Ciri Ciri Orang Munafik

Hadis Riwayat – Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kali mendengar kata munafik yang dilontarkan oleh satu pihak ke pihak lain. Munafik sendiri sebenarnya juga sering di lontarkan pada pihak yang berkhianat atau mengingkari perkataan maupun perbuatannya.

Lalu sebenarnya apa itu munafik? Munafik sendiri sebenarnya sudah ada pada zaman dahulu, bahkan pernah diceritakan ketika Nabi Shallau’alaihiwassalam sedang berkhutbah ada diantara makmumnya yang termasuk orang yang munafik. Munafik berarti orang-orang yang nifak yang bermakna berbeda antara apa yang tampak (lahir) dan tidak tampak (batin) yang apabila perbedaan tersebut menyangkut perkara imam maka orang tersebut termasuk nifaq I’tiqad.

Sedangkan menurut kamus besar Bahasa Indonesia atau KBBI, munafik berarti bertindak seolah-olah yakin dan taat terhadap sebuah ajaran agama atau yang sejenisnya. Namun sesunguhnya dalam hatinya tidak sperti itu. Makna lainnya adalah suka berkata apa yang sebenarnya dia tidak kerjakan atau bermuka dua. Kami rasa penjelasan mengenai arti munafik sudah tergambarkan dalam benak kalian, selanjutnya kita akan bahas ciri ciri orang munafik itu seperti apa?

Ciri Ciri Orang Munafik

Islam sendiri menyebutkan bagaiman ciri ciri orang munafik yang sudah tergambarkan dalam salah satu hadist yang disampaikan oleh Abu Hurairah r.a. yang berbunyi,

قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ – عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, Ciri ciri orang munafik ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat (HR. Al- Bukhari)

Hadis diatas diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya bab berjudul Baabu Alaamati Munaafiq atau jika diartikan dalam Bahasa Indonesia yang artinya Tanda-tanda Orang Munafik.

Mari kita bahas hadis diatas mengenai ciri ciri orang munafik ini. Dari hadis diatas maka terdapat perintah yang ditujukan kepada manusia agar berhati-hati terhadap ketiga ciri ciri orang munafik yang disebutkan. Penjelasan singkat terkait 3 ciri ciri orang munafik yaitu,

  • Jika berbicara dia berdusta, Orang seperti ini tidak bisa dipercayai dalam setiap perkataan yang diucapkannya dan bisa jadi apa yang dibicarakan tidak sesuai dengan hatinya.
  • Jika berjanji dia mengingkari, Orang munafik sulit untuk dipercayai perkataan dan perbuatannya.
  • Bila diberi amanah dia berkhianat, Orang munafik sulit diberikan kepercayaan. Setiap kali kepercayaan yang diberikan tidak dapat dia jaga dengan baik.

Dalil Al-Qur’an Terkait Ciri ciri Orang Munafik

Selain hadis diatas, Allah Ta’ala juga telah menjelaskan ciri ciri orang munafik dalam Firman-Nya Surat Al-Baqarah Ayat 14 yang bunyimya,

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.

Kemudian Allah Ta’ala membalas  perkataan mereka dalam ayat selanjtnya Al –Baqarah ayat 15 yang berbunyi,

اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.

Ancaman Allah Ta’ala Terhadap orang munafik

Dalam Al-Quran juga disebutkan ancaman terhadap orang-orang yang munafik. Dalam firmannya Al-Hadid ayat 12-14:

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”.

يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.

يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.

Masih banyak lagi ayat Al-Qur’an dan hadis yang menjelaskan ciri ciri orang munafik dan ancaman bagi orang yang munafik. Maka sudah sepatutnya bagi seorang muslim untuk menjaga dan mewaspadai perilaku buruk in dan terhindar dari ciri ciri orang munafik.

Syukron,
jazakallahu khairan

Renungan Singkat Azab Alam Kubur Dalam Islam, Sudah Siapkah Kamu ?

AZAB ALAM KUBUR DALAM ISLAM, SUDAH SIAPKAH KAMU ?

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Segala puji bagi Allah Jalla-Jalaluhu atas nikmat dan karunianya kepada kita semua
Hari ini saya akan berbagi suatu renungan kepada antum-antuna semuanya. Semoga dengan tulisan ini mampu membawa kita semua untuk berfikir atas apa yang kita lakukan selama ini, dan dapat membuat kita semua kembali kepada perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sampai kapan kamu akan berbuat seperti itu terus?
Apa kamu tidak yakin bahwa azab Allah begitu keras?
Allah Subhanahu wa Ta’ala  mampu meng-azab dirimu sekonyong-konyong.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mampu membuat tiba-tiba dirimu tenggelam kedalam bumi.
Kamu tidak takt kepada Allah?

Demi Allah, jikalah kita sedang berbuat maksiat kemudian tiba-tiba kematian datang kepada kita, apa yang akan kamu lakukan?
Demi Allah, Jiwa kita ini lemah, badan kita pun tidak akan mampu untuk menahan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Azab kubur begitu pedih wahai manusia.
Coba dengarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْه

Artinya : Tidak pernah aku melihat pemandangan yang amat mengerikan kecuali (siksa) kubur lebih mengerikan darinya. (HR. Ibnu Majah, no. 4267)

Sesungguhnya azab kubur dan kuburan itu merupakan penentu kehidupan kita.
Kamu kira setelah kamu mati, kamu dikuburan, kamu akan tenang hidup begitu ?
Kamu kira setelah kamu meninggal dunia itu merupakan tempat peristirahatan kamu yang terakhir ?
Kamu kira kamu tidak akan ditanya oleh malaikat Munkar-Nakir ?
Kamu kira kamutidak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ?
Demi Allah kamu salah besar.

