, dan kehidupan juga penuh dengan kesejukan.

يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَّجَنّٰتٍ لَّهُمْ فِيْهَا نَعِيْمٌ مُّقِيْمٌۙ [21] خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗاِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ [22]

Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridaan dan surga, mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya, [21] mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, di sisi Allah terdapat pahala yang besar.[22]” (QS At-Taubah [9]: 21-22)

Penghargaan yang terbesar adalah keridhoan Allah, karena keridhaan adalah sesuatu puncak yang paling dicari selama hidupnya. Surga adalah hasil dari kerja keras itu, tetapi pada akhirnya persetujuan, cinta, dan kabar-Nya adalah apa yang kita harapkan dapat dicapai.

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ يَهْدِيْهِمْ رَبُّهُمْ بِاِيْمَانِهِمْۚ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ [9] دَعْوٰىهُمْ فِيْهَا سُبْحٰنَكَ اللهم وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلٰمٌۚ وَاٰخِرُ دَعْوٰىهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ [10]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai.[9] Doa mereka di dalamnya ialah, “Subhanakallahumma” (Mahasuci Engkau, ya Tuhan kami), dan salam penghormatan mereka ialah, “Salam” (salam sejahtera). Dan penutup doa mereka ialah, “Al-hamdu lillahi Rabbil ‘alamin” (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam).[10] (QS Yunus [10]: 9-10)

Dua ayat ini menggambarkan seperti apa keindahan dan kedamaian surga nantinya. Bagi seorang mukmin yang selama kehidupan ini hanya mencari keridhaan Allah, tidak ada kenyamanan dan kesenangan yang lebih besar daripada mendengar salam damai dari Penciptanya di tempat tertinggi Surga.

اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُ يُحَلَّوْنَ فِيْهَا مِنْ اَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَّيَلْبَسُوْنَ ثِيَابًا خُضْرًا مِّنْ سُنْدُسٍ وَّاِسْتَبْرَقٍ مُّتَّكِىِٕيْنَ فِيْهَا عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِۗ نِعْمَ الثَّوَابُۗ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا

“Mereka itulah yang memperoleh Surga ‘Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; (dalam surga itu) mereka diberi hiasan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. (Itulah) sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah.” (QS Al-Kahfi [18]: 31)

Dalam ayat di atas, kita mendapatkan deskripsi yang nyata dan terperinci tentang apa yang akan menghiasi penghuni surga — emas dan sutra. Mereka akan berada di ruang yang paling nyaman dan mewah dengan keabadian.

فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِۙفِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِۙ

“di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan,” (QS As-Saffat [37]: 43)

Kesenangan lain dari Surga adalah buah dan minumannya. Setiap kali saya memotong berbagai jenis buah, saya selalu diingatkan akan Allah dan kebesaran-Nya – ada kerumitan dan keunikan di setiap buah. Pisang, jeruk, delima, kiwi, anggur … dan hanya itulah yang makan di Dunia! Kami bahkan belum pernah mendengar atau memimpikan apa yang tersedia di belahan dunia lain, apalagi Firdaus. Ayat ini juga menggambarkan minuman khusus Surga, yang tidak seperti minuman di dunia ini, tidak menyebabkan bahaya dan hanya menghasilkan sukacita dan kepuasan.

فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍۙ

(mereka) dalam surga yang tinggi, (QS Ghasiyah [88]: 10)

Baca: Calon Istri-Istri Penghuni Surga Allah SWT

Di sini juga, kita mendapatkan lebih banyak gamabaran kenyamanan di Firdaus. Sofa, bantal, karpet, dan lainnya (tidak ada ucapan yang buruk!) seperti Kencing hewan peliharaan. Kita selalu mendengar orang-orang melemparkan kata-kata kasar. Allah menjanjikan menghapus pembicaraan yang sia-sia atau vulgar di tempat seperti Surga, yang pastinya adalah sesuatu yang dinanti-nantikan.

