Cara Paling Sederhana Menghafal Al-Qur’an yang Cepat dan Mudah

Mempunyai ingatan yang kuat adalah suatu keinginan yang sering ingin dicapai oleh setiap manusia di dunia ini. Bahkan, tidak hanya untuk menghafal materi yang berhubungan dengan dunia saja, dalam urusan menghafal Al-Qur’an juga merupakan keinginan yang kuat bagi setiap muslimin dan muslimah. Namun, bukan perkara yang mudah jika semua itu tidak disertai dengan niat ikhtiyar yang teguh dan istiqomah.

Cara Menghafal Al-Qur’an

Jika, hanya suatu keinginan saja maka hanya akan mendatangkan hasil yang nihil. Bahkan orang yang seperti ini juga tidak akan bisa menghafal sedikit ayat-ayat Al-Qur’an yang ia baca berulag-ulang kali. Oleh sebab itu, marilah kita teguhkan hati dengan niat kokoh agar mampu untuk menghafal Al-Qur’an (ayat-ayat suci Allah).

Cara Menghafal Al-Qur’an yang Cepat dan Mudah

Sebenarnya cara menghafal Al-Qur’an ini sudah ada caranya dizaman Rasulullah, terbukti di masanya banyak sekali penghafal Ayat-ayat Al-Qur’an dan bahkan ribuan hadis yang hidup di masanya. Namun seiring dengan berkembangnya zaman, maka para ahli/pakar/ulama yang sudah mendalami cara-cara menghafal sudah banyak sekali bermunculan. Oleh karenanya pada tulisan ini, kami akan membagikan suatu tips/cara menghafal Al-Qur’an secara sederhana didalam islam.

Tingkatkan Takwa, Disini kami tidak akan membahas metode, melainkan pesan-pesan Al-Qur’an. Hal ini karena metode tidak menentukan keberhasilan dalam menghafal, walaupun jika ada metode sehebat apapun ketika Allah tidak berkehendak maka tidak akan masuk. Maka tipsnya adalah tingkatakan takwa, dekati Allah Ta’ala yang mempunyai firmannya karena Al-Qu’an bukan makhluk.

Ikhlaskan Niat, Jangan pernah belajar menghafal Al-Qur’an dengan tujuan menjadi hafidz. Walupun hal itu dipersalahkan tetapi hal itu sudah mengurangi keikhlasan. Jika Anda ingin menghafalkan Al-Qur’an maka hafalkan saja, semua terserah Allah apakah akan diridhoi ataupun tidak. Bahkan ada sebuah kasus dimana Allah membuatnya tidak hafal-hafal dalam waktu yang sangat lama, berarti Allah sangat menyayangi hambanya karena hamba yang sedang menghafalkan Al-Qur’an pasti akan mengulang setiap hurufnya (bukankah setiap huruf itu 10 kebaikan).

Yakinkan pada diri kita, yakinkan pada diri kita bahwa kita sanggup untuk menghafalkannya. jangan pernah sesekali merasa patah semangat dan ingin berhenti untuk melanjutkan menghafal Al-Qur’an.

Mulai Berikhtiyar, mulalilah mencoba menghafal dari segala metode. Pertama kenali terlebih dahulu metode yang mudah diterapkan pada diri Anda, misal saja Anda lebih menyukai dan lebih nyaman ketika menerapkan metode membaca sebanyak-banyaknya dan menghafal kemudian maka itulah yang dianggap lebih baik dari metode yang lain.

Keutamaan Menghafal Al-Qur’an

Apa saja keutamaan menghafal Al-Qur’an? Sebenarnya sangat banyak sekali manfaatnya. Namun disini Kami akan menjelaskan secara poin-poinnya saja.

  1. Alllah akan meridhai para penghafal Al-Qur’an
  2. Al-Qur’an akan menjadi syafaat dan penolong
  3. Perisan dan benteng kehidupan
  4. Mendapatkan mahkota dari cahaya di hari kiamat
  5. Kedua orang tua diberikan jubah kemuliaan yang tidak bisa ditukarkan dengan seisi dunia
  6. Ditempatkan di surga tertinggi
  7. Menjadi orang yang berilmu dan tidak sombong
  8. Menambah keimanan pada jiwa
  9. Kenikmatan yang tiada bandingannya
  10. dan masih banyak lainnya.