Utsman bin Affan saja dahulu, ketika berziarah kubur beliau menangis.
Ketika ditanya oleh sahabat kepada Utsman, “ kenapa wahai utsman, ketika dibacakan kepada kamu surga dan neraka kamu tidak menangis, tapi ketika kamu berziarah kubur kamu menangis ?
Utsman berkata, “karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sesungguhnya kuburan itu adalah persinggahan akhirat yang pertama kali. Siapa yang selamat di kuburnya maka yang setelahnya lebih mudah dari itu, tapi siapa yang tidak selamat dari kuburnya maka yang setelahnya lebih sulit dari itu”
Jangan kamu anggap remeh azab kubur, hidup di dunia hanya sebentar, kamu kira kamu akan hidup seribu tahun di dunia, kamu kira kamu akan hidup terus menerus, Tidak mungkin. Setiap makhluk yang berjiwa pasti akan mati. Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Artinya    : Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

Artinya    : Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. (Surat Az   Zumar: 30).

Sesungguhnya kamu itu akan mati dan mereka juga akan mati, kamu dan saya sama saja, kita semua akan meninggal dunia. Ini yang harusnya kita pikirkan bersama, jika kita terus menerus berbuat maksiat dan maksiat, bagaiaman jika ternyata malaikat maut datang menjemput kita disaat kita sedang berbuat maksiat pada Allah. Apakah kamu kira malaikat maut akan tersenyum kepada kamu, Tidak.
Dalam Hadis Al-Barra’ bin Malik bahwasanya Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan bagaimana kematian orang yang fasik (kafir), kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau berkata:

وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ وفي رواية وَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ السُّوءُ إِذَا كَانَ فِى انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلاَئِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ مَعَهُمُ الْمُسُوحُ فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِىءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِى إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَغَضَبٍ – قَالَ – فَتُفَرَّقُ فِى جَسَدِهِ فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِى يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِى تِلْكَ الْمُسُوحِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلاَ يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلأٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ إِلاَّ قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ فَيَقُولُونَ فُلاَنُ بْنُ فُلاَنٍ بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِى كَانَ يُسَمَّى بِهَا فِى الدُّنْيَا رواه أحمد وابن ماجة وصححه الألباني

Artinya    : Bila orang kafir, pada riwayat lain: Bila orang jahat hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Mereka berwajahkan hitam kelam, membawa kain yang kasar, dan selanjutnya mereka duduk darinya sejauh mata memandang. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang buruk, bergegas engkau keluarlah dari ragamu menuju kepada kebencian dan kemurkaan Allah”. Segera ruh orang jahat itu menyebar keseluruh raganya. Tanpa menunda-nunda malaikat maut segera mencabut ruhnya dengan keras, bagaikan mencabut kawat bergerigi dari bulu domba yang basah. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat Maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangannya. Para malaikat segera mengambil ruh orang jahat itu dan membukusnya dengan kain kasar yang mereka bawa. Dari kain itu tercium aroma busuk bagaikan bau bangkai paling menyengat yang pernah tercium di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruh itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu buruk.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terburuk yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).

Kamu siap ?
Siapa yang siap ?
Tentunya kita semua ingin meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, kehidupan dunia bukanlah tempat bersenda gurau. Tapi kita hidup di dunia untuk bercocok tanam, yang kelak buahnya akan kita tuai nanti, dalam kehidupan akhirat nanti. Apalah dunia ?
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam Al-Qur’an:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya : Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. al-Hadîd [57]: 20).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan bahwa dunia itu sangat hina. Ketika Rasulullah sedang berjalan dengan sahabatnya, ketika itu rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemukan bangakai seekor kambing yang telinganya putus. Kemudian Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkatnya dan berkata , “siapa yang mau membeli bangkai ini dengan harga satu dirham”
Kata para sahabat , “wahai Rasululullah, kalaupun itu hidup kamipun tidak mau membelinya”
Kenapa, tanya Rasulullah, “Karena ia cacat Rasululullah, bagaiman yang engkau tawarkan ini sudah menjadi bangkai”
Namun apa kata Rasululullah “Sesungguhnya dunia ini lebih hina dimata Allah daripada bangkai ini”

Kita hidup di dunia ini sebentar, apakah hanya karena kita ingin mendapatkan dunia dan dunia, memuaskan syahwat kita, nafsu kita, kita gadaikan waktu yang Allah berikan ini. Kalau misalnya kamu hidup di dunia 60 tahun, tahukah kamu satu hari disisi Allah seribu tahun, kalau satu hari 24 jam disisi Allah seribu tahun, berarti kita hidup di dunia hanya 1.5 jam. Apa kamu tidak sadar. Apakah hanya untuk 1.5 jam kamu gadaikan kehidupan yang tiada tara. Tidakkah kamu berpikir, Saudaraku, kita ini manusia yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segera kita sadar, segera kita taubat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah memberikan kepada kamu hidayah, dan juga kepada saya, untuk bersama-sama kita bergandengan tangan menuju surga Allah yang luas, yang luasnya seluas langit dan bumi. Tidakkah kamu menginginkan mendapatkan surga tersebut, atau kamu lebih senang untuk mendapatkan api neraka.

Semoga saya dan Antum diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala hidayah dan istiqamah.
wabillahi taufik wal hidayah,
wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh