Bacaan Sholawat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam

BACAAN SHOLAWAT NABI

Hadis Riwayat – Sholawat adalah suatu bentuk pujian kita sebagai umat Muslim kepada Rasulullah Muhammad SAW dan menjawab sholawat pun merupakan suatu kewaiban bagi setiap muslim. Bacaan sholawat Nabi sebaiknya dijadikan sebagai amalan sehari-hari agar kita mendapatkan suatu pertolongan kelak di akhirat. Bagi seorang muslim yang dalam hidupnya selalu membaca/melantunkan bacaan sholawat tentu akan mendapatkan pertolongan syafaat di akhirat kelak.

Ketika seorang muslim melantunkan membacakan Sholawat secara otomatis setiap hari maka  akan mengurangi beban dan menjadikan hidup lebih tentram setiap harinya, karena Sholawat dapat menentramkan dan membuka hari yang gelisah.

Pengertian Sholawat Secara Bahasa dan Istilah

Secara bahasa Sholawat adalah bentuk jamak dari kata Salla yang memiliki arti; doa, keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah. Jadi bisa disimpulkan bahwa Sholawat secara bahasa bisa diartikan sebagai do’a.

Sedangkan Shalawat menurut istilah adalah pujian kepada Nabi. Dalam surat Al-ahzab ayat 56 Firman Allah menyebutkan,

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. – Al-Ahzab: 56.

Kemudian dari ayat tersebut Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya ketika manafsirkan ayat tersebut, bahwa Imam Bukhari meriwayatkan Abu Aliyah berkata:
Shalawat adalah:

  • Apabila Shalawat dari Allah.SWT kepada Nabi berarti memberikan rahmat dan kemuliaan (Rahmat Tadhim)
  • Apabila Shalawat dari Malaikat kepada Nabi berarti memohonkan ampunan
  • Apabila Sholawat dari golongan yang beriman (Jin dan Manusia) berarti berdoa supaya diberikan rahmat dan kemuliaan

Dalil Tentang Membaca Shalawat Nabi

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian kuburan dan jangan lah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, bersholawatlah kepadaku karena sesungguhnya ucapa sholawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada.” – (H.R. Abu Daud No. 2044 dengan Sanad Hasan)

Hukum Membaca Sholawat Nabi

Berbicara hukum membaca Sholawat ada berbagai pendapat dari Ulama, ada yang Wajib Bil Ijmal, Wajib satu kali seumur hidup, ada juga yang berpendapat Sunnah. Pendapat yang paling mayshur adalah Sunnah Mu’akkad, akan tetapi membaca sholawat pada akhir Tasyahud Akhir dari Sholat adalah wajib, oleh karena itu sudah menjadi rukunnya sholat.

Macam-macam Bacaan Sholawat

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ

“Allahumma Sholli ‘Ala Muhammad An Nabiyyil Ummiyyi.” (Ya Allah, berilah Shalawat kepada Muhammad Nabi yang Ummi)”. Fadhlu Ash Sholah ‘Alan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam no. 60 Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadist ini shohih.

اللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Allahumma Sholli ‘Ala Muhammad Wa’Ala Ali Muhammad Kama Shollaita ‘Ala Ali Ibrahim, Innaka Hamidun Majid.” (Ya Allah, berilah Shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya, karena engkau memberi shalawat kepada kerabat Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia). Fadhlu Ash Sholah ‘Alan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam no. 56 Syaikh Al Albani mengatakan bahwa Sanad hadist ini shohih.

“Allahumma Shollu Wa Sallim ‘Ala Nabiyyina Muhammad” (Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada nabi kamu Muhammad) dibaca sebanyak 10 kali, pada pagi hari maupun sore hari. “Barang siapa yang bersholawat untukku 10 kali pada pagi hari dan 10 kali pada sore hari, maka ia mendapat syafa’atku pada hari kiamat. (H.R. At-Thabrani)

Keistimewaan dan Tata Cara Sholat Tahajud

Hadis Riwayat – Shalat malam dibagi menjadi 2 sifat. Ada yang dikerjakan sebelum tidur dulu, lalu ada yang dikerjakan setelah tidur. Jika dilakukan setelah tidur dulu melangkah untuk bangun mengerjakan shalat maka itu disebut dengan tahajud. Tahajud berasal dari kata (hajada) yang artinya berbaring kemudian bangkit untuk menjemput rahmat Allah.

