Pentahapan Hukum Zina

Hukum Zina dalam Islam

Sebagian ahli fiqih berpendapat bahwa penetapan hukuman zina itu bertahap seperti halnya terjadi pada khamer dan pada ibadah puasa. Hukuman zina semula yaitu disuruh mencela, mencerca dan mengucilkan.

Allah berfirman :

وَاللَّذَانِ يَأْتِيَانِهَا مِنْكُمْ فَآذُوهُمَا ۖ فَإِنْ تَابَا وَأَصْلَحَا فَأَعْرِضُوا عَنْهُمَا

Artinya : ‘’Dan dua orang yang berbuat zina dikalangan kamu, maka sakitilah mereka. Maka jika mereka bertaubat dan berbuat baik, maka jauhilah mereka‘’ (QS. An-Nisa: 16)
Kemudian maju selangkah dari ini kepada penahanan dalam rumah sendiri. Allah berfirman :

وَاللَّاتِي يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ شَهِدُوا فَأَمْسِكُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ حَتَّىٰ يَتَوَفَّاهُنَّ الْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا

Artinya : ‘’Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya‘’ (QS. An-Nisa: 15)

Kemudian perkaranya jadi jelas dan Allah memberikan jalan keluar, maka ditetapkan hukuman bagi remaja berzina serratus kali dera dan bagi yang telah menikah dirajam sampai mati. Pentahapan ini adalah untuk meningkatkan keadaan moral masyarakat dan agar masyarakat memegangnya dengan perasaan kasih saying dan mau berusaha menjaga sifat sifat malu dan kesucian dan supaya manusia tidak merasa berat memikul beban perpindahan suasana dari satu hukum kepada hukum baru. Dan supaya mereka tidak merasa keberatan mengikuti agama islam. Menurut para ahli fiqih ini beralasan dengan hadits ubadah bin Shamit, bahwa Rasulullah saw, bersabda :

خُذُوا عَنِّي خُذُوا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ

Artinya : zinanya seorang gadis dgn jejaka hukumannya adl seratus kali cambuk & diasingkan selama satu tahun, & zinanya seorang janda dgn seorang duda hukumannya adl seratus kali cambuk dan rajam. (HR Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Tetapi para ahli fiqih juga berpendapat, bahwa lahir dari kedua ayat diatas (An-Nisa 15-16) mengenai masalah perempuan lesbian dan laki-laki homo. Hukum perbuatan mereka berbeda dengan hukum zina yang ditetapkan dalam surah An-Nur, yaitu :

1. Perempuan perempuan yang berbuat keji, seperti lesbian, yaitu perempuan bersenggama dengan perempuan. Maka hadirkanlah empat orang saksi laki-laki yang menyaksikan perbuatan mereka. Jadi jika mereka ini menyaksikan benar-benar, maka kurunglah mereka dalam rumah, yaitu dengan menempatkan perempuan tadi seorang diri dalam rumah jauh dari teman lesbianny, sehingga datang ajalnya atau Allah berikan jalan keluar dari keadaan tersebut kepada taubat atau menikah, sehingga tidak berbuat lesbian lagi.

2. Dua laki-laki homo yaitu laki-laki yang bersenggama dengan laki-laki. Maka sakitilah mereka setelah terbukti perbuatan mereka oleh para saksi mata juga. Jika mereka bertaubat sebelum disakiti, yaitu dijatuhi hukuman had, maka kalua mereka menyesal dan mau memperbaiki diri kesalahan mereka dan membersihkan tingkah laku mereka, hendaklah mereka kamu lepaskan dari hukuman had yang sedianya dijatuhkan kepada mereka.

Tags:

Rate this article!

Pentahapan Hukum Zina,0 / 5 ( 0votes )
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply