Makalah Tentang Pemikiran dan Peradaban Islam Masa Nabi Muhammad SAW

BAB I
PENDAHULUAN

 1.1 Latar belakang

Akhir- akhir ini , telah bermunculan tokoh tingkat nasional dan internasional yang memainkan peran sebagai pencerah umat dengan beragam konsep membangun pemikiran dan peradapan. Konsep membangun pemikiran dan peradapan itu ditawarkan mulai dari rumah tangga hingga tingkat negara dan dunia. Jika kita merujuk kembali pada sejarah pemikiran dan peradaban mayor, maka sumber inspirasi perjuangan para ahli peradaban islam adalah Nabi Muhammad SAW. Kehadiran Nabi Muhammad SAW, identik dengan latar belakang kondisi masyarakat Arab, khususnya orang-orang mekkah. Kehidupan masyarakat Arab secara sosiopolitis mencerminkan kehidupan yang rendah. Perbudakan, mabuk, perzinahan, eksploitsi ekonomi dan perang antar suku menjadi karakter perilaku mereka. Dari aspek kepercayaan atau agama, orang-orang Arab mekah adalah penyembah berhala. Berangkat dari kondisi inilah dalam sejarah di catat bahwa Muhammad sering melakukan kontemplasi (uzlah), untuk mendapatkan suatu jawaban apa dan bagaimana seharusnya membangun kehidupan masyarakat Arab.

Hadirnya Nabi Muhammad pada masyarakat Arab juga membuat terjadinya kristalisasi pengalaman baru dalam dimensi ketuhanan yang mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat, termasuk hukum-hukum yang digunakan pada masa itu. Berhasilnya Nabi Muhammad SAW dalam memenangkan kepercayaan yang dianut bangsa Arab. Dalam waktu yang relatif singkat beliau mampu memodifikasi jalan hidup orang-orang Arab.

Setelah melalui proses kontemplasi yang cukup lama, tepatnya di gua Hira, akhirnya nabi muhammmad saw mendapat suatu petunjuk dari ALLAH melalui malaikat jibril untuk mengubah masyarakat arab mekah dari sinilah awal sejarah penyebaran dan perjuangan dalam menegakkan ajaran islam. Sedikit demi sedikit merubah budaya-budaya yang tidak memanusiakan manusia dalam artian budaya yang mengarah pada keburukan menjadi budaya-budaya yang mengarah kepada kebaikan dalam payung Islam. Budaya-budaya yang mengarah kebaikan yang dibawa Nabi Muhammad pada akhirnya menghasilkan peradaban yang luar biasa pada zamannya. Yang mana muara dari peradaban itu semua ialah Islam

Islam sangat berperan penting dalam menciptakan peradaban yang luar biasa yang tercipta pada masa zaman Nabi Muhammad. Dan faktor penting di balik itu semua tidak lain ialah Nabi Muhammad sendiri. Nabi Muhammad tidak hanya sebagai Nabi melainkan juga sebagai pengajar, pendidik, pemimpin, pemimpin militer, politikus, reformis, dan lain-lain.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaiman Riwayat hidup Nabi Muhammad SAW ?
  2. Bagimana Peradaban Pra Islam ?
  3. Bagaimana pemikiran dan peradaban islam Masa Nabi Muhammad ?
  4. Bagaimana peran sahabat dalam memahami wahyu dan sunnah nabi Muhammad terkait dengan pemikiran dan peradaban ?
  5. Bagaimana perkembangan pemikiran ekonomi masa Nabi Muhammad SAW

1.3 Manfaat

  1. Mengetauhi riwayat hidup Nabi Muhammad SAW
  2. Mengetauhi Peradapan sebelum islam
  3. Mengetauhi keadaan pemikiran dan peradaban masa Nabi Muhammad SAW
  4. Mengetauhi peran sahabat dalam memaknai pemikiran dan peradaban
  5. Mengetauhi perkembangan pemikiran ekonomi masa Nabi Muhammad SAW

 

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pemberi Riwayat Nabi Muhammad SAW

Muhammad lahir di Mekkah pada hari senin pagi 12 Rabi’ul awal bertepatan dengan tanggal 20 April tahun 571 M. Tahun kelahiran Nabi dikenal dengan tahun Gajah, karena pada tahun itu pasukan Abrahah dengan menunggang gajah menyerbu Mekkah ingin menghancurkan ka’bah.

Beliau lahir dari keluarga miskin secara materi namun berdarah ningrat dan terhormat. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Dikisahkan, bahwa anak-anak Hasyim ini adalah keluarga yang berkedudukan sebagai penyedia dan air minum bagi para jamaah haji yang dikenal dengan sebutan Siqayah Al Hajj. Sedangkan ibunda Nabi Muhammad Saw adalah Aminah binti Wahab, adalah keturunan Bani Zuhrah. Kemudian, nasab atau silsilah ayah dan ibunda Nabi bertemu pada Kilab ibn Murrah.

Pada waktu lahir Nabi Muhammad SAW dalam keadaan yatim karena ayahnya Abdullah meninggal dunia ketika masih dalam kandungan. Nabi Muhammad kemudian diserahkan kepada ibu pengasuh, Halimah Sa’diyyah. Dalam asuhannyalah Nabi Muhammad SAW dibesarkan sampai usia empat tahun. Setelah kurang lebih dua tahun berada dalam asuhan ibu kandungnya. Ketika usia enam tahun Nabi Muhammad SAW menjadi yatim piatu.

