Makalah Tentang Dinamika Pemikiran Dalam Islam

0 6

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan suatu  peradaban dalam  sejarah umat manusia tidak mungkin terwujud  apabila peradaban tersebut menutup diri dan tidak mau  berinteraksi dengan peradaban yang lain. Hadirnya Islam sebagai sebuah peradaban yang unggul pada masa jayanya, juga diyakini merupakan buah dari keterbukaan Islam untuk menerima berbagai peradaban lain yang ada di luar islam dan kemudian menyelaraskan diri dengan ajaran islam.

Kemajuan islam sebagi sebuah peradaban telah diwarnai oleh dinamika pemikiran yang sangat dinamis yang tumbuh dan berkembang menyertai kehadiran islam. Pemikiran islam sendiri sangatlah plural dengan disiplin keilmuan yang sangat beragam. Semuanya mendapatkan tempat yang mulia dan strategis dalam islam yang memperkaya khazanah keislaman.

Perpaduan antara pikiran dan rasa, merupakan prasyarat mutlak dalam membangun peradaban islam dan dunia yang cemerlang. Dalam ungkapan iqbal bahwa fikr dan dzikir atau aqal dan isyq harus diintegrasikan secara mantap bila mau membangun peradaban modern yang segar. Sesuatu yang tentunya sangat diidamkan umat manusia, dan di sinilah semestinya peran yang harus dimainkan umat Islam untuk memberikan kontribusi bagi peradaban umat manusia secara keseluruhan.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana awal mula pemikiran-pemikiran Islam muncul di tengah masyarakat?
  2. Apa saja pemikiran-pemikiran Islam yang berkembang sampai sekarang?
  3. Bagaimana dinamika islam kontemporer?

1.3Tujuan

  1. Memahami perkembangan awal pemikiran dalam Islam
  2. Memahami macam-macam pemikiran Islam yang berkembang beserta sejarahnya
  3. Memahami dinamika islam kontemporer

 

BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkembangan Awal Pemikiran Islam

Proses perkembangan pemikiran muslim, terdapat dalam  tiga fase dan erat kaitannya dengan sejarah Islam. Fase – fase tersebut yaitu :

  1. Pemikiran atau persoalan pada periode Al-Khulafa Al-Rasyidin

Pasca Rasulullah SAW, mulailah periode Al-Khulafa Al-Rasyidin mengalami fase baru. Pada periode ini muncul persoalan baru yang di selesaikan dengan pemikiran atau ijtihad. Orang-orang anshar dari suku khazraj sudah kumpul di Tsaqifah Bani Sa’idah Nadi Al-Qaum/ semacam MPR sekarang. Pada saat itu mereka hampir memilih Sa’ad bin Ubadah sebagai khalifah atau pengganti nabi dengan alasan, merekalah yang menolong kaum muhajirin saaat mereka hijrah ke Madinah.

Disisi lain, golongan muhajirin yang mengklaim bahwa merekalah yang paling berhak untuk menduduiki jabatan kekhalifahan. Mendengar berita dan kejadian di Tsaqifah Bani Sa’idah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab segera tiba di sana, yang semula berada di dekat jenazah Rasulullah (Lewis,1974:3-4). Dua kelompok tersebut akhirnya berdamai dan memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama.

Menjelang wafatnya Abu Bakar, maka ditunjuklah Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Dengan demikian, Umar menjadi khalifah  kedua. Setelah Umar wafat, kemudian pergolakan politik selanjutnya diwarnai dengan kegagalan Ali bin Abi Thalib dalam  pemilu. Saat itu yang memenangkan adalah Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga. Hal ini mengakibatkan adanya pergolakan politik pada masa kekhalifahan Ali dan pada gilirannya menimbulkan perang jamal (antara tentara Ali dengan Aisyah) dan perang Shiffin (Antara Ali dam Mu’wiyah).

Adanya perang Shiffin memunculkan golongan Khawarij. Pergolakan politik itu diruncingkan oleh adanya pendapat Khawarij, bahwa orang-orang yang terlibat dalam perang Jamal dan Shiffin adalah berdosa besar dan kafir.

Pernyataan kaum Khawarij ini tidak dengan serta merta diterima oleh kaum muslim umumnya pada waktu  itu. Ini terbukti dengan lahirnya kelompok pembela Ali yang disebut Syiah yang menolak kesimpulan kaum Khawarij. Sementara itu, muncul pula kelompok muslim lainnya yang berusaha netral. Mereka tidak ingin menyalahkan satu dengan yang lain. Menurut mereka, segala hukum perbuatan manusia yang belum jelas nashnya, ditangguhkan hukumnya sampai di akhirat kelak. Kelompok ini disebut Murji’ah (Alam, 1969:279-283).

  1. Akibat ekspansi Islam

Ekspansi Islam ke Barat sampai ke Spanyol dan Perancis; ke Selatan sampai ke Sudan, Ethiopia dan seterusnya; ke Timur sampai India dan seterusnya; ke Utara sampai ke Rusia, ternyata tidak hanya berdampak pada penyebaran ajaran saja, tetapi juga semakin memperkaya khazanah kebudayaan Islam. Hal ini dikarenakan akulturasi budaya Arab-Islam dengan budaya-budaya lokal daerah yang ditaklukkan.

Salah satu budaya atau tradisi yang pada akhirnya banyak terserap dan teradopsi oleh Islam adalah tradisi Yunani dan Hellenistiknya yang bersifat spekulatif. Perembesan budaya ini disamping karena interaksi kaum muslimin dengan orang-orang yang mempelajari tradisi spekulatif Yunani, juga karena penerjemahan secara besar-besaran khazanah intelektual Yunani ke dalam bahasa Arab pada masa Abbasiyyah.

  1. Akibat adanya perubahan masyarakat

Perubahan masyarakat dari tradisional menjadi masyarakat modern, dari pandangan  cakrawala berpikir yang regional menjadi yang lebih luas lagi. Kehidupan pribadi makin lama semakin kompleks dan menimbulkan masalah-masalah baru yang memerlukan pemecahan (asmuni, 1996:90-91).

Ketiga faktor di atas memberikan pengaruh yang kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan pemikiran dalam islam, disamping tentu saja banyak sugesti berupa ayat-ayat yang menganjurkan tentang pengembangan kemampuan berpikir. Ada banyak ayat dalam al-qur’an yang baik secara langsung maupun tidak, mendesak manusia untuk berpikir, merenung atau bernalar.

