Makalah Tentang Islam Di Spanyol dan Pengaruhnya Terhadap Renaisans di Eropa

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar belakang

Sekitar dua abad sebelum masehi hingga awal abad ke lima, Spanyol berada dibawah imperium Romawi. Sejak tahun 406 M Spanyol dikuasai oleh bangsa Vandal, yaitu bangsa yang bermigrasi dari negeri asal mereka yaitu suatu daerah yang terletak diantara Sungai Order dan Vistuala. Penguasa daerah ini mendirikan kerajaan di provinsi wilayah Chartage. Kekuasaan Vandal ini kemudian diambil alih oleh orang-orang Gothic, maka didirikanlah kerajaan Visigoth, yang wilayah itu dikenal dengan Vandalusia. Dan setelah kedatangan  orang orang Islam pada tahun 92 H/711 M, sebutan Vandalusia diubah menjadi Andalusia atau Andalus.

Kehadiran orang-orang Islam di Spanyol merupakan awal munculnya Islam dibenua eropa karena Spanyol merupakan pintu gerbang bagi benua tersebut. Sebagaimana diinformasikan dalam buku-buku sejarah, ekspansi Islam ke wilayah Barat (dalam hal ini Eropa bagian Barat) terjadi pada masa kekhalifahan Bani Umayyah dengan khalifah Al-Walid bin Ibnu Malik. Pada saat itu Musa bin Nushair, sebagai panglima perang khalifah dan Thariq bin Ziyad sebagai komandan lapangan, dimana keduanya dianggap sebagai tokoh pelaku utama atas masuknya Islam di Spanyol. Mereka berhasil menguasai wilayah Afrika Utara dan kemudian menyebrang ke Benua Eropa. Setelah masuknya Islam di Spanyol maka banyak lah kemajuan-kemajuan yang diperoleh dan hal ini dapat dilihat dari banyaknya tokoh-tokoh dan para ilmuwan yang muncul dari sana. Namun setelah berabad-abad lamanya Islam menguasai Spanyol, Islam mulai mengalami kemunduran dan kehancuran, bahkan kemudian Islam hilang dari bumi tersebut. Makalah ini akan membahas tentang peradaban Islam di Spanyol dan pengaruhnya terhadap Renaisance. Selanjutnya akan dijelaskan dalam bab pembahasan.

Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut :

  1. Bagaimana perkembangan islam di Spanyol maupun di Eropa?
  2. Bagaimana pengaruh islam dalam terhadap Renainsance?

Tujuan
Adapun tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui perkembangan islam di Spanyol maupun di Eropa
  2. Mengetahui pengaruh islam dalam terhadap Renainsance

 

BAB II
PEMBAHASAN

Ketika periode klasik islam mengalami kemajuan yang luar biasa di segala bidang. Islam menjadi rujukan bagi setiap negara didunia. Di belahan timur pusat perdaban islam adalah Baghdad, sementara di barat pusat peradaban islam adalah di Cordova (Andalusia).

Pasca berakhirnya periode klasik islam, ketika islam mulai memasuki masa kemunduran, Eropa bangkit dari keterpurukannya. Kebangkitan Eropa kala itu tidak hanya sebatas pada persoalan politik, akan tetapi kebangkitan itu meliputi segala bidang. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, peradaban barat berkembang dengan sangat cepat apalagi dengan semakin berkembangnya teknologi dan ditemukannya berbagai penemuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi barat.

Disisi lain umat islam semakin terpuruk dengan munculnya raja – raja kecil (mulukut Thawaif) dan persaingan antara barat dan timur. Persaiangan itu meluas sampai pada perebutan kekuasaan antara putra khalifah dan para pejabat di pemerintahan islam. Akibatnya semangat islam dalam da’wah dan ukhuwah islamiyah semakin memudar dengan semakin maraknya sifat syu’ubiyah dan persaingan antar sekte keagamaan dalam islam.

 

Kesadaran bangsa – bangsa Eropa tidak bisa dilepaskan dari peradaban islam di Andalusia (Spanyol). Pada masa klasik pemerintah islam memberikan kesempatan kepada seluruh sarjana – sarjana barat untuk belajar di universitas islam. Kebebasan beragama dilindungi oleh pemerintah islam. Dengan demikian para sarjana barat banyak mengambil keuntungan dengan terbukanya cakrawala pengetahuan mereka sehingga muncul kesadaran dalam diri mereka untuk keluar dari keterpurukan yang mendera selama ini.

