Kirim Artikel Dakwah Bareng Yuk

Peringatan Rasulullah SAW Terhadap Fitnah Akhir Zaman

Al-Qur’an menjelaskan bahwa hakikat hidup dan mati manusia adalah ujian. Dunia adalah negeri amal dan akhirat adalah negeri untuk memetik hasilnya. Dunia adalah ladang untuk bekerja, dan akhirat adalah tempat menuai semua yang telah diperbuat oleh manusia. Seorang muslim yang memahami hakikat ini akan sadar, bahwa semua aktivitas yang ia lakukan adalah ujian.

Apapun yang menimpanya, entah keberhasilan atau kegagalan yang diperolehnya, maka semua itu hanya ujian yang diberikan Allah i kepadanya. Allah ingin melihat, apakah ia berhasil dalam menjalani ujian ini atau gagal di dalamnya. Allah berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya : “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Namun demikian, seorang mukmin menyadari bahwa ujian yang akan diberikan Allah kepada para hamba-Nya yang beriman jauh berbeda dengan ujian yang akan ditimpakan kepada orang-orang kafir. Orang mukmin akan mendapatkan ujian yang lebih berat, musuh yang akan dihadapinya sangat banyak, rintangan dan cobaan yang akan ditemui juga berlapis dan sangat bervariasi. Jika orang kafir hanya memiliki satu musuh, yaitu orang yang beriman, maka orang mukmin memiliki musuh yang lebih dari satu. Setidaknya seorang mukmin memiliki 5 musuh dalam hidupnya, diantaranya:

  1. Setan yang selalu menjerumuskannya
  2. Hawa nafsu yang selalu menggodanya
  3. Orang-orang kafir yang selalu memeranginya
  4. Orang-orang munafik yang senantiasa mengintainya, dan
  5. Orang-orang Islam lain yang hasad /dengki kepadanya

Adapun orang kafir, maka semua musuh orang mukmin itu bisa menjadi kawannya. Mereka menjadikan setan sebagai pemimpin, hawa nafsu sebagai tuhan, orang kafir lain sebagai sekutu, dan orang munafik sebagai kawan dekatnya. Dengan demikian, setiap mukmin menyadari bahwa sangat berat memilih keimanan sebagai jalan hidup. Sebab, sudah merupakan sunnatullah bahwa ujian kepada orang mukmin sangatlah berat. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, maka semakin berat pula ujian yang akan dipikulnya. Dan jika Allah menghendaki kebaikan pada suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ (٢)وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (٣)

Artinya : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3)

Salah satu dari sekian bentuk ujian yang harus dihadapi oleh setiap mukmin adalah banyaknya fitnah kehidupan di akhir zaman. Rasulullah sendiri mengkhabarkan bahwa nasib orang-orang beriman di akhir zaman nanti bagai para penggenggam bara. Jika bara itu dilepas maka ia akan padam, namun jika tetap pegang, maka tangannya akan terbakar.

Maka sudah sepatutnya bagi setiap muslim untuk mengetahui apa saja bentuk fitnah yang mungkin akan dialaminya. Sebab kejahilan seseorang tentang hal itu bisa menyeretnya kepada hal-hal yang memudharatkan dirinya.

Leave a Reply