Ibnu Khaldun mencatat bahwa kunci dari maraknya peradaban islam adalah tradisi kebebasan berpikir dan indenpendensi ulama dari ranah politik. Konsentrasi ulama dalam  ranah pengetahuan keagamaan, dalam sejarah peradaban islam, telah membawa pada pencerahan yang dapatbdirasakan masyarakat di dunia. Dari itu semua pemikiran islam telah menjadi gerbang pencerah bagi eropa dan barat.

B. Pluralitas Pemikiran Islam

Adanya ekspansi umat Islam ke berbagai wilayah turut memperkaya khazanah intelektual muslim. Berbagai keilmuan islam pun lahir sebagai bagian dari proses interaksi islam dengan budaya-budaya lain,seperti Yunani, Persia, India,dan lain sebagainya. Lahirnya bidang keilmuan seperti filsafat, ilmu kalam (teologi islam), dan tasawuf tidak bisa dilepaskan dari interaksi-interaksi tersebut.

Berikut ini dipaparkan dinamika beberapa varian pemikiran islam, antara lain :

  1. Pemikiran kalam (teologi)

Kalam secara harfiah berarti pembicaraan. Istilah ini merujuk pada sistem pemikiran spekulatif yang berfungsi untuk mempertahankan islam dan tradisi keislaman dari ancaman maupun tantangan dari luar. Para pendukungnya, muttakalimun, adalah orang-orang yang menjadikan dogma atau persoalan-persoalan teologis kontroversial sebagai topik diskusi dan wacana dialektik, dengan menawarkan bukti-bukti spekulatif untuk mempertahankan pendirian mereka (kartanegara, 2002:117).

Definisi di atas nampaknya mengamini apa yang telah dipaparkan Ibnu Khaldun, yang menyatakan bahwa teologi atau kalam adalah ilmu yang mempergunakan bukti-bukti logis dalam  mempertahankan aqidah keimanan dan menolak pembaru yang menyimpang dalam dogma yang dianut kaum muslim pertama dan ortodoksi muslim (Khaldun, 2001:589). Para ulama juga sepakat bahwa tauhid adalah dasar utama dan pertama dalam ajaran islam. Ketauhidan zaman Nabi ditanamkan oleh beliau melalui sikap dan tingkah laku bertauhid, yang apabila ada suatu masalah bisa langsung ditanyakan kepada Nabi.

Isu pertama yang berakibat langsung pada kerekatan masyarakat muslim sesaat setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW adalah perkara keabsahan pengganti Nabi atau khalifah. Setelah khalifah ‘Utsman bin ‘Affan terbunuh pada tahun 656 M, isu pengganti Nabi SAW ini semakin mengemuka. Puncaknya, bentrokan antara pendukung khalifa ‘Ali bin Abi Thalib yang juga sepupu dan menantu Nabi SAW yang terbunuh dan Muawiyah sebagai kerabat khalifah sekaligus sebagai gubernur Damaskus waktu itu, tidak bisa dielakkan (Rahman, 1977:58-63 dan Fakhry, 2001:13). Sebagian umat Islam  telah berani membuat analisis tentang pembunuhan ‘Utsman tersebut, apakah si pembunuhnya pendosa atau tidak, bahkan tidak sampai di situ saja, hal ini dianalisis siapa yang menggerakkan tangan si pembunuh itu, apakah manusia itu sendiri ataukah dari Tuhan. Apakah si pembunuhnya pendosa atau tidak, bahkan tidak sampai di situ saja, hal ini dianalisis siapa yang menggerakkan tangan si pembunuh itu, apakah manusia itu sendiri ataukah dari Tuhan. Diduga inilah yang mungkin menjadi cikal bakal tumbuhnya paham Jabariah dan Qadariah (Asmuni, 1996:59).

Perselisihan umat islam tersebut di atas terus berlanjut hingga mencapai puncaknya pada peristiwa arbitrase, yaitu upaya penyelesaian perselisihan Ali bin Abi Thalib dan Muawiyyah bin Abi Sufyan pada perang Shiffin (Karim, 1974,2:159-170 dan Hitti, 2005:223-224). Peristiwa-peristiwa tersebut banyak andilnya dalam melahirkan aliran atau madzhab dalam ilmu kalam.

Dalam perang Shiffin, terjadi perdamaian atau tahkim antara pihak Ali dan Muawiyyah.akan tetapi perdamaian tersebut tidak dapat diterima oleh sebagian pengikut Ali bi Abi Thalib. Pelopornya Abdullah bin Wahab ibn Al-Rasybi yang dalam perkembangan selanjutnya mereka itu disebut Khawarij juga terkenal dengan kelompok Haruri. Dalam hal ini Khawarij berfatwa bahwa yang terlibat dengan tahkim, baik menyetujui dan apalagi melaksanakannya dinyatakan berdosa besar dan setiap orang yang berdosa besar meninggal dunia tanpa tobat, maka ia adalah kafir. Salah satu alasan mereka karena tidak atau ingkar menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Kafir adalah orang yang tidak percaya, lawannya mu’min artinya orang yang percaya. Kedua istilah ini dalam Al-Quran biasanya berlawanan. Kata kafir yang ditunjukkan pada golongan di luar Islam oleh Khawarij dipergunakkan dengan makna yang berbeda, yaitu untuk golongan yang berada dalam islam sendiri (Nasution, 1986:31). Sebagai reaksi atas fatwa Khawarij ini sebagian umat islam yang dipelopori oleh Ghilain Al-Damasqi, menolak tegas fatwa tersebut. Selanjutnya berkembang menjadi madzhab Murji’ah. Menurut mereka, fatwa itu tidak didukung oleh nash sehingga hukumnya diserahkan kepada Allah di akhirat. Reaksi kelompok lain pengikut paham Abdullah bin Saba’, yang sangat mengagungkan ‘Ali bin Abi Thalib kemudian mereka dikenal dengan golongan Syi’ah.

Persoalan dosa besar antara Khawarij dan Murji’ah itu masih berlanjut pada masa Hasan Basri (642 - 728 M). Pada suatu hari Hasan Basri memberikan pelajaran kepada murid-muridnya kemudian datang seseorang menanyakan tentang dosa besar. Lalu Hasan Basri merenungkan jawabannya, kemudian berdirilah salah seorang murid yang bernama Wasil bin Atho’ dan berkata, “Menurut saya, orang itu bukan kafir dan bukan pula mukmin, tempatnya baina manzilatain dan dapat disebut fasik”. Setelah berkata demikian, ia keluar dari kelompok belajar sambil menjelaskan kepada orang-orang yang ada di dekatnya tentang apa yang diucapkannya itu. Memperhatikan keadaan Wasil bin Atho’ tersebut Hasan Basri berucap: “I’tazalah ‘Anna : telah keluar Wasil bin ‘Atho dari kita”. Sejak itu Wasil bin ‘Atho dan para pengikutnya menjadi madzhab Mu’tazillah.

Perselisihan masalah aqidah di atas masih berlanjut sampai masa Khalifah Al-Makmun yang menetapkan bahwa paham Mu’tazillah sebagi paham resmi dari kekhalifahan dan rakyat yang harus mengikutinya. Pada masa ini seorang yang berkecimpung dalam pada paham Mu’tazillah 40 tahun lamanya ingin menjabatani paham-paham yang bertentangan itu. Orang itu adalah Abu Hasan Al-Asy’ari dan selanjutnya dibantu oleh Imam Matulidi. Kedua ulama ini merupakan tokoh ahlus sunah wal jamaah, walaupun dalam beberapa hal mereka berbeda pendapat.

Selain faktor politis yang menyebabkan munculnya perbedaan pada paham teologi, ada lagi faktor pertemuan antara ajaran islam dengan kebudayaan lain. Perkenalan umat islam dengan kebudayaan dan peradaban luar terutama yang berkaitan dengan filsafat ketuhanan, ditunjang pula dengan kemenangan umat islam, sehingga mengharuskan umat islam mempelajari pengetahuan, sistem berpikir, dan filsafat mereka. Faktor lainnya yaitu berkaitan dengan pemahaman ayat-ayat Al-Quran ialah kadar pengetahuan dan penghayatan umat islam terhadap nash-nash agama. Terdapat beberapa ayat yang kelihatannya tidak sejalan sehingga terjadilah penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Quran dan Hadist yang berbeda antara ulama yang satu dengan yang lainnya (Asmuni, 1996:60-61).

  1. Pemikiran Fiqih

Pada masa Nabi, segala persoalan dikembalikan kepada Nabi untuk menyelesaikannya, Nabi lah yang menjadi satu-satunya sumber hukum. Segala ketentuan hukum yang dibuat Nabi itu sendiri bersumber pada wahyu dari Tuhan. Pada masa sahabat, daerah yang dikuasai Islam bertambah luas dan termasuk ke dalamnya daerah-daerah di luar Semenanjung Arabia yang telah mempunyai kebudayaan tinggi dan susunan masyarakat yang bukan sederhana, diperbandingkan dengan masyarakat Arabia ketika itu. Dengan demikian, persoalan-persoalan kemasyarakatan yang timbul didaerah-daerah baru itu lebih sulit penyelesaiannya dari persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat Semenanjung Arabia sendiri.

Untuk mencari penyelesaian bagi soal-soal baru itu, para Sahabat kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Tetapi, sebagaimana diketahui ayat ahkam berjumlah sedikit dan tidak semua persoalan yang timbul dapat dikembalikan kepada Al-Qur’an atau Sunnah Nabi, maka untuk itu Khalifah dan sahabat mengadakan ijtihad. Proses ijtihad pada aspek hukum ini semakin dibutuhkan dengan pada fase-fase selanjutnya. Seiring dengan banyaknya mujtahid [ pelaku ijtihad ], maka produk yang dihasilkannya pun sangat beragam.

Setelah melalui proses yang panjang, produk hukum melalui ijtihad ini kemudian mengkristal menjadi mazhab-mazhab fiqih yang tetap bertahan dan diikuti sampai saat ini. Ulama-ulama fiqih mengembangkan dua pendekatan yang berbeda terhadap fiqih. Satu didasarkan kepada pemikiran (ra’yi) dan analogi (qiyas). Pendekatan ini diwakili oleh ulama-ulama Iraq. Salah satunya didasarkan pada hadist, tradisi-tradisi Rasul. Pendekatan kedua diwakili oleh ulama-ulama Hijaz. Dan di kalangan orang-orang Iraq, terdapat sedikit hadist, karenanya mereka lebih menonjol mempergunakan pendekatan analogi, sehingga mereka disebut ahl al ra’yi.

Tokoh-tokoh Irak yang menjadi pusat mazhab dari jama’ah dan sahabat mereka adalah Imam Hanafiah. Sedangkan pemimpin Hijaz adalah Malik bin Anas, dan sesudahnya, Asy’Syafi’i.  Setelah mereka, muncul Imam Ahmad bin Hanbal, seorang muhaddist terkemuka. Dengan bekal hadist yang melimpah, ia belajar dari sahabat-sahabat Imam abu Hanifah, lalu Imam Ahmad bersama para sahabatnya memiliki mazhab sendiri.  Keempat tokoh inilah yang kemudian menjadi mazhab jumhur pada bidang figh, di samping tentu ada pengecualian pada kelompok Syi’ah.

Abu Hanifah sebagai Imam mazhab Hanafi berasal dari keturunan Persia dan lahir di Kufah pada tahun 700 M. Ayahnya bekerja sebagai pedagang dan Abu Hanifah sendiri sambil berdagang mementingkan ilmu pengetahuan. Setelah menjadi masyhur kepadanya jabatan resmi ditawarkan di zaman Dinasti Umayyah dan kemudian juga di zaman Dinasti Bani Abbas. Tetapi kedua tawaran itu ditolak dan atas penolakan ini, ia akhirnya dimasukkan ke dalam penjara dan meninggal dunia di tahun 767 M.

Dalam pendapat hukumnya Abu Hanifah dipengaruhi oleh perkembangan hukum yang terjadi di Kuffah. Kuffah terletak jauh dari Madinah, dan sebagai kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia, kehidupan masyarakatnya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Disana problema-problema kemasyarakatan lebih banyak timbul daripada di Madinah.

Mazhab Hanafi adalah mazhab yang resmi dipakai oleh kerajaan Utsmani dan di zaman bani Abbas banyak dianut di Irak. Sekarang penganut mazhab ini banyak terdapat di Turki, Suria, Afganistan, Turkistan, dan India. Beberapa negara yang masih memakai mazhab ini sebagai mazhab resmi seperti Suria, Lebanon, dan Mesir.

