Jangan Membuatnya Mati Dua Kali! Adab dan Hak Hewan Dalam Islam

Adab dan Hak Hewan di Dalam Islam

Hadis RiwayatAl-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW lebih dari 1400 tahun yang lalu. Sebelum islam masuk lebih jauh ternyata masih sedikit orang yang merawat hewan atau memahami gagasan modern tentang hak-hak hewan. Di dalam Al-Quran dan ajaran Nabi Muhammad SAW, umat Islam menemukan nilai-nilai terperinci dan aturan tentang perawatan hewan. Hak-hak hewan adalah topik diskusi yang Kami bahas di artikel ini.

Meskipun hak-hak hewan secara umum dibahas dalam Al-Quran dan ajaran Nabi, gagasan tentang hak-hak hewan adalah fenomena yang lebih masih hangat. Meskipun kitab suci Islam terungkap lebih dari 1400 tahun yang lalu, mereka sangat eksplisit tentang hak-hak hewan dan larangan pelecehan. Hal ini yang membuat Islam unik dari agama lain.

Al Qur’an adalah satu-satunya petunjuk yang memberikan instruksi yang sangat jelas dan eksplisit tentang perlindungan hewan dan tanggung jawab manusia untuk merawatnya. Artikel ini akan menyoroti beberapa kitab suci ini dan menyajikan pandangan Islam tentang hak-hak binatang kepada.

Baca: Diet yang Islami: (Makanan Halal dan Haram)

Hewan Terdiri dari Komunitas

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُسَبِّحُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالطَّيْرُ صٰۤفّٰتٍۗ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهٗ وَتَسْبِيْحَهٗۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِمَا يَفْعَلُوْنَ

Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh, telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَنَامِۙ

Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya),

Larangan Penyalahgunaan Hewan

Nabi Muhammad pernah melewati seekor unta yang sangat kurus yang keadaan punggungnya hampir menyentuh perutnya. Lalu Beliau berkata, “Takut pada Allah pada binatang buas ini yang tidak bisa berbicara.” (Abu Dawud)

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Setiap orang yang membunuh seekor burung pipit atau apa pun yang lebih kecil darinya tanpa alasan yang adil, Maka Allah akan bertanya kepada mereka tentang hal itu (pada Hari Pengadilan). Dia ditanya, “Wahai Rasulullah! Apa alasannya? “Dia menjawab,” Membantai untuk makan, dan tidak memenggal kepalanya lalu membuangnya.” (H.R An Nasai)

Rasulullah alaihissalam setelah melihat seorang pria yang meletakkan kakinya di leher seekor domba dan sedang mengasah pisau nya sementara domba itu sedang mengarah ke pisau itu. Jadi, Beliau berkata, “Mengapa engkau tidak melakukannya sebelum hendak menyembelihnya? Apakah Anda ingin membuatnya mati 2 kali?” (H.R Tabarani).

Hadiah bagi Orang yang Merawat Hewan

Nabi Muhammad alaihissalam berkata, “Seorang pria merasa sangat Haus ketika sedang melakukan perjalanan. Orang itu pergi ke sumur, untuk menghilangkan rasa haus itu. Sementara itu, ia melihat anjing terengah-engah dan menjilati Lumpur karena rasa haus yang berlebihan. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “ini anjing menderita rasa haus seperti yang saya rasakan.” Jadi, dia pergi ke sumur lagi, menampung air dengan sepatunya dan memberikannya pada sang Anjing. Allah berterima kasih kepadanya karena perbuatan itu dan mengampuninya. Orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, Apakah ada pahala bagi kita dalam memperlakukan hewan?” Dia menjawab: “Ya, ada hadiah untuk membantu apapun yang bernyawa” (H.R Bukhari).

Seorang wanita telah dihukum (di akhirat) karena Dia memenjarakan seekor kucing sampai mati. Dengan demikian, dia dimasukan kedalam api neraka karena perbuatannya.  (H.R Muslim)

Baca: Gambaran Yaumul Hisab Yang Sangat Mengerikan

Kesimpulan

Semua makhluk hidup pantas mendapatkan rasa hormat dan mendapatkan perawatan yang tepat. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pelopor dalam memperlakukan hak-hak binatang. Meskipun hidup lebih dari 1400 tahun yang lalu, Beliau sangat peduli pada semua makhluk dan mendidik umat manusia dalam memberikan ilmu tentang hak-hak hewan dalam cara yang sangat jelas. Sayangnya, di banyak bagian dunia (termasuk dunia Muslim), ajaran ini tidak diikuti sepenuhnya . Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan bahwa, “Allah sangat peduli pada seorang muslim yang merawat hewan, perlakuan kepada hewan dapat mengantarkan dirimu ke surga dan penganiayaan dari mereka bisa berakhir di neraka.

Sunnah Rasul Sebelum Tidur

Dalam islam segala aktivitas yang dikerjakan bias jadi bernilai pahala ibadah, bahkan itu termasuk tidur. Lalu bagaimanakah tidur yang bernilai ibadah itu? Tentu saja sesuai dengan Sunnah Rasulullah yang telah beliau contohkan, dengan begitu insya Allah kita akan mendapatkanmanfaat kesehatan dan kebaikan di akhirat kelak. Berikut ulasan sunnah Rasulullah sebelum tidur:

Tidurlah dalam keadaan berwudhu

Hal ini berdasarkan hadits Al Baro’ bin ‘Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dari al Barra bin Azib, bahwa Rasululah bersabda,”Jika engkau hendak menuju pembaringanmu, maka berwudhulah seperti engkau berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlahlah di rusukmu sebelah kanan lalu ucapkanlah doa:” Ya Allah sesungguhnya aku menyerahkan jiwaku hanya kepadaMu, kuhadapkan wajahku kepadaMu, kuserahkan segala urusanku hanya kepadamu, kusandarkan punggungku kepadaMu semata, dengan harap dan cemas kepadaMu, aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus” dan hendaklah engkau jadikan doa tadi sebagai penutup dari pembicaranmu malam itu. Maka jika enkau meninggal pada malam itu niscaya engkau meninggal di atas fitrah” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710).

