Strategi Dakwah Rasulullah Pada Masa Periode Mekah

Ada dua acara dakwah yang dilakukan Rasulullah dalam menyebarkan ajaran islam di kota Mekah. Dua cara dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad saw periode Mekah, yaitu dakwah secara sembunyi-sembunyi (sirriyah) dan dakwah secara terang-terangan (jahriyah).

Dakwah secara sembunyi-sembunyi
                Rasulullah saw menjadikan kota Mekah sebagai tolak ukur untuk memulai aktifitas dakwahnya. Pada awalnya, Rasulullah saw melakukan metode dakwah sirriyah (sembunyi-sembunyi). Metode ini berlangsung selama tiga tahun pertama. Hal tersebut mengingat keadaan Rasulullah saw yang masih lemah dan belum memiliki pengikut.
Pada tahapan ini Rasulullah hanya mengajak kerabat-kerabatnya untuk ikut memeluk agama islam yang beliau bawa. Mereka diseru untuk meyakini ajaran-ajaran pokok yang terkandung dalam wahyu yang ia terima. Dakwah ini dilakukan setelah turun firman Allah Swt, QS. Asy-Syu’ara 26: 214.

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Artinya :Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat (QS.Asy-Syu'ara 26: 214)
Setelah turunnya ayat tersebut, Rasulullah kemudian berdakwah kepada keluarga terdekat dan teman-teman yang beliau yakini menerima dakwah beliau. Adapun orang-orang yang pertama masuk islam ialah Siti Khadijah binti Khuwailid r.a., Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Harits (mantan budak Rasulullah dan anak angkatnya), Abu Bakar bin Abi Kufahah, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan lainnya. Orang-orang yang pertama kali masuk islam inilah yang disebut Assabiqunal Awwalun.
Tidak lama setelah mereka menganut agama islam, barulah kemudian beberapa orang dengan jumlah yang lebih banyak mau menerima ajakan Muhammad saw untuk memeluk agama islam. Ketika orang-orang yang menganut agama islam lebih dari 30 orang, Rasulullah saw memilih rumah salah satu dari mereka, yaitu rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam sebagai tempat pertemuan untuk melakukan pembinaan dan pengajaran.

Dakwah secra terang-terangan
Dalam menjalankan dakwah secara terang-terangan (jahriyah) ini, terdapat dua fase yang dijalani oleh Rasulullah pada saat itu. Fase pertama adalah menjalankan dakwah dengan mengajak kerabatnya dengan terang-terangan. Pada fase kedua, setelah berdakwah secara terang-terangan kepada kerabatnya, Rasul kemudian menyeru kaum Quraisy di bukit Shafa. Rasulullah menyeru tidak hanya kerabatnya, akan tetapi semua orang. Fase ini dimulai sejak turunnya ayat Al-Qur’an Surah Al-Hijr 15: 94.

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

Artinya : Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (QS. Al-Hijr 15: 94)
Setelah turunnya ayat ini, mulailah Rasulullah saw menyerukan agama islam kepada semua orang, hingga penduduk luar Mekah, yang datang untuk mengunjungi kakbah. Selain strategi dakwah secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, Rasulullah juga menggunakan strategi lain ketika berdakwah di Mekah. Di antara strategi dakwah yang Rasulullah selain yang disebutkan di atas, yaitu dengan menggunakan keteladanan, hikmah, mau’idhah hasanah, mujadalah, tabsyir dan tandzir, targhib, serta al-wa’du dan al-wa’id.

Incoming search terms:

  • dalil tentang dakwah rasulullah pada periode mekah
Category: Sejarah IslamTags:
author
No Response

Leave a reply "Strategi Dakwah Rasulullah Pada Masa Periode Mekah"