 

Amalan Ringan yang Disukai Allah

Alhamdulillah washshalatu wassalaamu ‘ala Rasulillah. Kaum muslilmin yang dirahmati Allah, diantara yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pada kita adalah rutin mengamalkan amalan shalih meskipun amalan itu sedikit dan ringan, atau bahkan dipandang remeh oleh sebagian orang. Namun ternyata tanpa kita sangka, ternyata amalan tersebut mengandung pahala yang besar yang disukai ole Allah Ta’ala.

Berikut adalah beberapa amalan yang mudah dan ringan untuk dilakukan, namun besar pahalanya, berdasarkan hadits yang shahih:

Pertama, membaca : subhaanallaahi wa bihamdihi subhaanallaahil ‘adzim

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua kalimat yang dicintai oleh Allah, ringan di lisan, dan berat ditimbangan: (yaitu bacaan) subhaanallaahi wa bihamdihi subhaanallaahil ‘adzim [Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya, Mahasuci Allah Yang Mahaagung]” (HR. Al Bukhari)

Kedua, wudhu dengan sempurna dan membaca do’a, sebagaimana hadits berikut:

Dari Umar bin Khattab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna, kemudian selesai wudlu dia membaca: asyhadu allaa ilaha illallah wa anna muhammadan abdullahi wa rasuuluh [aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya], maka akan dibukakan untuknya pintu surga yang jumlahnya delapan, dan dia boleh masuk dari pintu mana saja yang dia sukai.” (HR. Muslim)

Ketiga, menghadiri shalat jumat di awal waktu, dengan memperhatikan adabnya.

Dari Aus bin Aus Ats Tsaqafi, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membasuh (kepalanya) dan mencuci (seluruh tubuhnya) di hari jum’at (mandi besar, ed.), lalu berangkat ke masjid pagi-pagi, dan dia mendapatkan khutbah dari awal, dia berjalan dan tidak naik kendaraan, dia mendekat ke khatib, konsentrasi mendengarkan khutbah dan tidak berbicara maka setiap langkahnya (dinilai) sebagaimana pahala puasa dan shalat malam selama setahun.” (HR. Abu Dawud, At tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan dinilai shahih oleh Al Albani)

Abu Zur’ah mengatakan: “Saya tidak pernah menjumpai satu hadits yang menceritakan pahala yang besar dengan amal yang sedikit yang lebih shahih dari hadits ini.”

Keempat, shalat dhuha dua rakaat

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap ruas tulang kalian wajib disedekahi, setiap tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir bernilai sedekah, amar ma’ruf nahi munkar bernilai sedekah, dan semua kewajiban sedekah itu bisa ditutupi dengan dua rakaat shalat dhuha.” (HR. Muslim & Abu Dawud)

Kelima, berdzikir di masjid setelah shubuh.

Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian tetap duduk di masjid sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat maka dia mendapat pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna.” (HR. At Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Al Albani)

Keenam, membaca Al Qur’an.

Dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka dia mendapat satu pahala kebaikan. Dan setiap satu pahala itu dilipatkan menjadi 10 kali….” (HR. At Tirmidzi, At Thabrani dan dinilai shahih oleh Al Albani)

Ketujuh, membaca dzikir ketika masuk pasar atau tempat keramaian.

Dari Abdillah bin Amr bin ‘Ash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang masuk pasar kemudian dia membaca: laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumiit wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khair, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir [tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah tiada sekutu bagiNya, milikNyalah seluruh kerajaan. Dan milikNyalah seluruh pujian, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahahidup dan tidak mati, di TanganNyalah segala kebaikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu] maka Allah catat untuknya sejuta kebaikan, Allah hapuskan sejuta kesalahan, dan Allah angkat untuknya satu juta derajat.” (HR. At Tirmidzi, Al Hakim, Ad Darimi dan dinilai hasan oleh Al Albani)

Kedelapan, shalat berjama’ah di masjid.