Tidur berbaring menghadap sisi kanan

Hal ini berdasarkan hadits di atas. Adapun manfaatnya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, “Tidur berbaring pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar seseorang tidak kesusahan untuk bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung. Sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi badan (namun membuat seseorang semakin malas)” (Zaadul Ma’ad, 1/321-322).

Meniup kedua telapak tangan sambil membaca surat pendek

Surat pendek yang Rasulullah baca ialah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas, masing-masing sekali. Setelah itu mengusap kedua tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh istrinya ‘Aisyah.

Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017).

Membaca ayat kursi sebelum tidur

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi“. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan“. (HR. Bukhari no. 3275)

Membaca doa sebelum dan sesudah tidur

Dari Hudzaifah, ia berkata,

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari no. 6324)

Semoga bermanfaat dan selamat mempraktekan

Misteri Wudhu Yang Dapat Menghapus Dosa Dan Meninggikan Derajat Di Mata Allah SWT

Wudhu adalah bersuci yang diwajibkan untuk menghi_ langkan Hadats kecil seperti buang air kecil, buang air besar, atau keluar angin. Tata cara berwudhu sebagaimana diketahui adalah membasuh wajah, kedua tangan, kepala, dan kedua kaki dengan menggunakan air. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)

Dan Rasulullah Saw. bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَلَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّ اللَّه عَلَيْهِ ؤَسَلَّم: لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Artinya : “Dari Abu Hurairah radialla ‘anhu berkata, Raslullah shalallahu ‘alaihi wa sala bersabda: “Allah tidak akan menerima sholat salah satu diantara kalian apabila ia dalam keadaan berhadats hingga kalian berwudhu”. (HR. Bukhari, No: 135, 6954)

Dianatara keutamaan berwudhu adalah dapat menghilangkan dosa-dosa. Rasulullah Saw. bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ الصُّنَابَجِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. قَالَ: اِذَا اسْتَنْثَرَ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ اَنْفِهِ, فَاِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ وَجِهِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ اَشْفَارِ عَيْنَيْهِ, فَاِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ يَدَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ اَظَافِرِ يَدَيْهِ, فَاِذَا مَسَحَ بِرَأْسِهِ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ رَأْسِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ اُذُنَيْهِ, فَاِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ رِجْلَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ اَظَافِرِ رِجْلَيْهِ, ثُمَّ كَانَ مَشْيُهُ اِلَى الْمَسْجِدِ وَصَلاَتُهُ نَافِلَةً ـ رواه مالك و النساء وابن ماجه والحاكم

Dari Abdullah as-Shunabaji ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: Jika seorang hamba berwudhu kemudian berkumur-kumur, keluarlah dosa-dosa dari mulutnya; jika membersihkan hidung, dosa-dosa akan keluar pula dari hidungnya, begitu juga ketika ia membasuh muka, dosa-dosa akan keluar dari mukanya sampai dari bawah pinggir kelopak matanya. Jika ia membasuh tangan, dosa-dosanya akan ikut keluar sampai dari bawah kukunya, demikian pula halnya, jika ia menyapu kepala, dosa-dosanya akan keluar dari kepala, bahkan dari kedua telinganya. Jika ia membasuh kedua kaki, keluarlah pula dosa-dosa tersebut dari dalamnya, sampai bawah kuku jari-jari kakinya. Kemudian perjalanannya ke masjid dan sholatnya menjadi pahala baginya.” (H.R. Malik, an-Nasai, Ibnu Majah, dan Hakim).

Rasulullah saw. pernah bertanya kepada para sahabatnya, “Maukah kalian aku beri tahu sesuatu yang dapat menghapuskan dosadosa dan meninggikan derajat di mata Allah?” Mereka menjawab, “Mau, wahai Rasulullah”. Laulu beliau bersabda:

إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ

Artinya : “Menyempurnakan wudhu meskipun banyak kesulitan, memperbanyak langkah Illenuju masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, maka itulah menahan nafsu (untuk melakukan perbuatan taat). “ (HR. Muslim dan Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a.)

Dari paparan hadits diatas, bisa disimpulkan bahwa terdapat banyak sekali keutamaan berwudhu bagi umat islam, oleh karena itu marilah kita semua berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan dengan diawali seluruh aktivitas dengan berwudhu dan mengucap basmallah karena Allah Swt.

Bolehkah Bersuci Dengan Air Yang Bercampur Sabun Atau Lainnya?

Air yang telah bercampur sabun hukumnya tetap suci selama masih layak disebut air. Tetapi jika campurannya terlalu banyak sehingga mengubah sifat air itu menjadi sesuatu yang lain, maka hukumnya pun berubah. Air seperti ini hukumnya tetap suci tetapi tidak menyucikan. Tetap suci, sebab tidak bercampur dengan najis. Tidak menyucikan artinya tidak dapat digunakan untuk berwudhu atau mandi.