Setelah Aminah meninggal, Abdul Muthalib mengambil alih tangguang jawab merawat Nabi Muhammad SAW. Namun, dua tahun kemudian Abdul Muthalib meninggal dunia karena renta. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya, Abu Thalib. Seperti juga Abdul Muthalib, dia juga sangat disegani dan dihormati orang Quraisy dan penduduk Makkah secara keseluruhan.

Dalam usia muda Nabi Muhammad SAW hidup sebagai penggembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Melalui kegiatan penggembalaan ini dia menemukan tempat untuk berfikir dan merenung. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi, sehingga dia terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak namanya, karena itu sejak muda dia sudah dijuluki al-amin, orang yang terpercaya.

Pada usia 25 tahun, Nabi Muhammad SAW ikut berdagang ke Syam, menjual barang milik Khadijah, seorang wanita terpandang dan kaya raya. Dia biasa menyuruh orang untuk menjualkan barang dagangannya dengan membagi sebagian hasilnya kepada mereka. Ketika Khadijah mendengar kabar tentang kejujuran perkataan beliau, kredibilitas dan kemuliaan ahlak serta keuntungan dagangannya melimpah, Khadijah tertarik untuk menikahinya. Yang ikut hadir dalam acara pernikahan itu adalah Bani Hasyim dan para pemuka Bani Mudhar.

2.2 Pemikiran dan peradan Pra islam

Dalam berbagai literature  sejarah dapat kita jumpai pembagian penduduk Arab. Hal itu sesuai dengan asal muasal penduduk tersebut yaitu al-Arab al-Ba’idah (Arab Kuno), Arab al-Arabiyah (Arab Peribumi) dan al-Arab al-Mustaribah (Arab pendatang). Penduduk Arab ini masuk pada ketegori penduduk jahiliyah yang tidak berperadaban baik.

Sebelum Islam kondisi bangsa Arab carut marut perempuan pada masa itu tidak berarti apa-apa, meskipun ada beberapa perempuan yang tersohor pada saat itu memiliki kewibawaan di Arab yaitu seperti Ummu Aufah, Kindah, dan sebagainya semuanya berdiam di Mekkah, Madinah dan Yaman. Wanita pada masa pra Islam tidak ada harganya seperti barang dagangan. Perempuan pada masa itu tidak mendapatkan harta warisan dari orang tuanya bahkan banyak orang tua menganggap bahwa anak mereka ada aib.

Kekacauan yang lain yaitu pada masa itu banyak saudara kandung menikahi saudaranya sendiri, ibu tiri menikahi anak tirinya, dan kasus penguburan anak yang masih hidup. Pada tradisi penguburan itu dilakukan pada suku Bani Tamim dan Bani Asad. Selanjutnya ada wanita yang menjadi kepala suku dan bersuami lebih dari 1 orang. Dan setelah kelahiran anaknya penentuan ayah ditentukan oleh ibunya dan ahli nujum. Adapula seorang suwami istri yang sepakat untuk mendapat keturunan yang cerdas, maka sang suwami mengatar istrinya kepada orang yang ternama untuk dikawini dan ketika sudah ada tanda-tanda kehamilan maka sang suwami menjemput istrinya.

2.3 Pemikiran dan Peradaban Islam masa Nabi Muhammad SAW

Ditengah perilaku sehari – hari dan keberagamannya yang menyimopang dari prinsip tauhid yang pernah diajarkan ibrahim a.s, hadirlah cahaya baru yaitu islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Melihat situasi masyarakatnya yang semakin jauh dari prinsip prinsip kebenarannya, Muhammad  memutuskan untuk banyak melakukan kontemplasi.  Nabi Muhammad menerapkan berbagai prinsip. Prinsip kesederajatan dan keadilan yang dibangun Nabi, mencakup semua aspekbaik politik, ekonomi, maupun hukum. Pertama, aspek politik, Nabi mengakomodasikan seluruh kepentingan, semua rakyat mendapatkan hak yang sama dalam politik, walaupun penduduk Madinah sangat heterogen, baik dalam arti agama, ras, suku dan golongan-golongan.

Kedua, aspek ekonomi, Nabi mengaplikasikan ajaran egaliterianisme21, yakni pemerataan saham-saham ekonomi kepada seluruh masyarakat. Seluruh lapisan masyarakat mempunyai hak yang sama untuk berusaha dan berbisnis Misi egaliterianisme ini sangat tipikal dalam ajaran Islam. Sebab misi utama yang diemban oleh Nabi bukanlah misi teologis, dalam arti untuk membabat habis orang-orang yang tidak seideologi dengan Islam, melainkan untuk membebaskan masyarakat dari cengkeraman kaum kapitalis.

Ketiga, aspek Hukum, Nabi memahami aspek hukum sangat urgen dan signifikan kaitannya dengan stabilitas suatu bangsa, karena itulah Nabi tidak pernah membedakan "orang atas", "orang bawah" atau terhadap keluarga sendiri Nabi sangat tegas dalam menegakan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Madinah, artinya tidak ada seorangpun kebal hukum. Prinsip konsisten legal [hukum] harus ditegakkan tanpa pandang bulu, sehingga supermasi dan kepastian hukum benar-benar dirasakan semua anggota masyarakat.

Selanjutnya, akan dijelaskan usaha –usaha menyerukan islam yang dilakukan Rasulullah dalam dua kategori periode yaitu periode mekkah dan periode madinah.