Islam di Spanyol

Spanyol yang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan daulat bani Umayah di Damaskus, akhirnya dapat ditaklukanoleh Abdurrahman ad Dakhiln pada tahun750 M, berbarengan dengan hancurnya daulat bani Umayyah di Damaskus. Kemudian pemeerinyah Islam di Spanyol menjadi pemerintahan yang berdiri sendiri di masa khalifah Abdurrahman III dan merupakan salah satu negara terbesar di masa itu disamping daulat Abbasiyah di Timur, Byzantium, dan kerajaan Charlemangne (Frank) di Barat (Abd Al Hamid al-Ibadi, 1964: 100). Namun, pada masa pemerintahan berikutnya Spanyol mengalami kemunduran karena terjadi disintegrasi yang telah memporakporandakan kesatuan dan persatuan Andalusia yang membawa kepada kehancuran Islam di Spanyol. Ada faktor yang menyebabkan kemunduran Islam di Spanyol antara lain:

  1. Pergolakan Antarsuku dan Lemahnya Penguasa

Sesudah pemerintah Abdurrahman II, dinasti bani Umayyah di Spanyol lemah karena kekuasaan pemerintahan silih berganti. Andalus dalam masa 43 tahun setelah selesai masa penaklukannya (95H) dipegang oleh 21 gubernur sehinggga rata-rata masa pemerintahannya 2 tahun. Hal ini menunjukan bahwa keadaan Andalus masa itu masih dalam keguncangan dan keguncangan. Selama itu di Andalus terjadi peralihan dari pemerintahan bangsa gotia kepada bani Umayyah (Abd Al Hamid al ‘Ibadi’ 1964: 49). Namun, hal tersebut dapat diatasi Abdurrahman ad Dakil ketika ia berhasil memasuki Andalus, dan dengan peralihan siasatnya ia dapat mendirikan dinasti bani Umayyah serta mengatasi konflik dan menyatukan masyarakat Andalus dibawah kekuasaannya. Setiap pemberontakan dan kerusuhan yang terjadi selalu dapat diatasi oleh Abdurrahman ad Dakil, seperti serangan yang dipimpin oleh Yusuf Al Fihri yang terjadi 2 kali terhadap kota Cordofa, pemberontakan Hisyan bin Abdirabuh al Fihri di Toledo, dan ancaman-ancaman dari luar bani Abas dan Charlemegne terhadap Andalus. Semuanya itu dapat digagalakan dan diamankan oleh Al Dakil.

Pengaruh geografis Andalus yang terpisah oleh pegunungan dan sungai-sungai dengan masyarakatnya yang heterogen, tidak memungkinkan sistem pemerintahan sentralisasi yang dibangun oleh Abdurrahman II (206-273H /852-886M), Al Munzir (273-275H/886-888M) dan Abdullah (275-3000H/888-912M) tidak mampu membendung munculnya kerajaan-kerajaan kecil. Diantara kerajaan-kerajaan kecil tersebut adalah: kerajaan bani Hujjaj di Sevilla dari suku Arab Yamani, kerajaan Zi Al Nur di Stramdora dan bagian selatan Portugal dari suku Barbar dan orang-orang bagian Spanyol turunan menguasai wilayah Algarave. Bahkan penduduk dataran tinggi Elvira di Granada ; serta penduduk kota Murcia dan Kristen di Toledo melepaskan diri dari Emir Abdullah dan beberapa propoinsi lainnya dalam wilayah Andalus menyatakan kemerdekaannya dan tidak lagi mengirim hasil pendapatan daerahnya kepada pemerintah pusat di Cordova. Emir Abdullah sampai akhir masa kekuasaannya tidak mampu sama sekali menghadapi dan mengatasi krisis yang menimpa Andalus pada masanya hingga ia meninggal pada tahun 300 H / 912 M. Tetapi hal ini dapat diatasi oleh Emir Abdurahman III, dan keperkasaannya ia mampu mengkonsolidasikan kembali wilayah kekuasaan dinasti bani Umayyah yang sudah hampir musnah itu sehingga dalam masa dua puluh tahun dari awal pemerintahanya semua wilayah Andalus sudah dapat dikuasainya dan kembali menjadi wilayah kekuasaan bani Umayyah. Berkat bantuan pasukan yang kuat dari orang-orang Slavis, sehingga segenap penjuru perbatasan dapat diamankan, dan dengan stabilitas negara yang cukup baik Abdurahman III menyatakan dirinya sebagai Amir Al Mu’minin yang telah berhasil menyelamatkan Andalusia sebagai wilayah kekuasaan dinasti bani Umayyah dan menjadikan negeri itu sebagi pusat peradaban Eropa dan salah satu pusat peradaban terbesar di dunia diasmping Konstantinopel dan Bagdad, sehingga Cordova dijuluki sebagia mutiara dunia.

