Esensi Taqwa akan Memudahkan dari Segala Persoalan Kehidupan

Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk sekedar dibaca saja, melainkan untuk dipahami isinya dan diterapkan pada kehidupan kita. Didalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa siapa saja yang ingin meningkatkan takwanya kepada Allah Ta’ala, Maka setiap kesulitan yang engkau alami dalam hidup akan Allah mudahkan dan berikan solusinya. Firman Allah Ta’ala,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Artinya: Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

Ayat diatas menjelaskan bahwa semua manusia yang hidup akan lekat pada persoalan dan masalah, jadi tidak ada manusia hidup yang tidak mempunyai masalah. Allah Ta’ala menciptakan masalah untuk membuat hidup kita lebih berkualitas bukan jadi bermasalah.Allah akan menguji kalian yang hidup dengan persoalan kehidupan. Termasuk orang yang dalam kesehariannya terlihat tenang-tenang saja, tersenyum dan gembira pasti akan Allah uji dengan persoalan kehidupan.

Al Qur’an mengatakan bahwa orang yang takwa sebenarnya mudah menuntaskan masalah (tidak ada biaya yang mahal ataupun tenaga yang sulit), yaitu cukup tingkatkan takwa maka solusi akan datang.

Takwa Akan Memudahkanmu dalam Urusan Rezeki

Tidak hanya dalam urusan masalah saja, bahkan urusan rizki pun Allah juga akan mudahkan persoalannya. Firman Allah,

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ

Artinya: Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya.

Pada umumnya jika seseorang menginginkan rezeki maka ia akan mencari, namun dalam ayat diatas menjelaskan bahwa sesuatu yang tidak dicaripun akan datang menghampirinya. Teori rezeki sebenarnya terbagi menjadi dua di dalam Al-Qur’an, yaitu rezeki yang kita cari (keadilan Allah) dan rezeki yang mencari-cari kita (keutamaan Allah). Untuk lebih jelasnya kan Kami muat dibawah ini,

  1. Rezeki yang kita cari (عدالة الله)/keadilan Allah, maksudnya semua manusia diberikan kesempatan yang sama untuk mencari rezeki. Manusia diberikan kesempatan mencari rezeki dengan peluang yang terbuka.
  2. Rezeki yang mencari-cari kita ((فضيلة الله)/keutamaan Allah, yaitu dikatakan dalam Al-Qur’an ketika orang yang meningkatkan takwa maka rezeki akan datang menghampiri, bukan mereka yang mencarinya.

Hubungan Takwa dengan Rezeki

Takwa Akan Menghantarkan pada kunci persoalan hidup

Jangan beranggapan bahwa rezeki itu selalu dalam bentuk materi (uang, barang maupun jabatan). Dalam Al-Qur’an diterangkan bahwa hal-hal yang bisa disebutkan dengan rezeki juga bisa seperti keturunan, ketenangan, ketentraman, kesehatan dan sebagainya. Kenapa bisa begitu?, karena dalam persoalan tertentu ketenangan, kesehatan dan ketentraman jauh lebih penting daripada dengan rezeki yang kita pegang. Misalnya belum tentu orang yang mempunyai harta benda (materi) yang melimpah juga akan mempunya rasa ketenangan dalam jiwa dan hatinya, berkebalikan seperti halnya dengan orang mempunyai ketenangan dalam jiwanya tetapi mereka tidak mempunyai harta yang melimpah. Dari persoalan diatas maka persoalan ketenangan akan lebih berharga dari harta yang dipegang.

Bagaimana Cara Meningkatkan Takwa Agar Hidup Mudah

Sebelum kita menuju pada pembahasn ini maka perhatikan dengan jeli permasalahan berikut ini,
Jika ada seseorang dalam hidupnya mengalami persoalan dan tidak pernah tuntas, padahal dari sisi yang lain barangkali kedudukan tinggi, harta benda melimpah tapi ketika mendapatkan masalah tidak pernah selesia persolannya. Ketika dikantor mungkin bisa jadi juara, namun ketika dirumah selalu saja tidak bisa apa-apa atau sebaliknya.” Jadi silahkan Anda cek lagi takwanya, lalu bagaiman cara meningkatnya?, pokok pembahasannya ada dala Al-Qur’an Al-Baqarah ayat 2-3;

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Pada ayat kedua tidak dikatakan sholat saja, melainkan (يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ) yang menyempurnakan shalatnya. Jadi dikatakan dalam Qur’an pertama sederhana, jika ingin meningkatkan takwa maka tunaikan sholat. Secara logika maka ketika orang yang menunaikan sholat maka segala persoalan dan masalah akan terselesaikan. Namun persolannya, kenapa didapati orang yang setiap hari sholat bahkan 5 kali dalam sehari yang fardhu dan ditambah dengan yang sunnah banyak sekali masalah masih saja tidak selesai-selesai?. Jawabannya ada pada kata (يُقِيمُونَ), yaitu ketika seseorang menunaikan sholat tidak sempurna dalam menunaikannya. Ada kisah tentang orang yang salah sholatnya, kemudian diangkat didalam hadis yang diriwiyat Abu Hurairah,

عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي فَقَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

Artinya: Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke masjid, kemudian ada seorang laki-laki masuk Masjid lalu shalat. Kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menjawab dan berkata kepadanya, “Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum shalat!” Maka orang itu mengulangi shalatnya seperti yang dilakukannya pertama tadi. Lalu datang menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberi salam. Namun Beliau kembali berkata: “Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum shalat!” Beliau memerintahkan orang ini sampai tiga kali hingga akhirnya laki-laki tersebut berkata, “Demi Dzat yang mengutus anda dengan hak, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Maka ajarkkanlah aku!” Beliau lantas berkata: “Jika kamu berdiri untuk shalat maka mulailah dengan takbir, lalu bacalah apa yang mudah buatmu dari Al Qur’an kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan thuma’ninah (tenang), lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, lalu sujudlah sampai hingga benar-benar thuma’ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk dengan thuma’ninah. Maka lakukanlah dengan cara seperti itu dalam seluruh shalat (rakaat) mu”. [HR. Bukhari (793), Muslim (397)]

 

Sudahkah Shalat Membuatmu Menjadi Taat?