  1. Periode Mekkah

Nabi  Muhammad Saw. pada periode Mekkah menggunakan strategi dakwah,antara lain:

  1. Dakwah secara sembunyi-sembunyi

Cara ini ditempuh karena beliau begitu yakin  bahwa masyarakat arab jahiliyah masih sangat kuat mempertahankan kepercayaan dan tradisi warisan leluhur. Mereka bersedia berperang dan rela mati dalam mempertahankanya demi tradisi leluhurnya tersebut.

Pada masa ini Rosulullah Saw melakukan dakwah secara diam-diam selama 3 tahun dilingkungan keluarga sendiri dan dikalangan rekan-rekannya. Mula-mula yang masuk Islam pertama kali adalah istri Rosulullah yaitu khadijah, yang menerima dakwah beliau, kemudian Ali Bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid, bekas budak beliau. Disamping itu, banyak orang yang masuk islam dengan perantaraan Abu Bakar yang terkenal dengan julukan Assabiqunal Awwalun (orang yang lebih dahulu masuk islam).

Masuknya Abu Bakar ini membawa kesan dalam diri Nabi Muhammad, setidaknya juga berperan dalam dakwah islam  Abu Bakar terbukti dengan masuknya beberapa orang atas ajakanya seperti Abu Ubaidah bin Al-Haris, Abu Salamah bin Abdul Asad, Al-Arqam, Usman bin ma’zam, Qudamah bin Maz’un, Sa’id bin yazid dan istriny, Asma dan aisyah. Kemudian setelah turunya ayat 94 surat Al-Hijr, Nabi Muhamad memulai dakwahnya secara terang-terangan, yang artinya sebagai berikut:

Maka sampaikanlah oleh mu secara terang-terangan  segala apa yang telah diperintahkan (kepada mu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musrik. (Qs. Al-hijr : 94)

Pada persiapan dakwah yang berat maka dakwah pertama beliau mempersiapkan mental dan moral. Oleh sebab itu beliau mengajak manusia atau umatnya untuk:

  1. Mengesakan Allah
  2. Mensucikan dan membersihkan jiwa dan hati
  3. Menguatkan barisan
  4. Meleburkan kepentingan diri di atas kepentingan jamaah

Namun, dakwah yang dilakukan beliau tidak mudah karena mendapat tantangan dari kaum kafir quraisy. Hal tersebut timbul karena beberapa faktor, yaitu sebagai berikut :

  1. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan.
  2. Nabi muhamad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya.
  3. Para pemimpin Quraisy tidak mau percaya ataupun mengakui serta tidak menerima tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat.
  4. Taklid kepada nenek moyang kebiasaan yang berurat akar pada bangsa arab, maka sangat berat untuk mereka meninggalkan agama nenek moyang dan mengikuti agama islam.
  5. Pemahat dan penjual patung memandang islam sebagai penghalang rezki.

Banyak cara dan upaya yang ditempuh para pemimpin Quraisy untuk mencegah dakwah Nabi Muhammad, namun selalu gagal. Tekanan dari orang-orang kafir semakin keras terhadap gerakan dakwah Nabi Muhammad, terlebih setelah meninggalnay dua orang yang selalu melindungi dan menyokong Nabi Muhammad daari orang-orang kafir, yaitu paman beliau dan istri tercinta beliau (Abu Thalib, khadijah). Peristiwa tersebut terjadi kesepuluh setelah kenabian. Tahun ini merupakan tahun kesedihan bagi Nabi Muhammad sehingga dinamakan Amul Khuzn.

Karena di mekah dahwah nabi muhammad mendapat rintangan dan tekanan  pada akhirnya Nabi Muhammad memutuskan untuk beredakwah diluar mekah. Namun, di thaif biliu dicaci maki dan dilempari batu sampai beliau terluka,. Hal ini sampai pemnyebabkan nabi muhammad putus asa, sehingga untuk menguatkan hati beliau, Allah mengutus dan memirajkan beliau pada tahun kesepuluh kenabian itu. Berit tentang isra’ dan mi’raj ini memnggemparkan mekah. Bagi orang kafir, peristiwa ini di jadikan bahan propaganda untuk mendustakan nabi muhammad sedangkan bagi orang yang beriman ini merupakan ujian keimnan.

  1.    Dakwah secara terang-terangan

Setelah dakwah berjalan 3 tahun secara diam-diam, Nabi Muhammad diperantahkan oleh Allah untuk melakukan dakwah secra terang-terangan. Dalam dakwah secara terang-terangan Rosullullah dengan tahapan  sebagai berikut:

  1. Mengundang kaum kerabat keturunan dari bani Hasyim, untuk menghadiri     jamuan  makan dan mengajak mereka masuk islam
  2. Mengumpulkan para penduduk Mekkah terutama yang berada di tempat tinggal disekitar ka’bah untuk berkumpul di Bukit Shofa.
  3. Menyampaikan seruan dakwah kepada para penduduk diluar kota Mekkah.

Dijelaskan dalam Alquran surat Al-Hijr:94 yang artinya:

“Maka sampaikanlah olehmu  secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik”

Rasulullah gencar mempublikasikan agar orang masuk Islam, kemudian pada masa itu beliau mengajak segenap umat Islam untuk melaksanakan ibadah haji. Dilain waktu, acara jamuan tersebut diadakan kembali. Kali ini para tamu undangan mulai mendengarkan perkataan Rasulullah namun tak satupun dari mereka yang meresponnya secara positif. Hal tersebut tidak membuat Rasulullah dan para sahabatnya patah arah, tetapi membuat Rasulullah dan para sahabatnya semangat dan dakwahnya semakin diperluas hingga suatu ketika.

Rasulullah mengadakan pidato terbuka di bukit Sofa. Pidato tersebut berisi perihal kerasulannya. Rasulullah memanggil seluruh penduduk Mekkah dan mengabarkan kepada mereka bahwa dirinya diutus untuk mengajak mereka meninggalkan Paganisme (Penyembahan terhadap berhala). Beliau menjelaskan bahwa tuhan yang wajib disembah hanyalah Allah. Mendengar hal tersebut masyarakat Qurays tersentak kaget, mereka sangat marah karena hal tersebut dan menghina tradisi nenek moyang dan kehormatan mereka. Para pembesar Qurays membentak dan memaki Rasulullah dengan keras. Mereka menganggap bahwa Muhammad adalah orang gila bahkan pamannya sendiri Abu Lahab pun mengancam Rasulullah dengan keras.

Pemimpin Quraiys dengan giatnya menentang dakwah Rosulullah SAW. Pemimpin Qurays merasa bahwa makin maju dakwah Rosulullah maka makin besar tantangan kaum Qurays. Ada 5 faktor yang mendorong Kaum Qurays menentang Rosulullah Saw yaitu:

  1. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan;
  2. Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya. Hal ini tidak disetujui oleh bangsawan Qurays.
  3. Para Qurays tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat
  4. Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berakar pada bangsa Arab.
  5. Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki

Dalam periode Mekah umat Islam telah mengenal aktifitas ekonomi dengan bentuknya yang masih sederhana, seperti menggembala binatang ternak, membuat alat rumah tangga atau perang, menjadi buruh kasar, atau budak. Sementara golongan menengah keatas berdagang. Mereka mengenal aktivitas kewirausahaan. Semisal Usman bin Affan dan Abu Bakr. Nabi Muhammad SAW sendiri pada masa mudanya bekerja sebagai pengembala domba dan seorang pengusaha yang menjalankan bisnis Khadijah yang kelak menjadi isterinya.

Namun memang, Kritikan-kritikan tajam Nabi SAW dalam sektor perdagangan (seperti masalah riba, penumpukan kekayaan atau monopoli, dan lain-lain) terjadi pada periode Madinah. Hal ini tampak berkaitan erat dengan kuatnya kaum Yahudi Madinah sebagai pemeran penting di lapangan perdagangan. Sementara itu, kaum petani dari kalangan Muhajirin dan Anshar sering dirugikan dengan fluktuasi harga yang diciptakan oleh orang-orang tertentu dalam sistem pasar.

Kota Mekah ketika itu merupakan pusat perdagangan, sebagai penghubung jalur perekonomian Samudera Hindia (wilayah timur) dengan Laut Tengah (wilayah barat). Pada pertengahan kedua dari abad ke-enam Masehi, jalan dagang Timur-Barat berpindah dari Teluk Persia-Euphrat di Utara dan Laut Merah-Perlembahan Neil di Selatan, ke Yaman–Hijaz–Syria.  Peperangan yang senantiasa terjadi antara Byzantin dan Persia membuat jalan Utara tak selamat dan tak menguntungkan bagi dagang. Mesir, mungkin juga sebagai akibat dari peprangan Byzantin dan Persia, berada dalam kekacauan yang mengakibatkan perjalanan dagang melalui perlembahan nil tidak menguntungkan pula.

Dengan berpindahnya perjalanan dagang Timur–Barat ke Semenanjung Arabia, Mekah menjadi kota dagang karena letaknya yang berada strategis dipertengahan jalur dagang tersebut. Pedagang-pedagangnya pergi ke Selatan membeli barang-barang yang datang dari Timur, yang kemudian mereka bawa ke Utara untuk di jual di Syria. Dari dagang transit ini, Mekah menjadi kaya. Perdagangan di kota ini dipegang oleh suku quraisy dan sebagai orang-orang yang berada dan berpengaruh dalam masyarakat pemerintahan Mekah juga terletak di tangan mereka.

Kekuasaan kota Mekah sebenarnya terletak di tangan kaum pedagang tinggi. Kaum pedagang tinggi ini, untuk menjaga kepentingan – kepetingan mereka mempunyai perasaan dan solidaritas kuat yang kelihatan efeknya dalam perlawanan mereka terhadap Nabi Muhammad saw, sehingga beliau dan pengikut-pengikutnya terpaksa meninggalkan Mekah untuk pergi ke Yasrib. Sebagaimana diketahui nabi bukanlah termasuk golongan yang kaya bahkan termasuk dari kalangan Quraisy yang keadaan ekonominya sederhana sekali, sehingga dia terpaksa mengembalakan kambing guna membantu ekonomi pamannya, Abu Thalib. Maka sepeninggal isterinya yang merupakan bagian dari pebisnis utama kota Mekah, pendukung dan solidaritas dari kaum pedagang tinggi pun melemah. Inilah di antara faktor yang menyebabkan hijrahnya rasul ke Yasrib.

Dari sini dapat dinyatakan bahwa, pada periode awal kekuasaan dan imperium ekonomi di kota Mekah tidak dapat dikuasai oleh kaum Muslimin karena masih sedikit dan lemahnya mereka saat itu. Hal ini terutama disebabkan sebagian besar pengikut Rasulullah saw adalah berasal dari golongan rendah, semisal budak dan buruh kasar yang tidak memiliki pengaruh besar dalam bidang ekonomi di kota Mekah. Sedangkan kebanyakan aristokrat ekonomi kota Mekah semisal Abu Sufyan dan Abu Jahl yang memiliki jaringan bisnis kuat, sangat membenci dan menentang dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Pelemahan ekonomi terhadap umat Islam di kota Mekah menampakkan efeknya yang dahsyat saat terjadinya pemboikotan total terhadap keluarga Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib oleh seluruh seluruh suku yang ada di Mekah untuk tidak saling mengawinkan dan tidak berjual beli apapun, sehingga pada masa-masa pemboikotan tersebut kaum muslimin berada pada titik nadir ekonomi yang teramat lemah.

  1. Periode Madinah

Dengan hijrahnya Nabi ke Yatsrib yang kemudian berganti nama Madinah Al Munawarah atau disebut dengan Madinah, Nabi segera meletakan dasar-dasar masyarakat Islam. Nabi resmi mnejadi pemimpin kota ini (pemimpin negara) sekaligus memimpin agama Islam. Langkah-langkah yang diambil oleh Rasulullah SAW, untuk meletakkan dasar pembinaan masyarakat Madani/Islami di Madinah antara lain:

  1. Mendirikan masjid

Masjid disamping untuk tempat beribadah juga untuk tempat berkumpul dan bertemu. Masjid berperan besar dalam menyatukan umat muslimin dari berbagai suku dan mempersatukan jiwa mereka serta tempat bermusyawarah dalam merundingkan persoalan yang dihadapi. Pada masa Nabi masjid dijadikan pusat pemerintahan.

  1. Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim)

Persaudaran yang dilakukan oleh Rasulullah berdasarkan agama bukan berdasarkan pertalian darah. Mempersatukan umat yaitu mempersatukan kaum Anshar dan kaum Muhajirin.

  1. Kesepakatan untuk salimg membantu antara kaum muslimin dan non muslimin

Di Madinah, ada golongan manusia, yaitu kaum muslimin, orang-orang Arab, serta kaum non muslim, dan orang-orang yahudi (Bani Nadhir, Bani quraizhah, dan Bani Qainuqa’). Rasulullah melakukan kesepakatan dengan mereka untuk terjaminnya sebuah keamanan dan kedaimaian. Juga untuk melahirkan suasanya saling membantu dan toleransi diantara golongan tersebut.

  1. Meletakan landasan politik, ekonomi dan kemasyarakatan

Bagi negara Madinah yang baru terbentuk. Dasar berpolotik antara lain prinsip keadilan yang harus dijalankan tanpa pandang bulu. Prinsip egaliter atau persamaan derajat antara manusia, yang membedakan adalah ketaqwaan kepada Allah semata. Untuk memecahkan masalah atau persoalan umat dipeganglah prinsip musyawarah.

2.4  Peran Sahabat Dalam Memahami Wahyu dan Sunnah Nabi SAW Terkait Dengan Pemikiran dan Peradaban Islam

Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhamad tidak sekaligus, tetapi dengan cara berangsur-angsur. Atas dasar itulah Nabi menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat Islam pada masa itu. Tetapi adakalanya persoalan yang cara penyelesaiannya belum disebut oleh wahyu yang sudah diterima Nabi. Dalam hal ini Nabi memakai ijtihad atau pendapat yang dihasilkan pemikiran secara mendalam.

Pada periode Nabi, segala persoalan hukum dikembalikan kepada Nabi untuk menyelesaikannya, Nabi lah yang menjadi satu-satunya sumber hukum. Secara direk pembuat hukum adalah Nabi,tetapi secara indirek Tuhanlah pembuat hukum, karena hukum yang dikeluarkan Nabi bersumber pada wahyu dari Tuhan. Di periode sahabat, daerah yang dikuasai Islam tambah luas dan termasuk didalmnya daerah-daerah di luar semenanjung Arabia yang telah mempunyai kebudayaan tinggi dan susunan masyarakat yang bukan sederhana, di perbandingkan dengan masyarakat Arabia ketika itu. Dengan demikian persoalan-persoalan permasyarakatan yang timbul di periode ini lebih sulit penyelesaiannya dari pesoalan-persoalan yang timbul di masayraktat Semenanjung Arabia.

Untuk mencari penyelesaian bagi soal-soal baru itu para sahabat kembali ke Al-Qur’an dan sunnah yang ditinggalkan Nabi. Dalam pada itu timbul pula suatu problema lain. Sebagai dilihat ayat ahkam berjumlah sedikit dan tidak semua persoalan timbul dapat dikembalikan kepada Al-qur’an dan sunnah Nabi. Untuk menyelesaikan persoalan yang tidak dijumpai dalam kedua sumber hukum itu, khalifah dan para sahabat mengadakan ijtihad.

Sesuai dengan bertambah luasnya daerah Islam, berbagai macam bangsa masuk Islam dengan membawa berbagai adat-istiadat, tradisi dan sistem kemasyarakatan. Problema hukum yang dihadapi beragam pula. Untuk mengatasinya para sahabat dan ulama banyak mengadakan ijtihad yang didasarkan kepada Al-qur’an dan sunnah Nabi.