Hisyam bin hakam yang masih berusia 10 tahun merupakan orang yang paling berhak mewarisi kekhalifan ayahnya. Hal ini menyebabkan timbulnya perselisihan di kalangan pejabat tinggi negara dan orang-orang istana sehingga terpecah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok militer yang didominasi oleh orang Slavis dan dari kelompok sipil dengan tokohnya Al Hajib al Mashafi yang didukung para menterinya. Sementara pihak militer memandang bahwa Hisyam yaitu Al Mughirah bin Abdurahman Al Nashir. Sedangkan kelompok sipil mengahrapkan kekhalifahan dipegang oleh Hisyam, agar kendali pemerintahan tetap dipegang oleh para penguasa bersama khalifah Hisyam yang kecil tersebut. Dalam pertentaqngan kedua kelompok tersebut, Al Mughirah terbunuh. Menurut perkiraan yang kuat, pembunuhan itu didalangi oleh Muhammad bin Abdullah bin Amir Al Ma’arifi karena ia telah berhasil merebut jabatan Al Hajib dengan gelar Al Manshur disamping khalifah Hisyam II. Dengan demikian, pihak militer tidak berhasil mengangkat khalifah sesuai keinginannya. Al Hajib Manshur berkuasa ( 366-392 H / 976-1002 M ) pada masa kekhalifahan Hisyam II dan pada masa berikutnya yang menduduki jabatan khalifah adalah anaknya meskipun kekuasaanya seperti boneka Al Hajib.

  1. Serangan dari luar

Pada masa Murabitun berkuasa di Andalus sebelum akhirnya dipukul mundur oleh Muwahhidun, serangan kaum Nasrani dari Leon dapat mencapai Gibraltar. Namun, Murabitun tidak mampu lagi menghadapi serangan dari utara tersebut. Karena iru, penduduk Andalus berontak terhadap mereka dan mengusirnya dari Andalus. Kemudian andalus kembali dikuasai oleh Muluk Al Thawaif yaitu Malik bin Hamdain di Cordova; Ibnu Maimun di Faz; Al Lumtuni di Granada ; dan Ibnu Mardanis di Valencia. Sebagian penduduk di andalus dari Barbar, tetapi ketika Muwahhidun menguasai andalus Muluk  Al Thawaif tunduk kepadanya dan dalam jangka lima tahun seluruh Spanyol tunduk dibawah kekuasaan Muwahhidun, sedangkan kedudukan Murabittun tidak tetap bahkan pemerintahan harian diwakiulkan kepada orang lain atas namanya yang bermarkas di Marrakesh.

Pada tahun 609 H/ 1212 M kaum nasrani mengadakan serangan besar-besaran ke Spanyol dengan mengatasnamakan perang suci di Eropa. Mereka dapat menghimpun bantuan sukarelawan persukutuan yang terdiri dari orang-orang Perancis, Jerman, Inggris dan Italia. Serangan tersebut dihadapi oleh Khalifah Al Mansur Billah bersama 600.000 tentara di Las Navas de Toloso sekitar 70 mil di sebelah timur Cordova. Saat itu pasukan Nasrani dipimpin oleh Alfonso VIII, Raja Castile. Dalam peperngan tersebut tentara Muwahhidun di Spanyol (633 H / 1235 M). Maka, satu persatu kekuasaan Islam di Spanyol jatuh ke tangan Nasrani sehingga selama tahun 1238- 1260 M mereka dapat menguasai Valencia, Cordova, Murcia dan Seville. Sementara yang masih dikuasai Islam hanya Granada di bwah kekuasaan bani Al Ahmar yang mampu mempertahankannya selama dua setengah abad ( 630- 897 H / 1233-1492 M ) karena penguasa Granada hanya terdiri satu etnis yaitu etnis Arab di Spanyol yang melarikan diri dari berkumpul di bawah kekuasaan bani Ahmar.

  1. Loyalitas Militer

Militer Islam di Spanyol semula terdiri dari orang-orang Arab, sedangkan orang asing hanya sedikit. Setiap kelompok tentara dari suku Arab merupakan tentara cadangan yang dapat ditugaskan pada saat dibutuhkan pemerintah pusat. Masing-masing kesatuan tentara diperbolehkan menggunakan dana dari daerah penempatannya masing-masing sedangkan sisa dana keperluan militer diserahkan ke kas negara.