Kaidah Sholat Bagi Orang Muslim

Orang yang sholatnya benar dijamin langsung oleh Al-Qur’an akan dijadikan orang yang baik dalam kehidupan. Singkatnya orang sholat pasti jadi orang baik, sikap dan sifatnya baik. Dalilnya terdapat pada QS. Al-Ankabut: 45,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Artinya: “…Sungguh sholat yang dikerjakan dengan benar itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar…” (QS. Al-Ankabut: 45)

Tafsir ayat diatas mempunyai kata sifat ma’rifah yang diartikan mempunyai artian khusus, yaitu penunaian shalat harus dikerjakan sesuai aturannya. Sebenarnya kata yang menggunakan makna ibadah di Al-Qur’an itu menggunakan makna ma’rifah. Ada sebuah riwayat bahwa pada zaman Nabi ada seorang sahabat yang sedang mengerjakan sholat di masjid Nabawi, dan ketika sholat keluar dari aturan belum maksimal mengerjakannya, kata Nabi “Ulangi Sholatnya”. Apalagi kita yang hidup dizaman ini bahwa kita bukan sahabat Nabi, bukan tetangga nabi, jauh dari nabi sholatnya bukan dimasjid di masjid Nabi. Merasa aman dengan sholatnya maka itu mustahil. Nah, sekarang jika anda benar mengerjakan sholatnya maka sholat akan mencegah dirinya dari dua sumber keburukan.

Sholat akan mencegah dirimu terhadap perilaku buruk dan munkar
Sholat akan mencegah dirimu terhadap perilaku buruk dan munkar

Sholat Mencegah dari 2 Sumber Keburukan

Orang yang sikapnya dan sifatnya buruk hanya dua sumbernya yaitu,

  1. (فَحْشَا) keburukan yang bersumber dari syahwat seperti kata-kata jorok, pornografi, pornoaksi. Jadi sangat mustahil jika orang yang mengerjakan sholat lisannya masih berkata perkataan yang kotor. Namun masih terdapat juga hal yang aneh, ketika orang sholat tetapi lisannya masih berkata perkataan yang kotor sehingga bisa dipastikan pasti ada yang salah dengan sholatnya. Orang sholat pandangan masih belum bisa diatur, semuanya dilihat maka ada yang salah dengan sholatnya
  2. (مُنْكَرِ) keburukan yang diingkari oleh hati yang  bersumber dari nafsu perut dan akal seperti mencuri, korupsi, merampok, membunuh (tingkat kemungkaran paling tinggi yang balasannya neraka jahannam). Apalagi membunuh orang-orang yang beriman, maka jelas balasannya neraka jahannam. QS. An-Nisa: 93,

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

Artinya: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa: 93)

Siapa yang dengan sengaja merencanakan pembunuhan terhadap seorang beriman (satu saja nyawa orang beriman tumpah) maka tempatnya adalah neraka jahanam, Allah Murka terhadap orang itu, akan dilaknat olehh Allah dan sediakan siksa yang berlipat. Bahkan orang-orang semacam ini akan masuk neraka tanpa hisab, QS. Al-Kahf: 100-101,

الَّذِينَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِي غِطَاءٍ عَنْ ذِكْرِي وَكَانُوا لَا يَسْتَطِيعُونَ سَمْعًا – وَعَرَضْنَا جَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لِلْكَافِرِينَ عَرْضًا

Artinya: dan Kami nampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas, yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.

Sholat yang benar
Sudahkah Sholatmu Sudah Benar?

Pada hari kiamat nanti Allah akan tampilkan neraka jahanam sejelas-jelasnya pada orang yang ingkar. Ada orang-orang yang sibuk memikirkan kitab/raportnya di yaumul hisab (ada yang ditangan kanan, tangan kiri dan punggungnya). Tiba-tiba ada yang bertanya-tanya dan memikirkan tentang kitabnya akan seperti apa dan dimana, maka Allah mengatakan kepadanya untuk tidak memikirkannya dan langsung menunjukan neraka jahanam sebagai tempatnya. Selanjutnya pada ayat 101 dikatakan bahwa bukan hanya orang kafir saja, melainkan ada orang-orang yang diberikan penglihatan namun tidak mau melihat-Nya, diberikan pendengaran tidak mau mendengar yang baik-baik, bahkan diantaranya ada orang yang munafik. Munafik disini mempunyai artian bahwa mereka mengetahui ayat-ayat Allah tapi di ingkari isinya dengan melakukan maksiat walaupun paham dengan isinya, maka orang seperti ini akan masuk neraka terlebih dahulu dibandingkan dengan orang kafir seperti yang telah Allah firmankan:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Artinya: Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS. An-Nisa: 140)

10 Keutamaan Menunaikan Sholat Subuh Berjamaah Bagi Seorang Muslim

SHOLAT SUBUH BERJAMAAH

Hadis Riwayat – Bagi kaum muslim yang mengaku bahwa dirinya islam tapi tidak melangkahkan kakinya ke masjid untuk menunaikan sholat berjamaah maka sangat rugi besar. Dan diantara sholat 5 waktu ini bagi kaum muslimin yang paling berat untuk ditunaikan secara berjamaah adalah sholat subuh berjamaah. Padahal, bila kita mau untuk melihat pada keutamaannya, justru sholat subuh berjamaah memiliki banyak keutamaan yang luar biasa, berikut ini sebagian keutamaan yang terdapat di dalamnya:

  1. Allah akan memberikan berkah pada hamba yang menunaikannya

Sholat Subuh berjamaah berpeluang mendapatkan berkah dari Allah Ta’ala. Sebab, aktivitas yang dilaksanakan pada waktu pagi, terlebih aktivitas wajib dan dilaksanakan berjamaah seperti sholat Subuh, telah didoakan agar mendapatkan berkah. Yang mendoakannya adalah Rasulullah shallallahualaihiwasallam:

اللهمَّ باركْ لأمتي في بكورِها

“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya”. – (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah)

  1. Mendapatkan cahaya yang akan menerangi di hari kiamat kelak

Keadaan waktu subuh subuh yang masih gelap merupakan faktor utama yang membuat sebagian umat merasa malas untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid. Padahal dalam suatu hadis disampaikan bahwa Allah Ta’ala akan menerangi hambanya yang ketika di dunia menunaikan sholat subuh berjamaah, berikut bunyi hadisnya,

عن بريدة الأسلمي رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم قال :بشِّرِ المشَّائين في الظُّلَم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة

Dari Buraidah al-Aslami radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan pada saat gelap menuju masjid, dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” – (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

  1. Mendapatkan ganjaran sholat malam sepenuh waktunya.

Allah Ta’ala akan memberikan ganjaran sholat malam sepenuh waktunya bagi hambanya yang menunaikan sholat subuh berjamaah. Tetapi perlu di garis bawahi bahwa seorang muslim yang taat kepada Allah tentu tidak hanya akan menunaikan sholat subuh berjaah saja, seorang muslim sejati akan menyempurnakan seluruh perintah Allah dalam melakukan ibadahnya baik itu sholat wajibnya ataupun sunnahnya. Dalam hal ini Rasulullah pernah mengatakan dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, dari Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu yang bunyinya,

مَن صلى العشاء في جماعة، فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة، فكأنما صلَّى الليلَ كلَّه

“Barang siapa yang melakukan sholat Isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan sholat setengah malam. Barang siapa yang melakukan sholat Subuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan sholat malam sepanjang waktu malam itu.”(HR. Muslim, dari Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu)

  1. Berada dalam jaminan AllahTa’ala.

Artinya, orang yang melaksanakan sholat subuh dengan sempurna, antara lain dengan melaksanakannya berjamaah, maka dia berada dalam jaminan dan perlindungan Allah Azzawajalla., maka Allah Ta’ala akan menjaganya dari orang-orang yang bersifat jahat padanya dengan memberikan pertolongan dan akan memberikan azab bagi orang yang berbuat jahat padanya di neraka kelak, dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَن صلَّى الصبح، فهو في ذمة الله، فلا يَطلُبَنَّكم الله من ذمَّته بشيء؛ فإن من يطلُبهُ من ذمته بشيء يدركه، ثم يَكُبه على وجهه في نار جهنم

“Barang siapa yang melaksanakan sholat Subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan sampai Allah menuntut kalian sesuatu apa pun pada jaminan-Nya. Karena barangsiapa yang Dia tuntut pada jaminan-Nya, pasti Dia akan mendapatkannya. Kemudian dia akan ditelungkupkan pada wajahnya di dalam Neraka.”-  (HR. Muslim, dari Jundubibn Abdillah al-Bajali Radhiallahu ‘anhu)

  1. Dibebaskan dari sifat orang munafik.

Sholat Subuh berjamaah adalah salah satu upaya yang bisa kita tempuh agar bisa terhindar dari terjangkit penyakit kemunafikan. Bagaimana bisa?, apa kalian pernah berfikir ketika seorang hamba yang melangkahkan kakinya untuk pergi ke masjid ditengah aktifitas dunianya yang semu dia masih mau melangkahkan kakinya untuk menunaikan sholah berjamaah. Bagi golongan orang munafik hal paling berat dilakukan adalah sholat subuh berjamaah,  disebutkan dalam hadits:

ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء، ولو يعلمون ما فيهما، لأتَوهما ولو حبوًا، ولقد هممتُ أن آمُرَ المؤذِّن فيُقيم، ثم آخُذَ شُعلاً من النار، فأحرِّقَ على من لا يخرج إلى الصلاة بعد

“Tidak ada Sholat yang lebih berat (dilaksanakan) bagi orang munafik daripada sholat Subuh dan Isya. Seandainya mereka tahu (keutamaan) yang terdapat di dalamnya, niscaya mereka akan melakukannya kendati dengan merangkak. Sungguh aku telah hendak memerintahkan kepada petugas azan untuk iqamat (Sholat) kemudian aku mengambil bara api dan membakar (rumah) orang yang belum tidak keluar melaksanakan Sholat (di masjid).”- (HR. Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah)

  1. Sholat subuh berjamaah disaksikan oleh malaikat.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يتعاقبون فيكم ملائكةٌ بالليل وملائكةٌ بالنهار، ويجتمعون ف ي صلاة الفجر وصلاة العصر، ثم يعرُجُ الذين باتوا فيكم، فيسألهم ربُّهم – وهو أعلم بهم: كيف تركتم عبادي؟ فيقولون: تركناهم وهم يصلُّون، وأتيناهم وهم يصلون

“­Malaikat bergantian melihat kalian pada siang dan malam. Para malaikat itu bertemu di sholat Subuh dan sholat Ashar. Kemudian yang bermalam dengan kalian naik (ke langit) dan ditanya oleh Rabb mereka, dan Dia lebih tahu keadaan hamba-hambanya, Bagaimana kondisi hamba-hambaku ketika kalian tinggalkan?’ Para malaikat menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sholat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan sholat. (HR. Bukhari-Muslim)

  1. Berpeluang mendapatkan pahala haji atau umrah bila berzikir hingga terbitnya matahari.

Dari hadist dalam keterangan  Anasibn Malik Radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

مَن صلى الغداة في جماعة، ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس، ثم صلى ركعتين، كانت له كأجر حجة وعمرة تامة، تامة، تامة

“Barang siapa yang sholat Subuh berjamaah kemudian dia duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lantas sholat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, yang sempurna, sempurna, sempurna. ” – (HR. Tirmidzi)

  1. Berkesempatan menunaikan sholat Sunnah yang pahalanya lebih baik dari dunia dan isinya.

Kesempatan lain yang bisa didapatkan dengan mengupayakan sholat Subuh secara berjamaah adalah menunaikan sholat sunah dua rakaat. Sholat Sunnah dua rakaat ini  yang ditunaikan mempunyai kelebihan tersendiri yang disebutkan dalam hadits.

