Kefahaman dalam agama merupakan sebab untuk mengetahui diri sendiri. Siapa pun yang mengenal Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia akan mengenal segala sesuatunya. Dengan makrifat itu, ubudiyahnya menjadi benar dan ia terbebas dari penyembahan kepada selain-Nya. Tak ada keberuntungan dan keselamatan bagimu hingga engkau lebih mementingkan Dia daripada selain-Nya, lebih mengedepankan agamamu daripada keinginan-keinginan nafsumu (syahwat), lebih mengutamakan akhiratmu daripada duniamu, Penciptamu daripada makhluk. Engkau akan binasa bilamana mendahulukan keinginan-keinginan nafsu atas agamamu, duniamu atas akhiratmu, makhluk atas Khalikmu. Laksanakan hal ini, niscaya itu cukup untukmu.

Engkau adalah orang yang terhalangi dari Allah ‘Azza wa Jalla, maka pantaslah kalau engkau tidak terkabul doanya. Doa akan diterima bila engkau menerima Dia sebagaimana mestinya. Apabila engkau menunaikan perintah-Nya dengan beramal, niscaya Dia akan kabulkan permintaanmu. Tanaman itu ada setelah engkau menanam. Maka tanamlah agar engkau bisa memanennya. Rasulullah saw., bersabda :

الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الآخِرَةِ

Artinya : “Dunia adalah ladang bagi akhirat. ”

Tanamlah tanaman ini dengan hati dan badan. Tanaman itu adalah iman dan amal. Siramilah tanaman itu dengan amal-amal saleh. Apabila hati itu memiliki kelembutan dan rasa kasih sayang, maka tanaman itu akan tumbuh dengan baik. Namun apabila hati iłu keras, bengis dan kasar, maka tanah akan menjadi gersang, dan tanah gersang itu tidak dapat ditumbuhi tanaman. Apabila engkau menanam di atas puncak gunung, maka tanaman itu tidak akan tumbuh, bahkan akan rusak. Pelajarilah ilmu pertanian ini dari petani yang berpengalaman, jangan mengandalkan pendapatmu sendiri. Rasulullah saw. bersabda, “Mintalah bantuan atas setiap pekerjaan dengan ahlinya yang terbaik.”

Tapi nyatanya engkau hanya sibuk dengan tanaman dunia, bukan tanaman akhirat. Tidakkah engkau tahu bahwa pencari dunia itu tidak akan berhasil di akhirat? Ia tidak akan melihat Allah ‘Azza wa Jalla. Jika engkau menginginkan akhirat, maka hendaknya engkau tinggalkan dunia. Dan jika engkau mencari Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Agung, maka hendaknya engkau meninggalkan akhirat, bagian-bagiannya, dan makhluk, karena itu semua akan mengikutimu. Sebab, jika engkau telah pegang batangnya, semua cabang akan mengikutimu.

Wahai anak muda, hadirlah di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla saat cobaan turun kepadamu. Maka engkau akan berubah pendirian dan tidak akan lenyap diterpa angin atau hujan. Engkau akan tegar secara lahir dan batin, berdiri pada satu maqam yang tidak ada makhluk di dalamnya, tak ada dunia, akhirat, hak, bagian, sakit dan kata “bagaimana” di dalamnya, dan tiada apa pun selain Allah ‘Azza wa Jalla di tempat itu. Janganlah engkau terganggu oleh pandangan atas makhluk dan nafkah keluarga. Jangan pula berubah dengan Yang sedikit maupun yang banyak, dengan celaan ataupun pujian, dengan kedatangan dan keberpalingan. Engkau berada bersama-Nya di luar batas logika manusia, jin, malaikat dan makhluk.

Kesabaran, keikhlasan dan kejujuran merupakan fondasi bagi apa Yang telah aku jelaskan itu. Apakah engkau menginginkan aku berpura-pura kepadamu dan bersikap lunak dalam berbicara kepadamu? Engkau menyenangkan nafsumu dan mengaguminya, dan mengira bahwa ia memperoleh sesuatu. Tidak, tidak ada kemuliaan baginya. Aku adalah api, dan tidak ada yang tahan terhadap api itu kecuali burung Samandal yang bertelur dan menetas, berdiri dan duduk di dalam api. Oleh karena itu, berusaha keraslah agar engkau menjadi Samandal yang tahan berada di dalam api cobaan dan mujahadah (berperang melawan nafsu), mukabadah (menyengsarakan nafsu), serta bersabar atas setiap pukulan-pukulan qadha dan qadar, agar engkau bisa bersabar dalam menemaniku, mendengar ucapanku, dan menjalankannya secara lahir dan batin, baik di saat sepi maupun ramai. Pada awalnya dalam kesunyianmu, lalu dalam keramaianmu, dan akhirnya dalam wujudmu. Apabila hal ini benar terjadi padamu, maka engkau akan memperoleh keberuntungan dunia dan akhirat dengan seizin Allah ‘Azza wa Jalla dan takdir-Nya.