Rasulullah saw. pernah memerintahkan untuk mencampurkan kapur ke dalam air yang digunakan untuk memandikan putrinya yang telah meninggal dunia, yaitu Zainab. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa air yang bercampur dengan sesuatu yang suci tidak mengubah sifat air tersebut selama masih layak disebut air. Lain halnya jika air panas dicampur dengan kopi atau teh lalu ditambah dengan gula, kita akan mengatakan bahwa air ini telah menjadi minuman kopi atau teh manis. Sifat airnya telah berubah sehingga hukumnya berubah. Air teh tidak dapat digunakan untuk berwudhu meskipun tidak najis, sebab teh atau kopi bukan najis. Jika teh .atau kopi hukumnya najis, tentu kita tidak boleh meminumnya.

Sementara itu air akan berubah menjadi najis jika bercampur dengan najis kemudian mengubah salah satu sifatnya, yaitu warna, bau, dan rasanya. Jika terjadi perubahan seperti itu, maka air tersebut tidak boleh digunakan untuk bersuci. Tetapi, jika najis yang mengenai air itu tidak sampai mengubah salah satu dari tiga sifat air di atas maka hukumnya tetap suci dan menyucikan.

Fiqih Thaharah

Dari segi bahasa, kata thaharah berarti suci atau bersih dari setiap kotoran. Menurut istilah fiqih, thaharah berarti suci dari najis atau Hadats. Hadats biasa dibagi menjadi dua yaitu Hadats kecil dan Hadats besar. Keduanya dapat dihilangkan dengan air. Hadats kecil dihilangkan dengan berwudhu dan Hadats besar dihilangkan dengan mandi. Jika tidak ada air, keduanya dapat dihilangkan dengan debu atau biasa disebut tayamum.
Lalu apakah semua bentuk air dapat digunakan untuk bersuci?, Ulama telah menerangkan secara panjang lebar tentang macam-macam air dan hukum-hukumnya. Kita tidak akan membahas masalah-masalah fiqih ini secara detail.
Secara umum, semua macam air dapat digunakan untuk bersuci, kecuali air yang najis. Air yang biasa kita temui adalah air kolam, air sungai, air laut, air hujan, dan lain sebagainya. Air tersebut disebut dengan istilah “air mutlak”. Air ini hukumnya suci dan menyucikan sehingga dapat digunakan untuk berwudhu dan mandi. Firman Allah Swt:

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

Artinya : “… Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu.” (QS. Al-Anfal [8]: 11)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Artinya : “Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.” (QS. Al_ Furqan [251: 48)

Air laut juga dapat digunakan untuk bersuci. Ketika ditanya tentang hukum berwudhu dengan air laut, Rasulullah saw. menjawab,

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Artinya : “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasai dari Abu Hurairah r.a.)

Abu Hurairah r.a. pernah berpapasan dengan Rasulullah saw., sedangkan pada waktu itu ia sedang dalam keadaan junub. la memilih menyingkir dan tidak bertemu dengannya sebelum mandi terlebih dahulu. Pada pertemuan berikutnya, Rasulullah saw. bertanya, “Dari mana engkau, wahai Abu Hurairah?” la menjawab, “Aku tadi junub dan merasa tidak pantas duduk bersamamu, karena aku dalam keadaan tidak suci.” Rasulullah bersabda, “Subhanallah, mukmin itu bukan najis. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesimpulannya, air mutlak boleh digunakan untuk bersuci selama tidak najis, meskipun sebelumnya telah dipakai orang lain.

Tata Cara Bersuci Saat Istihadhah

Darah istihadhah seringkali membuat bingung kaum hawa. Pasalnya, darah ini datang diluar kebiasaan haid namun sulit membedakannya dengan darah haid. Kebingungan pun makin menjadi ketika hendak beribadah, mengingat keduanya memiliki hukum fiqh yang berbeda.

Keabsahan ibadah yang berkaitan dengan keduanya sangatlah berbeda. Jika haid dihukumi seperti nifas, yakni dilarang shalat, puasa dan ibadah lain, maka istihadhah tidaklah demikian. Muslimah yang mengalami istihadhah masih diwajibkan shalat dan puasa layaknya saat suci. Hanya saja, ada aturan-aturan bersuci sebelum melakukan shalat.

Namun sebelum melakukan tata cara bersuci istihadhah, hendaklah dipastikan terlebih dahulu bahwa darah yang keluar bukanlah darah haid. Hal ini terkait dengan mandi wajib yang memisahkan haid dengan istihadhah. Perhitungan hari juga patut dilakukan dalam kondisi tertentu.

Menurut Syaikh As Sa’di ada tiga kondisi yang perlu diperhatikan terkait haid dan istihadhah. Berikut ketiganya secara berurutan;

1. Pertama yakni menyesuaikan kebiasaan tanggal haid

Jika darah keluar bukan di tanggal biasa haid, maka itu adalah istihadhah. Begitu pula jika darah keluar terus menerus melebihi tanggal biasa haid, maka sisa hari dihitung sebagai istihadhah. Usai tanggal biasa haid, diharuskan bersuci dan mandi wajib. Jika darah tetap keluar, maka itu istihadhah dan tetap dianggap telah suci.

2. Kondisi kedua yakni jika wanita tak memiliki kebiasaan haid yang teratur

Tanggal biasa haid nya selalu berubah. Untuk kondisi ini, maka cara membedakan istihadhah dan haid dengan melihat sifat darah. Darah haid identik kental, berbau busuk dan berwarna gelap. Sementara darah istihadhah nampak cair, tak berbau dan merah terang.

