Kisah Diangkatnya Muhammad SAW menjadi Rasulullah

0 75

Nabi Muhammad saw, dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul-awal atau 20 April 571M. Sebelum beliau dilahirkan, ayahnya telah wafat. Nabi Muhammad diasuh oleh kakeknya yang bernama Abdul Mutalib, kemudian disusui oleh Halimatus Sa’diyah. Setelah kakeknya wafat, beliau diasuh oleh pamannya yaitu Abu Talib. Salah satu dari usaha Muhammad sebelum diutus menjadi rasul ialah berniaga ke Yaman, membawa barang-barang Khadijah. Perniagaan ini menghasilkan laba yang banyak, dan menyebabkan adanya pertalian antara Muhammad dengan Khadijah. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk menikah. Pada waktu menikah, beliau berumur 25 tahun dan Khadijah berumur 40 tahun.

Setelah melalui perenungan yang lama dan kegelisahan, Rasulullah saw terhadap kaumnya, beliau memutuskan untuk untuk mengasingkan diri. Menginjak usia 40 tahun, beliau membawa roti dari gandum dan bekal air ke gua Hira’ yang terletak di Jabal Nur, yaitu sejauh hamper 2 mil dari Mekah. Gua ini merupakan gua yang indah, panjangnya 4 hasta, lebarnya 1,75 hasta dengan ukuran zira’al-Hadid (hasta ukuran besi).

Pilihan mengasingkan diri (uzlah) yang diambil oleh beliau Rasulullah saw., merupakan bagian dari kehendak Allah terhadapnya. Uzlah juga bertujuan agar kesibukan-kesibukan di muka bumi, gemerlap hidup dan nestapa-nestapa kecil yang mengusik kehidupan manusia menjadi terputus. Ada beberapa peristiwa terkait dengan diangkatnya Muhammad sebagai rasul Allah, yaitu :

1. Turunnya Wahyu

Tatkala usia beliau mencapai 40 tahun, yaitu usia yang melambangkan kematangan,  tanda-tanda nubuwah (kenabian) sudah tampak dan mengemuka. Diantara tanda-tanda kenabian yaitu adanya sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepada beliau, serta terjadinya Ar-Ru’ya as-Sadiqah (mimpi yang benar) yang datang, berupa fajar subuh yang menyingsing. Hal ini berlangsung hingga 6 bulan masa kenabian berlangsung selama 23 tahun, dan Ar-Ru’ya as-Sadiqah ini merupakan bagian dari 46 tanda kenabian. Ketika memasuki tahun ketiga dari pengasingan dirinya (uzlah) di gua Hira’, tepatnya dibulan Ramadhan, Allah memberikan kemuliaan kepada beliau, yaitu menurunkan malaikat Jibil kepadanya dengan membawa beberapa ayat Al-Qur’an. Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul pada usia 40 tahun. Pengangkatannya menjadi nabi terjadi pada tanggal 17 malam bulan Ramadhan, bertepatan denggan tanggal 6 Agustus 610 M.

Ketika beliau berada di gua Hira’ tersebut, malaikat jibril datang menghampiri sembari berkata “Bacalah!”. Namun Rasulullah tetap menjawab “Aku tidak bisa membaca”. Untuk kedua kalinya, malaikat Jibril memegang dan merengkuh nabi Muhammad hingga beliau kehabisan tenaga kemudian melepaskannya seraya berkata :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١)  خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢)  اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ (٣)  الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)

 

Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu yang Maha Pemurah. Mengajar manusia dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq96: 1-5)

Rasulullah saw pulang dengan mengingat bacaan tersebut dalam kondisi hati yang bergetar. Beliau menemui Khadijah sembari berucap “Selimuti aku! Selimuti aku!”. Beliapun diselimuti hingga rasa takutnya hilang.