Allah Ta’ala menjamin dan akan memberikan empat hal kepada orang-orang yang melakukan tahajud dan keempat hal ini tidak akan pernah ini diberikan kepada orang yang tidak melakukan tahajud sekalipun shalat fardhunya khusyuk luar biasa. Dimisalkan ketika kita shalat 5 waktu tepat waktu, dilakukan dengan khusyuk bahkan sambil menangis tersedu-sedu tetapi kita tidak tahajud maka kita tidak akan dapat keempat hal ini:

  1. Allah akan menjamin karir pekerjaannya dan ditempatkan ditempat yang terbaik.
  2. Cara dia bekerja, beraktifitas akan dibimbing supaya mudah.
  3. Jika ada kesulitan dibimbing supaya keluar dengan lancar
  4. Jika ketika sedang bekerja ada yang mengganggunya (ingin menyingkirkannya) Allah akan tolong langsung tanpa perantara.

Dalilnya jelas, disebutkan didalam Al-Quran, Allah Berfirman,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji [79]. Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong [80]. Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap [81].” –  Al-Isra 79-81.

Tata Cara Sholat Tahajud

Kaidah umumnya tahujud itu tidak memiliki batas rakaat. Nabi pernah menyampaikan pada HR. Ibnu Umar, bahwa “Shalat malam itu cara menunaikannya dua-dua (jadi du rakaat salam, dua rakaat salam). Jika sedang menunaikan shalat tahajud, tiba-tiba tidak sadar sudah dekat ke subuh maka tutup langsung dengan sekali witir.” Jadi aturan umum yang dilakukan pada saat malam hari itu umumnya tak terbatas jumlah rakaatnya. Jika ingin dilakukan maka mulailah dengan (dua rakat dua rakaat).

Jumlah Rakaat yang Dilakukan Nabi

Tata cara sholat Tahajud yang Nabi lakukan kadang shalat dengan 13 Rakaat dikatakan jika beliau tinggal di rumah Maimunah r.a., Terdapat pada hadis shahih (Abu Daud no 1367), Diriwayatkan langsung oleh Ibnu Abas yang pada saat itu menunaikan Shalatnya bersama Beliau. Dan Jika Beliau sedang menginap di rumah Aisyah, jumlah rakaat yang sering dilakukan adalah 11 rakaat (hadisnya Shahih Al bukhari no 3569 muslim no 731). Beliau pun menyampaiakna bahwa jika dilakukan dengan 11 rakaat bisa dengan 2 cara.

Pertama (yang dilihat oleh Aisyah langsung), beliau melakukan shalat tahajud dengan 4 rakaat salam, 4 rakaat salam dan witir 3 rakaat sekaligus (satu salam). Tetapi ketika nabi menyampaikan kepada sahabat yang lain 11 ini diberi pilihan menjadi 2 rakaat kemudian salam. Jadi jika kita ingin menunaikan 11 rakaat boleh 4 rakaat kemudian salam sebanyak (2x) dengan 3 rakaat witir kemudian salam, atau boleh juga  2 rakaat satu salam sebanyak (4x) kemudian dilanjutkan shalat witirnya bisa 3 rakaat satu salam atau 2 rakaat satu salam ditambah 1 rakaat satu salam.

Keutamaan Shalat Tahajud yang Tercantum dalam Al-Qur’an

Orang yang melakukan sholat tahajud itu, disebut sifat shalatnya akan lebih khusuk, mendapat anugerah kebaikan saat didunia, dan langsung dipuji oleh Allah,

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” – Az-Zumar 9

Ayat diatas mempunya maksud bahwa apakah sama diantara orang-orang yang suka bangun malam dengan khusuk kemudian sujud berdiri lama karena Allah Ta’ala dengan orang orang yang tidak beriman. Sedangkan orang yang bangun dimalam hari ini [1] dia takut jika di akhirat dia tidak akan selamat dan [2] dia mengharap rahmatnya Allah. Jadi  Allah memberikan kesempatan bangun untuk kita agar mau  meminta apapun pada-Nya, dan Allah akan memberikannya. Firman Allah,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.-  Al-Mu’min 60

Dan yang terakhir Allah akan sediakan surga khusus bagi orang-orang selalu menunaikan tahajud (Surga di taman surga jika anda butuh apa apa maka langsung Allah yang kasih). Mereka langsung dibalas oleh Allah jika menginginkan apapun dan langsung Allah yang berikan. Sungguh mereka adalah orang yang ihsan di dunia. Dan ternyata ciri surga yang khusus ini akan diberikan kepada orang-orang yang konsisten tahajud yaitu orang-orang yang ketika didunia sedikit tidurnya untuk dia hidupkan malamnya dengan tahajud.

Inilah Tulisan yang dapat sya bagikan pada kalian semua, apabila ada yang ingin ditanyakan silahkan tinggalkan di komentar.

Sunnah Rasul Sebelum Tidur

Dalam islam segala aktivitas yang dikerjakan bias jadi bernilai pahala ibadah, bahkan itu termasuk tidur. Lalu bagaimanakah tidur yang bernilai ibadah itu? Tentu saja sesuai dengan Sunnah Rasulullah yang telah beliau contohkan, dengan begitu insya Allah kita akan mendapatkanmanfaat kesehatan dan kebaikan di akhirat kelak. Berikut ulasan sunnah Rasulullah sebelum tidur:

Tidurlah dalam keadaan berwudhu

Hal ini berdasarkan hadits Al Baro’ bin ‘Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dari al Barra bin Azib, bahwa Rasululah bersabda,”Jika engkau hendak menuju pembaringanmu, maka berwudhulah seperti engkau berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlahlah di rusukmu sebelah kanan lalu ucapkanlah doa:” Ya Allah sesungguhnya aku menyerahkan jiwaku hanya kepadaMu, kuhadapkan wajahku kepadaMu, kuserahkan segala urusanku hanya kepadamu, kusandarkan punggungku kepadaMu semata, dengan harap dan cemas kepadaMu, aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus” dan hendaklah engkau jadikan doa tadi sebagai penutup dari pembicaranmu malam itu. Maka jika enkau meninggal pada malam itu niscaya engkau meninggal di atas fitrah” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710).

Tidur berbaring menghadap sisi kanan

Hal ini berdasarkan hadits di atas. Adapun manfaatnya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, “Tidur berbaring pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar seseorang tidak kesusahan untuk bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung. Sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi badan (namun membuat seseorang semakin malas)” (Zaadul Ma’ad, 1/321-322).

Meniup kedua telapak tangan sambil membaca surat pendek

Surat pendek yang Rasulullah baca ialah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas, masing-masing sekali. Setelah itu mengusap kedua tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh istrinya ‘Aisyah.

Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017).

Membaca ayat kursi sebelum tidur

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi“. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan“. (HR. Bukhari no. 3275)

Membaca doa sebelum dan sesudah tidur

Dari Hudzaifah, ia berkata,

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari no. 6324)

Semoga bermanfaat dan selamat mempraktekan

Tata Cara Bersuci Saat Istihadhah

Darah istihadhah seringkali membuat bingung kaum hawa. Pasalnya, darah ini datang diluar kebiasaan haid namun sulit membedakannya dengan darah haid. Kebingungan pun makin menjadi ketika hendak beribadah, mengingat keduanya memiliki hukum fiqh yang berbeda.

Keabsahan ibadah yang berkaitan dengan keduanya sangatlah berbeda. Jika haid dihukumi seperti nifas, yakni dilarang shalat, puasa dan ibadah lain, maka istihadhah tidaklah demikian. Muslimah yang mengalami istihadhah masih diwajibkan shalat dan puasa layaknya saat suci. Hanya saja, ada aturan-aturan bersuci sebelum melakukan shalat.

Namun sebelum melakukan tata cara bersuci istihadhah, hendaklah dipastikan terlebih dahulu bahwa darah yang keluar bukanlah darah haid. Hal ini terkait dengan mandi wajib yang memisahkan haid dengan istihadhah. Perhitungan hari juga patut dilakukan dalam kondisi tertentu.