PERKEMBANGAN  PEMIKIRAN EKONOMI PADA MASA RASULULLAH SAW

  1. kebijakan Fiskal pada masa nabi Muhammad Saw

Pada zaman rosululah melahirkan kebijakan fiskal, didalam dunia islam dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya karena fiskal merupakan peranan penting dan merupakan bagian dari instrumen ekonomi publik. Pada zaman Rasulullah saw pemikiran dan mekanisme kehidupan politik dinegara islam besumber dan berpijak pada nilai-nilai akidah, merangkai hubungan sosial diantara mereka yang beragama.Untuk itu faktor sosial, budaya dan politik termaksut didalamnya. Tantangan Rasulullah saw sangat besar dan tidak menentu baik dari kelompok internal maupun kelompok eksternal. Kelompok internal yang harus diselesaikan Rasulullah saw yaitu bagaiman menyatukan antara kaum Anshor dan kaum Muhajirin paska hijrah dari mekah kemadinah (yastrib). Kemudian tantangan dari ekternal baigamana Rasul mampu mengimbangi rongrongan dari serbuan kaum kafir Quraiys.

Disisi lain Rasul harus melakukan pembenahan disektor ekonomi, dalam kondisi yang tidak menentu ini dimna kondisi alam yang tidak mendukung ditambah kondisi perekonomian yang masih lemah, maka salah salah satu sumber daya alam yang bisa diandalkan adalah sektor pertanian. Dalam sektor pertanian cara pengelolaannya menggunakan cara yang tradisianal sehingga trliahat apa adanya, tentunya diperlukan kejeniusan, kesabaran dan ketegaran. Sehingga kebijakan tersebut bersifat menguntungkan semua pihak.

  1. Unsur-unsur Kebijakan Pada Masa Nabi muhammad Saw.

a). Sistem Ekonomi

Seperti di Madinah merupakan negara yang baru terbentuk dengan kemampuan daya mobilitas yang sangat rendah dari sisi ekonomi.Oleh karena itu,peletakan dasar-dasar sistem keuangan negara yang di lakukan oleh Rasulallah Saw.merupakan langkah yang sangat signifikan,sekaligus berlian dan spektakuler pada masa itu,sehingga Islam sebagai ssebuah agama dan negara dapat brkembang dengan pesat dalam jangka waktu yang relatif singkat. Sistem ekonomi yag di terapkan oleh Rasulallah Saw.berakar dari prinsip-prinsip Qur’ani.Alqur’an yang merupakan sumber utama ajaran Islam telah menetapkan berbagai aturan sebagai hidayah(petunjuk) bagi umat manusia dalam aktivitas di setiap aspek kehidupannya,termasuk di bidang ekonomi.Prinsip Islam yang paling mendasar adalah kekuasan tertinggi hanya milik Allah semata dan manusia diciptakan sebagai khalifah-Nya di muka bumi, Dalam pandangan Islam,kehidupan manusia tidak bisa di pisahkan menjdai kehidupan ruhiyah dan jasmaniyah,melainkan sebagai satu kesatuan yang utuh yang tidak terpisahkan,bahkan setelah kehidupan dunia ini,Dengan kata lain,Islam tidak mengenal kehidupan yang hanya memikirkan materi duniawi tanpa memikirkan kehidupan akhirat.

b).  Sistem  Keuangan  Dan Pajak

Sebelum Nabi Muhamad s.a.w diangkat  sebagai  rasul dalam masyarakat jahiliyah sudah terdapat lembaga  politik  semacam  dewan  perwakilan  rakyat  untuk  ukuran  masa  itu yang  disebut  Darun Nadriah. Di dalamnya para  tokoh  Mekkah  berkumpul dan  bermusyawarah  untuk  menentukan  suatu  keputusan etika  dilantik  sebagai  rasul mengadakan semacam  lembaga  tandingan  untuk  itu yaitu  darul  arqam. Perkembangan  lembaga  ini  terkendala  karena  banyaknya  tantangan  dan  rintangan sampai  akhirnya  Rasulullah  memutuskan  untuk  hijrah  ke Madinah.

Ketika  beliau  hijrah  ke  Madinah maka  yang  pertama  kali  didirikan Rasulullah adalah Masjid (Masjid Quba). Yang bukan saja  merupakan tempat beribadah tetapi juga sentral kegiatan kaum  muslimin. Kemudian beliau masuk ke Madinah dan membentuk “lembaga” persatuan di antara  para  sahabatnya  yaitu persaudaraan kaum muhajirin dan kaum Anshar. Hal ini  di  ikuti  dengan  pembangunan  mesjid  lain  yang  lebih  besar (Mesjid  nabawi) yang  kemudian  yang  menjadi  sentral  pemerintah. Untuk  selanjutnya pendirian (lembaga)  dilanjutkan  dengan penertiban  pasar.