Beliau bertanya kepada Khadijah “Apa yang terjadi terhadapku ini?”. Lantas beliau menceritakan pengalamannya, dan berkata “Aku amat khawatir terhadap diriku!”. Kahdijah berkata “Sekali-kali tidak akan! Demi Allah! Dia tidak akan menghinakanmu selamanya! Sungguh engkau adalah penyambung tali persaudaraan, pemikul beban orang lain yang mendapatkan kesusahan, pemberi orang, penjamu tamu serta penolong setiap upaya menegakkan kebenaran”

Kemudian Khadijah berangkat bersama beliau untuk menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, anak paman Khadijah (sepupunya). Dia (anak pamannya tersebut) adalah seorang penganut agama Nasrani pada masa jahiliah, dia bisa menulis dengan tulisan ‘Ibrani dan sempat menulis dari injil beberapa tulisan yang mampu ia tulis sebanyak apa yang dikehendaki oleh Allah dengan tulisan ‘Ibrani. Dia juga seorang yang sudah tua renta dan buta, ketika itu Khadijah berkata kepadanya “Wahai anak pamanku! Dengarkanlah (cerita) dari anak saudaramu!”. Waraqah berkata “Wahai anak laki-laki saudara (laki-laki)-ku! Apa yang engaku lihat?”

Kemudian Rasulullah saw, menceritakan pengalaman yang sudah dilihatnya. Waraqah berkata kepada Rasulullah “Sesungguhnya inilah sebagaimana ajaran yang diturunkan kepada nabi Musa! Andai saja aku masih bugar dan muda ketika itu nanti! Andai saja aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu!”. Rasulullah saw, berkata kepadanya “Benarkah mereka akan mengusirku?”. Dia menjawab “Ya! Tidak seorangpun yang membawa seperti yang ekau bawa melainkan akan dimusuhi, dan jika aku masih hidup pada saat itu niscaya aku akan membantumu dengan sekuat tenaga”. Kemudian tak berapa lama setelah pertemuan itu Waraqah meninggal dunia dan wahyupun terputus (mengalami masa stagnan). Dengan turunnya wahyu pertama itu, berarti Muhammad telah dipilih Allah sebagai rasul, dia belum diperintahkan untuk menyeru manusia kepada agama.

2. Seruan untuk berdakwah

Semenjak diterimanya wahyu pertama, Rasulullah tidak lagi mengalami peristiwa-peristiwa menakjubkan lagi pada hari-hari berikutnya. Rasulullah terus menunggu akan datang wahyu berikutnya dengan perasaan cemas. Beliau khawatir jika wahyu yang dinanti-nantikan tidak turun lagi kepada beliau. Meskipun demikian, Rasulullah senantiasa bertahan di gua Hira’. Setelah menunggu kedatangan wahyu sekian lam, akhirnya Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah saw.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah bahwasanya dia mendengar rasulullah saw, bercerita “Ketika aku tengah berjalan-jalan, tiba-tiba aku mendengar suara yang berasal dari langit, lalu aku mendongakan pandangan kea rah langit, ternyata malaikat yang dulu mendatangiku ketika di gua Hira’ duduk di atas kursi antara langit dan bumi”. Melihat hal itu aku terkejut hingga aku tersungkur ke bumi. Kemudian aku mendatangi keluargaku (riwayat lain Khadijah) sembari berkata “Selimutilah aku! Selimutilah aku!”. Maka diselimutilah oleh mereka. Dalam keadaan semacam itu, datanglah Jibril menyampaikan firman Allah kepada beliau yang artinya “Hai orang yang (berselimut), bangunlah dan berilah peringatan! Dan agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah! Jauhilah perbuatan dosa (menyembah berhala)! Dan janganlah engkau memberi (dengan maksud) karena hendak memperoleh (balasan) yang lebih banyak!. Dan hendaklah engkau sabar karena Tuhanmu!” (QS. Mudassir: 1-7).

Dengan turunya perintah itu, mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama beliau melakukannya secara diam-diam dilingkungannya sendiri, keluarga dan sahabat-sahabat beliau. Mereka diseru kepada pokok-pokok agama islam yang disebut dalam ayat-ayat diatas yaitu, bertauhid kepada Allah dan meninggalkan ilah dan berhala-berhala yang mereka sembah. Setelah itu, wahyu tetap terjaga dan datang secara teratur.

Incoming search terms:

  • ayat alquran tentang diangkatnya muhammad sebagai nabi
Category: Sejarah IslamTags:
author
No Response

Leave a reply "Kisah Diangkatnya Muhammad SAW menjadi Rasulullah"