Makalah Tentang Hubungan Agama dengan Kebudayaan

0 13

BAB I
PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Mengenai agama dan budaya, secara umum dapat dikatakan bahwa agama bersumber dari Allah, sedangkan budaya bersumber dari manusia. Agama adalah “karya” Allah, sedangkan budaya adalah karya manusia. Dengan demikian, agama bukan bagian dari budaya dan budaya pun bukan bagian dari agama. Ini tidak berarti bahwa keduannya terpisah sama sekali, melainkan saling berhubungan erat satu sama lain. Melalui agama, yang dibawa oleh para nabi dan rasul, Allah Sang Pencipta menyampaikan ajaran-ajaran-Nya mengenai hakekat Allah, manusia, alam semesta dan hakekat kehidupan yang harus dijalani oleh manusia. Ajaran-ajaran Allah, yang disebut agama itu, mewarnai corak budaya yang dihasilkan oleh manusia-manusia yang memeluknya.

Agama kebudayaan adalah kepercayaan tentang Tuhan yang berasal dari kebudayaan. Timbulnya kepercayaan ini, karena manusia dihadapkan kepada misteri tentang kehidupannya di muka bumi ini. Manusia merasakan ada sesuatu yang mengatur dunia ini. Contoh seperti ini adalah aliran kepercayaan dengan berbagai istilah dan aliran seperti dinamisme, animisme.

Sedangkan kebudayaan agama justru sebaliknya. Kebudayaan agama bersumber dari agama yang kemudian melahirkan kebudayaan-kebudayaan, baik dalam tataran ide maupun material dan perilaku. Dalam konsep ini, manusia tidak perlu lagi mencari Tuhan, manusia harus menerima adanya Tuhan. Contoh kebudayaan agama ini adalah munculnya rumah-rumah ibadah, cara hidup bagi yang beragama Islam disebut islami, bagi yang beragama Kristen disebut kristiani dan seterusnya.

  • Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian agama?
  2. Apa pengertian kebudayaan?
  3. Bagaimana hubungan agama dan kebudayaan?
  4. Bagaimana penerapan agama dan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari?
  • Tujuan
  1. Mengetahui pengertian agama
  2. Mengetahui pengertian kebudayaan
  3. Mengetahui hubungan agama dan kebudayaan
  4. Mengetahui penerapan hubungan agama dan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari
  • Manfaat Penulisan

Dengan penulisan makalah ini kita dapat mengetahui pengertian agama dan kebudayaan, mengetahui bagaimana hubungan agama dan kebudayaan dalam masyarakat serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

BAB II
PEMBAHASAN

  • Pengertian Agama

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti "tradisi]. Kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan bereligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

Menurut filolog Max Müller, akar kata bahasa Inggris "religion", yang dalam bahasa Latin religio, awalnya digunakan untuk yang berarti hanya "takut akan Tuhan atau dewa-dewa, merenungkan hati-hati tentang hal-hal ilahi, kesalehan" ( kemudian selanjutnya Cicero menurunkan menjadi berarti " ketekunan " ). Max Müller menandai banyak budaya lain di seluruh dunia, termasuk Mesir, Persia, dan India, sebagai bagian yang memiliki struktur kekuasaan yang sama pada saat ini dalam sejarah. Apa yang disebut agama kuno hari ini, mereka akan hanya disebut sebagai "hukum".

Agama ini muncul dari perasaan ketakjuban manusia terhadap realitas alam yang ada. Seperti air yang bisa melepaskan dahaga seseorang, namun terkadang bisa membawa malapetaka seperti banjir, angin yang memberikan kesejukan, namun terkadang mendatangkan kerusakan seperti angin topan atau tornado,  kemudian mereka percaya bahwa ada suatu kekuatan tertentu. Mereka mencoba untuk mencari keselamatan dari ketidakseimbangan yang mereka rasakan, yang dapat mendatangkan keselamatan bagi mereka. Jadi, secara umum, agama adalah upaya manusia untuk mengenal dan menyembah Ilahi yang dipercayai dapat memberi keselamatan serta kesejahteraan hidup dan kehidupan kepada manusia. Upaya tersebut dilakukan dengan berbagai ritual secara pribadi dan bersama yang ditujukan kepada kekuatan besar yang mereka percayai sebagai Tuhan.