Menurut Syaikh As Sa’di ada tiga kondisi yang perlu diperhatikan terkait haid dan istihadhah. Berikut ketiganya secara berurutan;

1. Pertama yakni menyesuaikan kebiasaan tanggal haid

Jika darah keluar bukan di tanggal biasa haid, maka itu adalah istihadhah. Begitu pula jika darah keluar terus menerus melebihi tanggal biasa haid, maka sisa hari dihitung sebagai istihadhah. Usai tanggal biasa haid, diharuskan bersuci dan mandi wajib. Jika darah tetap keluar, maka itu istihadhah dan tetap dianggap telah suci.

2. Kondisi kedua yakni jika wanita tak memiliki kebiasaan haid yang teratur

Tanggal biasa haid nya selalu berubah. Untuk kondisi ini, maka cara membedakan istihadhah dan haid dengan melihat sifat darah. Darah haid identik kental, berbau busuk dan berwarna gelap. Sementara darah istihadhah nampak cair, tak berbau dan merah terang.

3. Kondisi terakhir yakni jika tak dapat membedakan sifat darah dan tak memiliki kebiasaan haid teratur

Hal ini tentu menyulitkan untuk mengetahui perbedaan antara haid dan istihadhah. Menurut As Sa’di, jika terjadi kondisi demikian maka hitunglah enam hingga tujuh hari setiap bulannya. Hitungan tersebut dianggap sebagai waktu haid. Selepas itu, mandi wajib dan menjalankan ibadah seperti biasa meski masih keluar darah. Karena selepas hitungan sepekan dianggap darah istihadhah.

Lalu bagaimana bersuci dari istihadhah? Pada dasarnya istihadhah layaknya saat suci tak keluar darah apapun. Semua hukum fiqh wanita istihadhah pun sama dengan wanita suci. Hanya saja, ada pengecualian saat hendak shalat. Ada aturan ataupun tata cara yang perlu dilakukan wanita istihadhah sebelum beribadah.

Cara pertama yakni dengan mencuci bekas darah istihadhah setiap kali hendak shalat. Pastikan tidak ada bekas darah yang menempel di tubuh saat shalat. Kemudian selanjutnya, berwudhu setiap kali hendak shalat. Maksudnya, wanita istihadhah tidak dapat melakukan satu kali wudhu untuk beberapa waktu shalat. Ia diharuskan berwudhu setiap hendak shalat meski tidak ada yang membatalkan wudhunya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah kepada Fatimah Bintu Abis Hubaisy ketika sang shahabiyah bertanya perihal istihadhah, “Kemudian wudhu’lah engkau setiap kali hendak shalat,” (HR. Al Bukhari).

Lalu tata cara berikutnya, yakni menyumbat aliran darah agar tidak keluar. Ini bisa dilakukan dengan menggunakan kain, kapas ataupun pembalut. Hamnah bintu Jahsyin bertanya kepada nabi mengenai istihadhah yang selalu menimpanya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberikan tuntunan, “Aku arahkan agar kau menggunakan kapas, karena dia akan bisa menahan darah,” sabda nabi. Namun kemudian Hamnah berkata, “Sesungguhnya alirannya deras sekali”. Nabi kemudian bersabda, “Jikalau begitu pakailah kain.” Namun Hamnah berkata masih terlalu deras. Beliau bersabda, “Ikatlah dengan kuat,” HR. Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ahmad.

Dalam hadits lain, Rasulullah bahkan memaklumi jikalau darah istihadhah terlalu deras dan tak dapat disumbat saat shalat. Beliau bersabda kepada Fathimah bitu Abi Hubaisy, “Kemudian shalatlah walaupun darah tetap keluar dan menetes di alas shalat,“ (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Doa Pagi Hari Rasulullah SAW (Ilmu Yang Bermanfaat)

Doa Pagi Hari Rasulullah

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas bab tentang ilmu yang bermanfaat bagi kita semua, bermanfaat bagi orang tua dan bermanfaat bagi sesasama manusia. Ada sebuah nasehat, yang disampaikan oleh salah satu seorang ulama yang mengatakan :

يَا ابْنَ آدَمَ, إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ, إِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

Artinya      : Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, apabila berlalu satu hari maka berlalu pula bagian darimu.” (Al Hilyah: 2/148 dan dalam Siyar A’lam Nubala: 4/585)

Wahai anak Adam, engkau itu hanyalah kumpulan hari-hari (manusia hanyalah kumpulan hari-hari), kalau satu pergi ketika matahari tenggelam diufuk barat maka sebagian dari dirimu telah pergi. Tinggal menanti dimana pada suatu saat hari-hari milik kita tinggal sedikit. Dari yang mungkin ribuan hari milik kita akan tersisa satu minggu, kemudian akan tersisa dua hari, satu hari dan kemudian selesai. Maka bagaimana kita menjadikan hari-hari yang Allah berikan kepada kita ini menjadi hari-hari yang indah, menjadi hari-hari yang berbalut dengan rahmat. Karena tidak sedikit dari manusia yang modalnya (waktu) tinggal sedikit tetapi dia tidak sadar.

Pernah seorang alim ulama mendapatkan berita, bahwa sohibnya sekarang sudah menjadi orang yang sangat kaya raya, yang memiliki harta yang bertumpuk-tumpuk, sibuk mencari dunianya. Lalu sama alim ulama ini ditanya tentang sohibnya terhadap orang yang memberi berita tersebut, “Apakah temanku yang mengumpulkan harta banyak juga mengumpulkan waktu, juga ikut mengumpulkan hari-hari untuk membelanjakan harta yang dia kumpulkan?”
maka orang itu menjawab, “ya tidak mungkinlah, tidak mungkin manusia bisa satu hari dari hidupnya, tidak bisa”.
kata alim ulama ini, “kalau seperti itu dia tidak mengumpulkan apapun”.
Kalu kita mengumpulkan harta tapi tidak mengumpulkan hari, terus buat apa itu harta. Kapan akan engkau infaqkan harta tersebut. Dan terbukti tidak sedikit orang yang mengumpulkan harta waktunya habis, modal utama dia (waktu) habis, sehingga belum sempat dia menikmati semua hartanya.
Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengajarkan kepada kita bagaimana hari-hari kita ini bisa menjadi hari-hari yang indah, bahkan didalam hadis yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, hadis Ibnu majah dan di sahihkan oleh Syekh Al-BAni.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika memasuki waktu pagi hari beliau selalu berdoa :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Artinya      : Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima. (HR. Ibnu As-Sunni dan Ibnu Majah)
Memulai harinya dengan sebuah doa “Ya Allah, aku memohon kepadamu”. Subhanallah, Tauhid seorang hamba tidak meminta kecuali kepada sang pencipta, tidak memohon kecuali kepada Allah Jalla-Jalaluhu. Disini kita juga diajarkan bahwa seorang muslim tidak perlu malu untuk memohon kepada sang pencipta, tidak perlu apa yang diucapkan pada lidah kita, yang terpenting di hatipun dia tahu. Tapi Allah memerintahkan kepada kita untuk meminta, Allah berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ

Artinya      : Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. (Al-Baqarah: 186)

“Kalau hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang Aku, aku itu dekat” kata Allah. Allah berada di Arsy-nya disana, tapi Allah dekat dengan hambanya. Aku mengabulkan doa orang-orang yang meminta jika hambaku meminta, maka kita diperintahkan untuk meminta walaupun Allah tahu dengan hajat kita, Allah tahu dengan keperluan kita, minta Sama Allah. Maka nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk meminta, untuk memulai harinya dengan permohonan. Permohonan apa? Missal kita punya waktu tinggal hari ini, kita tidak tahu sampai jam berapa hidup kita, didetik ke berapa waktu kita akan habis kita tidak tahu, tapi yang pertama diminta oleh nabi sallalahualaihiwassalam ilmu yang bermanfaat, tidak semua ilmu, banyak ilmu diajarkan dimuka bumi ini, banyak ilmu dicari oleh manusia, diburu oleh insan sampai keujung dunia, mencari ilmu. Tapi sebagian ilmunya tidak membawa manfaat buat dirinya dan buat orang lain, sehingga ilmu itu mengantarkan dirinya ke api neraka.