Kekuatan militer Islam yang dimasuki suku selain Arab terutama keturunan orang-orang Slavis yang datang dari Eropa timur, ditetapkan khusus sebagai tentara pengawal istana Emir atau khalifah. Pada masa Al-Nasir jumlah mereka mencapai ribuan dan ketiks masa Al Mansur bin Abi Amir terjadi perubahan dalam pembentukan militer. Bidang kemiliteran sudah di gabung yaitu terdiri dari suku Arab dan Slav juga dari orang-orang yang berasal dari Barbar Afrika Utara yang jumlahnya mayoritas dibanding suku lain. Hal ini karena suku Arab di Eropa diistimewakan dalam masyarakat Spanyol sehingga banyak yang tidak tertarik lagi pada bidang militer. Kemudian Al Mansur tidak membedakan ketiga suku dalam pengelompokkan militer, semuanya dibiayai oleh negara. Tetapi, ketika wibawa pemerintah melemah militer Islam dipengaruhi oleh etnis kesukuan, sehingga loyalitasnya terpengaruh terhadap kesukuan atau kepada siapa yang membayar lebih besar.

  1. Penyebab Kemunduran dan Kehancuran Islam

Penyebab kemunduran dan kehancuran kekuasaan Islam di Spanyol adalah masih adanya beberapa daerah yang belum dapat diduduki sepenuhnya ketika ekspansi Islam ke Spanyol seperti daerah Galicia; Austria bahkan mengadakan hubungan damai dengan mengakui kekuasaan daulah bani Umayyah. Tetapi, akhirnya daerah tersebut kemudian dijadikan benteng pertahanan, pelatihan, dan sekolah siasat yang dipersiapkan untuk perlawanan dikemudian hari, dan dari benteng tersebut dikomando upaya untuk memecah belah persatuan dan kesatuan umat Islam, bahkan serangan-serangan pada saat ada kesempatan. Austria kemudian berkembang menjadi kerajaan Castile dan Aragon menjadi daerah basis Kristen untuk menyerang Spanyol Islam dalam rangka mengembalikan wilayah kekuasaannya. Unifikasi kedua kerajaan tersebut secara permanen terbentuk pada tahun 1469 M ketika terjadi perkawinan antara Ferdinan, raja Aragon dengan Isabella raja dari Castile. Adapun penyebab kemunduran dan kehancuran Islam di Spanyol, antara lain :

  • Konflik Sesama Penguasa Islam dan dengan Kaum Nasrani

Para penguasa Islam cukup puas dengan menerima upeti dan tidak melakukan Islamisasi secara sempurna, bahkan membiarkan mereka mempertahankan hokum dan adat kebiasaan kaum Nasrani. Sementara kehadiran bangsa Arab menimbulkan rasa iri dan membangkitkan rasa kebangsaan bangsa Spanyol yang Kristen. Disamping itu, sebagaimana dikemukakan di muka, loyalitas militer Islam sebagai tentara bayaran sangat diragukan karena kedisiplinan mereka mengikuti perintah atasan disesuaikan dengan siapa yang membayar lebih tinggi sehingga perpecahan sesame umat Islam baik sebagai anggota masyarakat maupun sebagai penguasa tida dapat dihindarkan.

  • Tidak Ada Ideologi Pemersatu dan Sulitnya Perekonomian

Islamnya penduduk pribumi Spanyol tidak menjadikan dirinya sederajat dengan bangsa Arab, tetapi tetap diperlakukan sebagai ibad dan muwalladun sehingga dianggap merendahkan. Oleh karena itu beragama Islam tidak menjadi daya tarik bagi bangsa Spanyol sebagai dasar pemersatu ideology. Bahkan etnis non Arab sering menjadi perusak dan menggerogoti perdamaian sehingga mempengaruhi terhadap kondisi perekonomian negara. Sementara pembangunan bidang fisik untuk keindahan kota dan peningkatan ilmu pengetahuan yang terlalu serius melalaikan pembangunan bidang perekonomian yang menjadi pendukung persatuan dan kesatuan.

  • Sistem Peralihan Kekuasaan yang Tidak Jelas

Peralihan kekuasaan yang tidak jelas mengakibatkan sering terjadi perebutan kekuasaan sesame ahli waris, sehingga melemahkan dan hilangnya wibawa pemerintah, bahkan mengakibatkan runtuhnya kekuasaan bani Umayyah dan Muluk Al Tawif muncul, tetapi tetap pula terjadi perebutan kekuasaan diantara mereka.

  • Keterpencilan

Pemerintah Islam di Spanyol yang jauh dari daerah Islam lain mengakibatkan jauhnya dukungan dari daerah lain kecuali dari Afrika Utara yang dibatasi oleh laut, sementara daerah sekitar adalah daerah yang dikuasai kaum Nasrani yang selalu iri dan merasa direndahkan oleh etnis Arab.