ركعتا الفجر خيرٌ من الدنيا وما فيها

“Dua rakaat (sholat sunah) Subuh lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” –  (HR. Muslim dari Ummul MukmininAisyah Radhiallahu ‘anha)

  1. Selamat dari siksa neraka

Bagi hamba Allah Ta’ala yang menunaikan sholat subuh berjamaah akan mendapat kabar gembira, yaitu terbebas dan selamat dari siksa api neraka. Hal ini terdapat pada hadis, bahwa Rasululullah pernah bersabda,

عن عُمارة بن رويبة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (لن يلج النارَ أحدٌ صلى قبل طلوع الشمس وقبل غروبها) رواه مسلم

Dari Umarah Radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak akan masuk Neraka seorang yang sholat sebelum terbitnya matahari (Subuh) dan terbenamnya matahari (Ashar).”- (HR. Muslim)

  1. Kemenangan dengan melihat Allah Ta’ala pada hari Kiamat nanti.

Impian seorang muslim yang taqwa adalah bertemu dengan sang pencipta. Meraka inilah yang akan mendapatkan kemenangan untuk bertemu dengan Allah Ta’ala secara langsung pada hari kiamat nanti, Hadis ini adalah bukti bahwa kemenangan akan diraih oleh umatnya yang menunaikan sholat subuh berjamaah,

عن جرير بن عبد الله البجلي رضي الله عنه قال: كنا جلوسًا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ نظر إلى القمر ليلة البدر، فقال: (أمَا إنكم سترَون ربَّكم كما ترَون هذا القمر، لا تُضَامُّون في رؤيته، فإن استطعتم ألا تُغلبوا على صلاةٍ قبل طلوع الشمس وقبل غروبها، فافعلوا) رواه البخاري ومسلم

Dari Jarir Bin Abdullah al-Bajali Radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami pernah duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau melihat ke bulan di malam purnama itu, Rasulullah bersabda, ‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian akan melihat kepada Rabb kalian sebagaimana kalian melihat kepada bulan ini. Kalian tidak terhalangi melihatnya. Bila kalian mampu untuk tidak meninggalkan sholat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah!” (HR. Bukhari-Muslim)

Bagaimana saudaraku, apakah kalian masih tidak ingin menggapai kesempurnaan dunia dan akhirat?, Ingatlah bahwa kita diciptakan oleh Allah agar kita senantiasa bertaqwa kepada Allah Ta’ala untuk mempersiapkan kehidupan abadi kita kelak di akhirat. Oleh sebab itu, marilah kita selalu melangkahkan kaki kita untuk pergi ke masjid menunaikan sholat berrjamaah. Semoga tulisan ini bisa menjadi motivasi bagi saudaraku yang membaca tulisan ini.

Keistimewaan dan Tata Cara Sholat Tahajud

Hadis Riwayat – Shalat malam dibagi menjadi 2 sifat. Ada yang dikerjakan sebelum tidur dulu, lalu ada yang dikerjakan setelah tidur. Jika dilakukan setelah tidur dulu melangkah untuk bangun mengerjakan shalat maka itu disebut dengan tahajud. Tahajud berasal dari kata (hajada) yang artinya berbaring kemudian bangkit untuk menjemput rahmat Allah.

Allah Ta’ala menjamin dan akan memberikan empat hal kepada orang-orang yang melakukan tahajud dan keempat hal ini tidak akan pernah ini diberikan kepada orang yang tidak melakukan tahajud sekalipun shalat fardhunya khusyuk luar biasa. Dimisalkan ketika kita shalat 5 waktu tepat waktu, dilakukan dengan khusyuk bahkan sambil menangis tersedu-sedu tetapi kita tidak tahajud maka kita tidak akan dapat keempat hal ini:

  1. Allah akan menjamin karir pekerjaannya dan ditempatkan ditempat yang terbaik.
  2. Cara dia bekerja, beraktifitas akan dibimbing supaya mudah.
  3. Jika ada kesulitan dibimbing supaya keluar dengan lancar
  4. Jika ketika sedang bekerja ada yang mengganggunya (ingin menyingkirkannya) Allah akan tolong langsung tanpa perantara.

Dalilnya jelas, disebutkan didalam Al-Quran, Allah Berfirman,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji [79]. Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong [80]. Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap [81].” –  Al-Isra 79-81.

Tata Cara Sholat Tahajud

Kaidah umumnya tahujud itu tidak memiliki batas rakaat. Nabi pernah menyampaikan pada HR. Ibnu Umar, bahwa “Shalat malam itu cara menunaikannya dua-dua (jadi du rakaat salam, dua rakaat salam). Jika sedang menunaikan shalat tahajud, tiba-tiba tidak sadar sudah dekat ke subuh maka tutup langsung dengan sekali witir.” Jadi aturan umum yang dilakukan pada saat malam hari itu umumnya tak terbatas jumlah rakaatnya. Jika ingin dilakukan maka mulailah dengan (dua rakat dua rakaat).