Malik ibn Anas lahir di Madinah pada tahun 713 M dan berasal dari Yaman. Diberitakan bahwa ia tidak pernah meninggalkan kota ini kecuali untuk melaksanakan ibadah haji ke Mekkah. Ia meninggal dunia pada tahun 795 M. Dalam pemikiran hukumnya, Malik banyak berpegang pada sunnah Nabi dan sunnah Sahabat. Dalam hal adanya perbedaan antara sunnah, ia berpegang pada tradisi yang berlaku di masyarakat Madinah, karena ia berpendapat bahwa tradisi ini berasal dari sahabat, dan tradisi Sahabat lebih kuat untuk dipakai sebagai sumber hukum. Kalau ia tidak dapat memperoleh dasar hukum dalam al Qur’an dan sunnah, ia memakai qiyas dan al-masalih al-mursalah, yaitu maslahat umum. Mazhab malik banyak dianut di Hejaz, Marokko, Tunis, Tripoli, Mesir Selatan, Sudan, Bahrain, dan Kuwait, yaitu di dunia Islam sebelah Barat dan kurang di dunia Islam sebelah Timur.

Muhammad ibn Idris Al-Syafi’I lahir di Ghazza di tahun 767 M. dan beasal dari suku bangsa Quraisy. Ia meninggal di Mesir pada tahun 820 M. Al Syafi’I dikenal meninggalkan dua bentuk mazhab, bentuk lama dan bentuk baru. Bentuk lama disusun di Bagdad dan terkandung dalam Al-Risalah, Al –Umm dan Al-Mabsut. Bentuk baru disusun di Mesir dan disini dirobah sebahagian dari pendapat-pendapat lama.

Dalam pemikiran hukumnya, Al-Syafi’I berpegang pada lima sumber, al Qur’an, sunnah Nabi, ijma’ atau konsensus, pendapat sebahagian Sahabat yang tidak diketahui adanya perselisihan dan qiyas atau analogi. Mazhab Syafi’I banyak dianut didaerah pedesaan Mesir, Palestina, Suria, Lebanon, Irak, Hejaz, India, Indonesia, dan juga di Persia dan Yaman.

Ahmad in Hambal lahir di Bagdad pada tahun 780 M dan berasal dari keturunan Arab. Ia meninggal di Bagdad di tahun 855 M, dalam pemikiran hukumnya, Ahmad ibn Hambal memakai lima sumber, Al-Qur’an, sunnah, pendapat Sahabat yang diketahui tidak mendapat tantangan Sahabat lain, pendapat seorang atau beberapa Sahabat, dengan syarat sesuai dengan Al Qur’an serta sunnah, hadist mursal dan qiyas, tetapi hanya dalam keadaan terpaksa.

Penganut mazhab Hambali terdapat di Irak, Mesir, Suria, Palestina dan Arabia. Di Saudi Arabia mazhab ini merupakan mazhab resmi negara. Di antara keempat mazhab yang ada sekarang, mazhab Hambalilah yang paling kecil penganutnya. Fikih sendiri sebagai nama lain dari hukum Islam senantiasa dinamis dalam perkembangannya, bahkan hingga saat ini. Para Imam mazhab pendahulu yang telah berijtihad keras dalam merumuskan aturan dasar-dasar dalam mengambil sebuah putusan hukum [ushul fikih] selain berpegang pada aturan pokok berupa al Quran dan hadist, juga senantiasa menyesuaikan dengan kondisi dan perkembangan masyarakat di sekitarnya. Sehingga, tidak heran apabila banyak perbedaan pendapat dari mereka. Namun hal ini tidak menjadi soal, bahkan mereka saling menghargai terhadap pendapat yang lainnya. Karena mereka berpegang pada sabda Nabi, bahwa perbedaan antara umatku adalah rahmat [al ikhtilaf baina ummati rahmat ].

Secara umum, dapat dijelaskan tahapan-tahapan perkembangan tersebut, adalah : Pertama, pembentukan dimulai sejak kerasulan Muhammad AW masa al Khulafa ar Rasyidun, hingga paruh pertama abad ke-1 H, pada tahap ini sumber hukum meliputi wahyu serta akal, yaitu al Qur’an, sunnah, ijmak, dan ijtihad. Kedua, adalah masa pembentukan fikih yang dimulai pada paruh pertama abad ke-1 hingga dekade awal abad ke-2 H. pada tahap ini, fikih telah terbentuk mazhab.  Ketiga, adalah masa pematangan bentuk yang dimulai sejak dekade awal abad ke-2 H hingga pertengahan abad ke-4 H. Pada masa ini, ijtihad dalam bentuk fikih dikodifikasi dan dilengkapi dengan ilmu ushul fikih. Keempat, adalah masa kemunduran fikih yang ditandai oleh dua peristiwa penting, yakni jatuhnya Bagdad ke tangan tartar dan tertutupnya pintu ijtihad oleh para ulama. Pada masa ini fukaha hanya menemouh metode ai mutun [jamak dari al matan], syarah, alhawasyi [jamak dari al hasyiyyah] dan taqrirat [jamak dari taqrir] dalam penulisan kitab fikih. Kelima, adalah munculnya kesadaran akan pentingnya kitab hukum Islam yang mudah dioperasionalkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan Negara. Kesadaran ini dipelopori oleh pemerintahan Dinasti Usmani dengan terbitnya majalah al Ahkam al Adiliyyah. Pemikiran dalam hukum Islam dalam peraturan perundang-undangan itu pun kemudian berkembang di negeri Islam hingga kini.

  1. Bidang Filsafat

Filsafat dan agama berbicara tentang hal yang sama,yaitu manusia dan dunianya. Apabila yang satu membawa kebenaran yang berasal dari Sang Pencipta Manusia dan dunianya itu, dan yang lainnya dari akal manusia yang selalu diliputi kekurang jelasan dan ketidakpastian.

Dalam beberapa madrasah besar, pengajaran filsafat tidak masuk teras mata kuliah pokok, tetapi digolongkan dalam ‘ulum al’-a’jam [ ilmu-ilmu asing ], artinya tidak langsung bertempatantara ‘ulum al-din yang berdasarkan tradisi dan disebut ulum al-naqliyah. Dilihat dari segi lain, filsafat bersama dengan ilmu mantiq, dan filogi [ lughat, nahwat, sarf, dan adab ], dipergunakan sebagai alat [ ‘aliyyah ].