Rasulullah  diriwayatkan  menolak  membentuk  pasar yang  baru  yang khusus untuk kaum  muslimin. Karena  pasar  merupakan  sesuatu  yang alamiah dan harus berjalan dengan sunatullah. Demikian  halnya  dalam  penentuan harga dan mata uang tidak ada satupun bukti sejarah  yang  menunjukan  bahwa  nabi  Muhamad membuat mata uang  sendiri. Pada  tahun-tahun awal  sejak  dideklarasikan sebagai sebuah negara, Madinah hampir tidak memiliki sumber pemasukan ataupun pengeluaran  negara. Seluruh  tugas  negara  dilaksanakan kaum musimin  secara bergotong royong dan  sukarela. Mereka  memenuhi  kebutuhan  hidup  diri  dan  keluarganya sendiri. Mereka  memperoleh  pendapatan  dari bebagai  sumber  yang  tidak  terikat. Tidak hanya masa  sekarang  saja  adanya  sumber  anggaran  negara  semisal pajak, zakat,kharaj dsb. Tetapi, di Madinah juga pada  masa  rasulullah  sudah ada yang namnya sumber  anggaran  pendapatan  negara  semisal  pajak, zaka, kharaj  dsb. Pajak (dharibah) itu sebenarnya  merupakan  harta  yang di  fardhukan  oleh Alloh kepada  kaum  muslimin  dalam  rangka  memenuhi  kebutuhan mereka. Dimana Alloh telah menjadikan seorang  imam  sebagai  pemimpin  bagi  mereka  yang  bisa mengambil  harta  dan  menafkahkannya  sesuai  dengan  objek-obyek  tertentu. Dalam  mewajibkan  pajak  tidak  mengenal bertambahnya kekayaan dan larangan tidak boleh kaya  dan  untuk  mengumpulkan  pajak  tidak  akan  memperhatikan ekonomi apapun.. Namun  pajak  tersebut  dipungut  semata  berdasarkan  standar  cukup. Tidak hanya  harta  yang  ada  di  baitul  mal, untuk memenuhi seluruh keperluan yang dibutuhkan sehingga pajak tersebut di pungut berdasarkan kadar kebutuhan belanja negara. Karakteristik  pekerjaan  masih  sangat sederhana dan tidak memerlukan perhatian  penuh.

Rasulullah   sendiri  adalah  seorang  kepala  negara  yang  merangkap  sebagai  ketua  mahkamah  agung,mufti  besar,panglima  perang  tertinggi,serta  penanggungjawab  seluruh  administrasi  negara. Ia  tidak  memperoleh  gaji  dari  negara atau  masyarakat, kecuali  hadiah-hadiah  kecil  yang pada  umumnya  berupa  bahan  makanan. Majelis  syura  terdiri  dari  para  sahabat  terkemuka  yang  sebagian  dari  mereka  bertanggung  jawab  mencatat  wahyu. Pada  tahun  keenam  hijriah, sebuah  sekretariat  sederhana  telah  dibangun  dan  ditindak  lanjuti  dengan  pengiriman  duta-duta negara  ke  berbagai  pemerintahan dan  kerajaan. Demikianlah  adanya  sumber  pendapatan  negara  semisal sistem keuangan dan pajak  yang  ada  pada  masa  rasulullah    yang  dapat  menjadikan  kaum  muslimin  bisa  hidup  sejahtera. Tanpa  adanya  permsuhan  dan  kesenjangan  sosial  subhanalloh  begitu  menakjubkan  sekali  ditengah  kesederhanaannya  tetapi  bisa  menjadikan  seluruh  kaum  muslimin  bisa  menjalankan  aktivitas  perekonomian  dengan  tidak  mengesampingkan  rasa  ukhuwah mereka.
c).    Sumber Pendapatan dan Pengeluaran Negara

  1. Sumber pendapatan :
  2. Uang tebusan untuk para tawanan perang ( hanya khusus pada perang Badar, pada perang lain tidak disebutkan jumlah uang tebusan tawanan perang ).
  3. Pinjaman-pinjaman ( setelah penaklukan kota Mekkah ) untuk pembayaran uang pembebasan kaum muslimin dari Judhayma/ sebelum pertemuan Hawazin 30.000 dirham ( 20.000 dirham menurut Bukhari ) dari Abdullah bin Rabia dan pinjaman beberapa pakaian dan hewan-hewan tunggangan dari Sufyan bin Umaiyah ( sampai waktu itu tidak ada perubahan ).
  4. Khums atas rikaz harta karun temuan pada periode sebelum islam.
  5. Amwal fadillah yaitu harta yang berasal dari harta benda kaum muslimin yang meninggal tanpa ahli waris, atau berasal dari barang-barang seorang muslim yang meninggalkan negrinya.
  6. Wakaf yaitu harta benda yang didedikasikan oleh seorang muslim untuk kepentingan agama Allah dan pendapatnya akan disimpan di Baitul mal.
  7. Nawaib yaitu pajak khusus yang dibebankan kepada kaum muslimin yang kaya raya dalam rangka menutupi pengeluaaraan negera selama masa darurat.
  8. Zakat fitrah
  9. Bentuk lain sedekah seperti hewan qurban dan kifarat. Kifarat adalah denda atas kesalahan yang dilakukan oleh seorang muslim pada saat melakukan kegiatan ibadah.
  10. Ushr
  11. Jizyah yaitu pajak yang dibebankan kepada orang-orang non muslim.
  12. Kharaj yaitu pajak tanah yang dipungut dari kaum non muslim ketika wilayah khaibar ditakhlukkan.
  13. Ghanimah
  14. Fa’i
  15. Sumber-sumber pengeluaran :
  16. Biaya pertahanan seperti persenjataan, unta, dan persediaan.
  17. Penyaluran zakat dan ushr kepada yang berhak menerimanya menurut ketentuan Al-Qur’an, termasuk para pemungut zakat.
  18. Pembayarnan gaji untuk wali, qadi, guru, imam, muadzin, dan pejabat negara lainnya.
  19. Pembayaran upah para sukarelawan.
  20. Pembayaran utang negara.
  21. Bantuan untuk musafir.
  22. Bantuan untuk orang yang belajar agama di Madinah.
  23. Hiburan untuk para delegasi keagamaan.
  24. Hiburan untuk para utusan suku dan negera serta perjalanan mereka.
  25. Hadiah untuk pemerintah negara lain.
  26. Pembayaran untuk pembebasan kaum muslim yang menjadi budak.
  27. Pembayaran denda atas mereka yang terbunuh secara tidak sengaja oleh para pasukan kaum muslimin.
  28. Pembayaran utang orang yang meninggal dalam keadaan miskin.
  29. Pembayaran tunjangan untuk orang miskin.
  30. Tunjangan  untuk sanak saudara Rasulullah.
  31. Pengeluaran rumah tangga Rasulullaah Saw. ( hanya sejumlah kecil, 80 butir kurma dan 80 butir gandum untuk setiap istrinya ).
  32. Persediaan darurat.