Ilmu apasih yang bermanfaat?

Berbicara kebutuhan manusia kepada ilmu, tidak perlu kita untuk meragukannya. Kita lihat dinegri kita bagaimana lembaga pendidikan sangat banyak kita ambil contoh SD,SMP,SMA dan lain sebagainya, itu pertanda manusia perhatian akan ilmu, setiap hari belajar ilmu, bahkan ketika hari ahad (minggu)-pun bukan berarti kita tidak menuntut ilmu, kita harus tetap menuntut ilmu, karena kita butuh dengan ilmu. Tapi ternyata sebagian orang belajar malah berujung di penjara karena korupsi. Subhanallah, jadi kita belajar buat apa selam ini, karena tidak bermanfaat ilmu yang engkau gali selama ini. Sehingga kita lihat pemerintah kita mulai berfikir dan mengaplikasikan pendidikan berbasis karakter, karena banyak ilmu yang diajarkan tidak bermanfaat, kita habiskan waktu kita tanpa tanpa manfaat. Lalu seperti apa ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membuat engkau takut kepada Allah, ilmu yang bermanfaat yang membuat engkau berbakti kepada orangtuamu, membuat engkau empati kepada tetanggamu, membuat engkau berakhlak mulia berkarakter yang baik, membuat engkau menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih kecil, membuat engkau tahu mana yang halal dan mana yang haram, membuat engkau tahu mana kira-kira amallan yang diterima oleh Allah dan mana amalan yang ditolak sama Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai permohonannya dengan ilmu, sebelum yang kedua, sebelum yang ketiga. Karena dengan ilmu kita memang bisa tahu mana yang dibenci sama Allah dan mana yang disukai sama Allah. Tidak sedikit dari kita yang berbuat dosa, berbuat dosa sampai tua, dan ketika tua dia sadar bahwa yang ia lakukan selama ini adalah dosa.

Pada ayat lain Allah berfirman :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Artinya     : Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba Nya adalah mereka para Ulama.” (QS. Fathir: 28)

Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hambanya hanyalah ulama, hanyalah orang yang mengerti dengan Allah, yang tahu dengan hukum-hukum Allah. Lalu bagiamana dengan ilmu-ilmu yang lain, seperti kedokteran, kimia, farmasi, ekonomi dan sebagainya. Ilmu itu akan bermanfaat bila ilmu itu dibalut dengan ilmu kepada Allah (agama), karena ilmu tentang Allah merupakan dasar. Karena tidak sedikit orang menjadi professor atau doktor belum tentu nilai-nilai agamanya dan akidahnya sudah benar. Kemudian setelah itu beliau memohon rizqon thoyyiban (rezeki yang thoyyib), rezeki bukan  sembarang rezeki, bukan rezeki yang banyak, bukan rezeki yang luas, bukan mobil yang mewah, bukan rumah yang tingkat, bukan tanah yang behektar-hektar, tapi yang beliau minta adalah rezeki yang toyyib. Lalu apa itu rezeki yang toyyib, yaitu rezeki yang halal, rezeki yang bermanfaat bagi tubuh kita, bermanfaat buat anak dan keluarga kita, bermanfaat bagi orang lain. Dan tentunya dengan ilmu yang kita dapatkan kita bisa memilah-milah, antara rezeki yang thoyyib dan mana yang tidak thoyyib. Yang ketiga yang diminta sebagai modal (waktu) dan bekal perjalan kita hari ini yaitu amalan yang diterima, perlu diketahui bahwa nabi sallallahu’alaiwassalam mengajarkan kepada kita kualitas, bukan kuantitas. Ilmu bukun ilmu yang banyak, rejeki bukan rejeki yang banyak, bukan kuantitas yang diajarkan. Kemudian amalan, bukan amalan yang banyak, melainkan amalan yang diterima dan tujuan kita beramal tentunya supaya diterima bukan asal beramal. Bukan amalan yang penting shalat, melainkan yang penting ketika mengerjakan shalat, shalat kita diterima sama Allah. Karena Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ﴿٦﴾ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

Artinya      : 4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, 5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, 6. orang-orang yang berbuat riya’ , 7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (QS. Al-Ma’un : 4-7)

Celakalah, ada orang-orang yang ruku, sujud tahunan masuk neraka. Dia mengerjakan shalat, jadi hati-hati kita, jangan Cuma asal shalat. Amalan amalan mutaqabbala itu yang diminta oleh rasul, shalat yang diterima itu yang kita inginkan. Siapa orang-orang yang shalat tapi masuk neraka. Mereka adalah orang-orang yang shalat, tapi lalai dengan shalatnya. Mereka shalat tapi riya, maka tidak akan diterima shalatmu jika kamu tidak mengharapkan ridha dari Allah Jalla-Jalaluhu. Didalam hadis yang diriwayatkan Imam Tabrani dan hadis ini Hasan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي سِتِّينَ سَنَةً مَا تُقْبَلُ لَهُ صَلَاةٌ، لَعَلَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَلَا يُتِمُّ السُّجُودَ، وَيُتِمُّ السُّجُودَ وَلَا يُتِمُّ الرُّكُوعَ

Artinya   : Sesungguhnya ada seseorang yang sholat selama 60 tahun, namun tidak diterima (oleh Allah) amalan sholatnya selama itu walau satu sholatpun. Boleh jadi (sebabnya) dia sempurnakan ruku’-nya tetapi sujudnya kurang sempurna, demikian pula sebaliknya” (Hadis Hasan, riwayat Ibn Abi Syaibah dari Abu Hurairah RA, Shahih al-Targhib, no. 596)

Ada orang yang shalat selam 60 tahun, bisa dibayangkan kalau orang tersebut baru mulai shalat umur 10 tahun, berarti umurnya 70 tahun. Shalat (ruku sujud selama 60 tahun) namun satupun shalatnya tidak ada yang diterima. Karena apa, karena sujudnya sempurna rukuknya tidak sempurna dan rukuknya sempurna sujudnya tidak sempurna. Inilah yang namanya shalat asal-asalan. Orang menginginkan shalatnya benar, ingin ibadahnya benar, modalnya tetap imu yang bermanfaat. Sehingga dia bisa tahu sebenarnya shalatku ini bagaimana yang benar, kalu kita tidak belajar, ngak ngaji tentang shalat, tentang puasa, tentang tauhid. Bagaiman kita bisa tahu itu semua.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya      : Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)

Dan pada akhirnya Allah Jalla-Jalaluhu menciptakan kehidupan dan kematian ini untuk menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalannya bukan yang paling banyak. Maka dari itu kita harus belajar, kalu kita kita tidak belajar, bahkan menganggap ilmu agama sebagai sampingan sebulan sekali datang ke pengajian sisanya untuk dunia dan untuk akhiratmu hanya beranggapan jika ada waktu saja. Kerjaan tinggalkan, ketika kita datang kemajelis ilmu kita ingat bahwa kita itu datang kejalan-jalan surga. Mungkin kita beranggapan bahwa ketika kita meninggalkan dunia untuk pergi kemajelis ilmu kita akan rugi, sungguh ini merupakan yang salah. Ingat bahwa tatkala kamu keluar dari tempat duniamu untuk menuju Allah Jalla-Jalaluhu, Allah berjanji bahwa setiap langkahmu akan diangkat satu derajat buatmu, dihapuskan dosamu dan diberikan pahala.

Inilah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca, dan semoga kita termasuk golongan orang yang berilmu dengan kualitas agama yang baik dijalan Allah Jalla-Jalaluhu. (Amin 3x)
Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh . . .

Menghidupkan Sunnah Nabi SAW Sama Dengan Pahala 100 Syahid

Dalam peringatan Maulid Nabi Saw perlu diungkap fakta-fakta sejarah tentang baginda Nabi saw dan akhlak dan perilaku-perilaku beliau yang dapat menjadi teladan bagi umat Islam, khususnya generasi sekarang yang dilanda krisis akhlak. Potret sejarah kehidupan Nabi Saw akan selalu relevan dan selalu dibutuhkan ibarat oase di padang pasir. Apalagi, bagi masyarakat yang hidup di zaman serba modern seperti saat ini tentunya butuh sesuatu yang bisa mencerahkan, yaitu semangat hidup dan keteladanan.