Hubungan antara filsafat dan agama dalam sejarah kadang-kadang dekat dan baik dan kadang-kadang jauh dan buruk. Adakalanya para agamawan merintis perkemangan filsafat, dan adakalanya orang yang beragama terancam oleh pemikiran para filosof yang kritis dan tajam.

Dalam prespektif falasifah, filsafat dan agama merupakan dua pendekatan mendasar menuju pada kebenaran. Apa yang hendak dibedakan dengan tajam di sini bukan filsafat, yang dipahami sebagai sistem rasional pemahaman [ inteleksi ] dan wahyu yang dirumuskan secara bebas; dan agama yang dipahami sebagai tradisi wahyu secara total. Al Kindi sebagai filsuf muslim pertama memandang bahwa filsafat haruslah diterima sebagai bagian dari peradaban Islam. Ia yang berupaya pertama kali menunjukkan bahwa filsafat dan agama merupakan dua aktivitas intelektual yang bisa serasi.

Pemikiran filosofis masuk ke dalam Islam melalui  filsafat Yunani yang dijumpai ahli-ahli Islam di Suria, Mesopotamia, Persia, dan Mesir. Kebudayaan dan filsafat Yunani datang ke daerah-daerah itu dengan ekspansi Alexander Yang Agung ke Timur di abad ke-4 sebelum Kristus. Politik Alexander untuk menyatukan kebudayaan Yunani dan Persia meninggalkan bekas besar di daerah-daerah yang pernah dikuasainya dan kemudian melahirkan pusat-pusat kebudayaan Yunani di Timur seperti Iskandariah, Antioch, Harran, Edessa, Qinnesrin,dan Nasibin.

Di Zaman Bani Umayyah, karena perhatian lebih banyak tertuju kepada kebudayaan Arab, pengaruh kebudayaan Yunani terhadap Islam belum begitu kelihatan. Pengaruh baru nyata kelihatan di masa Bani Abbas, karena yang berpengaruh di pusat pemerintahan bukan lagi orang-orang Arab, tetapi orang-orang Persia, seperti keluarga Baramikah, yang telah lama berkecimpung dalam kebudayaan Yunani.

Khalifah-khalifah Bani Abbas pada mulanya tertarik pada ilmu-ilmu  kedokteran Yunani dengan cara pengobatannya yang baik dan mujarab, tetapi kemudian mereka tertarik pula kepada ilmu-ilmu pengetahuan lain dan filsafat. Perhatian pada filsafat meningkat di zaman Khalifah al Ma’mun [ 813-833M ], putra Harun al Rasyid. Utusan-utusan dikirimke kerajaan Bizantium untuk mencari manuskrip yang kemudian dibawa ke Bagdad untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Untuk keperluan itu al Ma’mun bahkan menetapkan kebijakan resmi bagi aktivitas ‘pengaraban’ karya-karya filsafat,sains,dankedokteran Yunani. Sebagai khalifah yang cerdas dan cemerlang, Al Ma’mun mendirikan Bait al-Hikmah [Rumah Hikamh] di Bagdad pada 830 M sebagai perpustakaan dan institut penerjemahan. Bait al Hikmah yang dipimpin oleh Yuhanna ibn Masawaih dan tak lama kemudian digantikan oleh muridnya, Hunain Ibn Ishaq adalah institut terbesar sepanjangsejarah penerjemahan karya-karya filsafat dan kedokteran Yunani.

Dengan kegiatan penerjemahan ini, sebahagian besar dari karangan-karangan Aristoteles, sebahagian dari karangan-karangan Plato serta karangan-karangan mengenai neo-Platonisme, sebahagian besar dari karangan-karangan Galen serta karangan-karangan dalam ilmu kedokteran lainnya, dan juga karangan-karangan mengenai ilmu pengetahuan yunani lainnya dapatlah dibaca oleh alim ulama Islam[38].

Golongan yang banyak tertarik kepada filsafat yunani adalah kaum Mu’ tazilah. Abu Al- Huzail, Al-Nazzam, Al-Jahiz, Al-Jubba’I dan lain-lain banyak membaca buku-buku filsafat Yunani dan pengaruhnya dapat dilihat dalam pemikiran-pemikiran teologi mereka. Di samping kaum Mu’ tazilah, segera pula timbul filosof-filosof Islam.

Filosof kenamaan yang pertama adalah Abu Yusuf Ya’qub Ibn Ishaq Al Kindi. Ia lahir di Kufah pada tahun 796 M dan meninggal di Bagdad di tahun 873 M. Al Kindi bukan hanya filosof tetapi juga ilmuanyang menguasai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada di zamannya. Buku-buku yang ditinggalkannya mencakup berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti matematika, geometri, astronomi, pharmacology [ teori dan cara pengobatan ] ilmu hitung, ilmu jiwa, optika, politik, musik dan sebagainya[39].

Filosof besar yang kedua adalah Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Uzlagh Al Farabi. Ia lahir di Farab, Transoxania pada tahun 872 dan meninggal pada tahun 950 M di Damsyik.. Al Farabi menulis buku-buku mengenai logika, ilmu politik, etika, fisika, ilmu jiwa, metafisika, matematika, kimia, musik, dan sebagainya. Kalau Al Kindi mendapat  gelaran Failusuf Al Arab, Al Farabi terkenal dengan nama Al-Mu’alim Al-Tsani [Guru  Kedua] . Al- Mu’alim al Awwal [Guru  pertama] adalah Aristoteles. Di dunia latin ia dikenal dengan nama Alpharabius[40].

Filosof lain yang melampaui Al Farabi dan Al Kindi dalam kemasyuran adalah Abu ‘Ali husein Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada tahun 980 M di Afshana suatu tempat di dekat Bukhara dan meninggal di Isfahan pada tahun 1037 M. Ibn Sina dikenal di Barat dengan nama Avicenna dan kemasyurannya di dunia Barat sebagai dokter melampaui kemasyurannya sebagai filosof, sehingga ia mereka beri gelar ‘ the prince of Physicisns ‘. Di dunia Islam ia dikenal dengan nama Al-Shaykh al-Ra’is, pemimpin utama [dari filosof-filosof][41].

Al Ghazali merupakan filosof besar terakhir di dunia Islam bagian Timur. Di Indonesia, sosok ini sangat terkenal dengan kitab Ihyanya. Nama lengkap, Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad Ibn Muhammad Al-Ghazali lahir di Ghazelah, suatu desa di dekat Tus di daerah Khurasan [ Persia ] pada tahun 1059 dan wafat di Nisyafur pada tahun 1085 M. Di dunia Barat abad  pertengahan Al Ghazali dikenal dengan nama Abuhamet dan Algazel. Di dunia Islam ia diberi gelar Hujjatul Islam[42].

Pasca al Ghazali, filosof-filosof besar selanjutnya muncul di Andalusia. Satu filosof terbesar yang dihasilkan adalah Abu Al Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Rusyd. Ia lahir di Cordova pada tahun 1126 M. Di masa mudanya Ibn Rusyd belajar teologi Islam, hukum Islam, ilmu kedokteran, matematika, astronomi, sastra, dan filsafat. Buku-buku Ibn Rusyd mengenai falsafat Aristoteles banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, dan berpengaruh bagi ahli-ahli pikir Eropa sehingga di beri gelar Penafsir [Commentator ],yaitu penafsir dari filsafat Aristoteles. Kalau di Barat Ibn Rusyd dikenal sebagai dokter damn penafsir filsafat Aristoteles, di dunia Islam ia dikenal sebagai ahli hukum dan filosof yang membela rekan-rekannya dari kritik dan serangan al Ghazali.

Setelah kematian Ibn Rusyd, tradisi permenungan di kalangan Muslim agak meredup, namun bukan berarti mati. Di belahan Timur, terutama Persia, sebagaimana diungkap pengkaji filsafat Islam terkemuka, Henry Corbin [ 1993 ] Averroisme [ Ibn Rusyd ] memang telah menghilang tanpa jejak, namun kritik al Ghazali atas filsafat tidak pernah dianggap berhasil mengakhiri tradisi yang dikembangkan oleh Avicenna [Ibn Sina ].

Di Persia fase kebangkitan filsafat ditandai dengan kolaborasinya yang indah dengan mistisme, yang dikenal dengan filsafat Persia atau isyraqi. Diresmikan oleh al Suhrawardi [1155-1191 M], fase ini ditandai oleh usaha positif untuk mendamaikan filsafat dan mistisme; dengan cara yang pernah disuarakan oleh Ibn Sina [980-1037 M], namun belum sempat diimplementasikannya. Tradisi isyraqi ini kemudian memuncak pada sosok Mulla Sadra [1571-1640 M] dengan hikmat transendentalnya. Kesinambungan tradisi isyraqi di Iran pada masa sekarang dibuktikan oleh kehadiran sejumlah besar institut teologi di Qum, Masyad dan Teheran ataupun di Najaf, Irak yang melanjutkan tradisi keilmuan filsafat dan teologi isyraqi,dan sejumlah ilmuan yang terus meneliti karya-karya para guru isyraqi.

Filsafat sebagai satu bagian yang sah dari Islam, memang memiliki varian yang beragam sebagaimana dijelaskan di atas. Keberadaannya seringkali dicurigai bahkan dimusuhi, karena dianggap sebagai saingan agama. Namun sebagaimana ditulis Fazlur Rahman[44] [1985: 190 ], filsafat bukanlah saingan agama atau teologi, sebagaimana pandangan yang digencarkan oleh kelompok revivalisme atau ortodoks Islam, tetapi filsafat pasti berguna baginya, karena tujuan teologi adalah membangun suatu pandangan dunia [ world view ] berdasarkan al Qur’an dengan bantuan alat-alat intelektual yang separonya disediakan oleh filsafat.

  1. Bidang Tasawuf

Tasawuf adalah  tingkah laku dan  perasaan; tingkah laku yang menjauhi segala keinginan dan hal-hal yang memesona dan ditujukan demi kesucian jiwa dan tubuh. Perasaan cinta dan bahagia, manakala seorang murid [ orang yang berkehendak ] mencapai dua kesucian ini.  Tasawuf juga berarti amal dan analisa; amal yang berlandaskan pada mujahadah [memerangi hawa nafsu sendiri] dan mujahadah [ ketahanan diri menghadapi bencana ] pusa di siang hari dan beribadah sunnah di malam hari, mengorbankanjiwa dan harta yang nampak ke dalam alam batin. Akhirnya tasawuf adalah ada dan tiada; tiada bagi orang yang tergesa dan ada bagi orang yang tidak tergesa [mementingkan akhirat, al Ajil]. Tiada bagi orang yang sirna dan ada bagi orang yang kekal, tiada bagi manusia dan ada bagi Tuhan.

Tasawuf secara ringkas adalah  mata rantai yang terdiri atas kondisi-kondisi  [al-ahwal] dan maqam-maqam, yang satu sama lain saling merupakan anak tangga. Orang yang mau menjadi sufi memulai langkah dengan  membersihkan jiwanya, agar bisa menjadi orang yang berhak menerima tajalli [penampakan], selalu meningkat hingga bisa merasakan Allah [ada] di relung jiwanya dan demikian dekat dengan-Nya. Kajian-kajian tasawuf dalam Islam  tidak terbentuk sekaligus, tetapi berkembang menembus perjalanan waktu melewati fase-fase tertentu secara bertahap[45]. Tasawuf  Islam  melewati berbagai fase.

  1. Tasawuf abad I hijriah

Tasawuf abad 1 Hijriah tampil dalam bentuk ibadah dan zuhud. Disini seseorang meninggalkan dunia dan menuju akhirat serta secara teguh berusaha melakukan hal-hal yang bisa menjadi taat dan dekat kepada Allah. Kaum tasawuf Islam membutuhkan waktu kira-kira dua abad dalam kondisi demikian. Kaum zuhud generasi pertama amat banyak, antara lain al Hasan al Basri [110 H / 728 M] sebagai tokoh kaum zuhud Basrah, Ibrahim bin Adham [159H / 776 M] sebagai tokoh  zuhud Balkh, dan Rabi ah al Adawiyyah sebagai tokoh kaum zuhud wanita.

Dalam beribadah  kebanyakan kaum sufi pada fase ini mencari tempat-tempat yang terisolir dari manusia. Tasawuf kemudian nyaris tidak keluar dari bentuk tingkah laku [al suluk ] dan kemampuan amaliah, yang ditujukan untuk menyucikan jiwa dan tubuh. Pada fase ini juga tasawuf  tidak banyak mementingkan kajian atau studi, di samping tidak berusaha meletakkan teori maupun penyebaran pikiran.

  1. Tasawuf abad III - IV Hijriah

Pada abad III-IV Hijriah, kaum sufi mulai melakukan  kajian teoritis. Untuk itu, pertama-tama mereka berorientasi pada jiwa untuk disingkapkan rahasia-rahasianya, dijelaskan segala kondisi dan maqamnya. Sebagai bukti, mereka membicarakan tentang  keasyikan dan kerinduan, takut dan harapan, cinta dan emosi, tiada dan ada, fana’ dan kekal. Mereka mencari cinta ilahi di mana saja bisa ditemukan. Mereka membicarakan pemecahan terhadap banyak masalah, mirip dengan kajian-kajian psikologis. Tokoh-tokoh sufi pada fase ini misalnya al Muhasibi [ 242 H / 857 M ] Zu al Nun al Misri [ 244 H / 859 m ], Abu Yazid al-Bistami [ 260 H – 874 M ], al Junaid [ 298 H-910 M ], al Hallaj [ 309 H / 922 M ]. Secara ringkas, pada abad ke-3 dan ke-4 menggambarkan zaman keemasan tasawuf Islam.

  1. Tasawuf sunni abad V Hijriah

Pada abad ini tasawuf mulai dikembalikan lagi pada Al-Qur’an dan Sunnah. Tokoh pada fase ini adalah Al-Qusyairi, Al-Harawi, Al- Ghazali.Dalam tasawufnya, Al-Ghazali membedah semua konsep tasawuf pendahulunya, seperti maqam, fana’, hulul, mahabbah, dzauq, ma’rifah, dan sebagainya, lalu didudukan pada tempatnya. Dengan begitu, posisi tasawuf dimata para ulama’ salaf yang sebelumnya dianggap sesat, menjadi diterima.

  1. Tasawuf filosofis

Pada fase ketiga, kaum sufi mulai mengisi teori-teori tasawuf dngan menggeluti kajian-kajian filosofis yang dalam. Dalam dua abad, yaitu sekitar abad VI dan VII, tasawuf filosofis ini mencapai titik kesempurnaan. Ajaran tasawuf  ini memadukan visi mistis dan visi rasional penggagasnya. Tokohnya adalah  Surahwadi, Ibn Masarra, Ibn ‘Arabi (yang mengenalkan konsep pantheisme atau kesatuan wujud), dan Ibn Sab’in.

  1. Tasawuf pendiri tarekat

Pada masa ini, telah tersusun konsep jalan sufi, yang menjalani beberapa prkatik tertentu bagi para penempuhnya. Tarekat diberikan sufi yang bergabung dengan seorang guru secara kolektif, yang menggelar acara tertentu dan memiliki ritual tertentu. Tokoh yang terkenal adalah Abdul Qodir Jailani, Ahmad Al Rifa’i, dan Najmuddin Kubra.

2.3    Pemikiran Islam Kontemporer

Tahun 1967 dianggap sebagai “penggalan” (qati’ah) dari seluruh wacana Arab modern, karena masa itulah yang merubah cara pandang Bangsa Arab terhadap problem sosial-budaya yang dihadapi. Pukulan telak Israel membuat mereka bertanya-tanya dengan sekumpulan negara besar yang mempunyai jumlah tentara dan peralatan yang cukup memadai, dipaksa kalah oleh Israel, negara kecil dengan tidak lebih dari 4 juta penduduknya. Inilah awal mula apa yang dinamakan kritik-diri yang kemudian direfleksikan dalam wacana-wacana ilmiah, baik dalam fora akademis maupun literatur-literatur ilmiah lainya.

Langkah pertama yang dilakukan oleh intelektual arab adalah menjelaskan sebab-sebab kekalahan tersebut. Diantara sebab-sebab yang paling signifikan adalah masalah cara pandang orang arab kepada budaya sendiri dan kepada modernitas. Bagaimana seharusnya sikap bangsa arab dalam menghadapi tantangan modernitas dan tuntunan tradisi?

Lebih dari dua dekade masalah ini terus dibicarakan dan didiskusikan dalam seminar-seminar,dalam bentuk buku, artikel dan publikasi lainya. Masalah tradisi dan modernitas telah menjadi agenda penting untuk proyek pemikiran Arab kontemporer (Assyaukani,1998:62)

Istilah “tradisi dan modernitas” yang digunakan dalam pemikiran arab kontemporer merujuk pada istilah turats paling sering digunakan dan paling sering disebut, bahkan istilah itu kini menjadi kata kunci untuk memasukan diskursus pemikiran arab kontemporer. Secara literatur turats berarti warisan atau peninggalan yaitu berupa karya ilmiah yang ditinggalkan atau diwariskan oleh orang-orang terdahulu. Istilah tersebut merupakan produk asli wacana arab kontemporer. Istilah-istilah seperti al-adah (kebiasaan),’urf (adat) dan sunnah (etos rasul), meskipun mengandung makna tradisi, tetapi tidak mewakili apa yang dimaksud dengan istilah turats.

Modernitas, oleh bangsa arab lebih dilihat sebagai tantangan identitas kulturasi dari pada sebuah konsep budaya yang harus diterima dengan senang. Turats dinilai telah menyatu dalam kesadaran bangsa arab sejak empat belas abad lalu.

Sejauh yang menyangkut pandangan-pandangan para pemikir arab kontemporer (Pasca 1967) tentang tradisi dan modernitas, secara umum ada tiga tipologi pemikiran yang mewarnai wacana pemikiran arab kontemporer,yaitu:

Pertama, tipologi transformatik. Tipologi ini mewakili para pemikir arab yang secara radikal mengajukan proses transformasi masyarakat arab muslim dari budaya tradisional-patriarkal kepada masyarakat rasional dan ilmiah. Mereka menolak cara pandang agama dan kecenderungan mistis yang tidak berdasarkan nalar praktis, serta menganggap agama dan tradisi masa lalu sudah tidak relevan lagi dengan tuntunan zaman sekarang,dan karenanya harus ditinggalkan.

