Hukum Kredit Barang Dalam Islam

0 2

Hadisriwayat - Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan sistem ekonomi pada masa moderen ini sudah berkembang sangat pesat. Beragam sistem perekonomian perekonomian ditawarkan oleh banyak niagawan dengan tujuan untuk menggait pelanggan atau konsumen. Sebagai seorang niagawan muslim sejati maka harus cerdik dalam menganalisa fenomena yang ada dalam perkembangan ekonomi pada saat ini, agar  tidak terjerumus pada akidah yang sesat seperti riba.

Hukum Kredit Barang Dalam Islam

ilustrasi pembayaran jual beli menggunakan alat pembayaran

Islam sudah mengatur segala hukum dan urusan didalam dunia dan akhirat untuk terciptanya kemaslahatan umat. Diantaranya yaitu sistem ekonomi terkait hukum kredit barang dalam islam. Pengertian kredit sendiri merupakan suatu sistem pembayaran non tunai (tidak tunai) dengan sifat angsuran.

Hukum Kredit Barang Dalam Islam

Secara garis besar sebenarnya sistem kredit barang dalam islam diperbolehkan oleh syariat. Hal ini didasarkan dari beberapa dalil, diantaranya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai (kredit) untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. (QS. Al-Baqarah: 282)

Ayat diatas merupakan dalil bolehnya akad hutang-piutang, sddangkan akad kredit merupakan suatu bentuk hutang-piutang, sehingga ayat diatas dapat di jadikan dasar bolehnya suatu akad jual beli kredit. Bahkan dalam suatu hadits, Rasulullah juga pernah membeli bahan makanan dengan sistem dihutang.

اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيئَةٍ، وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ

Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membeli sebagian bahan makanan terhadap seorang yahudi dengan pembayaran dihutang dan beliau juga menggadaikan perisai kepadanya.” (HR. Bukhari:2096 dan Muslim: 1603)

Hukum Kredit Barang Dalam Islam

Walaupun hukum kredit barang dalam islam diperbolehkan, akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankannya, diataranya adalah:

Obyek jual beli bukan komoditi ribawi yang sejenis dengan alat tukar

Sebagian besar ulam telah membagi komoditi ribawi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama adalah kategori barang yang menjadi alat ukur atau standar harga seperti uang, perak, emas dan lainnya. Sedangkan unruk kelompok kedua adalah kategori bahan makanan yang mempunyai daya tahan lama seperti beras, gandum, kurma dan lainnya.

Hal yang harus diketahui tekait akad barter atau jual beli antara dua komoditi ribawi yang masih dalam satu kelompok (misalkan uang dengan emas, atau kurma dengan gandum) harus dilakukan secara tunai. Artinya tidak boleh ada kredit didalamnya agar terhindar dari praktik riba nasi'ah.. Dasar hukumnya termaktub dalam hadis Nabi Shallallahu'alaihi wasallam,

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ رباً إلا مِثْلًا بِمِثْلٍ ويَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَد

Artinya: “Menukarkan emas dengan emas, perak dengan perak, gandum burr dengan gandum burr, gandum sya’ir dengan gandum sya’ir, kurma dengan kurma dan garam dengan garam adalah termasuk akad riba, kecuali dengan dua syarat: sama ukuran atau kadarnya dan dilakukan secara tunai. Tetapi, jika jenisnya berbeda (masih dalam satu kelompok maka tukarkanlah dengan syarat bahwa harus diserahkan secara tunai" (HR. Muslim)

Hindari penundaan serah terima barang

Dalam akad kredit tidak diperbolehkan adanya penundaan serah terima barang karena hal itu adalah praktik jual beli hutang dengan hutang. Artinya, dalam konteks ini barang masih dalam tanggungan penjual dan uang juga masih berada dalam tanggungan pembeli. Hal ini sudah disepakati oleh para ulama merupakan praktik jual beli dain bid dain yang sudah dinukilkan oleh Ibnu Qudamah dalam kitabnya, Al-Mughni.

Diriwatkan dalam sebuah hadist dari Ibnu Umar bahwasanya, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wassallam melarang praktik jual beli hutang dengan piutan" (HR. Hakim: 2343).

Imam Al-Hakim menilai hadis ini sebagai hadis yang shahih, akan tetapi sebagian besar ulama menilai hadis ini sebagai hadis yang lemah untuk dijadikan dalil. Walaupun demikian mereka sepakat untuk menerima isi maknanya.

Harga Ganda Hukum Kredit Barang Dalam Islam

Harga ganda merupakan hal yang sangat penting yang perlu kita ketahui dalam akad jual beli kredit. Sebagai contoh ilustrasi yaitu ketika seorang penjual menawarkan suatu barang dagangannya kepada para pembeli dengan beberapa variasi penawaran harga. Jika pembeli membayar secara konstan (tunai) maka harganya lebih kecil (1 juta misalnya), akan tetapi jika dibayar secara kredit maka harganya akan naik dua kali lipat (2 juta misalnya). Kenyatan praktik semacam inilah yang berkembang dalam sistem jual beli kredit. Maka dari itu sangat penting bagi kita untuk mengetahui ilmu pengetahuan terkait syariat sistem perniagaan seperti ini

Banyak perbedaan pendapat ulama dalam menyikapi transaksi seperti ini. Sebagian besar ulama membolehkahkan praktik jual beli seperti ini dengan catatan sudah erjadi kesepakatan harga antara penjual dan pembeli. Arrtinya pembeli sudah mengetahui pilihan harga dan pihak penjual sudah menyepakati hal itu. Pendapat ini berdasarkan kaidah mu'amallah bahwa hukum asal setiap perniagaan adalah halal. Sebagaimana yang sudah ditegaskan dalam firman Allah Ta'ala,

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya: Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS. Al-Baqarah: 275)

Dan sebagian ulama juga berpendapat bahwa akad jual beli seperti ini tidak boleh. Pendapat ini didukung oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radiyallahu'anhu,

نَهَى النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dua transaksi dalam satu jual beli.” (HR. Tirmidzi: 3/1290 dan Nasai: 7/296)

Pendapat inilah yang kemudian dipegang oleh Imam An Nasa’i. Beliau membuat sebuah judul bab “Transaksi Ganda dalam jual beli” (بيعتين في بيعة) kemudian beliau mengatakan, “Yaitu perkataan seseorang, ‘saya jual dagangan ini seharga seratus dirham secara tunai, dan dua ratus dirham secara kredit.”

 

Category: Hukum IslamTags:
author
No Response

Leave a reply "Hukum Kredit Barang Dalam Islam"