Makalah Tentang Sejarah Perkembangan Pemikiran Dan Peradaban Islam Periode Klasik (650-1250 M)

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sejarah berjalan dari masa lalu, ke masa kini, dan melanjutkan perjalanannya ke masa depan. Dalam perjalanan sesuatu unit sejarah selalu mengalami pasang naik dan pasang surut dalam interval yang berbeda-beda. Di samping itu, mempelajari sejarah yang sudah berjalan cukup panjang akan mengalami kesulitan jika tidak dibagi ke dalam beberapa bagian di mana setiap bagian merupakan satu komponen yang mempunyai ciri-ciri khusus. Perkembangan islam periode klasik yang terbentang dari tahun 650-1250 M merupakan masa perluasan, integrasi dan keemasan Islam. Perode ini sejak kelahiran Nabi Muhammad SAW sampai dihanguskannya Baghdad oleh Hulagu Khan.

Dalam makalah ini kami akan membahas tentang PERKEMBANGAN ISLAM PERIODE KLASIK.

B. RUMUSAN MASALAH

a.Bagaimana perkembangan islam pada priode klasik?

b.Siapakah tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan islam pada priode
klasik?

c.Bagaimana kemajuan dibidang ilmu agama dalam perkembangan islam pada priode
klasik?

d.Apa hikmah atau pelajaran yang dapat diambil dari perkembangan islam pada periode klasik ?

C. TUJUAN PENELITIAN

  1. Untuk mengetahui perkembangan islam pada priode klasik
  2. Untuk mengetahui tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan islam pada priode
    klasik
  3. Untuk mengetahui kemajuan dibidang ilmu agama dlam perkembangan islam priode
    klasik
  4. Untuk mengetahui hikmah atau pelajaran yang dapat diambil dari perkembangan islam pada periode klasik

 

BAB II
PEMBAHASAN

A.Perkembangan islam pada periode klasik

Perkembangan islam pada periode klasik terentang pada tahun ( 650 – 1250).Perkembangan periode klasik di bagi menjadi 2 yaitu :

  • Masa kemajuan islam 1 ( 650 – 1000 )

Masa kemajuan islam 1 merupakan masa perluasan,integrasi dan keemasan islam,merentang dari sejak kelahiran Nabi Muhammad SAW,masa Khulafaur Rasyidin,Masa Dinasti Umayah Timur atau Umayah dan masa Dinasti Abasiyah.

Mengenai kedatangan Islam di Indonesia, sejauh ini berkisar pada tiga tema utama, yakni tempat asal kedatangannya, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Hal lain yang juga patut diperhatikan adalah dimensi proses dari interaksi awal dan lanjutan antara Islam dan penduduk lokal dan berikut konstruk kepercayaan atau agama yang telah ada sebelumnya. Mengenai tempat asal kedatangan Islam yang menyentuh Indonesia, dikalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat. Ahmad Mansyur Suryanegara mengikhtisarkannya menjadi tiga teori besar : Pertama, teori Gujarat. Islam dipercaya datang dari Gujarat-India melalui peran para pedagang India Muslim pada sekitar abad ke-13 M. Kedua, teori Makkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab Muslim sekitar abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke13 M.Teori tersebut jika ditelaah lebih jauh lagi sesungguhnya memiliki variasi pendapat yang cukup beragam. Terkait teori yang menyatakan bahwa Islam di Indonesia berasal dari anak benua India, misalnya, ternyata sejarawan tidak satu kata mengenai wilayah Gujarat. Pendapat Pijnappel yang juga disokong oleh C. Snouck Hurgronje, J.P Moquette, E.O. Winstedt, B.J.O Schrieke, dan lain-lainnya tersebut ternyata berbeda dengan yang dikemukakan oleh S.Q Fatimi dan G.E Morison. Fatimi menyatakan bahwa bukti epigrafis berupa nisan yang dipercaya diimpor dari Cambay-Gujarat sebenarnya bentuk dan gayanya justru lebih mirip dengan nisan yang berasal dari Bengal. Sementara Morison lebih mempercayai bahwa islam di Indonesia bermula dari Pantai Coromandel. Sebab menurutnya pada masa Islamisasi kerajaan samudera dimana raja pertamanya (Malik Al-saleh) wafat tahun 1297 M.Sedangkan tentang teori Islam Indonesia berasal langsung dari Makkah (yang antara lain dikemukakan oleh T.W Arnold dan Crawford) lebih didasarkan pada beberapa fakta tertulis dari beberapa pengembara Cina sekitar abad ke-7 M, dimana kala itu kekuatan Islam telah menjadi dominan dalam perdagangan Barat-Timur, Bahwa ternyata dipesisir pantai Sumatera telah ada komunitas Muslim yang terdiri dari pedagang asal Arab yang diantaranya melakukan pernikahan dengan perempuan-perempuan lokal. Terdapat juga sebuah kitab ‘Aja’ib al-Hind yang ditulis al-Ramhurmuzi sekitar tahun 1000 M. Dikatakan bahwa para pedagang Muslim telah banyak berkunjung kala itu ke kerajaan Sriwijaya. Dan di wilayah itupun telah tumbuh komunitas Muslim local. Semantara variasi pendapat lain dikemukakan oleh Keijzer bahwa Islam nusantara berasal dari Mesir berdasar kesamaan madzhab (Shafi’i). Sedangkan Niemann dan de Hollander mengemukakan teori Islam nusantara berasal dari Hadramaut (wilayah Yaman).

Teori Persia yang dikemukakan oleh sebagian sejarawan di Indonesia tampaknya kurang popular dibanding teori-teori sebelumnya. Pada konteks ini menarik jika pendapat Naguib al-Attas seorang pendukung teori Arab dihadirkan sebagai komparasi. Dalam mengkaji Islam nusantara al-Attas lebih tertarik untuk mendasarkan argumentasinya pada bukti-bukti konseptual dan liberatur, dibanding bukti-bukti sebagaimana para pemikir sebelumnya. Dalam “Teori umum tentang Islamisasi nusantara”-nya tersebut al-Attas menyebutkan bahwa karasteristik internal Islam yang beredar di nusantara lebih cenderung berasal langsung dari Arab. Dari berbagai liberatur Islam yang beredar dinusantara sebelum abad ke-17 M, tak satupun pengarangnya adalah orang India. Bahkan sebagian penulis yang dipercaya beberapa sarjana Barat sebagaian berasal dari India atau Persia. Jika ditelisik ternyata berasal dari Arab baik Etnis maupun Kultural. Adapum mengenai bukti epigrafis Moquette, al-Attas menolaknya dan menyatakan bahwa kemunculan nisan-nisan dari India tersebut hanya Karena faktor kedekatan lokasi saja (dalam konteks perdagangan).

Selanjutnya tentang proses islamisasi di nusantara,menarik untuk diperhatikan beberapa pendapat berikut: pertama, teori perkawinan.Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa kesuksesan islamisasi di nusantara lebih karena peran para pedagang muslim.Digambarkan,bahwa seraya berdagang mereka juga menyebarkan islam.diantaranya dengan cara melakukan perkawinan dengan perempuan lokal sehingga terjadi konversi agama dan terbentuklah lokus-lokus komunitas muslim setempat.

Selanjutnya, mereka juga berusaha menikahi perempuan bangsawan dengan harapan anak keturunannya akan beroleh kekuasaan politik yang akan dapat diperolehkekuasaan politik yang dapat dipakai untuk menyebarkan agama islam.segaris dengan pemikiran ini, J.C van Leur mengemukakan adanya motif ekonomi dan politik dalam persoalan konversi penduduk atau penguasa lokal di nusantara. Menurutny,penguasa pribumi yang ingin masuk dan berkembang dalam perdagangan internasional kala itu yang terbentang dari laut merah hingga laut cina akan cenderung menerima islam karena dominasi kekuatan muslim di sektor itu.disamping pula untuk membentengi diri dari jejaring kekuasaan majapahit.

Teori ini dikritik oleh A.H Johns, yang menurutnya,patut niragukan bahwa para pedagang akan mampu meng-islam-kan penduduk lokal dalam jumlah yang signifikan.bukankah ditengaraibahwa mereka telah hadir sejak abad ke-7 atau ke-8M di nusantara,tetapi nyatanya,islamisasi yang signifikan justru tampil dsekitar abad ke-12M. Johns lalu mengajukan teori sufinya.menurutnya,islamisasi di nusantara sukses lebih didorong oleh peran para sufi pengembara yang memang orientasi hidupnya diabadikan untuk penyebaran agama islam.dan para masa-masa massifikasi konversi islam itulah para sufi banyak hadir di nusantara.Johns dalam mengelaborisasi teorinya juga mengambil pemikiran tentang cara perkawinan dangan keturunan penguasa lokal sebagai pendukung proses islamisasi.adapun pendapat lain yang dikemukakan oleh Schrieke bahwa faktor pendorong yang menimbulkan gelombang besar masuk islam di nusantara adalah ancaman kekuasan kolonial dan misi gospel kristen yang agresif tampaknya sulit diterima,karena dalam sejarah tercatat bahwa bangsa barat kristen tiba di nusantara baru sekitar tahun 1500-an.sementara islamisasi di nusantara telah berlangsung secara signifikan jauh sebelumnya yakni sejak abad ke-12 atau ke-13 M.

Akhirnya mari disimak beberapa kesimpulan yang dikemukakan oleh Azyumardi Azra berikut ini:”pertama,islam dibawa langsung dari arabia;kedua,islam diperkenalkan oleh para guru dan penyiar “profesional”-yakni mereka yang memang secara khusus bermaksud menyebarkan islam;ketiga,yan mula-mula masukislam adalah para penguasa dan keempat,kebanyakan para penyebar islam “profesional”ini datang ke nusantara pada abad ke-12 dan ke-13.”jadi dengan mempertimbangkan berbagai uraian diatas,dapat dinyatakan bahwa mungkin benar islam memang telah diperkenalkan awal mula sejak abad-abad pertama hijriyah(sekitar abad ke-7 M, namun akselerasi persebaran islam secara nyata baru terjadi sekitar abad ke-12 M dan masa-masa selanjutnya.

Masa kemajuan islam 1 (650 – 1250)

Masa nabi Muhammad SAW dan Khulafur Rasyidin

  1. Masa Nabi Muhammad SAW
  • Rasullulah Muhammad SAW membimbing sahabat-sahabat untuk beriman dan berilmu
  • Rasulullah Muhammad SAW membuat satu tempat pertemuan di rumah sahabat Arqam bin Abil Arqam
  • Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan kepada sahabat Ali bin Thalib disuruh membuat huruf dengan mengambil contoh dari huruf bangsa Himyar.
  1. Masa Khulafaur Rasyidin
  • Menetapkan hukum tentang masalah-masalah yang baru, seperti menetapkan ghanimah,maslah potong tangan pencuri,kawin mut’ah , zakat bagi muallaf
  • Memperbarui organisasi negara seperti disusunnya organisasi politik ( al-khilafat,al-wizarat,al-kitabat),administrasi negara ( departemen-departemen)

Masa Daulah Umayah

  1. Dinasti umayyah didirikan oleh muawiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayah
  2. Dinasti umayyah berdiri selama 90 tahun ( 40-132 H / 661-750 M ) dengan Damaskus sebagai pusat pemerintahannya.

Peristiwa penting pada zaman Daulah Umayah

  1. Pada masa awal pemerintahan Muawiyah bin Abi sufyan ada usaha perluasan wilayah kekuasaan ke berbagai wilayah seperti ke india dengan mengutus Muhallab bin Abu sufrah dan usaha perluasan ke barat ke daerah Bizantium di bawah pimpinan Yazid bin Muawiyah selain itu juga diadakan perluasan wilayah Afrika Utara.
  2. Ketika pemerintahan berada ditangan khalifah Abdul Malik bin Marwan ( 6586 H / 685 – 705 M ) keadaan dalam negeri boleh dibilang teratasi dengan keadaan seprti itu, kemajuan peradaban dapat dicapai terutama dalam politik kekuasaan
  3. Khalifah Walid bin abdul malik berusaha memperluas daerahnya menuju Afrika utara yaitu Magrib Al-aqsha dan Andalusia. Dengan keinginan yang kuat dan keberanian, Musa bin Nusair dapat menguasai wilayah tersebut sehingga ia diangkat sebagai gubernur untuk wilayah Afrika utara.
  4. Di masa itu ilmu dan kebudayaan Islam berkembang dengan baik di antaranya kebudayaan (seni sastra, seni rupa, seni suara, seni bangunan, seni ukir dan sebagainya) , dan bidang ilmu (ilmu kedokteran, ilmu filsafat, astronomi, ilmu bumi dan lainnya).

Masa Daulah Abbasiyah

  1. Pendiri dinasti ini adalah Abdullah al Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al Abbas.Kekuasaan berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 – 656 H / 750 – 1258 M
  2. Pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya pada masa Al Mahdi ( 775 – 785 M ), Al Hadi ( 775 -786 M ) , HarunAl Rasyid ( 786 – 809 M ) , Al Ma’mun ( 813 – 833 M ) , Al Mu’tashim ( 833 – 842 M ) , Al Wasiq ( 842 – 847 M ) , dan Al Mutawakkil ( 847 -861 M )

Pada masa pemerintahan Bani Abbas di bagi menjadi 5 periode =

  1. Periode pertama ( 132-232 H/750-847 M ) , disebut periode pengaruh Persia pertama
  2. Periode kedua ( 232-334 H/847-945 M) , disebut masa pengaruh turki pertama
  3. Periode kedua ( 334-447 H/945-1055 M) , masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan Khalifah Abbasiyah.Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua
  4. Periode keempat (? 447-590 H/1055-1194 M) , masa kekuasaan dinasti Bani sejak dalam pemerintahan khalifah abbasiyah,biasanya disebut juga dengan masa pengaruh turki kedua
  5. Periode kelima ( 590-656 H/1194-1258 M ) , masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad.

2.Masa Disintegrasi ( 1000 – 1250)

Masa ini dimulai dari kemunduran dinasti Abasiyah yang mengalami disintegrasu di berbagai bidang.Selain itu juga dipengaruhi oleh terjadinya perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan islam.Jika menengok sejarah agama-agama, dengan mudah akan dapat diketemukan fakta yang menunjukkan bahwa banyak agama mengalami persebaran hingga keluar jauh dari wilayah asal pertumbuhannya. Bahkan tak jarang, suatu agama justru dapat berkembang dengan jumlah pengikut yang lebih besar di wilayah lain di luar wilayah asalnya. Proses persebaran ini, seperti dituturkan Park dapat mengambil pola-pola sebagai berikut Pertama, ekspansi, baik melalui kontak langsung (contagious) maupun hirarkis (hierarchical); Kedua, pola relokasi. Bersamaan dengan aliran persebaran tersebut, terjadilah proses perubahan dari segi pemahaman maupun praktek yang menunjukkan perbedaan karena faktor lokalitas dan tokohnya. Artinya, banyak agama mengalami perubahan dari aslinya ketika berkembang di wilayah lain. Faktor budaya dan kebiasaan lokal kerap memberi pengaruh terhadap bentuk kepercayaan dan perilaku keberagamaan sehingga muncul fenomena aliran-aliran. Fenomena ini tak terkecuali berlangsung juga dalam tradisi dan komunitas muslim.

Tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perekembangan islam pada periode klasik

Tokoh-tokoh islam yang berprestasi pada periode klasik antara lain:

Al-Kindi
Lahir dikufan tahun 801 M. Nama lengkapnya Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak bin Sabbah bin Imron bin Ismail bin Muhammad bin Al-Asy’as bin Qais al-Kindi. Al-Kindi dikenal sebagai filsuf muslim pertama. Karena dia adalah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat. Selain menterjemahkan al-Kindi juga menyimpulkan karya-karya filsafat hetenisme. Ia dikenal sebagai pemikir muslim pertama yang menyelaraskan filsafat dan agama. Karya al-Kindi kurang lebih berjumlah 270 buah. Kebanyakan berupa risalah-risalah pendek dan banyak yang sudah tidak ditemukan lagi.

Al-Farabi
Lahir di Farab pada tahun 870 M. Nama lengkapnya Muhammad bin Muhammad bin Thurkan bin Uzlag al-Farabi. Dia terkenal dengan julukan Al-Mu’allim Al-Tsani (Guru kedua). Dua karya yang termashur adlah Al-jam;u Baina Ra’yi Al-Hakimaini dan Uyun Al-Masail. Al-Farabi menguasai hampir 10 bahasa dan mampu menguasai berbagai cabang keilmuan.

Al-Razi
Al-Razi adalah seorang dokter dan filosof besar pada zamannya. Ia lahir di Ray tahun 865 M. Ia pernah menulis dalam setahun lebih dari 20.000 lembar kertas. Karya al-Razi mencapai 232 buku atau risalah karya tulisnya terbesar adalah al-Hawi, sebuah ensiklopedia kedokteran yang berjumlah 20 jilid, buk ini mengandung ilmu kedokteran Yunani

Ibnu Sina
Nama asli Abu al Hussain bin Abdullah lahir dikota Afsyanah Bukhara tahun 980 M. Profesinya dibidang kedokteran dimulai usia 17 tahun, ketika ia berhasil menyembuhkan Nuh bin Mansyur, salah seorang penguasa dinasti Samaniyah. Pada masa dinasti Hamdani ia dua kali menjadi menteri. Di bidang filsafat ia digelari asy-Syaikh ar Ra’is (Guru para raja). Karyanya tidak kurang dari 200 karya tulis.

Muhammad bin Musa al-Khawarizmi
Karyanya berjudul “Muktasar f’Hisab Al-jabiwa Al Muqabalah” di Bagdad. Buku tersebut dirujuk Robert Chester diterjemahkan dalam bahasa latin dengan judul “Liber al-Gebras ef Al-Murcabala”. Ia adalah ilmuwan matematika yang menyusun buku tentang aljabar dan menemukan angka nol.

Ibnu Maskawaih
Lahir tahun 941 M dan meninggal tahun 1030 M. Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Ya’kub bin Muskawaih. Ia pernah mengabdi kepada dua menteri pada masa dinasti Buwaihiyah. Ibnu Muskawaih merupakan seorang pemikir muslim yang produktif

Al-Gozali
Lahir di Gazalah Kurhasan tahun 1058 M dan wafat tahun 1111 M. Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Rusi al-Gozali. Karena bakatnya di al-Gozali diangkat sebagai asisten yang menggantikan al-Jawaini mengajar jika ia berhalangan hadir. Ia menulis hamper 100 buku tentang teologi, fiqih, tasawuf, filsafat, akhlak dan autobiografi dalam bahasa Arab dan Persia.

C.Kemajuan ilmu agama pada periode klasik

Tokoh-tokoh yang berpartisipasi dalam perkembangan islam periode klasik di nagi menjadi 2 masa =

  1. Tokoh yang berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada masa umayah

Perkembangan organisasi negara dan susunan pemerintahan

  • An Nidhamus Siyasi ( organisasi politik )
  • An Nidhamul Idari ( organisasi tata usaha negara )
  • An Nidhamul Mali ( organisasi keuangan atau ekonomi )
  • An Nidhamul Harbi ( organisasi pertahanan )
  • An Nidhamul Qadhai ( organisasi kehakiman )

a.Perkembangan ilmu pengetahuan

  • Ilmu Qiraat

Pelopor Qira’ah saba’ah dari kaum mawaly antara lain : Abdullah bin Katsir , Ashim bin Abi Nujud , Abdullah bin Amir Aljahshaby , Ali bin Hamzah abu hasan al=kisai , Hamzah bin habib az zaiyaat , Abu Amr bin Al A’la dan Nafi bin Abi Na’im

  • Ilmu Tafsir

Ahli tafsir yang pertama pada masa ini adalah Ibnu abbas wafat tahun 68 H ,ahli tafsir lainnya adalah Mujahid yang wafat tahun 104 H

  • Ilmu Hadits

Di antara muhaddisin yang termahsyur pada zaman ini yaitu : Abu bakar Muhammad bin muslim bin ubaidillah bin Abdullah bin syihab az-zuhri ( wafat tahun 123 H ) , Ibnu abi malik ( wafat 119 H ) , hasan basri ( wafat 110 H ) dan As-sya’by ( wafat 140 H )

  • Ilmu Nahwu

Pembuatan ilmu nahwu pertama dan membukukannya seperti halnya sekarang yaitu Abu al-aswad ad-dualy ( wafat 69 H )

  • Tarikh dan Jughrafia
  • Al-ulumud dakhilah
  1. Tokoh yang berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada masa abbasiyah

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dinasti abbasiyah.Dinasti abbasiyah mencapai puncak keemasannya karena terdapat beberapa faktor :

  1. Islam makin meluas tidak hanya di danaskus tapi juga di baghdas
  2. Orang-orang di luar islam di pakai untuk menduduki institusi pemerintahan
  3. Pemerintahan abbasiyah membentuk tim penerjemah bahasa yunani ke bahasa arab
  4. Sebagai penerjemah memberikan pendapatnya
  5. Rakyat bebas berfikir serta memperoleh hak asasinya dalam segala bidang
  6. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan
  7. Dalam penyelenggaraan negara dalam masa bani abbasiyah ada jabatan wazir
  8. Ketentuan professional baru terbentuk pada masa pemerintahan bani abbasiyah

Pembagian ilmu pada masa abbasiyah

  1. Ilmu Naqli
  • Ilmu Tafsir

Tafsir bil ma’tsur yaitu menafsirka Al Qur’an dengan hadits Nabi. Mufasir golongan ini adalah :

  1. Ibn jarir at thabary dengan tafsirnya sebanyak 30 jus
  2. Ibn athiyah al andalusi ( Abu Muhammad bin athiyah ) 481-546 H
  3. As-suda yang mendasarkan penafsirannya pada ibn abbas , ibn mas’udn dan para sahabat lainnya ( Wafat 127 H )

Tafsir bir ra’yi yaitu menafsirkan Al Qur’an dengan akal dengan memperluas pemahaman yang terkandung di di dalamnya.mufasir golongan ini yang termahsyur adalah

  1. Abu bakar asma ( Mu’tazilaho wafat 240 H )
  2. Abu muslim Muhammad bin ashar al isfahany ( Mu’tazillah ) wafat 322 H
  3. Ibnu jaru al asady ( Mu’tazillah ) , wafat 387 H. Beliau menafsirkan bismillah 120 macam
  4. Abu yunus abu salam al qazwany ( wafat 483 H ) , beliau menafsirkan al fatihah 7 jilid
  • Ilmu Hadits

Yang mula-mula menulis hadits dengan menyaring hadits 7ang shahih adalah Imam al bukhary ( wafat 256 H ) yang hasilnya terkenal dengan kitab al jami’as shahih , diikuti oleh muridnya yaitu Imam Muslim ( wafat 261 H ) dengann kitabnya shahih muslim sesudah itu tempil beberapa nama yang menyaring hadits-hadits yang belum disaring oleh kedua imam tadi, Abu daud ( wafat 275 H ) , At thumudy ( wafat 279H) ,An nasa’I ( wafat 303 H ) , Ibnu majah ( wafat 273 H ) , yang masing-masing kitabnya disebut sunan ,sesudah itu datang Imam ahmad bin hamdal ( wafat 241 H ) kitabnya disebut Musnad

  • Ilmu Kalam

Di antara pelopor dan ahli ilmu kalam yang terbesar yaitu Washil bin Atho , Abu huzail al allaf , Abu hasam al hasyari dan imam ghazali

  • Ilmu tasawuf

Zahid-zahid yang terkenal di sini ialah Sufyan al tsauri ( wafat 135 H ),Hasan al bashri ( wafat 110 H ),dan Rabiah al adawiyah ( wafat 185 H ),Ibrahim bin adham ( wafat 162 H ),syafiq al balhki ( wafat 194 H ) dan ja’far al sadiq ( wafat 148 H )

  • Ilmu Bahasa
  1. Sibawahi ( wafat 153 H )
  2. Muaz al harro ( wafat 187 H ),yang mula- mula membuat tashrif
  3. Al kasai ( wafat 190 H ) mengarang kitab tata bahasa
  4. Abu usman al maziny ( wafat 249 H ),karangannya banyak tentang nahwu
  • Ilmu Fiqih

Para imam Fuqaha ialah :

  1. Imam abu hanifah yaitu nu’man tsabit bin zauthi, dilahirkan di kuffah pada tahun 80 H
  2. Imam malik, yaitu Malik bin anas bin malik bin abi amir , dilahirkan di madinah tahun 93 H
  3. Imam syafi’i , yaitu Abu Abdullah Muhammad bin idris bin abbas bin usman bin syafi’i dilahirkan di khaza provinsi askalan
  4. Imam ahmad , yaitu Ahmad bin hambal bin hilal az zahliy asy-syaibany,lahir 164 H
  5. Ilmu Aqli
  • Ilmu kedokteran

Dokter pada masa ini adalah Al razi dan Bin sina

  • Ilmu filsafat
  1. Al kindi ( 796 – 873 M )
  2. Al farabi
  3. Al ghazali
  4. Ibn rusyid
  • Ilmu optic

Dalam ilmu ini yang terkenal namanya adalah Abu ali al hasan bin al haytam (965M).Orang eropa menyebutnya al hazen:

  • Ilmu astronomi
  1. Al fazari adalah orang pertama yang mengerjakan astrolabe
  2. Al farghani
  3. Al battani ( Albateganius )
  4. Al biruni
  • Ilmu hitung
  1. Al khawarizmi
  2. Umar al Khayyam
  • Ilmu kimia
  1. Jabir bin hayyam
  2. Ar razi
  3. Ibnu baithar ( dalam abad 7 H )
  • Ilmu tarikh

Ahli sejarah di antaranya Al waqidy , Al mau’dy dan ibnu jarir at thobary,ibnu sa’ad , hisyam al-kalbi , ibnu hisyam , ibnu abdil hikam , jabir al-balaziry , Muhammad bin habib , ibnu thaifur , al ya’kuby , al mas’udy , ibnu nadim , maskawaih , said al-andalusy , dan lain-lain.

  • Ilmu geografi ( ilmu bumi )

Ibnu khardazbah , ibnu haik , ibnu fadlan.

  1. Hikmah atau pelajaran yang dapat diambil dari perkembangan islam pada periode klasik
  2. Adanya kontak antar kebudayaan dan antar peradaban dalam wilayah kekuasaan umat islam membuat peradaban islam tumbuh subur.Berbagai unsur dari berbagai kebudayaan dan peradaban itu diolah kembali menjadi umat islam dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi dengan kepercayaan diri yang tinggi itu,umat islam tidak kawatir bahwa unsur-unsur kebudayaan dan peradaban yang sudah ada akan mencederai dan merusak keimanan mereka.Sebaliknya,dengan mengolah hasil kebudayaan dan peradaban lain itulah keimanan mereka semakin bertambah dan mantap.
  3. Etos keilmuan para penguasa,mereka terbukti begitu mencintai ilmu pengetahuan,tak dapat diingkari bahwa perkembangan peradaban islam pada periode klasik tidak dapat dilepaskan dari peran yang dimainkan oleh para penguasa,seperti khalifah,sultan,wazir (menteri),amir (gubernur).Kepedulian mereka terhadap ilmu pengetahuan dan dukungan mereka kepada ilmuan begitu luar biasa.Pada beberapa masalah,mereka bahkan bersedia membayar para ilmuan dengan emas seberat naskah yang diterjemahkan untuk menerjemahkan buku ilmu pengetahuan dari yunani,seperti yang dilakukan oleh khalifah Al makmun.
  4. Aktivitas penerjemahan karya-karya berbahasa yunani,Persia,india,dan lain-lain ke dalam bahasa arab.Perlu dicatat bahwa penerjemahan ini hanyalah merupakan langkah awal.Para ilmuan dengan dukungan dari para penguasa melangkah lebih lanjut daripada sekedar menerjemahkan.Dengan etos ilmiah yang memang sudah melekat pada mereka, mereka mengembangkan ilmu pengetahuan dengan membuat berbagai eksperimen dan riset ilmiah.

 

BAB III
PENUTUP

  KESIMPULAN :

  1. Kita dapat meneladani sikap intelektual dan semangat keislaman para  Khalifah pada zaman keemasan tersebut.
  2. Kita dapat mengambil berbagai tauladan dari para Khalifah
  3. Dapat menumbuhkan semangat kepedulian social
  4. Kita dapat memahami dan menghayati sejarah kebudayaan Islam atau dijadikan pandangan hidup dalam kegiatan sehari –hari
  5. Membentuk nilai melalui pengambilan hikmah dikehidupan sehari-hari meningkatkan keimanan dan ketaqwaan.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://ferigramesa.blogspot.co.uk/2014/04/perkembangan-islam-pada-masa-klasik-dan.htm

https://maryaulfah.wordpress.com/2013/02/09/rangkuman-perkembangan-islam-periode-klasik/

Category: MakalahTags:
author
No Response

Leave a reply "Makalah Tentang Sejarah Perkembangan Pemikiran Dan Peradaban Islam Periode Klasik (650-1250 M)"