Jumlah Rakaat yang Dilakukan Nabi

Tata cara sholat Tahajud yang Nabi lakukan kadang shalat dengan 13 Rakaat dikatakan jika beliau tinggal di rumah Maimunah r.a., Terdapat pada hadis shahih (Abu Daud no 1367), Diriwayatkan langsung oleh Ibnu Abas yang pada saat itu menunaikan Shalatnya bersama Beliau. Dan Jika Beliau sedang menginap di rumah Aisyah, jumlah rakaat yang sering dilakukan adalah 11 rakaat (hadisnya Shahih Al bukhari no 3569 muslim no 731). Beliau pun menyampaiakna bahwa jika dilakukan dengan 11 rakaat bisa dengan 2 cara.

Pertama (yang dilihat oleh Aisyah langsung), beliau melakukan shalat tahajud dengan 4 rakaat salam, 4 rakaat salam dan witir 3 rakaat sekaligus (satu salam). Tetapi ketika nabi menyampaikan kepada sahabat yang lain 11 ini diberi pilihan menjadi 2 rakaat kemudian salam. Jadi jika kita ingin menunaikan 11 rakaat boleh 4 rakaat kemudian salam sebanyak (2x) dengan 3 rakaat witir kemudian salam, atau boleh juga  2 rakaat satu salam sebanyak (4x) kemudian dilanjutkan shalat witirnya bisa 3 rakaat satu salam atau 2 rakaat satu salam ditambah 1 rakaat satu salam.

Keutamaan Shalat Tahajud yang Tercantum dalam Al-Qur’an

Orang yang melakukan sholat tahajud itu, disebut sifat shalatnya akan lebih khusuk, mendapat anugerah kebaikan saat didunia, dan langsung dipuji oleh Allah,

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” – Az-Zumar 9

Ayat diatas mempunya maksud bahwa apakah sama diantara orang-orang yang suka bangun malam dengan khusuk kemudian sujud berdiri lama karena Allah Ta’ala dengan orang orang yang tidak beriman. Sedangkan orang yang bangun dimalam hari ini [1] dia takut jika di akhirat dia tidak akan selamat dan [2] dia mengharap rahmatnya Allah. Jadi  Allah memberikan kesempatan bangun untuk kita agar mau  meminta apapun pada-Nya, dan Allah akan memberikannya. Firman Allah,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.-  Al-Mu’min 60

Dan yang terakhir Allah akan sediakan surga khusus bagi orang-orang selalu menunaikan tahajud (Surga di taman surga jika anda butuh apa apa maka langsung Allah yang kasih). Mereka langsung dibalas oleh Allah jika menginginkan apapun dan langsung Allah yang berikan. Sungguh mereka adalah orang yang ihsan di dunia. Dan ternyata ciri surga yang khusus ini akan diberikan kepada orang-orang yang konsisten tahajud yaitu orang-orang yang ketika didunia sedikit tidurnya untuk dia hidupkan malamnya dengan tahajud.

Inilah Tulisan yang dapat sya bagikan pada kalian semua, apabila ada yang ingin ditanyakan silahkan tinggalkan di komentar.

Keutamaan-Keutamaan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan Berdasarkan Urutan Malam Pelaksanaannya

Dari Ali bin Abi Thalib R.A bahwa dia berkata: Nabi SAW ditanya tentang keutamaan shalat Tarawih di bulan ramadhan, Kemudian beliau bersabda tentang keutamaan shalat Tarawih sebagai berikut :

  1. Orang mukmin keluar dari dosanya pada malam pertama, seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.
  2. Dan pada malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.
  3. Dan pada malam ketiga, seorang malaikat berseru dibawah ‘Arsy: “Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat.”
  4. Pada malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan (Al-Quran).
  5. Pada malam kelima, Allah Ta’ala memberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjidil Haram, masjid Madinah dan Masjidil Aqsha.
  6. Pada malam keenam, Allah Ta’ala memberikan pahala orang yang berthawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.
  7. Pada malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa a.s. dan kemenangannya atas Fir’aun dan Haman.
  8. Pada malam kedelapan, Allah Ta’ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahin a.s.
  9. Pada malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah Ta’ala sebagaimana ibadatnya Nabi saw.
  10. Pada Malam kesepuluh, Allah Ta’ala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.
  11. Pada malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
  12. Pada malam keduabelas, ia datang pada hari kiamat sedang wajahnya bagaikan bulan di malam purnama.
  13. Pada malam ketigabelas, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.
  14. Pada malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.
  15. Pada malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para penanggung (pemikul) Arsy dan Kursi.
  16. Pada malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.
  17. Pada malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.
  18. Pada malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru, “Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu.”
  19. Pada malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajat-derajatnya dalam surga Firdaus.
  20. Pada malam kedua puluh, Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).
  21. Pada malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya sebuah gedung dari cahaya.
  22. Pada malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.
  23. Pada malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.
  24. Pada malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.
  25. Pada malam kedua puluh lima , Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.
  26. Pada malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
  27. Pada malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.
  28. Pada malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
  29. Pada malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
  30. Dan pada malam ketiga puluh, Allah ber firman : “Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku.”

Semoga amal ibadah puasa kita dan yang lainnya diterima oleh Allah SWT. amin

Sumber Kajian : Hadist dari Kitab Duratun Nasihin, Bab Keistimewaan Bulan Ramadhan.

Untuk Apa Umat Islam Beribadah ?

Mari kita merenungkan tentang keberadaan diri kita di muka bumi ini. Sebenarnya untuk apa manusia itu diciptakan Allah SWT ? Allah SWT memberikan keterangan di dalam Al-Qur’an, bahwa inti diciptakannya manusia adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT, untuk beribadah kepada-Nya dan untuk berkhidmat di hadapan-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

وماخلقت الجن والانس الاليعبدون. الذاريات

Artinya : “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ibadah adalah ketaatan yang disertai dengan ketundukan dan kerendahan diri kepada Allah SWT. Karenanya yang wajib diibadati hanyalah Allah SWT. Kita tidak boleh tunduk dan beribadah kepada selain Allah SWT. Sebab semua yang ada selain Allah adalah makhluk-Nya. Maka sangat tidak pantas apabila makhluk Allah dijadikan sembahan oleh makhluk-Nya.