Dari Abu Umamah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang keluar dalam keadaan suci, menuju masjid untuk melaksanakan shalat jama’ah maka pahalanya seperti pahala seperti orang yang sedang haji dalam keadaan ihram.” (HR. Abu Dawud dan dinilai hasan oleh Al Albani)

Kesembilan, berdzikir ketika terbangun dari tidur (nglilir -bhs. jawa)

Dari Ubadah bin Shamit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang terbangun (nglilir) ketika tidur malam kemudian dia membaca: laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir. Alhamdulillah, wa subhanallah, wa laa ilaha illallah wallahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billah [tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata tiada sekutu bagiNya, milikNyalah seluruh kerajaan, milkNyalah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Segala puji milik Allah, Mahasuci Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Allah Mahabesar. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah] kemudian dia beristighfar atau berdo’a maka akan dikabulkan. Jika dia berwudhu kemudian shalat dua rakaat maka shalatnya diterima.” (HR.  Bukhari & Abu Dawud)

Kesepuluh, Shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh.

Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua rakaat sebelum subuh lebih baik dari pada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)

Kesebelas, membaca shalawat.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali, maka Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain: “Barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali, maka Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan sepuluh kesalahan, dan diangkat sepuluh derajat.” (HR. An Nasa’i, shahih)

Kedua-belas, menjawab adzan dan membaca do’a setelah adzan.

Dari Jabir bin Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mendengarkan adzan kemudian dia membaca do’a: Allahumma rabba hadzihid da’watittammah washshalatil qa’imah, ati muhammadanil wasilata wal fadhilah wab’ats-hu maqamam mahmudanilladzi wa’adtahu [Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna dan shalat wajib yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan fadhilah. Bangkitkanlah beliau ke tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.] maka dia berhak mendapat syafaatku pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

Ketiga-belas, membaca dzikir setiap pagi dan sore. Diantara dzikir yang disyariatkan adalah membaca : subahanallah wa bihamdihi‘’

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa di waktu pagi dan sore membaca: ‘subahanallah wa bihamdihi‘ seratus kali maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala yang lebih baik dari pahala yang dia bawa, kecuali orang yang membaca seperti yang dia baca atau lebih banyak.” (HR. Muslim)

Keempat-belas, mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang mengajak orang lain untuk melakukan kesesatan dan maksiat maka dia mendapat dosa sebagaimana dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)

Kelima-belas, rajin beristighfar.

Dari Ibn Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang rajin beristighfar maka Allah akan berikan jalan keluar setiap ada kesulitan, Allah berikan penyelesaian setiap mengalami masalah, dan Allah berikan rizki yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud, hasan lighairihi)

source: buletin.muslim

Gambaran Yaumul Hisab Yang Sangat Mengerikan

Kelak di hari akhir, setelah semua orang dibangkitkan tanpa terkecuali, kita dikumpulkan untuk mendapat keadilan. Ya, keadilan apakah kita termasuk yang meyakini atau mengkafiri, mendzalimi atau didzalimi, beramal atau bermaksiat, baik atau buruk, berakhir di surga yang indah atau neraka yang menyala.

Pertama kali manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Yakni sebuah lahan luas lagi datar di mana matahari hanya berjarak satu mil dari atas kepala. Hanya segelintir orang saja yang mendapat naungan dari Allah di padang dahsyat itu. Namun bukan sehari dua hari, manusia berdiri di padang mengerikan itu selama 40 tahun. Setiap mata menatap langit, menanti pengadilan Allah terhadap dirinya.  Namun penantian tak kunjung tiba.

Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah bersabda,

يَجْمَعُ اللهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُوْمٍ قِيَامًا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً شَاخِصَةً أَبْصَارُهُمْ يَنْتَظِرُوْنَ فَصْلَ الْقَضَاءِ

Artinya: “Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama sampai yang terakhir, pada waktu hari tertentu dalam keadaan berdiri selama empat puluh tahun. Pandangan-pandangan mereka menatap (ke langit), menanti pengadilan Allah.” (HR. Ibnu Abid Dunya dan Ath Thabrani).

Ketika kesulitan dan kesusahan makin menjadi, mulailah orang-orang mencari syafaat pada para nabi, agar hari pengadilan disegerakan. Mereka mendatangi Nabi Adam, namun beliau enggan memberi syafaat. Lalu kepada Rasul pertama, Nuh, namun hasilnya sama.

Pergilah mereka kepada bapak agama samawi, Nabi Ibrahim. Namun ternyata Nabi Ibrahim pun menolak memberi syafaat. Penolakan yang sama pula terjadi saat meminta syafaat pada Nabi Musa dan Nabi Isa.

Harapan terakhir adalah Rasulullah. Maka pergilah mereka pada Nabi Muhammad, berharap syafaat diberikan beliau Shallallahu’alaihia wa sallam. Rasulullah kemudian memohon kepada Allah agar dapat memberikan syafa’at. Atas izin Allah, Rasulullah pun memberikan syafaat pada semua manusia agar segera diberi keputusan.

Maka di gelarlah pengadilan Allah. Ini lah hari perhitungan amal dimulai. Inilah yaumul hisab yang minta disegerakan, namun sebetulnya mengerikan. “Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali. kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 25-26).

Manusia kemudian mengantre diadili, karena hewan-hewan yang pertama kali mendapat catatan mereka. Manusia, baik yang beriman ataupun kafir, melihat bagaimana keadilan Allah yang amat sangat adil terjadi pada hewan.

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) sepertimu. Tiadalah Kami lupakan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab kemudian kepada Rabb-lah mereka dihimpunkan.” (QS. Al An’am: 38).

Tak ada tujuan mengadili para hewan kecuali demi tegaknya keadilan bagi semua makhluk-Nya. Tak hanya manusia, keadilan bagi makhluk Allah pun berlaku pada hewan dan jin. Maka setelah semua hewan dikumpulkan lalu diadili, mereka pun mendapat qishash. Allah memberi hukuman pada para hewan dengan mengubah mereka menjadi tanah.

Saat melihatnya, manusia dari kalangan kafir pun menginginkan hukuman yang sama seperti hewan. Mereka begitu takut dan berharap agar tak dijeburkan ke neraka. “Dan orang kafir itu berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku menjadi tanah saja.” (QS. An Naba: 40).

Tibalah giliran manusia untuk diadili. Semua kesalahan diungkap dalam pengadilan Allah. Semua dosa akan nampak meski saat di dunia dilakukan sembunyi-sembunyi. Semua maksiat akan terungkap dan manusia tak mampu menghindarinya. Semua dosa akan tersingkap dan membuat manusia tak mampu membela diri. Hanya rahmat Allah lah yang mampu menyelamatkan mereka.

Saat menunjukkan kesalahan seorang hamba yang beriman, Allah berkata, “Apa kau mengetahui dosa ini? Apa kau mengakui dosa ini?” Maka sang mukmin menjawab, “Ya wahai Tuhanku, aku mengetahuinya.” Terus terjadi demikian acap kali ditunjukkan dosa-dosa yang dilakukan. Namun kemudian Allah berfirman kepada seorang yang beriman itu,

فَإنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ

Artinya : “Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia, dan sekarang Aku mengampuni dosa-dosamu.” Kemudian diberikan kepadanya catatan amal kebaikannya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Bagaimana dengan orang kafir dan munafik? Para saksi mengungkap kedustaan mereka kepada Rabb Ta’ala. Mereka, baik saksi hidup maupun benda mati akan menyeru bahwa mereka adalah para pendusta. “Ia telah berdusta kepada Rabbnya,” seru mereka. Maka laknat Allah didapatkan bagi orang kafir dan munafik.