Kedua adalah tipologi reformistik. Jika pada kelompok pertama metode yang diajukan transformasi sosial, pada kelompok ini proyek-proyek yang dianggap adalah reformasi dengan penafsiran-penafsiran baru yang lebih hidup dan lebih cocok dengan tuntutan zaman. Kelompok ini dibagi dua kecenderungan, sebagai berikut.

  1. Pemikir yang menggunakan metode pendekatan rekonstruktif, yaitu tradisi dengan perspektif pembangunan kembali. Agar tradisi dalam masyarakat (agama) tetap hidup dan bisa terus diterima,maka ia harus dibangun kembali secara baru dengan kerangka modern dan persyaratan rasional.
  2. Penggunaan metode dekonstruksi. Metode dekonstruksi merupakan metode fenomena baru untuk pemikiran arab kontemporer. Para pemikir dekonstruksi terdiri dari para pemikir arab yang yang dipengaruhi oleh gerakan struktural pancasila dan beberapa tokoh post-modernisme lainya.

Kedua kecenderungan dari tipologi reformistis mempunyai tujuan dan cita-cita yang sama,yang membedakan adalah metode pendekatan dan penyampaian yang berbeda.

Ketiga adalah tipologi pemikiran ideal-totalistis. Ciri utama adalah sikap dan pandangan idealis terhadap ajaran islam yang bersifat totalistis. Proyek paradaban yang hendak mereka garap adalah menghidupkan kembali islam sebagai agama,budaya dan peradaban. Mereka menolak unsur-unsur asing yang datang dari barat,karena islam sendiri sudah cukup mencakup tatanan sosial,politik,dan ekonomi. Para pemikir yang mewakili tipologi ideal totalistis ini tidak percaya baik kepada metode transformasi maupun peristiwa yang bersifat kebetulan,tapi merupakan suatu rangkaian proses yang dilakukan secara sistematis dalam menghadapi doktrin islam dengan suatu seting sejarah. Menurut mereka yang dituntun oleh Islam adalah kembali kepada sumber asal yaitu Al-Qur’an dan Hadits.

Ketiga tipologi diatas telah meramaikan wacana pemikiran arab kontemporer. Meskipun kategori tipologi ini semacam tidak sepenuhnya mempunyai batasan,tetapi secara umum substansi setiap ide para pemikir arab dapat dijelaskan melalui salah satu tipologi tersebut.

 

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kebebasan dan keberanian dunia pemikiran Islam telah melahirkan kekayaan yang tidak ternilai dalam khazanah ilmu pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu. Proses perkembangan pemikiran muslim, terdapat dalam tiga fase. Pertama, akibat adanya pergolakan politik. Kedua, akibat ekspansi Islam. Ketiga, akibat adanya perubahan masyarakat dari masyarakat Tradisional menjadi masyarakat modern.

Adanya ekspansi umat Islam ke berbagai wilayah turut memperkaya khazanah intelektual muslim. Berbagai keilmuan Islam pun lahir sebagai bagian dari proses interaksi Islam dengan budaya-budaya lain. Hal inilah yang memicu tumbuhnya bidang keilmuan seperti:

  1. Bidang Kalam (Teologi) adalah ilmu yang mempergunakan bukti-bukti logis dalam mempertahankan akidah keimanan dan menolak pembaharu yang menyimpang dalam dogma yang dianut kaum muslimin ortodoks.Para ulama sepakat bahwa tauhid adalah dasar utama dan pertama dalam ajaran Islam.
  2. Bidang Fikih yang meliputi beberapa tokoh besar, yaitu Abu Hanifah, Malik ibn Anas, Imam Syafi’i, Ahmad ibn Hambal.
  3. Bidang Filsafat yang merupakan pendekatan mendasar menuju pada kebenaran. Diantara filosof-filosof Islam yang terkenal adalah Al Kindi, Al Farabi, Ibn Sina, Al Ghazali, Ibn Rusyd.
  4. Bidang Tasawuf yaitu mata rantai yang terdiri atas kondisi-kondisi (al-ahwal) dan maqam-maqam, yang satu sama lain saling merupakan anak tangga.

Seiring berjalannya waktu, pemikiran Islam semakin berkembang. Tahun 1967, Bangsa Arab dipaksa kalah oleh Israel. Inilah awal mula apa yang dinamakan kritik-diri yang kemudian direfleksikan dalam wacana-wacana ilmiah, baik dalam fora akademis maupun literatur-literatur ilmiah lainya. Sejauh yang menyangkut pandangan-pandangan para pemikir arab kontemporer (Pasca 1967) tentang tradisi dan modernitas, secara umum ada tiga tipologi pemikiran yang mewarnai wacana pemikiran arab kontemporer. Pertama, tipologi transformatik. Kedua adalah tipologi reformistik. Ketiga adalah tipologi pemikiran ideal-totalistis.

3.2 Saran
Watak islam sebagaimana dinyatakan dalam al-qur’an adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan itu harus dilihat pada prinsip-prinsip dasar yang terdapat pada islam yang sangat lentur dan kemampuanya untuk terbuka terhadap peradaban lain diluar islam.

Keterbukaan terhadap peradaban lain dan rasa percaya diri yang kuat terhadap kemampuan menalar merupakan kunci penting dalam melahirkan produk pemikiran. Umat islam harus berani untuk berfikir, sebagaimana ungkapan ibn hazm, ”seorang mujtahid yang salah jauh lebih baik dari pada orang yang meniru-niru walaupun kesimpulan yang mereka ambil benar.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Syamsul dkk. 1996. Spiritualisasi Islam dan Peradaban Masa Depan. Yogyakarta: Sipress
Asyyaukanie, A. Luthfi. 1994. Tipologi dan Wacana Pemikiran Arab Kontemporer dalam jurnal Paramadina Vo. I, No. 1, diakses pada 12 September 2016
Ma’arif, Ahmad Syafi’i. 2007. Pemikiran dan Peradaban Islam. Sleman : Safiria Insania Press
Nasution, Harun. 1986. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya. Jilid II. Jakarta: UII Press
Sanaky, Hujair. 2009. Bahan Kuliah Dinamika Pemikiran Dalam Islam, dalam sanaky.staff.uii.ac.id diakses pada tanggal 10 September 2016

Category: MakalahTags:
author
No Response

Leave a reply "Makalah Tentang Dinamika Pemikiran Dalam Islam"