Ibadah adalah ketaatan yang disertai dengan ketundukan hati. Namun banyak manusia yang tidak tunduk kepada-Nya, karena hatinya masih dikuasai oleh sifat kesombongannya, disamping belum menyadari untuk apa dirinya beribadah kepada-Nya. Setiap hari harus shalat lima kali, dalam satu minggu wajib shalat Jum’at, setiap tahun turun kewajiban berpuasa selama satu bulan, belum kewajiban- kewajiban yang lainnya. Sungguh sangat berat beban yang harus dipikul oleh manusia. Untuk apa kita ini banyak beribadah ?

Jika Allah memerintahkan kepada manusia agar menyembah kepada-Nya, sebenarnya perintah itu adalah untuk kepentingan dan kegunaan  manusia. Ibadah itu adalah untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup manusia, baik pribadi maupun masyarakat. Allah sama sekali tidak mempunyai kepentingan dengan ibdah manusia. Jika seluruh manusia beribadah kepada-Nya, maka tidak akan menambah kebesaran Allah SWT. Juga seandainya seluruh manusia membangkang atas perintah-Nya, maka tidak akan menyebabkan berkurangnya keagungan Allah SWT. Allah SWT Maha Besar, Maha Agung karena diri-Nya sendiri, dan Ia tidak butuh bantuan kepada makhluk-Nya.

Allah SWT berfirman:

من عمل صالحافلنفسه ومن اساءفعليهاوماربك بظلام للعبيد. الفصلت

Artinya : “Barang siapa yang mengerjakan amal yang shaleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri, dan sekali- kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba- hamba-Nya.” (QS. Fushilat: 46)

Yusuf Qardawi berpendapat, ada beberapa syarat agar perbuatan manusia bernilai ibadah:

  1. Perbuatan tersebut secara substansial tidak bertentangan dengan syariat Islam. Maka misalnya berjudi dengan niat untuk menyumbang ke masjid  tidak termasuk ibadah. Sebab walau bagaimanapun hasilnya berjudi itu  adalah perbuatan yang bertentangan atau dilarang oleh Islam. Contoh lain misalnya korupsi dengan niat untuk menunaikan ibadah haji. Ini pun tidak termasuk ibadah, sebab korupsi adalah perbuatan munkarat yang dilarang oleh agama. Jika itu tetap dilakukan, maka korupsinya berdosa dan hajinya insya Allah ditolak oleh Allah SWT.
  2. Dilandasi dengan niat yang suci dan ikhlas lillahi ta’ala. Niat selalu menjadi landasan dari semua peribadatan kita, dan niat selalu menjadi rukun ibadah. Shalat, puasa dan lain- lain tanpa diawali dengan niat, maka dalam pandangan agama hukumnya tidak sah. Demikian juga berbagai aktifitas kita sehari- hari seperti makan, minum, tidur dan lain- lain, baru akan bernilai ibadah apabila diniatkan lillahi ta’ala.
  3. Harus memperhatikan aturan- aturan Allah SWT dan tidak ada unsur- unsur kedzaliman, penghianatan dan penipuan. Misalnya; jual beli itu adalah ibadah. Tetapi apabila di dalamnya ada unsur penipuan, baik dari pihak penjual maupun pembeli,maka tidak lagi bernilai ibadah.
  4. Perbuatan- perbuatan atau kegiatan- kegiatan duniawi yang dilakukan dengan niat ibadah tidak boleh menghalangi kewajiban- kewajiban agama. Misalnya bekerja mencari nafkah tidak boleh melalaikan kita untuk beribadah kepada Allah.

Ada ibadah dimensi vertikal, yaitu ibadah yang langsung kepada Allah, dan ada ibadah dimensi horizontal, yaitu ibadah kepada Allah melalui perbuatan baik kepada manusia dan sesama makhluk Allah. Semua jenis ibadah ini manfaat dan hikmahnya untuk manusia. Ibadah yang vertikal misalnya shalat fardhu. Bila dilaksanakan dengan baik maka akan melahirkan kesucian jiwa dan ketundukan hati yang tinggi kepada Allah SWT. Sehingga akan membentuk manusia yang selalu berupaya melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ini sebagai bukti firman Allah SWT :

ان الصلوةتنهى عن الفخشاءوالمنكر. العنكبوت

Artinya : “Sesungguhnya shalat itu  mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Pada saat manusia sedang sujud, dengan merendahkan kepala, sambil mengagungkan asma Allah, maka akan terkikislah sifat keangkuhan dan kesombongan manusia. Manusia akan menyadari akan kelemahannya, manusia akan merasakan sebagai makhluk yang dha’if di hadapan Allah SWT, sehingga dengan shalat lahirlah manusia- manusia yang baik di dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat. Apabila shalat dilaksanakan dengan berjama’ah maka akan melahirkan kehidupan sosial yang kokoh, karena akan terbentuk rasa persaudaraan yang kuat. Bahkan shalat berjam’ah adalah sebaik- baik syi’ar Islam.

Ibadah puasa yang secara lahiriyah menjadikan pelakunya haus dan lapar, tetapi dapat membentuk manusia- manusia yang tangguh, baik jasmani maupun rohaninya. Ibadah puasa dapat melahirkan manusia yang taat, sabar, ikhlas, jujur, peka/ peduli terhadap penderitaan orang lain, disiplin dan sehat. Sifat- sifat ini sangat dibutuhkan manusia baik bagi kehidupan individu maupun kehidupan kemasyarakatan. Kalau tidak ada perintah puasa, maka di dunia ini akan dipenuhi oleh manusia- manusia jahat, sombong dan bergelimang dengan kemunkaran sepanjang hayatnya. Hanya akan berkeliaran manusia- manusia yang hanya mengikuti selera dan hawa nafsunya saja. Sungguh ini sangat mencelakakan dirinya dan orang lain.