Itulah sedikit gambaran dari peristiwa yaumul hisab. Itu baru sedikit gambaran, karena kita tak tahu bagaimana dahsyatnya kengerian saat terlunta-lunta di Padang Mahsyar, bagaimana gejolak ketakutan saat menghadapi pengadilan Allah yang amat sangat adil.

Kekhawatiran itu makin menjadi ketika ada sebuah pertanyaan, akankah kita termasuk yang mendapat rahmat-Nya hingga terhapuslah dosa-dosa kita? Ataukah kita akan diserang para saksi yang mengungkap segala dosa kita?

Rasulullah pernah mengajarkan sebuah doa agar diberi kemudahan saat menghadapi yaumul hisab. Beliau berdoa di dalam shalat, “Allaahumma haasibni hisaaban yasiiraa (Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah).”

Ummul Mukminin Aisyah kemudian bertanya, “Apakah maksud hisab yang mudah, wahai Rasulullah?” Rasulullah pun menjelaskan, “Allah memperlihatkan kitab hamba-Nya, lalu Allah memaafkannya begitu saja. Barang siapa yang dipersulit hisabnya, maka niscaya ia akan binasa.” (HR. Ahmad, Al Hakim dan Ibnu Abi ‘Ashim).

7 Amalan Yang Pahalanya Akan Terus Mengalir

Amal Jariyah adalah sebutan bagi amalan yang terus mengalir pahalanya, walaupun orang yang melakukan amalan tersebut sudah wafat. Amalan tersebut terus memproduksi pahala yang terus mengalir kepadanya.
Dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu sedekah jariah, ilmu yang berman­faat, dan anak saleh yang mendoakannya” (HR. Muslim).

Selain dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang tergolong dalam amal jariah.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya diantara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya wafat ialah ilmu yang disebar­luaskannya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan. sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang banyak, dan harta yang disedekahkannya” (HR. Ibnu Majah).

Di dalam hadis ini disebut tujuh macam amal yang tergolong amal jariah sebagai berikut.

1. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal, seperti diskusi, ceramah, dakwah, dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah me­nulis buku yang berguna dan mempublikasikannya.

2. Mendidik anak menjadi anak yang saleh. Anak yang saleh akan selalu berbuat kebaikan di dunia. Menurut keterangan hadis ini, kebaikan yang dipeibuat oleh anak saleh pahalanya sampai kepada orang tua yang mendidiknya yang telah wafat tanpa mengurangi nilai/pahala yang diterima oleh anak tadi.

3. Mewariskan mushaf (buku agama) kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya untuk kebaikan diri dan masyarakatnya.

4. Membangun masjid. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena Allah walau sekecil apa pun, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Orang yang membangun masjid tersebut akan menerima pahala seperti pahala orang yang beribadah di mas­jid itu.

5. Membangun rumah atau pondokan bagi orang-orang yang bepergian untuk kebaikan. Setiap orang yang memanfaatkannya, baik untuk istirahat sebentar maupun untuk bermalam dan kegunaan lain yang bukan untuk maksiat, akan mengalirkan pahala kepada orang yang membangunnya.

6. Mengalirkan air secara baik dan bersih ke tampat-tempat orang yang membutuhkannya atau menggali sumur di tempat yang sering dilalui atau didiami orang banyak. Setelah orang yang mengalirkan air itu wafat dan air itu tetap mengalir serta terpelihara dari kecemaran dan dimanfaatkan orang yang hidup maka ia mendapat pahala yang terus mengalir.

Semakin banyak orang yang memanfaat­kannya semakin banyak ia menerima pahala di akhirat.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membangun sebuah sumur lalu diminum oleh makhluk atau burung yang kehausan, maka Allah akan mem­berinya pahala kelak di hari kiamat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah).

7. Menyedekahkan sebagian harta. Sedekah yang diberikan secara ikhlas akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al Hasyr ayat 18 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang beriman, Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (AKHIRAT), dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Itulah 7 amalan yang pahalanya akan terus mengalir, semoga bermanfaat.