Gerakan Gerakan Modernisme Islam di Indonesia dan Gagasan Mendirikan Perguruan Tinggi Islam

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan Islam yang ada di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perkembangan Islam di belahan bumi lain. Membaca Islam yang di Indonesia rasanya cukup penting. Sebab, dari hasil pembacaan itu kita sebagai umat Islam dapat mengetahui akan bagaimana perkembangan Islam di indonesia setelah Islam mengalami beberapa fase perubahan dari waktu ke waktu. Kajian Islam di dunia kontemporer pada umumnya berkonsentrasi pada subjek materi tentang tipe-tipe gerakan modernisasi yang beragam atau disebut-sebut sebagai fundamentalisme, pada saat yang sama kaum muslimin terus menjalani hidup di dunia tradisi meskipun adanya beberapa serangan terhadap pandangan tradisional di era modern.

Untuk memahami Islam dewasa ini, pada langkah pertama sebelum yang lainnya adalah penting untuk memiliki kesadaran akan sejarah agama-agama lain yang tidak mengikuti satu alur yang sama. Pembahuruan dalam islam atau gerakan modern islam merupakan jawaban yang ditujukan terhadap krisis yang dihadapi umat islam pada masanya.Dengan kemunduran islam pada zaman modern inilah menggugah pemakalah untuk menyingkap bagaimana sebenarnya perkembangan islam di Indonesia pada masa modern.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah sejarah gerakan modernisasi Islam di Indonesia?
  2. Siapakah tokoh-tokoh gerakan modernisasi Islam?
  3. Apakah pengaruh gerakan modernisasi Islam terhadap di Indonesia?
  4. Bagaimana sejarah berdirinya perguruan tinggi Islam di Indonesia?
  5. Bagaimana gagasan mendirikan perguruan tinggi Islam di Indonesia?

1.3 Tujuan

  1. Mengetahui sejarah gerakan modernisme Islam di Indonesia.
  2. Mengetahui tokoh-tokoh gerakan modernisme Islam.
  3. Mengetahui pengaruh gerakan modernisme Islam terhadap Indonesia.
  4. Mengetahui sejarah berdirinya perguruan tinggi Islam di Indonesia.
  5. Mengetahui gagasan mendirikan perguruan tinggi Islam.

 

BAB II
ISI PEMBAHASAN

2.1 Gerakan-gerakan Modernisme Islam di Indonesia

Gerakan modernisasi atau gerakan reformasi, adalah gerakan yang dilakukan untuk menyesuaikan paham-paham keagamaan Islam dalam perkembangan baru yang diakibatkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan tenologi modern. Dengan pembaharuan itu pemimpin Islam berharap agar umat Islam terbebas dari ketertinggalan, bahkan dapat mencapai kemajuan yang setara dengan bangsa-bangsa lain.

Gerakan pembaharuan di wilayah Melayu – Indonesia sudah dimulai pada abad ke-17. Gerakan ini dimotori oleh tiga ulama besar yaitu Nuruddin ar-Raniri (w. 21 September 1658), Abdur Rauf Singkel (1615-1693), dan Muhammad Yusuf al-Makassari (1627-1699). Tema pokok pembaharuan mereka adalah kembali kepada ortodoksi Suni. Cirinya yang paling menonjol adalah keselarasan antara syariat dan tasawuf. Upaya pembaharuan ini selain dipengaruhi oleh perkembangan di Timur Tengah, jelas lahir sebagai respon internal terhadap kondisi keagamaan yang merajalela dikalangan kaum muslimin sendiri.

Gerakan Revivalisme yang muncul di akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 biasa dikenal dengan tajdid adalah suatu proses yang dengannya komunitas muslim (ummah) menghidupkan kembali kerangka social, moral, dan agama dengan kembali kepada dasar-dasar Islam, yakni al-Quran dan al-Sunnah. Tokoh yang masuk dalam kelompok ini adalah al-Ghazali , Ibn Taymiyah , Ahmad Sirhindi , Syah Wali Allah Dihlawi di India, dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab di Arab Saudi, Muhammad Ibn Ali al-Syaukani  di Yaman, Sayyid Ahmad dari Rae Bareli di India, Hajj Syariat Allah di Bengal , Muhammad Ibn Ali al-Sanusi  di Afrika Utara dan Fulaniyah di Afrika Barat. Gerakan Revivalis memusatkan diri pada: Kepedulian yang sangat terhadap kebobrokan social dan masyarakat muslim. Seruan untuk kembali ke dalam Islam yang murni dan membuang tahyul yang ditanamkan oleh bentuk-bentuk sufisme popular. Usaha-usaha untuk membebaskan diri dari ide kemapanan dan finalitas mazhab-mazhab fiqhi dan usaha-usaha untuk melaksanakan ijtihad, yaitu memikir ulang secara pribadi mengenai makna risalah yang murni.

Gerakan Modernis yang muncul pada akhir abad ke-19 menyerukan dilakukannya upaya-upaya baru ijtihad, untuk menggali prinsip-prinsip dari al-Quran dan al-Sunnah otentik dan untuk merumuskan hukum-hukum yang diperlukan berdasar pada prinsip-prinsip tersebut. Mereka melihat al-Quran sebagai suatu respon terhadap situasi historis yang meliputi, untuk bagian terbesar ajaran-ajaran moral keagamaan dan social dalam menjawab masalah-masalah tertentu yang dihadapi dalam situasi histories yang nyata. Gerakan Modernis juga menyerukan hal-hal berikut:

  1. Penggunaan sunnah secara selektif
  2. Penerapan pemikiran orisinil yang sistematis tanpa klaim finalitas
  3. Pembedaan yang harus dibuat antara syaiat dan fiqhi
  4. Penghindaran terhadap sektarianisme
  5. Perujukan kembali kepada metodologi yang khas tetapi tidak melulu kepada fiqhi dan solusi mazhab klasik, baik yang telah punah maupun yang masih ada.

Bermula dari pembaruan pemikiran dan pendidikan Islam di Minangkabau, yang disusul oleh pembaruan pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat Arab di Indonesia, kebangkitan Islam semakin berkembang membentuk organisasi-organisasi sosial keagamaan seperti serikat dagang Islam (SDI) di Bogor (1909) dan Solo (1911), Perserikatan Ulama di Majalengka, Jawa Barat dan Solo (1911), Muhammadiyah di Yogyakarta (1912), Persatuan Islam (Persis) di Bandung (1920-an), Nadlatul Ulama (NU) di Surabaya (1926), dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) di Bandung, Bukittinggi (1930); dan Partai-partai politik, seperti serikat Islam (SI) yang merupakan kelanjutan dari SDI, persatuan Muslimin Indonesia (Permi) di Padang panjang (1932) yang merupakan kelanjutan dan perluasan dari organisasi pendidikan Thawalib, dan Partai Islam Indonesia (PII) pada tahun 1938.

2.2 Tokoh-tokoh gerakan modernisme Islam

Pada abad ke-18 dan awal abad ke-19 dunia islam berada pada situasi yang sangat kritis. Hampir semua kekuasaan islam jatuh ketangan penjajah. Pada abad ke-19 lahirlah para pembaharu, diantaranya sebagai berikut:

