Waspada Terhadap Fitnah Akhir Zaman

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, menjelang terjadinya Kiamat ada fitnah-fitnah seperti sepotong malam yang gelap gulita, Pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, tetapi pada sore hari ia menjadi kafir. Sebaliknya, pada sore hari seseorang dalam keadaan beriman, namun di pagi hari ia dalam keadaan kafir. Orang yang duduk pada masa itu lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada Yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang Yang berjalan cepat. Maka, patahkan busur kalian, putus-putuslah tali kalian, dan pukullah pedang kalian dengan batu. Jika salah seorang dari kalian kedatangan fitnah-fitnah ini, hendaklah ia bersikap seperti anak terbaik di antara dua anak Adam (yakni bersikap seperti Habil, jangan seperti Qabil)”

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Ketahuilah, Sesungguhnya fitnah itu dari sini, fitnah itu dari sini, dari arah terbitnya tanduk setan.” Ini merupakan peringatan penting bagi setiap muslim, bahwa banyaknya fitnah yang menyebabkan seseorang murtad merupakan tanda dekatnya akhir zaman. Untuk skala lokal, barangkali yang paling nyata adalah fenomena fitnah kesulitan hidup, kemiskinan, dan kesengsaraan yang menyebabkan seseorang dengan mudah menukar agamanya. Juga godaan dunia yang dikemas sedemikian menggiurkan bagi siapapun untuk mencicipinya. Sehingga siapapun yang tidak memiliki ketahanan iman, sangat mungkin merubah imannya dalam bilangan hari.

Namun di antara berbagai fitnah yang dinubuwatkan oleh beliau tidak ada satupun fitnah yang lebih berbahaya, lebih dahsyat, dan lebih keras efek yang ditimbulkannya melebihi fitnah Dajjal. Hal itu, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw “Wahai sekalian manusia! sesungguhnya tidak ada fitnah di muka bumi ini semenjak Allah menciptakan keturunan Adam-yang lebih besar dari fitnah Dajjal, Sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang Nabi, melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang fitnah Dajjal.”

Peringatan Rasulullah SAW Terhadap Fitnah Akhir Zaman

Al-Qur’an menjelaskan bahwa hakikat hidup dan mati manusia adalah ujian. Dunia adalah negeri amal dan akhirat adalah negeri untuk memetik hasilnya. Dunia adalah ladang untuk bekerja, dan akhirat adalah tempat menuai semua yang telah diperbuat oleh manusia. Seorang muslim yang memahami hakikat ini akan sadar, bahwa semua aktivitas yang ia lakukan adalah ujian.

Apapun yang menimpanya, entah keberhasilan atau kegagalan yang diperolehnya, maka semua itu hanya ujian yang diberikan Allah i kepadanya. Allah ingin melihat, apakah ia berhasil dalam menjalani ujian ini atau gagal di dalamnya. Allah berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya : “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Namun demikian, seorang mukmin menyadari bahwa ujian yang akan diberikan Allah kepada para hamba-Nya yang beriman jauh berbeda dengan ujian yang akan ditimpakan kepada orang-orang kafir. Orang mukmin akan mendapatkan ujian yang lebih berat, musuh yang akan dihadapinya sangat banyak, rintangan dan cobaan yang akan ditemui juga berlapis dan sangat bervariasi. Jika orang kafir hanya memiliki satu musuh, yaitu orang yang beriman, maka orang mukmin memiliki musuh yang lebih dari satu. Setidaknya seorang mukmin memiliki 5 musuh dalam hidupnya, diantaranya:

  1. Setan yang selalu menjerumuskannya
  2. Hawa nafsu yang selalu menggodanya
  3. Orang-orang kafir yang selalu memeranginya
  4. Orang-orang munafik yang senantiasa mengintainya, dan
  5. Orang-orang Islam lain yang hasad /dengki kepadanya

Adapun orang kafir, maka semua musuh orang mukmin itu bisa menjadi kawannya. Mereka menjadikan setan sebagai pemimpin, hawa nafsu sebagai tuhan, orang kafir lain sebagai sekutu, dan orang munafik sebagai kawan dekatnya. Dengan demikian, setiap mukmin menyadari bahwa sangat berat memilih keimanan sebagai jalan hidup. Sebab, sudah merupakan sunnatullah bahwa ujian kepada orang mukmin sangatlah berat. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, maka semakin berat pula ujian yang akan dipikulnya. Dan jika Allah menghendaki kebaikan pada suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ (٢)وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (٣)

Artinya : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3)

Salah satu dari sekian bentuk ujian yang harus dihadapi oleh setiap mukmin adalah banyaknya fitnah kehidupan di akhir zaman. Rasulullah sendiri mengkhabarkan bahwa nasib orang-orang beriman di akhir zaman nanti bagai para penggenggam bara. Jika bara itu dilepas maka ia akan padam, namun jika tetap pegang, maka tangannya akan terbakar.

Maka sudah sepatutnya bagi setiap muslim untuk mengetahui apa saja bentuk fitnah yang mungkin akan dialaminya. Sebab kejahilan seseorang tentang hal itu bisa menyeretnya kepada hal-hal yang memudharatkan dirinya.

Tiga Kelompok Manusia Dalam Menyikapi Nash-Nash Tentang Hari Kiamat & Tanda-Tanda Kedatangannya.

Secara umum, manusia terbagi menjadi tiga kelompok di dalam menyikapi nubuwat Rasulullah Saw tentang peristiwa-peristiwa akhir zaman:

Pertama: Kelompok yang beriman dan yakin dengan semua yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw tentang dekatnya kehancuran alam semesta (kiamat), yang itü semua didahului dengan tandatanda kecil dan beşar yang mendahuluinya. Kelompok ini terbagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Mereka yang menerima nash-nash tersebut apa adanya.
  2. Mereka yang menerima nash-nash tersebut dengan penuh keyakinan, namun bersikap melampaui batas dalam menterjemahkan sekaligus mengaktualisasikan.
  3. Kelompok yang menerima nash-nash tersebut dengan penuh keyakinan, bahwa semua itu benar apa adanya dari Nabi Saw.

Kedua: Mereka yang kurang peduli dengan nash-nash tentang peristiwa akhir zaman dan tidak banyak mengkajinya karena dianggap kurang realistis dan bukan masanya. Mereka menganggap bahwa pembicaraan tentang petaka akhir zaman sebagai penghalang menuju kemajuan, karena merasa telah dibatasi Oleh takdir tentang berakhirnya alam semesta. Apalagi jika peristiwa akhir zaman itu dikaitkan dengan kemenangan umat Islam di bawah kepemimpinan Al-Mahdi yang akan menaklukkan seluruh dunia, mereka menganggapnya hanyalah ilusi dan mimpi kosong. Kelompok ini ini terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Mereka yang secara lahir adalah kelompok ilmuan (ulama) yang banyak bergelut dengan dunia ilmu dan penelitia. Mereka menakwilkan hadits-hadits tentang akhir zaman dan hanya mau menerima yang bisa diterima oleh akal dan sesuai dengan logika.
  2. Mereka yang secara umum termasuk umat islam yang tidak memiliki kepedulian terhadap ilmu syar’i, tidak pernah mempelajari perkara-perkara iman kecuali sebatas jumlah dan nama rukun iman.

Ketiga: Mereka yang tidak yakin akan datangnya kiamat. Kelompok ini banyak diwakili oleh kebanyakan bangsa barat atau timur (semisal Jepang dan Korea) yang tidak mengimani adanya hari akhir. Kelompok ini didominasi Oleh mereka yang tidak menganut agama samawi. Kecanggihan teknologi yang mereka miliki menjadikan mereka memiliki kesimpulan tersendiri tentang nasib dunia di masa mendatang. Termasuk kelompok ini adalah darwinisme dan mereka yang sepaham dengannya.

Secara umum setiap agama samawi (Islam, Kristen, dan Yahudi) mengajarkan keyakinan tentang datangnya hari pembalasan. Masing masing agama samawi itu memiliki kitab suci yang menginformasikan tentang kepastian adanya hari kiamat. Bahkan Taurat dan Injil banyak mewartakan kisah-kisah tentang peristiwa akhir zaman secara berlebih-lebihan.

Adapun mereka yang mengingkari adanya kiamat, mungkin lebih disebabkan oleh pengaruh pemikiran dari luar agama mereka yang lebih bernilai politis. Di satu sisi mereka merasa memiliki teknologi yang sangat modern untuk meneliti tentang hakikat alam semesta, hingga bisa menyimpulkan bahwa matahari masih akan bersinar 5 milyar tahun lagi, namun mereka juga memiliki misi untuk menggiring manusia agar tidak mengekor kepada agama yang terlalu banyak membelenggu. Mereka ingin membuktikan bahwa banyak ajaran agama (terkhusus Islam) yang sangat tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan modern, tidak realistis dan sulit diterima akal. Sehingga, jika mereka berhasil meyakinkan manusia akan sesatnya kehidupan beragama, maka dengan mudah mereka meyakinkan manusia bahwa kebenaran selalu bersama mereka, bersama teknologi modern yang mereka miliki.

Demikianlah berbagai golongan manusia dalam menyikapi berbagai fitnah akhir zaman dan tanda-tanda yang mengiringinya. Sikap terbaik yang harus diambil oleh setiap muslim dalam menghadapi semua itu adalah sebagaimana yang diambil oleh golongan pertama dari kelompok terakhir, yaitu mereka yang menerima nash-nash tersebut dengan penuh keyakinan, lalu berusaha untuk mengambil posisi yang benar terhadap hadits-hadits tersebut secara proposional. Mereka tidak cuek dan tidak terlalu kaku, namun tidak juga terlalu ekstrim dan berlebihan. Mereka berusaha menjadikan semua nash-nash nubuwah Rasulullah Saw sebagai pijakan hidup, agar setiap langkah mereka tidak keliru. Mereka juga selalu mencari tahu tentang hakikat sebenarnya dari hadits-hadits fitnah, dengan maksud agar mereka selamat dari fitnah tersebut tanpa melakukan pemastian-pemastian pada hal-hal yang belum qath’i.

Terhadap fitnah Dajjal, mereka sangat waspada jika suatu ketika mereka berada di zamannya. Maka pada setiap shalat yang mereka lakukan selalu diiringi dengan doa perlindungan fitnah Dajjal. Mereka juga melakukan persiapan-persiapan amal nyata, jika suatu ketika apa yang diisyaratkan oleh Rasulullah Saw benar-benar nyata di depan mata. Termasuk di antara persiapan pokok yang mereka lakukan adalah mengkaji dan memahami dengan benar hakikat Dajjal dan fitnahnya. Mereka dalami dalil-dalil yang berkaitan dengannya, mereka bicarakan persoalan ini, dan mereka sebarkan kepada umat di sekitarnya. Sebab, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah Saw, sesungguhnya Dajjal akan muncul di saat manusia sudah banyak melupakannya, di saat para khatib dan imam tidak lagi menyebut dan memperbincangkannya di mimbar-mimbar mereka.  Mereka lakukan semua ini agar umat selamat dari fitnah dan bahaya Dajjal yang sewaktu-waktu menghampiri mereka. Wallahu a’lam bish shawab.

Bagaimana Bersikap Yang Benar Terhadap Fenomena Akhir Zaman

Satu hal yang sudah łazim diketahui, bahwa sebenarnya setiap manusia apapun agama mereka memiliki keyakinan yang sama akan berakhirnya alam semesta. Masing-masing umat memiliki kitab suci yang juga mewartakan akan datangnya hari yang dijanjikan. Sebagian kitab menyebutkan secara detil dan sebagian lainnya hanya tersirat, sedangkan Al-Qur’an dan sunnah yang shahih telah mewartakan secara terperinci dengan akurasi kebenaran mutlak 100 %.

Untuk umat Islam, secara umum mereka memiliki keyakinan akan datangnya akhir zaman. Akan tetapi, mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang masa kedatangannya. Bukan hanya masa kedatangannya, bahkan cara menyikapinya pun memiliki sudut pandang yang berbeda.

Bagi seorang muslim, memahami dengan baik nash-nash yang berita akhir zaman merupakan sebuah kewajiban. seseorang dałam memahami nash-nash tersebut akan berakibat pada sikap dan tindakan yang keliru dałam beramal juga menentukan prioritas amal. Banyak sekali contoh yang kita dapati dari kesalahan bertindak yang disebabkan salahnya mereka memahami nash-nash tersebut. Misalnya hadits tentang pastinya kejadian perang antara umat islam dengan orang-orang Yahudi di akhir zaman. Maka sangat keliru mereka Yang membolehkan damai dengan Yahudi. Bagaimana hal itu dibolehkan, sedangkan Rasulullah Saw menyatakan bahwa kiamat tidak akan berdiri hingga umat Islam memerangi mereka, bahkan jika orang-orang Yahudi itu berlindung di balik batu dan pepohonan, maka keduanya akan memberitahukan tempat persembunyian mereka. Dengan demikian, tabi’at umat Islam adalah memerangi orang-orang Yahudi, memusuhi mereka, dan tidak ada kata damai dengan mereka.

Nash Iain tentang berita akhir zaman adalah hadits tentang banyaknya orang-orang jahat yang akan diangkat sebagai pemimpin, ilmu dituntut dari orang-orang bodoh, dan merajalelanya kemaksiatan. Maka setiap mukmin yang menyadari betul akan hakikat ini, tentu ia akan berhati-hati dalam menuntut ilmu, berhatihati dalam memilih pemimpin hidup, dan berhati-hati dalam setiap tindakan dan perbuatan mereka. Sikap dan tindakan itu baru bisa dilakukan Oleh seorang muslim manakala ia memiliki ilmu yang benar tentangnya.

Rasulullah juga mengingatkan kepada umatnya tentang terjadinya sikap mengekor dan taklid buta kepada bangsa barat, sejengkal demi sejengkal, setahap demi setahap, hingga seandainya mereka masuk dalam lubang biawak, maka kaum musliminpun tetap akan mengikuti mereka. Seorang muslim yang telah membaca peringatan beliau tentu waspada, bahwa sifat mengekor kepada peradaban barat adalah celaan dan peringatan keras dari Nabi Saw. Lain halnya dengan mereka yang salah dalam memandang hadits tersebut, mereka menganggap bahwa sabda beliau merupakan sebuah kabar yang setiap muslim wajib merealisasikannya, sehingga mengekor kepada peradaban barat merupakan sebuah keniscayaan yang setiap orang tidak bisa menghindar darinya. Apalagi ada sebagian mereka yang menafsirkan hadits tersebut dengan ungkapan bahwa di akhir zaman nanti seluruh manusia akan berkiblat ke barat (Eropa dan Amerika), dan itu merupakan pujian terhadap kemajuanbudaya dan tingkat kehidupan bangsa barat. Padahal maksud dari sabda beliau adalah agar setiap umat Islam waspada untuk tidak terjebak pada pola mengekor dan taklid buta atas mereka.

Juga peringatan beliau tentang kewajiban untuk bergabung dengan jama’atul muslimin di saat berkecamuknya fitnah, di saat manusia terpecah dalam berbagai kelompok dan firaq.

Nash lain yang tidak kalah pentingnya adalah janji-janji Rasulullah tentang kembalinya kejayaan umat Islam dengan kedatangan Al-Mahdi. Di mana Al-Mahdi dengan kelompok yang bersamanya (Thaifah Manshurah) akan menaklukkan siapapun yang tidak tunduk kepada perintahnya.

Cara berfikir seperti ini tentunya akan sulit dimengerti oleh mereka yang tidak pernah memahami dengan baik hadits-hadits tentang fitnah akhir zaman. Dan hingga saat ini umat Islam masih saja dibelenggu dengan cara berfikir barat yang menjanjikan kebahagiaan dan kesejahteraan dunia mereka dengan demokrasi semu. Mereka menganggap bahwa cara itu merupakan pilihan terbaik untuk selamat dari fitnah dan kejahatan. Mereka membela mati-matian sistem kufur tersebut dengan mencampakkan syari’at Islam. Sementara perintah Nabi agar umat Islam melazimi jama’ah, mereka abaikan.

Di antara pesan beliau lainnya adalah, sikap istiqamah yang harus dimiliki oleh setiap muslim dalam menghadapi gelombang fitnah. Rasulullah menggambarkan bahwa akan datang suatu masa di mana orang-orang yang berpegang teguh dengan agamanya bagai menggenggam bara api yang panas. Jika ia buang maka bara itu akan padam, namun jika ia tetap genggam maka tangannya akan terbakar. Ini merupakan tabi’at dienul Islam. Tidak mungkin keislaman yang benar akan mendapatkan decak kagum orang-orang kafir dan fasik, tidak mungkin keislaman yang benar akan mendapatkan penghargaan dan pujian dari mereka, dan tidak mungkin keislaman yang benar pada diri seseorang akan membuat musuh merasa aman. Keislaman yang benar adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Waraqah bin Naufal saat beliau dikhabarkan tentang apa yang diperoleh oleh Muhammad Saw sepulang beliau dari goa hira, “Tidak seorangpun yang membawa sebagaimana yang engkau bawa, melainkan kaumnya pasti akan memusuhinya”. Benar, tidak mungkin ada seorang muslim yang mengikuti petunjuk nabinya dengan benar, melainkan kaumnya akan memusuhinya. Dan inilah fenomena yang terjadi, dimana umat islam yang berupaya untuk menegakkan syari’at akan mendapatkan cobaan dan ujian yang sangat besar.

Kemudian, beralih kepada hadits-hadits lain tentang fitnah akhir zaman yang lebih detail (yaitu hadits-hadits tentang imam Mahdi, Dajjal, dan kondisi dunia İslam setelahnya) , maka kita akan dapatkan, betapa beliau Z, terus-menerus mengulangi peringatan tersebut kepada umatnya. Hadits-hadits tersebut mengisyaratkan bahwa masa depan kaum muslimin adalah berjihad fie-sabilillah dan keharusan kaum muslimin untuk bergabung bersama kelompok tersebut untuk menaklukkan dunia, hingga Islam benar-benar merata dan kaum muslimin hidup dalam kondisi aman melaksanakan agama mereka. Maka merupakan kedustaan mereka yang mengira bahwa dien ini akan tegak tanpa syari’at jihad. Sunnatullah berupa digantinya suatu kaum yang meninggalkan amalan jihad pasti akan berlaku, mereka yang akan dimunculkan oleh Allah adalah mereka yang memiliki manhaj iqamatudin melalui jalan Jihad Fie-Sabilillah.