d).  Baitul  Mal

Baitul  mal  adalah  lembaga  khusus  yang  mengenai  harta  yang  di  terima  negara  dan  mengalokasikan  bagi  kaum  muslim  yang berhak  menerimanya.
Rosulullah  mulai  melirik  permasalahan  ekonomi  dan  keuangan  negara  setelah beliau  menyelesaikan  masalah  politik  dan  urusan  konstitusional  di madinah  pada  masa  awal hijriah.

Pertamakalinya berdirinyya  baitul  mal  sebagai sebuah  lembaga  adalah setelah  turunnya  firman ALLAH SWT  di  Badr  seusai  perang  dan saat itu sahabat berselisih  tentang  ghonimah:

”Mereka ( para  sahabat)  akan  bertaanya  kepadamu  (Muhammad)  tentang anfal,  katakanlah  bahwa anfal  itu  milik  ALLAH dan  rasul, maka bertagwalah kepada Allah  dan perbaikilah  hubungan  diantara  sesamamu dan  taatlah  kepada  ALLAH  dan RosulNya  jika  kalian  benar-benar  beriman”.  (QS. AL-ANFAL  :1)

Pada    masa  Rosulullah  Saw  Baitul mal  terletak  di masjid nabawi yang ketika itu digunakan sebagai pusat  negara  serta   tempat tinggal  Rosulullah. Binatang-binatang  yang merupakan  harta perbendaharaan  negara  tidak  disimpan di baitul mal  akan  tetapi  binatang- binatang tersebut  ditempatkan  di padang  terbuka. Pada  zaman  Nabi  baitul  mal  belum  merupakan  suatu  tempat  yang khusus,  hal ini  disebabkan  harta  yang  masuk  pada  saat  itu  belum  begitu  banyak  dan  selalu  habis  dibagikan  kepada  kaum  muslim,  serta  dibelanjankan  untuk  pemeliharaan  urusan  negara.  Baitul  mal  belum  memiliki  bagian- bagian tertentu dan ruang untuk penyimpanan arsip serta  ruang  bagi  penulis.

Adapun  penulis  yang  telah  diangkat  nabi  untuk  mencatat  harta antara  lain;

  1. Maiqip  Bin  Abi  Fatimah  Ad-Duasyi  sebagai  penulis  harta  ghonimah.
  2. Az-Zubair  Bin  Al- Awwam  sebagai  penulis  harta  zakat.
  3. Hudzaifah  Bin  Al- Yaman  sebagai  penulis  harga  pertanian   di daerah  Hijas.
  4. Abdullah   Bin  Rowwahah  sebagai  penulis  harga  hasil  pertanian  daerah  khaibar.
  5. AlMughoirah  su’bah  sebagai  penulis  hutang-  piutang  dan  iktivitaas  muamalah  yang  dilakukan  oleh   negara.
  6. Abdullah  Bin  Arqom  sebagai  penulis  urusan  masyarakat  kabila- kabilah termasuk kondisi pengairannya.

Namun  semua  pendapatan  dan  pengeluaran  negara  pada  masa  Rosulullah  tersebut belum ada  pencatatan  yang  maksimal.  Keaadaan  ini  karena  berbagai  alasan:

  1. Jumlah  orang  Islam  yang  bisa  membaca  dan  menulis  sedikit.
  2. Sebagian  besarr  bukti  pembayaran  dibuat  dalam  bentuk  yang  sederhana.
  3. Sebagian  besar  zakat  hanya  didistribusikan  secara  lokal.
  4. Bukti  penerimaan  dari  berbagai   daerah  yang  berbeda  tidak  umum  digunakan.
  5. Pada  banyak  kasus,  ghonimah  digunakan  dan didistribusikan setelah peperangan tertentu.

 

BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan

Pada pemerintahan Rasulullah saw beliau berusaha membangun masyarakat yang beradab, dan pada masanya  juga nelahirkan  kebijakan fiskal, dan memberlakukan larangan-larangan untuk menjaga seseorang dapat berbuat adil dan jujur dalam perdagangan maupun tingkah laku. Rasulullah saw adalah seseorang yang diberi wahyu dari Allah Swt untuk membenahi ahlaq umatnya  dan sebagai pemimpin yang teladan, Segala yang dilakukan Rasulullah saw dalam masa pemerintahannya dilakukan berdasarkan keikhlasan sebagai bagian dari kegiatan dakwahnya. Perekonomian pada masa Rasulullah saw belum bisa dikatakan maju karena msih banyak masyarakat yang perekoniminya lemah jadi Rasul harus bekerja dengan jenius untuk meningkatkan sumber daya yang lebih baik.

  1. Saran

Semoga makalah ini bermanfaat pada khusunya si penulis dan pada umumnya si pembaca

Incoming search terms:

  • Peradaban dan memikiran pad masa nabi
  • Peradaban dan pemikiran nabimuhammad
Category: MakalahTags:
author
No Response

Leave a reply "Makalah Tentang Pemikiran dan Peradaban Islam Masa Nabi Muhammad SAW"