  • Saat-Saat Menjelang Kehancuran Islam di Spanyol

Pada masa kekuasaan bani Ahmar, Maulana bin Ali Abi al HAsan yang berkuasa di Granada merasa cemas dengan unifikasi dua kerajaan Castile dan Aragon. Akibatnya, terjadi perang dingin dengan kaum Nasrani. Dengan menghentikan pembayaran upeti terhadap Ferdinand disampaikan ucapan yang menyakitkan seperti :”Sesungguhnya para sultan Granada terdahulu yang membayar upeti itu sudah mati dan lebaga pencetak uang di Granada tidak lagi mencetak uang, tetapi hanya memproduksi senjata,” bahkan setelah ucapan itu dilakukan disusul dengan serangan sporadis ke benteng Al Sakhra yang sudah dikuasai oleh kaum Nasrani. Serangan tersebut merupakan pukulan dari mereka dan salah satu dari panglimanya dapat menguasai benteng Al Hammah yang sudah mendekati kota Granada yang akhirnya menjadi basis penyerangan selanjutnya. Maulana Ali Abi Hasan sendiri meninggal karena diracun oleh anaknya sendiri, Abdullah dan kekuasaan Granada dipegang oleh saudaranya Abu Abdullah Al Zaghlul. Abdullah berusaha merintangi upaya pamannya yang berupaya mempertahankan Granada. Ketika itu kaum Nasrani semakin mendekati dan mengepung ke wilayah Granada sehingga satu per satu benteng-benteng Granada jatuh ke tangan Nasrani seperti benteng Rundah dan benteng Malaga di bagian barat Granada. Perlawanan pasukan Al Zaghlul terhadap pasukan Ferdinand cukup kuat sehingga kemenangan dan kekalahan silih berganti bagi masing-masing pihak. Namun, ketika pasukan Ferdinand datang dengan kekuatan yang sangat besar maka Zaghlul terpaksa menyerahkan diri di bentengnya yang terakhir di Almeris. Pertahanan dan kekuasaan selanjutnya dilanjutkan oleh putera saudaranya yaitu Abdullah bin Abu Hasan yang mendapat peringatan keras dari Ferdinand agar segera menyerah dengan berbagai persyaratan yang telah dipersiapkannya, tetapi Abdullah meminta tuntutan itu ditangguhkan. Ferdinand menolak dan segera menyerang agar segera dapat menguasai Granada dari arah timur.

Abdullah maju ke medan tempur bersama panglima perangnya yang gagah berani. Ia menegaskan sikapnya yang panting mundur kepada utusanya yang dikirim  menghadap Ferdinand. Jika Ferdinand ingin mengambil senjata dari kaum muslimin, silahkan datang sendiri untuk merebutnya dari tangan mereka. Pada tahun 895 H / 1490 M, Ferdinand mengirim pasukannya untuk menghancurkan pasukan Islam, tetapi Abdullah bersama pasukannya langsung terjun ke medan pertempuran dengan gagah berani. Penduduk Granada pun datang membantu pasukan Islam sehingga kemenangan berada di pihak kaum muslimin dan beberapa benteng dapat direbut kembali. Pada tahun 896 H / 1491 M Ferdinand bersama Isabella melibatkan diri bersama 50.000 personil dengan mendengungkan perang suci. Ketika mendekati pintu gerbang Granada, panglima Musa menegaskan kepada pengawal pintu bahwa kita akan menutup pintu dengan jasad kita bertempur untuk mempertahankan tanah yang kita injak masing-masing. Karena jika tanah ini kita lepas akan kehilangan segalanya. Seruan ini membangkitkan semangat tempur pasukanya, sehingga Ferdinand mendapat kesulitan dalam mengalahkan pasukan muslimin . tetapi, ia mengepung dan memblokade pasukan islam agar kelaparan. Apalagi di musim dingin yang penuh salju telah tiba (bulan Desember 1491M) sehingga keadaan kaum muslimin menjadi kritis. Abdullah menyerah atas desakan penduduk Granada yang kelaparan dan kedinginan. Sedangkan panglima Musa menolak untuk menyerah dan terus bertempur melawan pasukan Ferdinand dan akhirnya mati terbunuh. Abdullah bersama keluargany pindah ke Maroko dan tinggal di kota Faz. Granada pada tanggal 2 Januari 1492M dapat dikuasai kaum Nasrani dengan masuknya pasukan Castile. Dengan demikian, “Salib telah menyingkirkan bulan sabit” (Philip k.hitty, 1974: 554-555).