Demikian pula dengan ibadah haji, berat dilaksanakannya dan besar biayanya. Tetapi dampaknya sangat luar biasa bagi manusia, misalnya akan tercipta ukhuwah dan solidaritas umat Islam sedunia. Bahkan  ibadah haji sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan sikap manusia. Ibadah haji dilaksanakan hanya beberapa hari saja, tapi setiap orang yang menunaikan ibadah ini sikap dan perilakunya berubah menjadi manusia yang lebih baik. Sehingga ada yang berpendapat tidak ada ibadah yang lebih besar pengaruhnya terhadap perubahan perilaku seseorang daripada ibadah haji.

Demikian pula ibadah yang tersalurkan melalui perbuatan baik atau amal shaleh terhadap sesama, dampaknya langsung dapat dirasakan oleh manusia. Misalnya memberikan pertolongan kepada manusia, maka pertolongan itu adalah suatu ibadah yang langsung manfaatnya dapat dirasakan oleh orang yang ditolong. Allah SWT berfirman:

وتعاونواعلى البروالتقوى ولاتعاونواعلى الاثم والعدوان.  المائدة

Artinya : “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan tqwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS Al-Maidah: 2)

Mencegah perbuatan munkar adalah juga termasuk ibadah yang dampaknya langsung dirasakan oleh manusia, yaitu terciptanya masyarakat yang baik yang selalu berada di jalan yang benar. Di dalam kehidupan masyarakat selalu ada tanggung jawab sosial bagi tiap- tiap individu. Sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah SAW bahwa kehidupan masyarakat itu bagaikan para penumpang kapal, yang setiap penumpang harus menjaga untuk tidak merusak kapal. Sebab apabila salah seorang misalnya membocorkan kapal, maka bukan saja yang membocorkan akan celaka, tetapi seluruh penumpang kapal bisa tenggelam. Ini adalah tanggung jawab bersama dalam menyelamatkan kapal, dalam hal ini kehidupan bersama.

Dalam suatu perjalan Nabi Musa mengadu kepada Allah: “Ya Allah, mengapa jika sebagian kecil penduduk negeri berbuat munkar, tetapi seluruh kaum Kau hancurkan ? Ini sungguh tidak adil Ya Allah !” Keluhan Nabi Musa tidak dijawab oleh Allah, dan Nabi Musa pun melanjutkan perjalannya. Di tengah perjalanan ia lelah dan beristirahat di bawah pohon kurma, sampai ahirnya terlelap tidur. Pada saat tidur ia digigit semut hitam sampai ahirnya terbangun. Maka dibunuhnya semut itu, dan karena gemasnya bukan saja semut yang menggigit ia bunuh tetapi ia obrak abrik sarang semutnya. Pada saat itu Musa mendapat teguran dari Allah: “Wahai Musa, mengapa satu ekor semut menggigitmu tetapi sarangnya kau hancurkan ?” Nabi Musa baru sadar atas kelancangan dan kesalahannya, lalu ia bertobat.

Peristiwa ini memberikan gambaran bahwa bila sebagian anggota masyarakat berbuat munkar lalu yang lainnya tidak mengubah atau memperbaikinya, maka akibatnya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat. Rasulullah SAW bersabda :

اذارأواالمنكرفلم يغيروه عمهم الله عذابه

Artinya : “Apabila engkau melihat kemunkaran lalu tidak mengubahnya maka Allah ratakan adzabnya kepada mereka”

Maka ibadah kepada Allah dalam bentuk amal shalih, amar ma’ruf dan nahi munkar harus ditegakkan oleh manusia agar kehidupan manusia menjadi baik. Sebagaimana digambarkan di atas, bahwa seluruh dimensi  ibadah, seluruhnya adalah untuk kemaslahatan manusia. Pada ujung QS. Fushilat: 46 Allah SWT menegaskan “Dan sekali- kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba- Nya” Seluruh perintah dan larangan Allah SWT sudah Ia sesuaikan dengan kemampuan dan kodrat manusia. Allah SWT berfirman :

لايكلف الله نفساالاوسعهالهاماكسبت وعليهامااكتسبت. البقرة

artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

 7 Cara yang dapat menyelamatkan manusia:

  1. Syahadatain, menyelamatkan manusia dari syirik dan bid’ah
  2. Shalat, mmd perbuatan keji dan munkar
  3. Shaum/ puasa, membentuk manusia yang taqwa dan mmd kehinaan
  4. Shadaqah/ zakat, mmd kefakiran dan mengikis sifat kikir
  5. Shilaturrahim, mmd permusuhan
  6. Syukur, mmd kesombongan
  7. Sabar, mmd sifat putus asa

Maka menolak untuk ibadah kepada Allah SWT sebenarnya adalah kebodohan manusia,  yang akan  menyebabkan  kerugian  baik di dunia  maupun akhirat, baik kerugian individu maupun kerugian kolektif. Karenanya ibadah itu jangan karena kita takut dosa atau mengejar pahala, tetapi hanya semata- mata mencari keridhaan Allah SWT. Kita beribadah kepada-Nya bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban, tetapi kita butuh kepada ibadah.

Jawaban Atas Pertanyaan, Mengapa Islam Menyembah Dan Sujud Pada KA’BAH ?

Jika Islam menentang penyembahan berhala, mengapa umat Islam menyembah dan sujud kepada Ka’bah ?
Menanggapi pertanyaan, mungkin sebagian kita bingung. Namun, Dr. Zakir Naik seorang ulama terkenal dari India yang dikenal cerdas dan ahli dalam ilmu perbandingan agama menjawabnya dengan lugas, cerdas, dan ilmiah.

Berikut adalah jawaban beliau yang diambil dari buku “Mereka Bertanya, Islam Menjawab: Kumpulan Pertanyaan Mengganjal tentang Islam yang Sering Diajukan Orang Awam dan Non-Muslim”

“Ka’bah adalah kiblat, yaitu arah kaum muslimin menghadap dalam shalat mereka. Perlu dicatat bahwa walaupun kaum muslimin menghadap Ka’bah dalam salat, mereka tidak menyembah Ka’bah. Kaum muslimin hanya menyembah dan bersujud kepada Allah. Ketika mereka melakukan thawaf di Ka’bah atau mencium Hajar Aswad, itu semua dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Allah-lah yang memerintahkan mereka untuk menyembah-Nya dengan cara seperti itu.

Disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 144:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

‘Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya….’

1. Islam menghendaki persatuan
Ketika kaum muslimin hendak menunaikan shalat, bisa jadi ada sebagian orang yang ingin menghadap ke utara, sedangkan yang lainnya ingin menghadap ke selatan. Untuk menyatukan kaum muslimin dalam beribadah kepada Allah maka kaum muslimin di mana pun berada diperintahkan hanya menghadap ke satu arah, yaitu Ka’bah. Kaum muslimin yang tinggal di sebelah barat Ka’bah, mereka salat menghadap timur. Begitu pula yang tinggal di sebelah timur Ka’bah, mereka menghadap barat. Dan inilah satu satunya agama yang memiliki Qiblat

2. Ka’bah adalah pusat peta dunia
Kaum muslimin adalah umat pertama yang menggambar peta dunia. Mereka menggambar peta dengan selatan menunjuk ke atas dan utara ke bawah. Ka’bah berada di pusatnya. Kemudian, para kartografer Barat membuat peta terbalik dengan utara menghadap ke atas dan selatan ke bawah. Meski begitu, alhamdulillah, Ka’bah terletak di tengah-tengah peta. Subhanallah..!

3. Tawaf keliling Ka’bah untuk menunjukkan keesaan Allah
Ketika kaum muslimin pergi ke Masjidil Haram di Mekah, mereka melakukan tawaf atau berkeliling Ka’bah. Perbuatan ini melambangkan keimanan dan peribadahan kepada satu Tuhan. Sama persis dengan lingkaran yang hanya punya satu pusat maka hanya Allah saja yang berhak disembah.

4. Hadits Umar bin Khathab
Mengenai batu hitam, hajar aswad, Umar bin Khathab berkata, “Aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak dapat mendatangkan mudarat maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari) Hadits ini menunjukan bahwa Ka’bah bukanlah apa apa (bukan pusat sesembahan).

5. Orang berdiri di atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan
Pada zaman Nabi, orang bahkan berdiri di atas Ka’bah dan mengumandangkan azan. Coba kita tanyakan kepada mereka yang menuduh kaum muslimin menyembah Ka’bah; penyembah berhala mana yang berani  berdiri di atas berhala sesembahannya ? ” tentu saja tidak ada. Ini kembali menunjukkan bahwa Ka’bah bukanlah sesembahan ummat Muslim

Bolehkah Menambah Raka’at Shalat Tarawih Lebih dari 11 Raka’at?

Mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan  bahwa boleh menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70)

Yang membenarkan pendapat ini adalah dalil-dalil berikut :
Pertama, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

Artinya: “Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

Artinya : “Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim no. 489)

Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

Artinya : “Sesungguhnya engkau tidaklah melakukan sekali sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.” (HR. Muslim no. 488)

Dari dalil-dalil di atas menunjukkan beberapa hal:
Keempat, Pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memilih shalat tarawih dengan 11 atau 13 raka’at ini bukanlah pengkhususan dari tiga dalil di atas.

  1. Alasan pertama, perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri, sebagaimana hal ini telah diketahui dalam ilmu ushul.
  2. Alasan kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 raka’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang. … Barangsiapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan raka’at tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah raka’at yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)
  3. Alasan ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam dengan 11 raka’at. Seandainya hal ini diperintahkan tentu saja beliau akan memerintahkan sahabat untuk melaksanakan shalat 11 raka’at, namun tidak ada satu orang pun yang mengatakan demikian. Oleh karena itu, tidaklah tepat mengkhususkan dalil yang bersifat umum yang telah disebutkan di atas. Dalam ushul telah diketahui bahwa dalil yang bersifat umum tidaklah dikhususkan dengan dalil yang bersifat khusus kecuali jika ada pertentangan.
  4. Kelima, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam dengan bacaan yang panjang dalam setiap raka’at. Di zaman setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang begitu berat jika melakukan satu raka’at begitu lama. Akhirnya, ‘Umar memiliki inisiatif agar shalat tarawih dikerjakan dua puluh raka’at agar bisa lebih lama menghidupkan malam Ramadhan, namun dengan bacaan yang ringan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tatkala ‘Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Ka’ab sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 raka’at kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga raka’at. Namun ketika itu bacaan setiap raka’at lebih ringan dengan diganti raka’at yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada melakukan satu raka’at dengan bacaan yang begitu panjang.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)
  5. Keenam, telah terdapat dalil yang shahih bahwa ‘Umar bin Al Khottob pernah mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat tarawih, Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari ditunjuk sebagai imam. Ketika itu mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 21 raka’at. Mereka membaca dalam shalat tersebut ratusan ayat dan shalatnya berakhir ketika mendekati waktu shubuh. (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq no. 7730, Ibnul Ja’di no. 2926, Al Baihaqi 2/496. Sanad hadits ini shahih. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/416)

Begitu juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. Dari As Saa-ib bin Yazid, beliau mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khottob memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daariy untuk melaksanakan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. As Saa-ib mengatakan, “Imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena saking lamanya. Kami selesai hampir shubuh.” (HR. Malik dalam Al Muqatho’, 1/137, no. 248. Sanadnyashahih. Lihat Shahih Fiqih Sunnah 1/418)