Nifas Dalam Islam: Fiqih Wanita

0 5

HUKUM ISLAM TENTANG WANITA HAID/NIFAS

Nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan perempuan yang disebabkan melahirkan anak, walaupun hanya diakibatkan keguguran. Tidak terdapat waktu minimum dalam masalah nifas, hingga demikian ia bisa terjadi dalam waktu sekejap. Oleh sebab, itu jika seorang perempuan melahirkan dan darahnya terhenti tidak lama setelah bersalin, atau ia melahirkan tanpa berdarah, maka dengan demikian berarti masa nifasnya sudah berakhiri dan ia harus melakukan hal-hal yang harus dikerjakan oleh perempuan-perempuan suci seperti shalat, puasa, dan lain-lain.

Batas maksimum nifas ialah empat puluh hari, berdasarkan hadits Ummu Salamah r.a.,

“Pada masa Rasulullah saw, perempuan-perempuan yang sedang dalam keadaan nifas tidak melaksanakan aktivitas-aktivitas ibadah selama empat puluh hari.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, kecuali Nasa’i)

Setelah menyebutkan hadits ini, Tirmidzi mengatakan bahwa para sahabat Nabi saw, tabi’in dan generasi mereka berijma’ bahwa perempuan-perempuan yang sedang nifas itu harus menghentikan shalat mereka selam empat puluh hari, kecuali jika ia sudah bersuci sebelum waktu tersebut, maka ketika itu hendaklah mereka mandi dan shalat. Jika darah masih terlihat setelah masa empat puluh hari, maka kebanyakan ulama berpendapat bahwa mereka tidak boleh meninggalkan shalat setelah lewat empat puluh hari.

Ketika dalam masa ini ada hal-hal yang terlarang bagi perempuan yang mengalami haid dan nifas. Perempuan-perempuan haid dan nifas sama kedudukan hukumannya dengan orang junub. Dengan kata lain, setiap perkara yang dilarang kepada orang junub, maka ia juga diberlakukan kepada perempuan haid dan nifas. Disamping itu, masing-masing dari ketiga golongan ini dikategorikan orang berhadats besar. Selain larang tersebut, terdapat beberapa terhadap perempuan yang sedang haid dan nifas, yaitu sebagai berikut:

Puasa

perempuan haid dan nifas tidak dibolehkan berpuasa. Jika mereka bersikeras untuk berpuasa juga, maka puasanya tidak sah atau batal, dan mereka wajib mengqadha’ puasa bulan Ramadhan selam hari-hari haid dan nifas tersebut. Hal ini berbeda dengan pelaksanaan shalat yang tidak wajib diqadha’ dengan maksud menghindarkan kesulitan. Karena, shalat dikerjakan secara berulang-ulang dan tidak demikian halnya berpuasa. Hal itu berpedoman pada hadits Abu Sa’id al-Khudri r.a.,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ((يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الْاِسْتِغْفَارَ ، فَإِنِّـيْ رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ ، فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَـةٌ : وَمَا لَنَا ، يَا رَسُوْلَ اللهِ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ ؟ قَالَ : تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ،وَمَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَغْلَبَ لِذِيْ لُبٍّ مِنْكُنَّ. قَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّيْنِ؟ قَالَ: أَمَّا نُقْصَانُ الْعَقْلِ فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ، فَهٰذَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ، وَتَمْكُثُ اللَّيَالِي مَا تُصَلِّي وَتُفْطِرُ فِيْ رَمَضَانَ فَهٰذَا نُقْصَانُ الدِّيْنِ

Artinya: Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma , Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah beristighfar (mohon ampun kepada Allâh) karena sungguh aku melihat kalian sebagai penghuni neraka yang paling banyak.” Berkatalah seorang wanita yang cerdas di antara mereka, ‘Mengapa kami sebagai penghuni neraka yang paling banyak, wahai Rasûlullâh?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Karena kalian sering melaknat dan sering mengingkari kebaikan suami. Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang lebih mampu mengalahkan laki-laki yang berakal dibandingkan kalian.’Wanita tersebut berkata lagi, ‘Wahai Rasûlullâh, apa (yang dimaksud dengan) kurang akal dan agama?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Kurang akal karena persaksian dua orang wanita setara dengan persaksian satu orang laki-laki, inilah makna kekurangan akal. Dan seorang wanita berdiam diri selama beberapa malam dengan tidak shalat dan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan (karena haidh), inilah makna kekurangan dalam agama. (HR Bukhari dan Muslim)

Mu’adzah r.a. berkata:

عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسْأَلُ قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ -- رواه مسلم

Artinya: Dari Mu’adzah ia berkata, saya pernah bertanya kepad A’isyah ra kemudian aku berkata kepadanya, bagaimana orang yang haid itu harus meng-qadla` puasa tetapi tidak wajib meng-qadla` shalat. Lantas ia (‘Aisyah ra) bertanya kepadaku, apakah kamu termasuk orang haruriyyah? Aku pun menjawab, aku bukan orang haruriyyah tetapi aku hanya bertanya. ‘Aisyah pun lantas berkata, bahwa hal itu (haid) kami alami kemudian kami diperintahkan untuk meng-qadla` puasa tetapi tidak diperintahkan untuk meng-qadla` shalat”. (HR. Muslim)

Bersenggama

Hal ini diharamkan berdasarkan ijma’ kaum muslimin, dalil Al-Qur’an dan dalil Sunnah. Oleh sebab itu, tidak boleh menyetubuhi istri yang sedang haid dan ketika dalam keadaan nifas hingga mereka suci karena hadits Anas r.a.,

“Dari Anas r.a., Apabila perempuan Yahudi sedang haid maka suami mereka tidak mau makan bersamanya dan tidak pula menyetubuhinya. Para sahabatpun bertanya kepada Nabi saw mengenai keadaan yang demikian. Kemudian Allah swt menurunkan ayat Al-Baqarah: 222

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah: 222)

Kemudian Rasulullah saw mengulas ayat tersebut, ‘Lakukanlah segala sesuatu ketika istri haid, kecuali bersetubuh dengannya!’ dan menurut riwayat lainnya,’kecuali bersenggama!’”

Menurut Sayyid Sabiq hal itu diharamkan atas ijma’ kaum muslimin berdasarkan keterangan nyata dari kitab dan sunnah. Imam Nawawi sebagaimana dikutip oleh Sayyid Sabiq mengatakan:

قَالَ النَّوَاوِى: وَلَوْ اعْتَقَدَ مُسْلِمٌ حَلَّ جِمَاعُ الحَائِضِ فِى فَرْجِهَا صَارَ كَافِرًا مُرْتَدًا وَلَوْ فَعَلَهُ غَيْرَ مُعْتَقِدٍ حَالُهُ لِأَنَّهُ نَاسِيًا اَوْ عَدَمُ مَعْرِفَتِهِ عَلَى حَرَامِهِ اَوْ وُجُودُ الْحَيْضِ فَلاَ اِثْمَ عَلَيْهِ وَلاَ كَفَارَةٌ وَاِنْ فَعَلَهُ عَامِدًا عَالِمًا بِالْحَيْضِ وَالتَّحْرِيْمِ وَمُخْتَارًا فَقَدْ ارْتَكَبَ مَعْصِيَةً كَبٍيْرَةً يَجِبُ عَلَيْهِ التَّوْبَةَ مِنْهَا

Artinya: “Seandainya seorang muslim mempunyai keyakinan bahwa memcampuri perempuan haid pada kemaluannya itu adalah halal, maka berarti ia telah menjadi kafir dan murtad. Andai kata ia melakukan demikian tanpa meyakini halalnya, baik disebabkan karena lupa atau tidak mengetahui bahwa itu haram atau tidak mengetahui adanya haid, maka ia tidaklah berdosa dan tidak wajib membayar denda atau kifarat. Namun jika melakukan itu secara sengaja dan tanpa dipaksa, dengan mengetahui adanya haid serta hukumnya yang haram, maka ia telah melakukan maksiat atau dosa besar, karenanya ia harus bertaubat.”

Terdapat perselisihan pendapat dikalangan ulama mengenai kewajiban membayar kafarat yang disebabkan karena menyetubuhi istri ketika haid. Akan tetapi, pendapat yang terkuatadalah tidak wajib membayarnya. Kemudian katanya lagi, “menikmati anggota tubuh istri yang sedang haid, tetapi pada bagian atas pusat dan dibawah lutut adalah dibolehkan, berdasarkan ijma’. Sedang menikmati anggota tubuh yang terletak diantara pusat dan lutut, tetapi bukan pada kemaluan atau pinggulnya, maka menurut sebagian besar ulama hukumnya haram. Oleh karena itu, Nawawi menyetujui halal melakukan perbuatan demikian, walaupun ia dimakruhkan karena inilah alasan yang lebih kuat

Adapun dalil yang disebutkan Nawawi adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari istri-istri Nabi saw.,
“Apabila Nabi saw menginginkan sesuatu dari istrinya yang sedang haid, maka beliau menutupkan sesuatu pada kemaluan istrinya itu.” (HR Abu DAwud, menurut al-Hafizh sanadnya kuat)

Masruq Ibnul Ajda’ berkata,
Saya bertanya kepada Aisyah:Apa yang boleh dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap istrinya yang sedang haid? Ia menjawab: Apa saja boleh kecuali farjinya (kemaluannya)” (H.R.Bukhari, didalam tarikhnya)

Category: Fiqih SunnahTags:
author
No Response

Leave a reply "Nifas Dalam Islam: Fiqih Wanita"