A. Masuknya Islam ke Spanyol

Islam masuk ke Spanyol pada masa dinasti Umayah di Damaskus berkuasa tepatnya pada masa pemerintahan Khalifahh Al Walid. Sebelum menguasai Spanyol, umat islam sudah terlebih dahulu menguasai Afrika Utara dan menjadikannya salah satu propinsi dari dinasti Umayah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685 – 705 M).

Masuknya islam ke Spanyol tidak bisa dilepaskan dari tiga orang tokoh penting. Mereka adalah Tharif ibnu Malik, Thariq ibnu Ziyad, dan Musa ibnu Nushair. Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada diantara Maroko dan Eropa itu dengan satu pasukan perang, lima ratus orang diantara adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibnu Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang dibawah pimpinan Thariq ibnu Ziyad.

Thariq ibnu Ziyad lebih dikenal sebagai penakluk Spanyol, karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukan dibawah pimpinan Thariq ini berhasil menyeberangi selat dan mendarat di sebuah gunung yang kemudian lebih dikenal dengan nama Giblaltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Setelah itu Thariq dan pasukannya terus melanjutkan  penaklukan ke kota – kota penting, seperti Cordova, Granada, dan Toledo (ibu kota kerajaan Goth saat itu). Sebeum Thariq menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibnu Nushair di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5000 personel, sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Ghotic yang jauh lebih besar, 100.000 orang.

Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibnu Ziyad membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa ibnu Nushair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, satu persatu kota yang dilewatinya berhasil ditaklukkan. Setelah Musa berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Thiodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhaasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre.

Dengan demikian Andalusia tunduk dalam kekuasaan Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada perkembangan berikutnya Andalusia berkembang menjadi pusat peradaban islam di barat.

B. Perkembangan Islam di Spanyol

Semenjak pertama kali menginjakkan kaki di Andalusia (Spanyol), islam memiliki peranan yang sangat besar. Pada awalnya bangsa Spanyol berada dalam tekanan kerajaan. Para penganut yahudi dipaksa untuk dibabtis sebagaimana cara umat kristen. Hal ini menimbulkan gejolak dalam tubuh bangsa Spanyol kala itu. Islam datang dengan membawa angin segar dan menyelamatkan bangsa ini dari tekanan dan keterpurukan.

Islam di Spanyol berlangsung dalam kurun waktu yang lama kurang lebih tujuh setengah abad lamanya. Sejarah panjang yang dilalui umat islam di Spanyol ini bisa kita bagi menjadi enam periode, yaitu:

  1. Periode Pertama (711 – 755 M)

Pada periode ini, Spanyol berada dibawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan – gangguan masih terjadi , baik datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain perselisihan antara para elit penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Gangguan dari luar datang dari sisa – sisa musuh islam di Spanyol yang bertempat tinggal didaerah – daerah tempat pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan islam.

  1. Periode Kedua

Pada periode ini, Spanyol berada dibawah pemerintahan yang bergelar Amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam yang ketika itu dipegang oleh khalifah Abbasiyah di Bghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I, yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M dan diberi gelar Al Dakhil (Yang masuk ke Spanyol). Dia adalah keturunan Umayah yang berhasil meloloskan diri dari kejaran Bani Abbasiyah.

Pada periode ini, umat islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan – kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Abdurrahman Al Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah – sekolah di kota – kota besar Spanyol. Sedangkan Abdurrahman al Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu.

Sekalipun demikian bukan berarti pada periode ini tidak ada ancaman sama sekali. Ancaman datang dari para pengikut kristen fanatik yang mencari kesyahidan (Martyrdom). Namun, Gereja Kristen lainnya di seluruh Spanyol tidak menaruh simpatik terhadp gerakan ini.

  1. Periode Ketiga

Periode ini berlangsung mulai pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar “Al Nashir” sampai munculnya “raja – raja kelompok” yang diikenal dengan nama “Muluk al Thawaif”. Pada periode ini, Spanyol dipimpin oleh seorang yang bergelar khalifah, penggunaan gelar khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III bahwa Al Muktadir, khalifah Bani Abbas di Baghdad saat itu meninggal dunia karena dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Menurut penilaiannya, keadaan ini menunjukkan bahwa keadaaan pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut dan pada saat inilah saat yang tepat untuk memakai gelar khalifah.

Periode ini merupkan periode keemasan bagi umat Islam Spanyol menyaingi kejayaan Abbasiyah di Baghdad. Abdurrahman Al Nashir mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini, maasyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran.