Pada umumnya agama diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu agama wahyu (revealed religion) dan agama non wahyu (nonrevealed religion).

  1. Agama Wahyu

Adalah agama yang diturunkan Allah dari langit melalui malaikat Jibril kepada para nabi dan rasul Allah untuk disampaikan kepada umatnya. Oleh karena itu, agama wahyu disebut juga dengan agama langit, agama samawi, agama profetis, din-as samawi, revealed religion. Yang termasuk dalam kelompok agama wahyu adalah sebagai berikut : Pertama, Agama Islam dengan kitab sucinya Alquran yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril, untuk seluruh manusia dan alam semesta. Kedua, Agama Kristen (nasrani) dengan kitab sucinya “Injil” diturunkan Allah kepada Isa AS, melalui malaikat Jibril kepada Kaum Bani Israil.  Ketiga, Agama Yahudi, dengan kitab sucinya “Taurat” diturunkan kepada nabi Musa AS, melalui malaikat Jibril untuk kaum Bani Israil.

  1. Agama Non Wahyu

Adalah agama yang lahir berdasarkan pemikiran atau kebudayaan manusia. Pada awalnya menurut historis, agama non wahyu diciptakan oleh filosuf-filosuf masyarakat sebagai ahli pikir, atau oleh pemimpin-pemimpin dari masyarakat atau oleh penganjur dan penyiar masyarakat itu. Agama non wahyu mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan pemikiran atau budaya masyarakat itu (animism, dinamisme, politeisme, monoteisme). Oleh karena itu agama non wahyu dinamakan juga agama budaya, agama bumi, agama filsafat, natural religion, nonrevealed religion. Yang termasuk agama non wahyu yaitu Zoroasterianisme, Konfusionisme, Thaoisme, Shintoisme, Budhisme.

Terdapat bermacam-macam agama yang dipercayai diantaranya yaitu:

  1. Islam

Dari segi Bahasa (lughat), agama berasal dari Arab, yaitu ad-din. Sedangkan islam dalam bahasa Arab-nya berarti aslama-yuslimu-islaman yang bisa diartikan dengan keselamatan dan kesejahteraan. Bisa pula islam berarti sulammun, yatitu tangga, jenjang ke atas. Islam bisa pula di artikan dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Dari segi Istilah (terminologi), Agama islam adalah seluruh ajaran dan hukum – hukumnya yang terdapat di dalam Al-quran yang diturnkan oleh Allah SWT, yang di wahyukan kepada Rosul-nya, yaitu Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan dan di dakhwakan kepada segenap umat manusia sehingga manusia yang ada di muka bumi ini akan memperoleh banyak kebahagiaan hakiki dan bermakna sangat baik ketika hidup di dunia maupun hidup di akhirat.

  1. Kristen

Agama Kristen adalah pengalaman terpimpin dalam tugas hidup secara kristiani, yang di dalamnya pelajar yang semakin bertumbuh, di tolong menafsirkan dan mempertimbangkan suatu keadaan hidup nyata yang diperhadapkan kepadanya oleh setiap bagian kehidupan sehari – hari. Ia melaksanakan tugas tersebut dengan memanfaatkan suatu sumber pengalaman keagamaan yang di peroleh umat manusia sepanjang abad, agar menghasilkan gaya hidup yang bersifat kristen. Dari tolok ukur ini, materi belajar terdiri atas tiga unsur:

  1. Pengalaman kekinian dari pelajar sendiri sebagai dasar
  2. Pengalamannya pada masa lampau
  3. Segala pengalaman keagamaan yang umat manusia rekam dalam kitab – kitab suci-nya di sepanjang abad, khususnya yang terdapat dalam Al-kitab.
  4. Hindu

Dalam keyakinan Agama Hindu, istilah alam semesta atau alam raya lebih dikenal dengan istilah Bhuwana Agung yang di dalamnya terdapat berjuta – juta binatang, planet – planet, matahari, bulan dan lain lain-nya. Salah satu planet yang paling dekat dan paling penting untuk di ketahui adalah planet bumi, karena di planet bumi ini tempat manusia, binatang dan tumbuh – tumbuhan yang hidup, tumbuh dan berkembang biak.

Agama Hindu menurut para ahli, yaitu para maharsi yang menceritakan dalam Weda, bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan yang bergelar Brahman. Brahman ini lah yang dipandang oleh umat Hindu sebagai Tat Yang Agung dan Yang Maha Mulia. Dari Yang Agung ini lah kemudia mulai muncul alam semesta ini dan Beliau ulalah sebagai pelindung dan atas kehendak Beliau alam ini dan alam ini akan mengalami kehancuran atau Pralaya. Adapun tujuan Brahman atau Tuhan menciptakan alam semesta ini adalah sebagai tempat hidup makhluk hidup terutama manusia, sehingga dapat menikmati kehidupan dalam hidupnya.

  1. Budha

Agama Budha Mahayana adalah bentuk sistematis dari teori Agama Budha asli. Terbentuk agama ini kira – kira pada tahun 1 sebelum Masehi. “Maha” berarti besar dan “Yana” berarti kereta kuda. “Mahayana” memiliki kata lain, yaitu kereta yang digunakan untuk mencapai dunia pencerahan dari dunia ini. Arti “Maha” di cirikan dengan ajaran – ajaran oleh “Bodissatta” (bosatu). Semuala adalah “Bodhisattfa”, yang artinya jenis pemahaman yang datang bersama pencerahan Buddha, atau mencari suatu pencerahan bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk menyelamatkan semua makhluk yang hidup

Selanjutnya, pengertian yang lain ditambahkan kepada konsep “ Bodhisattfa” bahwa pencapaian suatu keBuddha-an di asosiasikan dengan penyelamatan semua makhluk hidup. Konsep “Tathagatagarbha” ini berdasarkan keyakinan bahwa semua yang hidup bisa menjadi buddha.

Kata sansekerta yang asli untuk “Garbha” dalam “Tathagatagarbha”, pada dasarnya memiliki dua arti: yang pertama yang artinya rahim, yang kedua artinya janin. Jadi dapat di terjemahkan menjadi “Rahim yang memeluk Janin Buddha” atau “Janin Buddha yang memeluk Rahim. Tafsiran ini menyingkapkan arti sejati agama Buddha, khususnya dengan di gunakannya kata – kata yang menggambarkan segala fungsi jasmania perempuan untuk ungkapan tersebut.

  1. Konghucu

Kitab suci Agama Konghucu adalah kitab yang berisikan ajaran moral yang dapat dijadikan pandangan hidup bagi para pengikut – pengikutnya. Disamping ini berisikan ajaran moral, kitab suci suatu agama juga disucikan oleh para pengikut - pengikutnya, dihormati dan dijaga ontentisitasnya atau keaslian isinya. .... begitu juga dengan Agama Konghucu, agama ini juga memiliki Kitab suci. Kitab – kitab yang dianggap suci dan dijadikan pedoman bagi kehidupan beragama umat konghucu adalah Su Si dan Wu Cing

Sembahyang mengucapkan syukur setiap pagi, sore, saat ,menerima Rezeki (Makanan). Umat konghucu pada pagi hari, sore, dan saat menerima Rezeki melakukan sembahyang kepada Thian. Kemudian kebaktian kepada Nabi Konghucu, kebaktiaan untuk para suci, sembahyang bagi leluhur dan kebaktian kemasyarakatan.

  1. Yahudi

Orang yahudi adalah anak Adam sebagaimana juga anak – anak bukan dari umat Yahudi. Semua orang bisa menjadi umat Yahudi, semua orang bisa masuk di agama Yahudi. Yudaisme terbuka bagi siapa saja yang mau masuk. Namun tertutup bagi siapa saja yang akan meninggalkan Agama ini. Secara prinsip tidak ada satu orang pun yang bisa berhenti menjadi orang Yahudi. Setiap orang Yahudi, yang lahir dari ibu Yahudi atau yang masuk ke dalam agama Yahudi, adalah seorang Yahudi dan akan tetap begitu. Sekira seorang Yahudi masuk ke agama lain, dia tetap saja menjadi seorang Yahudi. Sekali pun ia sekarang dijuluki sebagai orang Yahudi yang Murtad.

  • Pengertian Kebudayaan

Budaya atau kebudayaan menurut Koentjara Ningrat ialah berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan.

Di dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa: “budaya“ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.Ahli sosiologi mengartikan kebudayaan dengan keseluruhan kecakapan (adat, akhlak, kesenian, ilmu, dll). Sedang ahli sejarah mengartikan kebudayaan sebagai warisan atau tradisi. Bahkan ahli Antropogi melihat kebudayaan sebagai tata hidup,  way of life, dan kelakuan.

Menurut Ki Hadjar Dewantoro Kebudayaan adalah "sesuatu" yang berkembang secara kontinyu, konvergen, dan konsentris.Jadi kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis, baku atau mutlak. Kebudayaan berkembang seiring dengan perkembangan evolusi batin maupun fisik manusia secara kolektif. Jadi dapat dikatakan secara singkat bahwa kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, karsa manusia yang dilakukan dalam keseharian. Dalam antropologi budaya tidak ada perbedaan arti antara budaya dan kebudayaan. Dalam hal ini kata budaya hanya dipakai sebagai penyingkat saja.

Adapu kata culture yang artinya sama dengan kebudayaan, berasal dari kata Latin Colere yang berarti mengolah, mengerjakan, terutama menglah tanah, atau bertani. Dari aktivitas ini berkembang arti culture sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.

Mengenai defenisi kebudayaan telah banyak diterangkan oleh para ahli ilmu sosial. Ada dua orang sarjana antropologi, yaitu A.L. Kroeber dan C. Kluckhon yang pernah mengumpulkan sebanyak mungkin definisi tentang kebudayaan yang ada dalam banyak buku dan yang ditulis oleh banyak pengarang dan sarjana. Terkumpul 160 macam definisi kebudayaan kebudayaan yang kemudian dianalisis,dicari intinya dan diklasifikasikan dalam berbagai golongan, kemudian hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam satu buku berjudul Culture: A Critical Review of Concept and Definitions (1952).

Para ahli antropologi yang memberikan definisi tentang kebudayaan tersebut antara lain:

  • B. Taylor (Inggris)

Kebudayaan sebagai kesuluruhan kompleks yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain, serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

  • Linton

Kebudayaan sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang unsur-unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota dari masyarakat tertentu.

  • L. Kroeber dan Clyde Kluckhon

Kebudayaan adalah keseluruhan hasil perbuatan manusia yang bersumber dari kemauan, pemikiran, dan peraaannya.

  • T. Alisahbana

Kebudayaan adalah manifestasi suatu bangsa.

  • M. Hatta

Kebudayaan adalah ciptaan hidup suatu bangsa.

  • Dauson

Kebudayaan sebagai cara hidup bersama.

  • P.H. Duyvendak

Kebudayaan adalah kumpulan dari cetusan jiwa manusia sebagai yang beraneka ragam, dan berlaku dalam suatu masyarakat tertentu.

  • Dr. Koentjaraningrat

Kebudayaan adalah keseluruhan manusia dari kelakuanyang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.

  • M.M. Djojodigoeno

Kebudayaan atau budaya adalah dari budi, yang berupa cipta, karsa, dan rasa.

  • Hubungan Agama dan Kebudayaan

Islam adalah agama yang di ridhai Allah. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat al-Maidah:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah aku ridhai Islam sebagai agamamu”. (QS. al-Maidah: 3).

Bahkan Allah menguatkan firmanNya di dalam surat al-‘Imran:

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam”. (QS. al-‘Imran: 19).

Sejak zaman Rasulullah saw, Islam disampaikan dengan beragam cara, didakwahkan kepada umat dengan berbagai metode. Metode tersebut adalah sebuah cara untuk menyampaikan esensi ajaran Islam sendiri.

Dalam perkembangannya Islam tidak dapat dipisahkan dengan budaya, bahkan Islam merangkul budaya untuk menyampaikan ajarannya. Namun, apakah pengertian budaya dan bagaimana Islam memandangnya? Budaya adalah kelakuan yang berlaku pada masyarakat dan lingkungan tertentu. Dahulu kebiasaan memberikan makanan untuk berhala adalah budaya di kalangan masyarakat jahiliyah Arab. Namun, setelah Rasul datang beliau mengubah kebiasaan jahiliyah tersebut, dan menggantikannya dengan ajaran Islam. Misalnya, kebiasaan memberikan makanan untuk berhala, diganti beliau dengan mengajarkan bersedekah. Begitu pula pada generasi berikutnya, wali sembilan di Jawa misalnya. Para wali mengubah kebiasaan atau budaya masyarakat pada saat itu, dan menggantinya dengan kegiatan yang bernilai ibadah.

Misalnya, sekatenan. Sekaten adalah sebuah upacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari. Konon asal-usul upacara ini sejak kerajaan Demak. Menurut cerita rakyat kata Sekaten berasal dari istilah credo dalam agama Islam, Syahadatain. Para pengunjung sekatenan yang menyatakan ingin “ngrasuk” agama Islam setelah mengikuti kegiatan syiar agama Islam tersebut, dituntun untuk mengucapkan 2 (dua) kalimat syahadat (syahadatain). Dalam pengamalannya Islam tidak membumi hanguskan semua budaya tersebut. Bahkan terjadi akulturasi antara Islam dan budaya. Di mana budaya menjadi sebuah metode/alat untuk menyampaikan Islam. Contoh yang populer adalah bagaimana Islam mengajarkan untuk mendoakan kebaikan dan kemenangan di hari Idul Fitri.

Misalnya, bagaimana Sunan Kalijaga mendakwahkan Islam dengan budaya Jawa waktu itu, yaitu dengan lagu/tembang. Misalnya, pada tembang ilir ilir. Terdapat filosofis agamis dalam tembang yang notabene adalah budaya masyarakat Jawa pada waktu itu. Bahkan Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Ilir ilir mengandung arti sebagai umat Islam kita diminta bangun. Bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan yang telah ditanamkan oleh Allah dalam diri kita yang dalam ini dilambangkan dengan tanaman yang mulai bersemi dan demikian menghijau. Terserah kepada kita, mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru.

Sehingga, pada hakikatnya dalam pendakwahannya Islam justru merangkul budaya untuk menyampaikan esensi ajarannya. Karena, dengan merangkul budaya, Islam jadi lebih mudah diterima di masyarakat. Budaya bisa/boleh saja digunakan untuk metode dakwah, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai dalam Islam. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah yaitu:

“Dan janganlah kau campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. al-Baqarah: 42)

Seperti halnya kebudayaan, agama sangat menekankan makna dan signifikan sebuah tindakan. Karena itu sesungguhnya terdapat hubungan yang sangat erat antara kebudayaan dan agama, bahkan sangat sulit dipahami kalau perkembangan sebuah kebudayaan dilepaskan dari pengaruh agama. Sesungguhnya tidak ada satupun kebudayaan yang seluruhnya didasarkan pada agama. Untuk sebagian kebudayaan juga terus ditantang oleh ilmu pengetahuan, molaritas secular, serta pemikiran kritis.

Meskipun tidak dapat disamakan, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi. Agama mempengaruhi system kepercayaan serta praktik-praktik kehidupan. Sebaliknya kebudayaan pun dapat mempengaruhi agama, khusunya dalam hal bagaimana agama di interprestasikan/ bagaimana ritual-ritualnya harus dipraktikan. Tidak ada agama yang bebas budaya dan apa yang disebut Sang-Ilahi tidak akan mendapatkan makna manusiawi yang tegas tanpa mediasi budaya, dalam masyarakat Indonesia saling mempengaruhi antara agama dan kebudayaan sangt terasa. Praktik inkulturasi dalam upacara keagamaan hampir umum dalam semua agama.

Budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya krreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif. Budaya agama tersebut akan terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam kondisi objektif dari kehidupan penganutnya.

Para ahli kebudayaan mempunyai pendapat yang berbeda di dalam memandang hubungan antara agama dan kebudayaan yaitu:

  1. Kelompok pertama menganggap bahwa Agama merupakan sumber kebudayaaan atau dengan kata lain bahwa kebudayaan merupakan bentuk nyata dari agama itu sendiri. Pendapat ini diwakili oleh Hegel.
  2. Kelompok kedua, yang di wakili oleh Pater Jan Bakker, menganggap bahwa kebudayaan tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama.
  3. kelompok ketiga, yeng menganggap bahwa agama merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri.

Seperti yang dijelaskan diatas bahwa ajaran Islam pun juga mendorong manusia untuk berbudaya.  Akan tetapi sebelum Islam datang, sudah ada kebudayaan yang telah berkembang sebelumnya. Dan tentunya kebudayaan tersebut ada yang mengandung kebaikan dan ada yang mengandung keburukan atau kebatilan. Mengapa dikatakan begitu?  Karena pada dasarnya akal manusia mampu untuk mengenali atau mengidentifikasi mana hal yang baik dan mana hal yang buruk.

Adat istiadat dan tradisi ada kalanya  yang dapat mewujudkan kebaikan bagi umat manusia pada salah satu sisi kehidupan manusia,  yang tidak ada nash agamanya, kecuali pengarahan terhadap tujuan yang umum. Ketika itulah peran akal melakukan ijtihat untuk mencari kehendak ilahi, dalam segala hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Mungkin bisa dikatakan bahwa adat istiadat atau kebudayaan ataupun tradisi yang kebaikannya Nampak (mengandung kebaikan) adalah kehendak Ilahi.;ia dapat dianggap sebagai hukum agama yang disandingkan dengan tatanan agama secara menyeluruh, meliputi berbagai bidang kehidupan. Pada saat itulah kenyataan hidup berperan dalam memahami agama berdasarkan tradisi yang baik. Ia dianggap sebagai bagian agama  ketika tidak ada nash yang berkaitan dengannya, dan ketika tidak bertentangan dengan nash yang ada.

Islam dan kebudayaan memiliki keterkaitan antara yang satu dengan yang lain. Ajaran islam memberikan aturan-aturan yang sesuai dengan kehendak Allah SWT, sedangkan kebudayaan adalah realitas keberagamaan umat Islam tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa wujud nyata dari pengamalan ajaran agama islam itu mampu dilihat dari kebudayaan dan kehidupan nyata para pemeluk agama Islam tersebut.

Kebudayaan dapat pula digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada tataran agama yang tampil dalam bentuk formal yang menggejala di masyarakat. Pengamalan agama yang terdapat di masyarakat tersebut adalah hasil penalaran para penganut agama dari sumber agama yaitu wahyu. Salah satu contohnya yaitu ketika kita membaca kitab fiqih, kitab fiqih tersebut merupakan pelaksanaan dari nash Al-quran maupun hadist yang melibatkan penalaran dan kemampuan manusia. Pelaksanaan fiqih dalam kehidupan sehari-hari itu berkaitan dengan kebudayaan yang berkembang di masyarakat tempat agama tersebut berkembang. Dengan pemahaman terhadap kebudayaan tersebut seseorang akan dapat mangamalkan ajaran agama tersebut.

Misalnya dalam kebudayaan berpakaian, bergaul, bermasyarakat dan sebagainya. Unsur agama ikut berinteraksi dalam kebudayaan tersebut. Pakaian model jilbab, kebaya dapat dijimpai dalam pengamalan agama. Sebaliknya tanpa adanya unsur budaya, maka agama akan sulit dilihat sosoknya secara jelas.

Jadi agama dan kebudayaan sebernarnya tidak pernah bertentangan karena kebudayaan bukanlah sesuatu yang mati, tapi terus berkembang mengikuti perkembangan jaman. Demikian pula agama, selalu bisa berkembang di berbagai kebudayaan dan peradaban dunia.

  • Penerapan hubungan agama dan kebudayaan dalam kehidupan

Islam datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang yang tidak bermanfaat dan membawa madlarat di dalam kehidupannya, sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.

Ada tiga jenis kebudayaan dalam pandangan Islam yaitu:

  1. Kebudayaan yang tidak bertentangan dengan islam

Dalam kaidah fiqh disebutkan  “ al adatu muhkamatun “ artinya “adat kebiasaan dapat dijadikan sebagai hukum” bahwa adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat, yang merupakan bagian dari budaya manusia, mempunyai pengaruh di dalam penentuan hukum. Tetapi yang perlu dicatat, bahwa kaidah tersebut hanya berlaku pada hal-hal yang belum ada ketentuannya dalam syareat.

Salah satu contoh kebudayaan yang tidak bertentangan dengan islam seperti  kadar besar kecilnya mahar dalam pernikahan, di dalam masyarakat Aceh, umpamanya, keluarga wanita biasanya, menentukan jumlah mas kawin sekitar 50-100 gr emas. Dalam Islam budaya itu syah-syah saja, karena islam tidak menentukan besar kecilnya mahar. Menentukan bentuk bangunan Masjid, dibolehkan memakai arsitektur Persia, ataupun Jawa yang berbentuk Joglo.

Untuk hal-hal yang sudah ditetapkan ketentuan dan kreterianya di dalam Islam, maka adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat tidak boleh dijadikan standar hukum. Sebagai contoh adalah menikah antar agama adalah dibolehkan dalam Islam karena nikah antar agama sudah menjadi budaya suatu masyarakat, maka dibolehkan dengan dasar kaidah di atas. Pernyataan seperti itu tidak benar, karena Islam telah menetapkan bahwa seorang wanita muslimah tidak diperkenankan menikah dengan seorang kafir.

  1. Kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan Islam, kemudian di  rekonstruksi sehingga menjadi Islami

Contohnya, kebudayaan masyarakat yang melaksanakan upacara tujuh hari orang meninggal ataupun empat puluh hari orang meninggal. Upacara semacam itu tidak ada tuntunannya dalam Islam, tetapi Islam mencoba merekonstruksi upacara-upacara tersebut agar menjadi lebih Islami, yaitu dengan pembacaan kitab suci Alquran pada saat pelaksanaan upacara-upacara tersebut. Islam datang untuk merekonstruksi budaya tersebut menjadi bentuk “ibadah” yang telah ditetapkan aturan-aturannya.

“Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Abu Bakar Siddik ditugaskan oleh Rasulullah SAW sebelum haji wada untuk memimpin satu kaum pada hari Nahar melakukan haji, kemudian memberitahukan kepada orang banyak, suatu pemberitahuan: Ketahuilah! Sesudah tahun ini orang-orang Musyrik tidak boleh lagi haji dan tidak boleh thawaf di Ka'bah dalam keadaan telanjang. Sebelum Islam, orang-orang musyrik Arab telah melakukan juga pekerjaan haji menurut cara mereka sendiri. Antara lain ialah thawaf di Ka'bah dalam keadaan telanjang bulat sambil bertepuk tangan.” (Hadits Shahih Bukhari no. 843). Sebelum Islam datang tawaf dilakukan oleh orang-orang kafir secara telanjang, namun setelah kedatangan Islam hal tersebut di rekonstruksi  menjadi lebih islami.