3. Kondisi terakhir yakni jika tak dapat membedakan sifat darah dan tak memiliki kebiasaan haid teratur

Hal ini tentu menyulitkan untuk mengetahui perbedaan antara haid dan istihadhah. Menurut As Sa’di, jika terjadi kondisi demikian maka hitunglah enam hingga tujuh hari setiap bulannya. Hitungan tersebut dianggap sebagai waktu haid. Selepas itu, mandi wajib dan menjalankan ibadah seperti biasa meski masih keluar darah. Karena selepas hitungan sepekan dianggap darah istihadhah.

Lalu bagaimana bersuci dari istihadhah? Pada dasarnya istihadhah layaknya saat suci tak keluar darah apapun. Semua hukum fiqh wanita istihadhah pun sama dengan wanita suci. Hanya saja, ada pengecualian saat hendak shalat. Ada aturan ataupun tata cara yang perlu dilakukan wanita istihadhah sebelum beribadah.

Cara pertama yakni dengan mencuci bekas darah istihadhah setiap kali hendak shalat. Pastikan tidak ada bekas darah yang menempel di tubuh saat shalat. Kemudian selanjutnya, berwudhu setiap kali hendak shalat. Maksudnya, wanita istihadhah tidak dapat melakukan satu kali wudhu untuk beberapa waktu shalat. Ia diharuskan berwudhu setiap hendak shalat meski tidak ada yang membatalkan wudhunya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah kepada Fatimah Bintu Abis Hubaisy ketika sang shahabiyah bertanya perihal istihadhah, “Kemudian wudhu’lah engkau setiap kali hendak shalat,” (HR. Al Bukhari).

Lalu tata cara berikutnya, yakni menyumbat aliran darah agar tidak keluar. Ini bisa dilakukan dengan menggunakan kain, kapas ataupun pembalut. Hamnah bintu Jahsyin bertanya kepada nabi mengenai istihadhah yang selalu menimpanya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberikan tuntunan, “Aku arahkan agar kau menggunakan kapas, karena dia akan bisa menahan darah,” sabda nabi. Namun kemudian Hamnah berkata, “Sesungguhnya alirannya deras sekali”. Nabi kemudian bersabda, “Jikalau begitu pakailah kain.” Namun Hamnah berkata masih terlalu deras. Beliau bersabda, “Ikatlah dengan kuat,” HR. Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ahmad.

Dalam hadits lain, Rasulullah bahkan memaklumi jikalau darah istihadhah terlalu deras dan tak dapat disumbat saat shalat. Beliau bersabda kepada Fathimah bitu Abi Hubaisy, “Kemudian shalatlah walaupun darah tetap keluar dan menetes di alas shalat,“ (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Pentahapan Hukum Zina

Hukum Zina dalam Islam

Sebagian ahli fiqih berpendapat bahwa penetapan hukuman zina itu bertahap seperti halnya terjadi pada khamer dan pada ibadah puasa. Hukuman zina semula yaitu disuruh mencela, mencerca dan mengucilkan.

Allah berfirman :

وَاللَّذَانِ يَأْتِيَانِهَا مِنْكُمْ فَآذُوهُمَا ۖ فَإِنْ تَابَا وَأَصْلَحَا فَأَعْرِضُوا عَنْهُمَا

Artinya : ‘’Dan dua orang yang berbuat zina dikalangan kamu, maka sakitilah mereka. Maka jika mereka bertaubat dan berbuat baik, maka jauhilah mereka‘’ (QS. An-Nisa: 16)
Kemudian maju selangkah dari ini kepada penahanan dalam rumah sendiri. Allah berfirman :

وَاللَّاتِي يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ شَهِدُوا فَأَمْسِكُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ حَتَّىٰ يَتَوَفَّاهُنَّ الْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا

Artinya : ‘’Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya‘’ (QS. An-Nisa: 15)

Kemudian perkaranya jadi jelas dan Allah memberikan jalan keluar, maka ditetapkan hukuman bagi remaja berzina serratus kali dera dan bagi yang telah menikah dirajam sampai mati. Pentahapan ini adalah untuk meningkatkan keadaan moral masyarakat dan agar masyarakat memegangnya dengan perasaan kasih saying dan mau berusaha menjaga sifat sifat malu dan kesucian dan supaya manusia tidak merasa berat memikul beban perpindahan suasana dari satu hukum kepada hukum baru. Dan supaya mereka tidak merasa keberatan mengikuti agama islam. Menurut para ahli fiqih ini beralasan dengan hadits ubadah bin Shamit, bahwa Rasulullah saw, bersabda :

خُذُوا عَنِّي خُذُوا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ

Artinya : zinanya seorang gadis dgn jejaka hukumannya adl seratus kali cambuk & diasingkan selama satu tahun, & zinanya seorang janda dgn seorang duda hukumannya adl seratus kali cambuk dan rajam. (HR Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Tetapi para ahli fiqih juga berpendapat, bahwa lahir dari kedua ayat diatas (An-Nisa 15-16) mengenai masalah perempuan lesbian dan laki-laki homo. Hukum perbuatan mereka berbeda dengan hukum zina yang ditetapkan dalam surah An-Nur, yaitu :

1. Perempuan perempuan yang berbuat keji, seperti lesbian, yaitu perempuan bersenggama dengan perempuan. Maka hadirkanlah empat orang saksi laki-laki yang menyaksikan perbuatan mereka. Jadi jika mereka ini menyaksikan benar-benar, maka kurunglah mereka dalam rumah, yaitu dengan menempatkan perempuan tadi seorang diri dalam rumah jauh dari teman lesbianny, sehingga datang ajalnya atau Allah berikan jalan keluar dari keadaan tersebut kepada taubat atau menikah, sehingga tidak berbuat lesbian lagi.

2. Dua laki-laki homo yaitu laki-laki yang bersenggama dengan laki-laki. Maka sakitilah mereka setelah terbukti perbuatan mereka oleh para saksi mata juga. Jika mereka bertaubat sebelum disakiti, yaitu dijatuhi hukuman had, maka kalua mereka menyesal dan mau memperbaiki diri kesalahan mereka dan membersihkan tingkah laku mereka, hendaklah mereka kamu lepaskan dari hukuman had yang sedianya dijatuhkan kepada mereka.

Hukuman Zina Menurut Islam

Hukuman Zina Menurut Islam

Islam menyeru dan menggemarkan perkawinan. Sebab dialah yang paling selamat untuk menyalurkan dorongan seks dan merupakan jalan paling mulya untuk berketurunan yang nantinya ditangani dan dipikul oleh suami istri, jalan menanamkan perasaan cinta dan kemesraan, kasih saying dan kerinduan, kebersihan, kehormatan, kemegahan, harga diri dan agar keturunannya sanggup bangkit mengikuti jejaknya, membantu aktivitasnya dalam meningkatkan nilai kehidupan.

Karena telah diadakan jalan paling mulya untuk menyalurkan keinginan seksual, maka dilaranglah segala cara yang tidak sah dan dilarang menggerakkan nafsu birahi dengan cara apa saja, agar nantinya tidak menyimpang dari jalan yang sah. Karena itu, dilaranglah pergaulan antara laki-laki dan perempuan, dansa, gambar-gambar porno, nyanyian cabul, melihat perempuan secara nafsu dan segala cara yang merangsang birahi atau bisa menuju kepada perbuatan zina, sehingga dapat dicegah segala faktor yang melemahkan kehidupan keluarga dan kerusakan rumah tangga.

Zina dipandang kejahatan secara hukum yang dapat dijatuhi hukuman paling keras, karena akibatnya yang sangat berbahaya, dan menyebabkan lahirnya banyak kejahatan dan kriminalitas lainnya. Hubungan seks yang tidak sah merupakan perbuatan yang menghancurkan masyarakat, lebih-lebih zina merupakan adab yan paling keji.

Allah Berfirman :

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.

Berikut alasan kenapa zina dilarang didalam agama islam :
1.Karena menyebabkan sumber penularan penyakit ganas yang merusak badan dan mewariskan penyakit kepada anak keturunannya sampai cucu-cucunya, seperti penyakit jamur kulit, sipilis dan kencing nanah.
2. Menyebabkan terjadinya pembunuhan. Sebab rasa cemburu telah jadi tabiat manusia. Adalah jarang sekali laki-laki terhormat atau perempuan baik yang suka penyelewengan seks. Bahkan bagi laki-laki tidak ada jalan untuk menebus aib dimukanya yang dicorengkan orang lain kepadanya, selain membunuh pelaku penyelewengan seks tersebut.
3. Zina menghancurkan system rumah tangga, menggoncangkan wujud keluarga, memutuskan hubungan suami-istri dan menghantarkan anak-anak kepada suasana pendidikan yang buruk, sehingga bisa menyebabkan anak-anak lari dari rumah, menyeleweng dan berbuat maksiat.
4. Zina menistakan keturunan dan melimpahkan harta milik kepada orang yang bukan haknya ketika terjadi pembagian warisan.
5. Zina merupakan penipuan terhadap suami. Sebab zina adakalanya membuat perempuan hamil dari hubungan zina ini, sehingga seorang suami menanggung pendidikan anak yang bukan anak sahnya sendiri.
6. Zina merupakan hubungan sementara yang tidak ada tanggung jawabnya dibelakang itu. Jadi ia merupakan hubungan hewan, yang oleh orang baik tentu itu dijauhi.

Ringkasnya, secara ilmiah terbukti kebenaran yang tidak dapat diragukan lagi bahwa zina itu besar sekali bahayanya. Ia merupakan jalan terhebat dalam menimbulkan kerusakan dan keruntuhan moral, mengakibatkan timbulnya penyakit paling cepat daya bunuhnya, membuka pintu luas pembujangan, lahirnya perempuan piaraan dan pelacuran. Karena itu, ia merupakan dorongan terbesar timbulnya sikap boros, kemewahan, pelacuran dan perbuatan durhaka. Maka islam menetapkan hukuman zina sangat keras.
Islam menimbang dengan adil antara bahaya yang dikenakan kepada pelaku dosa dan akibat kejahatan itu kepada masyarakat, dan memutuskan mana kerugian yang paling ringan diantara dua bahaya yang timbul itu. Inilah yang namanya keputusan yang adil. Tidak diragukan lagi bahwa kerugian yang ditampakkan kepada pelaku zina tidak sebanding dengan bahaya zina kepada masyarakat yang berupa kekejian zina, meluasnya kemungkaran, tersebarnya perbuatan kotor dan durhaka.

Hukuman zina, sekalipun membahayakan diri pelaku diri pelaku zina, akan tetapi pelaksanaan hukuman ini akan menjamin keselamatan jiwa, harga diri, keselamatan keluarga yang merupakan batu pertama pembinaan masyarakat dan dengan baiknya keluarga akan baik masyarakatnya, sebaliknya rusaknya keluarga akan rusak masyarakatnya. Semua bangsa keselamatan keselamatannya tergantung kepada akhlak leluhurnya, adabnya, kebersihan dari segala kotoran dan penyakit serta jauhnya dari perbuatan rendah dan hina.