  1. Periode Keempat

Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil dibawah pemerintahan raja – raja golongan atau Al Mulukuth Thawaif, yang berpusat disuatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo dan sebagainya. Pada periode ini, Spanyol kembali mengalami masa pertikaian intern. Ironisnya, ketika terjadi pertikaian ada diantara raja – raja yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja – raja kristen. Hal inilah yang kemudian menyebabkan kondusi yang semakin tidak kondusif. Orang kristen menyadari bahwa islam semakin melemah karena terpecah – pecah sehingga mereka mengambil inisiatif untuk menyerang umat islam.

  1. Periode Kelima

Meskipun masih mengalami perpecahan pada pemerintahan umat islam, akan tetapi pada masa ini ada satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan dinasti Murabitun (1086 – 1143 M) dan dinasti Muwahhidun (1146 – 1235 M).

  1. Periode Keenam

Pada periode ini, Islam hanya berkuasa didaerah Granada, dibawah pemerintahan diasti Bani Ahmar (1232 – 1492 M). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti pada masa An Nashir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya hanya berkuasa didaerah yang kecil. Kekuasaan islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir, karena perselisihan orang – orang istana yang memperebutkan kekuasaan.

C. Kemajuan Peradaban

Islam mampu bertahan di Spanyol dalam kurun waktu lebih dari tujuh abad. Pada masa pemerintahan umat islam, Spanyol mengalami kemajuan yang pesat dalam berbagai bidang. Banyak prestasi yang ditorehkan umat islam di Spanyol. Peradaban Spanyol mengalami perkembangan yang signifikan dibandingkan ketika Spanyol di kuasai kerajaan Visighotic.

Kemajuan intelektual
Masyarakat Spanyol merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitaas – komunitas Arab (Utara dan Selatan), al Muwalladun (orang – orang Spanyol yang masuk islam), Barbar (umat islam yang berasal dari Afrika Utara), al Shaqalibah ( penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islamuntuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas ini, kecuali yang terakhir memberikan saham yang besar dalam perkembangan intelektual terhadap terbentuknya budaya Andalus yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra, dan pembanguan fisik Spanyol.

  • Filsafat

Dalam perkembangan fisafat, banyak sarjana filsafat yang lahir dari pemerintahan islam Spamyol. Atas inisiatif Hakam (961 – 976 M), karya – karya ilmiah dan filosof diimpor dari timur dalam jumlah yang besar, sehingga, Cordova dengan perpustakaan dan universitasnya mampu menyaingi Baghdad di timur.

Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibnu Al Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibnu Bajjah. Dilahirkan di Saragosa, ia pindah ke Seville dan Granada. Meninggal karena keracunan di Fez pada tahun 1138 M dalam usia yang maasih muda. Seperti Al Farabi dan Ibnu Sina di timur, masalah yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis.Magnum opusnya adalah Tadbir al Mutawahhid.

Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr ibnu Thufail, penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil disebelah timur Granada dan wafat diusia lanjut tahun 1185 M. Ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi, dan filsafat. Karya filsafatnya yang sanagt terkenal adalah Hay ibnu Yaqzhan.

Akhir abad ke 12 merupakan masa kemunculan seorang pengikut Aristoteles yang terbesar dalam gelanggang fisafat islam, yaitu Ibnu Rusyd dari Cordova. Ia lahir pada tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah – naskah Aristoteles dan kehati hatian dalam menggeluti masalah – masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama. Dia juga ahli fiqh dengan karyanya Bidayah al Mujtahid.

  • Sains

Ilmu – ilmu kedokteran, astronomi, matematika, musik, kimia dan lain – lain berkembang dengan baik. Abbas ibnu Farnas termsyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ialah orang pertam yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibnu Yahya Al Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapatmenentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong binatang modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang – bintang. Ahmad ibnu Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat – obatan.

  • Fiqih

Muslim Spanyol dikenal sebagai pengaut madzhab Maliki. Orang yang memperkenalkan madzhab ini di Spanyol adalah Ziyad ibnu Abd Al Rahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibnu Yahya yang menjadi qadli pada masa Hisyam ibnu Abd Rahman. Ahli fiqih lainnya adalah Abu Bkr ibnu Al Quthiyah, Munzir ibnu Sa’id Al Baluthi, dan Ibnu Hazm.

  • Musik dan Kesenian

Dalam bidang musik dan seni suara, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan tokohnya Al Hasan ibnu Nafi’ yang dijuluki Zaryab.

  • Bahasa dan Sastra

Dalam bidang bahasa dan sastra, islam Spanyol melahirkan banyak ahli bahasa dan sastra. Diantara mereka adalah Ibnu Sayyidih, Ibnu Malik pengarang kitab Alfiyah, Ibnu Khuruf, Ibnu Al Hajj, Abu Ali Al Isybili, Abu Al Hasan Ibnu Usfur, dan Abu Hayyan Al Gharnati.

Karya sastra juga banyak bermunculan, diantaranya adalah Al ‘Iqd al Farid karya Ibnu Abd Rabbih, al Dzakirah Fi Mahasin Ahli al Jazirah oleh Ibnu Bassam, Kitab al Qalaid buah karya Al Fath ibnu Khaqan, dan banyak yang lain.

Kemegahan pembangunan fisik
Pembangunan fisik tidak lepas dari perhatian pemerintah islam. Pada masa pemerintahan islam banyak dibangun kanal – kanal yang pada awalnya belum dikenal oleh Spanyol, sehingga pertanian berkembang. Selain itu orang Arab juga memperkenalkan pengaturan hidrolik dengan tujuan irigasi.

Pembangunan fisik yang paling menonjol adalah pembangunan gedung – gedung, seperti pembangunan kota, istana, mesjid, pemukiman, dan taman – taman. Diantara bangunan yang megah adalah masjid Cordova, kota Al Zahra, Istana Ja’fariyah di Saragosa, tembok Toledo, istan Al Makmun, masjid Seville dan istana Al Hamra di Granada.

D. Pengaruh Peradaban Spanyol Islam Di Eropa

Kemajuan peradaban islam di Eropa tidak dapat dilepaskan dari peradaban islam di Spanyol. Eropa banyak belajar dari peradaban Spanyol disamping faktor lain seperti perang salib.

Kemunculan Ibnu Rusyd (1120 – 1198 M) telah membawa pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Eropa. Ibnu Rusyd telah melepaskan masyarakat Eropa terhadap belenggu pemikiran dan taklid. Ia mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara yang sangat memikat minat semua orang yang berpikiran bebas. Ia mengedepankan sunnatullah menurut pengertian islam terhadap pantheisme dan anthropomorphisme Kristen. Demikian besar pengaruhnya hingga di Eropa terjadi gelombangAveroisme (Ibnu Rusyd – isme) yang menuntut kebebasan berpikir.

Otoritas gereja yang mengekang pemikiran mendapat penentangan dari gelombang Averoisme ini. Puncak dari gerakan ini adalah munculnya gerakan reformasi pada abad ke – 16 M dan rasionalisme pada abad ke 17 M. Karya Ibnu Rusyd banyak dicetak dan diterbitkan. Terbukalah wawasan bangsa Eropa hingga mereka mengalami kemajuan yang sangat luar biasa dalam semua lini kehidupan.

Pegaruh ilmu pengetahuan islam atas Eropa ini melahirkan gerakan kebangkitan kembali(renaissance) pusaka Yunani di Eropapada abad ke – 14 M yang bermula di Italia, gerakan reformasi pada abad 16 M, rasionalisme pada abad ke 17 M, dan pencerahan (aufklarung) pada abad ke 18 M. Wallahu A’lam bish Shawab 07.36

 

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Dari sejumlah uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa :
Masuknya islam di Spanyol berbeda dengan masuknya islam di daerah lain. Datangnya islam ke Spanyol ternyata memberikan kontribusi yang tak ternilai, baik kepada dunia Islam, terlebih lebih kepada dunia Barat, dalam hal ilmu pengetahuan dan peradaban. Kontribusi tersebut bias terlaksana karena sikap ilmiah-kontruksif yang secara umum menyertai para ilmuwan dalam melakukan kajian-kajian ilmiahnya. Sikap toleransi yang cukup propesional dalam komposisi masyarakat yang tingkat heterogenitasnya yang cukup luar biasa dalam membangun sebuah nilai peradaban yang pruralistrik.

Pengaruh terhadap renaisans Islam mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap Eropa dan sekitarnya. Dimana lahirnya para ilmuan islam di Eropa seperti Ibnu Rusd. Adanya pembangunan tempat pendidikan seperti Universitas Cordova

DAFTAR PUSTAKA

Harun, M. Yahya. 1987. Perang Salib dan Pengaruh Islam di Eropa. Bina Usaha :   Yogyakarta .

Yatim, Badri. 2000. Sejarah Perdaban Islam. Raja Grafindo Persada : Jakarta

Karim, M. Abdul. 2012. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Bagaskara : Yogyakarta

SZ, Aden Wijdan.dkk. 2007. Pemikiran dan Peradaban Islam. Safiria Insania Press dan PSI UII 

Category: MakalahTags:
author
No Response

Leave a reply "Makalah Tentang Islam Di Spanyol dan Pengaruhnya Terhadap Renaisans di Eropa"