Allah Swt berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzaab:21).

Ayat yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar mengikuti sunnah Rasulullah Saw, karena Allah Swt sendiri yang menamakan semua perbuatan Rasulullah Saw sebagai “teladan yang baik”, yang ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani sunnah Rasulullah Saw berarti dia telah menempuh jalan yang lurus yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan, cinta dan ridha Allah Swt. Allah Swt berfirman,

Dalam ayat tersebut juga dapat diambil hikmah bahwasanya Rasulullah SAW merupakan suri tauladan :

  1. Bagi orang-orang yang hanya mengharapkan Allah, yaitu al-muqorrobun (ahli haqiqah).
  2. Bagi orang yang mengharapkan mengaharapkan di hari akhir (selamat dari neraka dan masuk surga), yaitu al-abraar (ahli syari’ah)
  3. Bagi orang yang banyak berdzikir kepada Allah, yaitu ahli thoriqah.

Dengan demikian, maka semua umat Islam, baik ahli syari’ah, ahli thoriqah maupun ahli haqiqah kesemuannya harus mengambil suri tauladan dari Rasulullaah Saw.
Mengambil suri taulan ini adalah diperintahkan oleh Allah Swt sebagaimana dalam firman-Nya:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Katakanlah :”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah maha pengampun lagi maha penyayang. (QS. Ali Imran:31)

Al-ittiba’(mengikuti jejak Rosulullah) itulah yang dimaksud dengan mengambil suri tauladan dari Rasulullah Saw. Memang tidak ada jalan menuju Allah ( mencari keridlaan Allah, pendekatan diri kepada Allah, juga pahala-pahala dari Allah) kecuali hanya mengikuti jejak-jejak Rasulullah Saw, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abul Qasim al-Junaidi Rahimahullah, “Semua Jalan menuju Allah adalah tertutup, kecuali orang-orang yang mengikuti jejak-jejak Rasulullah Saw.”

Juga seperti yang dikatakan oleh Syaikh Tajuddin Ibnu Atha’illah as- Sakandari Rahimaullah, “Sungguh Allah telah mengumpulkan kebajikan seluruhnya di dalam rumah, dan Allah telah membuat kuncinya, yaitu mengikuti jejak-jejak Nabi Saw. Barang siapa yang telah dibukakan baginya pintu mutaba’ah, maka hal itu menunjukkan bahwa ia telah dicintai oleh Allah Swt.”

Mengikuti jejak-jejak Rasulullah SAW itu, adalah berarti menghidupkan sunnah Rasulullah, sekaligus berarti mencintai beliau, yang pada akhirnya akan masuk kedalam surga bersama-sama dengan beliaau, sebagaimana sabda beliau, “Barang siapa menghidupkan sunnahku maka ia telah mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku maka ia akan bersamaku di surga “ ( HR. Thabrani dari Anas ibnu Malik)

Adapun menghidupkan sunnah Rasulullah itu adalah dengan beberapa cara antara lain: At-Tamassaku (berpegang teguh sekaligus mengamalkan), sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Barangsiapa yang berpegang teguh dengan sunnahku di saat rusaknya umatku, maka baginya pahala seperti pahala orang mati syahid.” (Ath-Thabrani)

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam Al-Ghunyah menuturkan bahwasanya Rasulullah Saw shalat Shubuh bersama para sahabatnya, lalu beliau menasehati mereka dengan nasehat yang fasih, yang karenanya kami meneteskan airmata, hati tergetar, dan kulit bagai terbakar. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh seakan ini adalah nasehat perpisahan.” Rasulullah Saw bersabda, “Aku berwasiat pada kalian semua untuk bertaqwa kepada Allah, mendengarkan, dan taat, sekalaipun ia budak Habsyi. Barangsiapa yang hidup setelah aku , niscaya akan  melihat banyak perselisihan (aliran), ketika itu berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur Rasyidin setelah aku, pegang teguhlah itu dan gigitlah dengan gerahammu.