Dalam islam disamping membolehkan menikah juga membolehkan poligami, sehingga jalan ini dapat menutup jalan haram dan agar tidak ada alasan bagi orang yang hendak melakukan zina. Dan dalam melaksanakan hukuman ini untuk menakut-nakuti dan menjadikan pelaku zina jauh dari kejahatan ini diadakan ketentuan penjagaan.

1. Tidak boleh dijatuhkan hukuman selama ada keraguan. Jadi hukumannya hanya boleh dijatuhkan kalua benar-benar kejahatan zinanya terjadi secara meyakinkan.
2. Untuk memastikan terjadinya zina diperlukan empat orang saksi laki-laki yang adil. Tidak boleh diterima kesaksian orang-orang perempuan dan orang-orang yang biasa berbuat dosa.
3. Para saksi ini menyaksikan bersama-sama perbuatan zina itu sendiri, yaitu laksana masuknya kayu celah celah pada botolnya atau timba kedalam sumur. Dan inilah perkara yang sulit pembuktiannya.
4. Diandaikan tiga dari empat orang saksi kesaksiannya berbeda dengan orang yang keempat, atau salah seorang diantara mereka menarik kembali keterangannya, maka ketiga orang saksi lainnya dikenai hukuman qadzaf yaitu menuduh orang berbuat zina tanpa bisa membuktikan kebenarannya.
Penjagaan yang ditetapkan oleh islam mengenai pembuktian kejahatan zina adalah nyata-nyata merupakan perlakuan hukuman secara sembrono.

Nifas Dalam Islam: Fiqih Wanita

HUKUM ISLAM TENTANG WANITA HAID/NIFAS

Nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan perempuan yang disebabkan melahirkan anak, walaupun hanya diakibatkan keguguran. Tidak terdapat waktu minimum dalam masalah nifas, hingga demikian ia bisa terjadi dalam waktu sekejap. Oleh sebab, itu jika seorang perempuan melahirkan dan darahnya terhenti tidak lama setelah bersalin, atau ia melahirkan tanpa berdarah, maka dengan demikian berarti masa nifasnya sudah berakhiri dan ia harus melakukan hal-hal yang harus dikerjakan oleh perempuan-perempuan suci seperti shalat, puasa, dan lain-lain.

Batas maksimum nifas ialah empat puluh hari, berdasarkan hadits Ummu Salamah r.a.,

“Pada masa Rasulullah saw, perempuan-perempuan yang sedang dalam keadaan nifas tidak melaksanakan aktivitas-aktivitas ibadah selama empat puluh hari.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, kecuali Nasa’i)

Setelah menyebutkan hadits ini, Tirmidzi mengatakan bahwa para sahabat Nabi saw, tabi’in dan generasi mereka berijma’ bahwa perempuan-perempuan yang sedang nifas itu harus menghentikan shalat mereka selam empat puluh hari, kecuali jika ia sudah bersuci sebelum waktu tersebut, maka ketika itu hendaklah mereka mandi dan shalat. Jika darah masih terlihat setelah masa empat puluh hari, maka kebanyakan ulama berpendapat bahwa mereka tidak boleh meninggalkan shalat setelah lewat empat puluh hari.

Ketika dalam masa ini ada hal-hal yang terlarang bagi perempuan yang mengalami haid dan nifas. Perempuan-perempuan haid dan nifas sama kedudukan hukumannya dengan orang junub. Dengan kata lain, setiap perkara yang dilarang kepada orang junub, maka ia juga diberlakukan kepada perempuan haid dan nifas. Disamping itu, masing-masing dari ketiga golongan ini dikategorikan orang berhadats besar. Selain larang tersebut, terdapat beberapa terhadap perempuan yang sedang haid dan nifas, yaitu sebagai berikut:

Puasa

perempuan haid dan nifas tidak dibolehkan berpuasa. Jika mereka bersikeras untuk berpuasa juga, maka puasanya tidak sah atau batal, dan mereka wajib mengqadha’ puasa bulan Ramadhan selam hari-hari haid dan nifas tersebut. Hal ini berbeda dengan pelaksanaan shalat yang tidak wajib diqadha’ dengan maksud menghindarkan kesulitan. Karena, shalat dikerjakan secara berulang-ulang dan tidak demikian halnya berpuasa. Hal itu berpedoman pada hadits Abu Sa’id al-Khudri r.a.,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ((يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الْاِسْتِغْفَارَ ، فَإِنِّـيْ رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ ، فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَـةٌ : وَمَا لَنَا ، يَا رَسُوْلَ اللهِ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ ؟ قَالَ : تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ،وَمَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَغْلَبَ لِذِيْ لُبٍّ مِنْكُنَّ. قَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّيْنِ؟ قَالَ: أَمَّا نُقْصَانُ الْعَقْلِ فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ، فَهٰذَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ، وَتَمْكُثُ اللَّيَالِي مَا تُصَلِّي وَتُفْطِرُ فِيْ رَمَضَانَ فَهٰذَا نُقْصَانُ الدِّيْنِ