Calon Istri-Istri Penghuni Surga Allah SWT

Seorang lelaki datang menghampiri Rasulullah SAW, Sekonyong-konyong, Muadz nama lelaki itu, menghampiri kaki Baginda Nabi Muhammad dan bersujud di hadapannya.
Maka, Rasulullah pun menegur Muadz. “Apa yang kau lakukan ini, wahai Muadz?” Dia lantas menjawab, “Aku mendatangi Syam, aku dapati mereka (penduduknya) sujud kepada uskup mereka. Maka aku berkeinginan dalam hatiku untuk melakukannya kepadamu, wahai Rasulullah.”
Rasulullah SAW pun melarang Muadz. “Jangan engkau lakukan hal itu karena sungguh andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabb-nya sampai ia menunaikan hak suaminya. Seandainya suaminya meminta dirinya dalam keadaan ia berada di atas pelana (hewan tunggangan) maka ia tidak boleh menolaknya.”

Hadis yang diriwayatkan dari sahih Ibnu Majah dan sahih Ibnu Hibban dari Abdullah Ibnu Abi Auf RA tersebut menggambarkan betapa seorang istri harus taat kepada suami. Islam meninggikan kedudukan seorang suami sebagai imam sehingga istri harus patuh.

Ketaatan seorang istri kepada suami merupakan bagian penting yang harus diperhatikan oleh seorang istri. Ketaatan kepada suami menunujukkan kesalehan seorang istri. Hal ini dapat kita pahami dari firman Allah SWT yang termaktub dalam Alquran surah an-Nisa (4) ayat 34.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian, jika mereka menaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”

Ketika seorang istri taat dan patuh kepada suaminya, akan menjadi sebab bagi sang istri mendapatkan surga. Sebaliknya, pembangkangan seorang istri terhadap suaminya akan berakibat mendapatkan laknat Allah dan di akhirat masuk neraka.

Dalam saahih Ibnu Abi Hatim dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Artinya : “Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.” (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).

Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

Artinya : “Jika seorang suami mengajak istrinya berhubungan dan istri menolak, lalu suami marah kepadanya sepanjang malam, para malaikat melaknat istri itu sampai pagi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, bisa dikatakan, bila surganya anak itu terletak pada telapak kaki (keridaan) ibu, surganya istri itu terletak pada telapak kaki (keridaan) suami. Dari Ummu Salamah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا رَاضٍ عَنْهَا دَخَلَتِ الْجَنَّةَ

Artinya : “Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridoa kepadanya niscaya ia akan masuk surga.”(HR Tirmidzi)

Untuk itu, seorang istri yang ingin dimasukkan ke surga, hendaknya ia selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mencari keridaan suami dengan cara taat dan patuh kepada suaminya. Ketaatan sepanjang suaminya itu tidak memerintahkan dan mengajak kepada kemaksiatan dan kemungkaran. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada khalik (Allah).”
Hadits lain yg menjelaskan ttg jalan seorang istri menuju surga dgn mndpt keridhoan suami,

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟قُلْنَا بَلَى يَا رَسُوْلَ الله كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى

Artinya : “Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380)

Bakti istri kepada suami berbalas ridha Allah.Lakukan baktimu dgn niat ikhlas karena Allah,berusaha sungguh-sungguh dan lakukan dengan cara yg baik.
Istri yang menginginkan hidup penuh dengan kebahagiaan bersama suaminya adalah istri yang tidak mudah marah.Dan niscaya dia pun akan meredam kemarahan dirinya dan kemarahan suaminya dengan cinta dan kasih sayang demi menggapai kebahagiaan surga.

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang2 yang berbuat kebajikan”. (Qs. Ali-Imran: 134)
apabila suami tidak ridha, Allah pun tidak memberikan keridhaan-Nya.para malaika akan melaknat istri yang durhaka. Rasulullaah  bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا تَرْتَفِعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ

Artinya : “Ada tiga kelompok yang shalatnya tidak terangkat walau hanya sejengkal di atas kepalanya (tidak diterima oleh Allah).Orang yang mengimami sebuah kaum tetapi kaum itu membencinya, istri yang tidur sementara suaminya sedang marah kepadanya,dan dua saudara yang saling mendiamkan (memutuskan hubungan).” (HR. Ibnu Majah)