Melihat Allah SWT Pada Hari Kiamat

0 0

Siapa saja yang melihat orang yang mencintai Allah 'Azza wa Jalla, berarti ia telah melihat orang yang telah melihat Allah 'Azza wa Jalla dengan hatinya, dan telah datang kepadaNya dengan batin-Nya. Tuhan kita 'Azza wa Jalla adalah Zat Yang Ada dan dapat dilihat. Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تَضَامُّوْنَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اْستَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَصَلاَةٍ قَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا

Artinya : "Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini (dalam permulaan hadits, diceritakan; waktu itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melihat bulan yang tengah purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya (ada yang membaca la tudhamuna tanpa tasydid dan di dhammah ta’nya, artinya: kalian tidak akan ditimpa kesulitan dalam melihatNya). Oleh karena itu, jika kalian mampu, untuk tidak mengabaikan shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan shalat sebelum terbenam matahari (Ashar), maka kerjakanlah." (HR Bukhari)

Saat ini, ia melihat-Nya dengan mata hati. Kelak di Hari Kemudian, ia akan melihat-Nya dengan mata kepala. Firman Allah Ta'ala,

سَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya : "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat." (QS Asy- Syura: 11)

Orang-orang yang mencintai-Nya itu hanya rela dengan- Nya, tidak dengan selain-Nya. Mereka hanya memohon pertolongan kepada-Nya dan merasa cukup dengan-Nya dari selain-Nya. Sehingga pahitnya kefakiran dirasa manis Oleh mereka. Kafakiran terhadap dunia melekat pada diri mereka. Mereka hanya rela dengan-Nya, mencari kenikmatan dengan-Nya. Mereka merasa kaya karena miskin, merasa nikmat karena sakit, tenteram dalam kegelisahan, dekat dalam kejauhan, merasa istirahat dalam kepenatan. Sungguh, bahagianya engkau wahai penyabar, wahai orang-orang yang rela, wahai orang-orang yang sirna dari hawa nafsu.

Kaum muslimin, hendaklah engkau setuju dengan-Nya dan rela dengan perbuatan-perbuatan-Nya pada kalian dan orang Iain. Jangan merasa alim dan merasa pintar di hadapan Zat yang lebih pintar dari kalian. Allah swt. berfirman,

وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya : "Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS al-Baqarah: 216)

Berdirilah di hadapan-Nya dengan kaki kebangkrutan dari akal dan ilmu kalian, agar kalian memperoleh ilmu-Nya. Renungkanlah dan jangan memilih-milih. Merenunglah pada-Nya agar Dia memberimu ilmu. Yang pertama, merenung; yang kedua, mengetahui; dan yang ketiga, memperoleh ilmu-ilmu. Tujuan harus ada dulu dahulu, baru kemudian sampai kepada apa yang dituju. Ada keinginan lebih dahulu, kemudian mencapai apa yang dinginkan. Dengarlah dan amalkanlah. Sebab, aku akan memintal tali kalian yang lemah. Aku tidak memiliki keinginan selain apa yang kalian inginkan, tidak susah kecuali dengan kesusahan kalian. Aku hanyalah seeokor burung. Di mana pun aku jatuh, aku akan dipungut. Kalianlah yang harus melemparnya dengan batu, hai orang yang duduk berpangku tangan, berat dan terbelenggu dengan hawa nafsu! Ya Allah, berilah aku dan mereka kasih sayangMu.

Category: Edukasi IslamiTags:
author
No Response

Leave a reply "Melihat Allah SWT Pada Hari Kiamat"