Artinya: Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma , Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah beristighfar (mohon ampun kepada Allâh) karena sungguh aku melihat kalian sebagai penghuni neraka yang paling banyak.” Berkatalah seorang wanita yang cerdas di antara mereka, ‘Mengapa kami sebagai penghuni neraka yang paling banyak, wahai Rasûlullâh?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Karena kalian sering melaknat dan sering mengingkari kebaikan suami. Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang lebih mampu mengalahkan laki-laki yang berakal dibandingkan kalian.’Wanita tersebut berkata lagi, ‘Wahai Rasûlullâh, apa (yang dimaksud dengan) kurang akal dan agama?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Kurang akal karena persaksian dua orang wanita setara dengan persaksian satu orang laki-laki, inilah makna kekurangan akal. Dan seorang wanita berdiam diri selama beberapa malam dengan tidak shalat dan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan (karena haidh), inilah makna kekurangan dalam agama. (HR Bukhari dan Muslim)

Mu’adzah r.a. berkata:

عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسْأَلُ قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ — رواه مسلم

Artinya: Dari Mu’adzah ia berkata, saya pernah bertanya kepad A’isyah ra kemudian aku berkata kepadanya, bagaimana orang yang haid itu harus meng-qadla` puasa tetapi tidak wajib meng-qadla` shalat. Lantas ia (‘Aisyah ra) bertanya kepadaku, apakah kamu termasuk orang haruriyyah? Aku pun menjawab, aku bukan orang haruriyyah tetapi aku hanya bertanya. ‘Aisyah pun lantas berkata, bahwa hal itu (haid) kami alami kemudian kami diperintahkan untuk meng-qadla` puasa tetapi tidak diperintahkan untuk meng-qadla` shalat”. (HR. Muslim)

Bersenggama

Hal ini diharamkan berdasarkan ijma’ kaum muslimin, dalil Al-Qur’an dan dalil Sunnah. Oleh sebab itu, tidak boleh menyetubuhi istri yang sedang haid dan ketika dalam keadaan nifas hingga mereka suci karena hadits Anas r.a.,

“Dari Anas r.a., Apabila perempuan Yahudi sedang haid maka suami mereka tidak mau makan bersamanya dan tidak pula menyetubuhinya. Para sahabatpun bertanya kepada Nabi saw mengenai keadaan yang demikian. Kemudian Allah swt menurunkan ayat Al-Baqarah: 222

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah: 222)

Kemudian Rasulullah saw mengulas ayat tersebut, ‘Lakukanlah segala sesuatu ketika istri haid, kecuali bersetubuh dengannya!’ dan menurut riwayat lainnya,’kecuali bersenggama!’”

Menurut Sayyid Sabiq hal itu diharamkan atas ijma’ kaum muslimin berdasarkan keterangan nyata dari kitab dan sunnah. Imam Nawawi sebagaimana dikutip oleh Sayyid Sabiq mengatakan:

قَالَ النَّوَاوِى: وَلَوْ اعْتَقَدَ مُسْلِمٌ حَلَّ جِمَاعُ الحَائِضِ فِى فَرْجِهَا صَارَ كَافِرًا مُرْتَدًا وَلَوْ فَعَلَهُ غَيْرَ مُعْتَقِدٍ حَالُهُ لِأَنَّهُ نَاسِيًا اَوْ عَدَمُ مَعْرِفَتِهِ عَلَى حَرَامِهِ اَوْ وُجُودُ الْحَيْضِ فَلاَ اِثْمَ عَلَيْهِ وَلاَ كَفَارَةٌ وَاِنْ فَعَلَهُ عَامِدًا عَالِمًا بِالْحَيْضِ وَالتَّحْرِيْمِ وَمُخْتَارًا فَقَدْ ارْتَكَبَ مَعْصِيَةً كَبٍيْرَةً يَجِبُ عَلَيْهِ التَّوْبَةَ مِنْهَا

Artinya: “Seandainya seorang muslim mempunyai keyakinan bahwa memcampuri perempuan haid pada kemaluannya itu adalah halal, maka berarti ia telah menjadi kafir dan murtad. Andai kata ia melakukan demikian tanpa meyakini halalnya, baik disebabkan karena lupa atau tidak mengetahui bahwa itu haram atau tidak mengetahui adanya haid, maka ia tidaklah berdosa dan tidak wajib membayar denda atau kifarat. Namun jika melakukan itu secara sengaja dan tanpa dipaksa, dengan mengetahui adanya haid serta hukumnya yang haram, maka ia telah melakukan maksiat atau dosa besar, karenanya ia harus bertaubat.”

Terdapat perselisihan pendapat dikalangan ulama mengenai kewajiban membayar kafarat yang disebabkan karena menyetubuhi istri ketika haid. Akan tetapi, pendapat yang terkuatadalah tidak wajib membayarnya. Kemudian katanya lagi, “menikmati anggota tubuh istri yang sedang haid, tetapi pada bagian atas pusat dan dibawah lutut adalah dibolehkan, berdasarkan ijma’. Sedang menikmati anggota tubuh yang terletak diantara pusat dan lutut, tetapi bukan pada kemaluan atau pinggulnya, maka menurut sebagian besar ulama hukumnya haram. Oleh karena itu, Nawawi menyetujui halal melakukan perbuatan demikian, walaupun ia dimakruhkan karena inilah alasan yang lebih kuat

Adapun dalil yang disebutkan Nawawi adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari istri-istri Nabi saw.,
“Apabila Nabi saw menginginkan sesuatu dari istrinya yang sedang haid, maka beliau menutupkan sesuatu pada kemaluan istrinya itu.” (HR Abu DAwud, menurut al-Hafizh sanadnya kuat)

Masruq Ibnul Ajda’ berkata,
Saya bertanya kepada Aisyah:Apa yang boleh dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap istrinya yang sedang haid? Ia menjawab: Apa saja boleh kecuali farjinya (kemaluannya)” (H.R.Bukhari, didalam tarikhnya)

Seperti Apa Cara Mengenali Haid Didalam Islam

ARTI HAID MENURUT ISLAM

Hadis Riwayat – Menurut etimologi bahasa, asal makna haid itu adalah ‘mengalir’, tetapi yang dimaksudkan disini adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita dalam keadaan sehat, bukan disebabkan melahirkan ataupun luka.

Menurut kebanyakan ulama, waktu permulaan haid adalah mulai dari usia Sembilan tahun. Oleh sebab itu, jika ada wanita yang melihat darah keluar sebuelum sembilan tahun, maka ia tidak dinamakan darah haid, maka ia dinamakan darah penyakit. Haid itu bias berkepanjangan sepanjang umum dan tidak ada dalil yang menyatakan bahwa ia mempunyai batas waktu akhir. Jadi, jika seorang perempuan tua melihat darah keluar, maka itu adalah darah haid.

Darah haid mempunyai salah satu warna-warna berikut ini:
1.    Hitam, berdasarkan hadits Fathimah binti Abu Hubaisy, Ia sering mengeluarkan darah penyakit (istihadhah), maka Nabi saw bersabda kepadanya, “Warna darah haid adalah hitam. Jika terdapat darah yang   seperti itu, maka berhentilah mengerjakan shalat! Jika tidak demikian, maka berwudhulah dan shalatlah karena ia hanyalah darah penyakit.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Daruqutnhi yang katanya   “Semua perawinya dapat dipercaya.” Hakim mengatakan, “Ia berdasarkan syarat Muslim.”)
2.    Merah karena ini merupakan warna asli dari darah.
3.    Kuning, yakini yang tampak oleh wanita seperti nanah dengan warna kuning diatasnya.
4.    Keruh, yaitu pertengahan antara warna putih dengan hitam , seperti air yang kotor, berdasrkan hadits Alqamah bin Abu Alqamah yang diterima oleh ibunya Maryanah, yakini bekas hamba sahaya yang dibebaskan oleh Aisyah r.a.,

عن عائشة – رضي اللهُ عنها – أن النساء كُن يبعثن بالدرجة فيها الكُرسُفُ فيه الصفرةُ فتقُولُ لا تعجلن حتى ترين القصة البيضاء

Artinya: “Kaum wanita mengirimkan dirjah-dirjah kepada Aisyah berisikan kapas dengan sesuatu yang berwarna kuning. Aisyahpun mengatakan, ‘Jangan tergesa-gesa hingga kalian melihat kapas itu putih bersih.’” (HR Malik dan Muhammad Ibnu Hasan, sedangkan menurut Bukhari hadis ini adalah mu’allaq).
Akan tetapi, yang berwarna kuning atau keruh itu dikatakan haid, bila datang pada hari-hari haid. Jika pada saat-saat selain selain waktu turun haid, maka ia tidak dianggap darah haid, berdasarkan hadits Ummu Athiyah r.a. yang brkata,

رواه البخاري وأبو داود, كنا لا نعد الصفرة والكدرة بعد الطهر شيئاً

Artinya: “kami tidak menganggap warna kuning atau keruh itu sebagai darah haid setelah suci (HR Abu Dawud dan Bukhari)

Batas maksimum atau minimum haid itu tidak dapat dipastikan dengan jelas. Disamping itu, tidak ada keterangan yang dapat dijadikan alasan tentang penentuan batas lamanya itu. Akan tetapi, bila seorang wanita telah mempunyai kebiasaan yang telah berulang-ulang, maka ia boleh membuat standar waktu berdasarkan kebiasaannya itu. Hal ini berpedoman kepada haits Ummu Salamah r.a.,

أنَّهَا اسْتَفْتَتَ رَسُولُ اللهُ ص.م فى امرَاةٍ تهراق الدم فقال:لتنظر قدر الليالي والايام التي كانت تحيضهن وقدرهن من الشهر,فتدع الصلاة ثم التغتسل والتستثفر ثم تصلي “رواه الخمسه الترمذي

Artinya: Bahwa ia minta fatwa kepada Rasulullah saw mengenai seorang wanita yang selalu mengeluarkan darah. Maka Nabi bersabda: “Hendaklah ia memperhatikan bilangan malam dan siang yang dilaluinya dalam haid, begitu pun letak hari-hari itu dari setiap bulan, lalu menghentikan shalat pada waktu-waktu tersebut. Kemudian hendaklah ia menyumbat kemaluannya dengan kain, lalu kerjakanlah shalat!” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah, Kecuali Tirmidzi)

Jika perempuan tersebut belum mempunyai kebiasaan yang tetap, hendaklah ia memperhaikan tanda-tanda darah berdasarkan hadits Fathimah r.a. binti Abu Hubaisy diatas, diamana terdapat sabda Nabi saw, “Jika darah itu adalah darah haid, maka warnanya hitam dan pasti dapat diketahui.” Jadi, hadits ini menyatakan bahwa darah haid itu berbeda dari darah-darah lainnya dan telah diketahui oleh kalangan kaum wanita.

Para ulama sependapat bahwa tidak ada waktu suci yang maksimal antara dua waktu haid. Tetapi para ulama berbeda pendapat mengenai waktu minimalnya; Ada yang menegaskan sebanyak 15 hari dan ada pula yang mengatakan 13 hari. Walau bagaimanapun, pendapat yang benar ialah tidak ditemukan dalil yang dapat dijadikan sebagai alasan untuk menetapkan jangka waktu minimalnya.