  1. Kebudayaan yang bertentangan dengan Islam

Seperti, budaya “ ngaben “ yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Yaitu upacara pembakaran mayat yang diselenggarakan dalam suasana yang meriah dan gegap gempita, dan secara besar-besaran. Ini dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan bagi orang yang meninggal supaya kembali kepada penciptanya. Upacara semacam ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Hal yang sama juga dilakukan oleh masyarakat Kalimantan Tengah dengan budaya “tiwah“ , sebuah upacara pembakaran mayat. Bedanya, dalam “ tiwah” ini dilakukan pemakaman jenazah yang berbentuk perahu lesung lebih dahulu. Kemudian kalau sudah tiba masanya, jenazah tersebut akan digali lagi untuk dibakar. Upacara ini berlangsung sampai seminggu atau lebih. Pihak penyelenggara harus menyediakan makanan dan minuman dalam jumlah yang besar , karena disaksikan oleh para penduduk dari desa-desa dalam daerah yang luas. Di daerah Toraja, untuk memakamkan orang yan meninggal, juga memerlukan biaya yang besar. Biaya tersebut digunakan untuk untuk mengadakan hewan kurban yang berupa kerbau. Lain lagi yang dilakukan oleh masyarakat Cilacap, Jawa tengah. Mereka mempunyai budaya “ Tumpeng Rosulan “, yaitu berupa makanan yang dipersembahkan kepada Rosul Allah dan tumpeng lain yang dipersembahkan kepada Nyai Roro Kidul yang menurut masyarakat setempat merupakan penguasa Lautan selatan (Samudra Hindia).

Hal-hal di atas merupakan sebagian contoh kebudayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga umat Islam tidak dibolehkan mengikutinya. Islam melarangnya, karena kebudayaan seperti itu merupakan kebudayaan yang tidak mengarah kepada kemajuan adab, dan persatuan, serta tidak mempertinggi derajat kemanusiaan

Dalam kehidupan sehari-hari dapat diambil beberapa contoh hubungan agama dan kebudayaan. Pertama, ketika seseorang berpindah agama cara berpikir dan cara hidupnya dapat berubah secara signifikan. Dapat dilihat seseorang yang beragama kristen pindah menjadi agama islam maka pandangan hidupnya akan berubah pula. Misal, cara pandangan mereka dalam berpakaian ketika beragama kristen caraberpakaian mereka kurang menutup aurat tetapi ketika mereka beragama islam mereka berpakaian menutup aurat. Kedua, ketika beribadah hari raya idul fitri, hari raya ini dalam praktiknya tidak lagi menjadi perayaan yag khas bagi penganut agama islam namun lebih merupakan tradisi bagi segenap masyarakat Indonesia. Saling maaf memaafkan yang dulu tidak pernah terjadi di negara-negra timur tengah tetapi masyarakat Indonesia justru menjadikan momen ini untuk membangun kembali tali persaudaraan serta kesetiakawanan.

 

BAB III
PENUTUP

  • Kesimpulan

Dari uraian tentang hubungan agama dan kebudayaan dapat disimpulkan bahwa agama bersumber dari Allah dan kebudayaan bersumber dari manusia dan merupakan hasil cipta, karya, rasa, dan akal  budi manusia. Agama mempunyai hubungan yang erat dengan budaya sebagai patokan utama dari masyarakat untuk selalu menjalankan perintah agama dan melestarikan kebudayaannya.

Masyarakat, agama dan kebudayaan sangat erat berkaitan satu sama lain. Saat budaya atau agama diartikan sesuatu yang terlahir di dunia yang manusia mau tidak mau harus menerima warisan tersebut.  Berbeda ketika sebuah kebudayaan dan agama dinilai sebagai sebuah proses tentunya akan bergerak kedepan menjadi sebuah pegangan, merubah suatu keadaan yang sebelumnya menjadi lebih baik.

Jika agama dilihat dari kebudayaan maka kita lihat agama sebagai keyakinan yang hidup yang ada dalam masyarakat  manusia dan bukan agama yang suci dalam (Al-Qur’an dan Hadits) Sebuah keyakinan hidup dalam masyarakat maka agama akan bercorak local, yaitu local sesuai dengan kebudayaan masyarakat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Munthoha, dkk.1998.Pemikiran dan Peradaban Islam.Universitas Islam Indonesia.Yogyakarta: UII Press.

Wismulyani Endar.2008.Jejak Islam di Nusantara, Cet 1,Klaten: Cempaka Putih.

Geertz, Clifford. 1992.Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta :  Kanisius.

Endang, Saifuddin Anshari. 1998.Agama dan Kebudayaan. Surabaya: PT. Bina Ilmu.

Yatim, Badri. 1999.Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Category: MakalahTags:
author
No Response

Leave a reply "Makalah Tentang Hubungan Agama dengan Kebudayaan"