  1. Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1787). Ia menganut aliran Salafiyah. Muhammab bin Abdul Wahab menamakan gerakannya, “Gerakan Muwahidin yaitu gerakan yang bertujuan untuk mensucikan dan meng-Esakan Allah dengan semurni-urninya yang mudah, gampang dipahami, dan diamalkan persis seperti Islam pada masa permulaan sejarahnya.
  2. Syekh Waliyullah (1703-1762). Beliau mengadakan gerakan di India menentang system pemerintahan yang ada yang mana diangggap menyebabkan kemunduran Umat Islam. Adapun hasil karyanya yang terkenal ialah Khujjatul balighah.
  3. Sutan Manmud II (1785-1839) Salah satu sultan Usmani dengan usahanya ialah: membubarkan tentara jennissari yang terlalu ikut campur dalam pemerintahan, menetapkan system demokrasi dalam pemerintahannya, menghapus pengkultusan terhadap sultan, menghapus hukuman mati tanpa prosedur pengadilan, mengadakan pembaharuan pendidikan dengan memasukkan pendidikan umum di Madrasah mendirikan sekolah Mektebi Ma’arif untuk calon ahli administrasi, mendirikan sekolah kedokteran, militer dan teknik
  4. Muhammad Ali Pasha (1765-1849) Beliau dilahirkan di Mesir. Adapun usahanya ialah:
    > Dalam bidang militer, beliau mendirikan sekolah militer dengan mengambil guru Perancis.
    > Dalam bidang pendidikan dengan mendirikan berbagai sekolah.
    > Dalam bidang ekonomi membuat irigasi pertanian dll.
  5. At- Tahtawi (1801-1873). Adapun karya-karyanya yang terkenal ialah sebagai berikut: Tahlisul Ibriz fi Tahlisil Bariz (berisi tentang kemajuan Barat), Manahijul Babil Misriyyah fi manhijil Adabil Ashriyah (berisi tentang pentingnya ekonomi). Sedangkan ide-idenya ialah: Ajaran islam tidak hanya mementingkan akhirat, yaitu : kekuasaan absolut raja harus dibatasi, syari’at harus diartikan sesuai dengan perkembangan zaman modern, kaum ulama’ harus mempelajari filsafat dan ilmi-ilmu modern, pendidikan harus bersifat universal, umat islam harus dinamis tidak statis
  6. Jamaluddin Al Afghani (1839-1897 M). Beliau dikenal sebagai Bapak Pan Islamisme dan pendiri organisasi al-Urwatul Wutsqo. Diantara ide-idenya: mengembalikan kejayaan islam masa lalu dengan kembali kepada ajaran islam yang murni, pemerintah harus dikembalikan ke system demokrasi, kepala negara harus tunduk kepada undang-undang, mempersatukan kembali umat islam yang terpecah karena politik, tidak ada pemisah antara agama dan politik, Pan Islamisme (rasa solidaritas umat islam) harus dihidupkan kembali
  7. Muhammad Abduh (1849-1905 M). Beliau lahir di Mesir dengan ide pembaharuan sebagai berikut: penghapusan faham jumud,
    pembukaan pintu ijtihad, penghargaan terhadap akal, kekuasaan negara harus dibatasi dengan konstitusi, modernisasi sistem pendidikan Islam di al Azhar
  8. Muhammad Rasyid Ridla (1865-1935M). Ia lahir di al Qalamun pesisir laut Tengah dengan idenya adalah: menumbuhkan sifat aktif dan dinamis dikalangan umat islam, meninggalkan sifat fanatisme, akal dapat dipengaruhi untuk menafsirkan al-Qur’an dan Hadits, umat islam harus menguasai sains dan teknologi, kemunduran umat islam disebabkan banyaknya bid’ah dan khufarat.
  9. Sayyid Ahmad Khan (1817-1898). Dalam mewujudkan cita-citanya beliau mendirikan sekolah yang beranama Muhammaden Anglo Oriental Collage (MAOC) dan Perguruan Tinggi Islam Aligarh. Diantara ide- idenya ialah sebagai berikut:, kemunduran umat islam karena tidak mengikuti perkembangan dan tidak menguasai sains, alam selalu beredar sesuai dengan hukum alam yang telah ditentukan oleh Tuhan, sumber ajaran Islam hanya Qur’an dan Hadits dan ia sangat menentang taqlid.
  10. Muhammad Iqbal. Ia meneriakkan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menurut keyakinannya akan mendinamisasikan pergerakan Islam dan menjamin kemenangannya. Ia pula yang mencita-citakan Negara bagi umat Islam India, yang terwujud dengan berdirinya Negara Pakistan. Negara ini mendasarkan Islam sebagai sumber dari segala hukum dan perundang-undangan. Dari hasil ceramahnya dikumpulkan dalam buku The Reconstruction of Religius Thought in Islam (membangun kembali pemikiran islam).
  11. Pengaruh gerakan modernisme Islam di indonesia
  12. Bentuk- Bentuk Gerakan Modernisasi:
  • Gerakan Puritanisme yaitu gerakan yang menamakan dirinya pemurnian ajaran islam. Pendiri gerakan ini ialah Muammad bin Abdul Wahab yang mendirikan aliran Wahabiyah. Gerakan ini kemudian dilanjutkan oleh KH Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah.
  • Gerakan Reformisme: gerakan yang dilakukan untuk mengembalikan kepada dasar islam yang murni
  • Gerakan Revivalisme: gerakan yang berusaha mmbangkitakn kmbali ajaran islam murni
  • Gerakan Radikalisme: salah satu cara untuk pembaharuan Islam
  • Gerakan Neo-Sufisme: gerakan pembahruan kelompok tarekat ata tasawuf. Dalam bentuk ajaran yang disebut Aktifisme.
  • Gerakan Pan- Islame yang dipimpin oleh Jamaluddin al Al-Afghani dan Muhammad Abduh membuahkan berdirinya perkumpulan-perkumpulan organisasi Islam baik besar maupun kecil. Para tokoh-tokoh Islam pergerakan mulai menyadari bentuk perjuangan dalam menentang imperialisme Belanda . Diantara gerakan-gerakan yang lahir di Indonesia yang diilhami oleh kedua pemikiran tokoh tersebut diatas diantara adalah , Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nahdotul Ulama, Al Washliyah dll. Pertumbuhan dan perkembangan organisasi-organisasi.
  1. Kebangkitan Umat Islam Indonesia untuk Mengusir penjajah pada abad ke- 19M lahirlah kebangkitan dunia islam dan pada abad ke-20 M di Indonesia lahir berbagai organisasi islam diantaranya:
  • HOS Cokro Aminoto dan Sarekat Islam ( SI ). Sejarah telah mencatat dengan jelas bagaimana perlakuan yang sangat tidak proporsional yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap rakyat Indonesia. Rasanya ketidakadilan itu mengakibatkan kesengsaraan bagi rakyat Indonesia , terutama umat Islam Indonesia, mereka telah memiliki kesadaran yang tinggi tentang adanya ketidakadilan, tentang posisinya yang tercampak dan tersingkir.

    Maka muncullah beberapa gerakan untuk menegakkan hak-hak rakyat dari penindasan colonial ( penolakan diskriminatif ) yang ada agar merdeka dalam segala aspek kehidupan . Organisasi itu diantaranya adalah Sarekat Islam ( untuk selanjutnya ditulis SI ). SI adalah organisasi kemasyarakatan sebagai kelanjutan dari Sarekat Dagang Islam yang didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh HOS. Tjokro Aminoto. Sebagai salah satu pendiri SI dia juga termasuk pahlawan Nasional dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari kolonialisme Belanda.

    Dalam sejarahnya SI sebagai organisasi sosial kemasyarakatan mampu melaksanakan peranannya yang sangat urgen pada saat itu, yakni sebagai penggerak utama dalam bidang politik praktis maupun dalam bidang ekonomi rakyat. Perkembangan SI dapat dibagi kedalam empat periode, masa pembentukan corak ( 1912), masa puncak (1916-1921), masa konsolidasi ( 1921-1927 ), dan masa mempertahankan eksistensi dalam forum politik Indonesia ( 1927-1942). Pada awal abad 20 terjadi perubahan gerak SI dari yang dominan bercirikan ratu adil kearah lebih mengembangkan kemampuan intelektual lewat pendidikan.

  • Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan ( 1868 – 1923 ) adalah pendiri Jam’iyah Muhammadiyah pada 12 Nopember 1912. Sejak kecil ia telah didik oleh orang tuanya dalam lingkungan pesantren, karena orang tuanya adalah ( K.H. Abu Bakar ) adalah Khatib Masjid Agung Yogyakarta ( Kasultanan).

    Disamping itu pola pikirnya tentang pembaharuan banyak dipengaruhi oleh pendidikan yang diperolehnya ketika belajar dan bermukim di makkah selama 5 tahun, disana ia banyak membaca tulisan-tulisan Jamaluddin Al-Aghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho. Pada tahun 1902, untuk yang kedua kalinya Dia pergi ke Makkah dan menetap disana selama 2 tahun, dan pada saat itu sempat bertemu dan berkenalan langsung dengan Ulama yang dikagumi yaitu Rasyid Ridha. Pertemuan ini sangat mengesankan dan membakar perjuangannya. K.H. Ahmad Dahlan mendirikan perkumpulan Muhammadiyah, bertujuan menghidupkan kembali ajaran Islam yang murni dan Asli serta menuruti kemauan ajaran islam, Islam sebagai way of life, baik dalam kehidupan individu maupun masyarakat.

    Orgamisasi ini merupakan lembaga sosial dan kegamaan yang serupa halnya dengan gerakan pembaharuan di Mesir. Usaha-usaha yang dilakukan oleh Muhammadiyah meliputi:

  1. Memurnikan ajaran Islam dengan membersihkan praktek serta pengaruh yang bukan dari ajaran Islam.
  2. Reformasi ajaran dan pendidikan Islam.
  3. Mempertahankan islam dari pengaruh dan serangan dari luar. Nahdhatul Ulama NU didirikan pada tahun 1926, diantara pendirinya adalah KH. Abdul Wahab dan KH. Hasyim Asy’Ari, tujuan organisasi ini adalah berusaha mengembalikan dan mengikuti salah satu madhab yang empat ( Maliki, Hanafi, Syafi,i, dan Hambali) dalam ajaran Islam. Menegakkan syariat Islam serta mengusahakan berlakunya hukum Islam dalam hidup dan kehidupan masyarakat.

    2.3 Usaha-usaha yang dilakukan oleh Nahdhatul Ulama meliputi :

  1. Menyiarkan agama dengan tabligh, kursus-kursus dan penerbitan. b. Mengiatkan amar makruf nahi mungkar dengan sebaik-baiknya.
  2. Mendirikan dan mempertinggi mutu pendidikan dan pengajaran.
  3. Mempererat hubungan antara ulama dan masyarakat.

Dalam masa itu tumbuh pula organisasi-organisasi diluar jawa, seperti: Thawalib ( 1907) dan PERTI di Sumatera Barat, di Tapanuli ada Persatuan Muslim Tapanuli, di Kalimantan Selatan Musyawaratut Thalibin, di Medan ada Jam’iyah Al Washilah ( 1930 ) di Aceh ada Persatuan Ulama Seluruh Aceh ( PUSA ). Dalam perkembangan selanjutnya Organisasi Islam ini berusaha untuk mempersatukan diri. Usaha pembentukan untuk mempersatukan Umat Islam dibentuklah Majelis Islam A’la Indonesia ( MIAI ) sebagai gabungan organisasi-organisasi Islam sudah 10 kali melakukan konggres sejak 1921-1938. Organisasi ini diprakasai oleh KH. Mas Mansur. Dalam masa penjajahan Jepang MIAI dan organisasi lainya di Indonesia di bubarkan, tetapi akhirnya MIAI menjelma menjadi Masyumi.

  1. Gagasan Mendirikan Perguruan Tinggi Islam
  2. Sejarah berdirinya perguruan tinggi islam di Indonesia

Pendirian lembaga pendidikan tinggi Islam sudah dirintis sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda,dimana Dr. Satiman Wirjosandjoyo pernah mengemukakan pentingnya keberadaan lembaga pendidikan tinggi Islam untuk mengangkat harga diri kaum Muslim di Hindia Belanda yang terjajah itu.

Gagasan tersebut akhirnya terwujud pada tanggal 8 Juli 1945 ketika Sekolah Tinggi Islam (STI) berdiri di Jakarta di bawah pimpinan Prof. Abdul Kahar Muzakkir, sebagai realisasi kerja yayasan Badan Pengurus Sekolah Tinggi Islam yang dipimpin oleh Drs. Mohammad Hatta sebagai ketua dan M. Natsir sebagai sekretaris. Ketika masa revolusi kemerdekaan,STI ikut Pemerintah Pusat Republik Indonesia hijrah ke Yogyakarta dan pada tanggal 10 April 1946 dapat dibuka kembali di kota itu.

Dalam sidang Panitia Perbaikan STI yang dibentuk pada bulan November 1947 memutuskan pendirian Universitas Islam Indonesia (UII) pada 10 Maret 1948 dengan empat fakultas: Agama, Hukum, Ekonomi, dan Pendidikan. Tanggal 20 Februari 1951, Perguruan Tinggi Islam Indonesia (PTII) yang berdiri di Surakarta pada 22 Januari 1950 bergabung dengan UII yang berkedudukan di Yogyakarta.

Dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 1960 tentang pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), maka PTAIN Yogyakarta dan ADIA Jakarta menjadi IAIN "Al-Jami'ah al-Islamiah al- Hukumiyah" dengan pusat di Yogyakarta. IAIN ini diresmikan tanggal 24 Agustus 1960 di Yogyakarta oleh Menteri Agama K. H. Wahib Wahab. Sejak tanggal 1 Juli 1965 nama "IAIN Al-Jami'ah" di Yogyakarta diganti menjadi "IAIN Sunan Kalijaga",nama salah seorang tokoh terkenal penyebar agama Islam di Indonesia.

Dalam perkembangannya selanjutnya, berdirilah cabang-cabang IAIN yang terpisah dari pusat. Hal ini didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 1963. Hingga akhir abad ke-20, telah ada 14 IAIN, dimana pendirian IAIN terakhir di Sumatera Utara pada tahun 1973 oleh Menteri Agama waktu itu, Prof. Dr. H. A. Mukti Ali.

Seperti telah diketahui, dalam perkembangannya telah berdiri cabang cabang IAIN untuk memberikan pelayanan pendidikan tinggi yang lebih luas terhadap masyarakat.Untuk mengatasi masalah manajerial IAIN, dilakukan rasionalisasi organisasi. Pada tahun 1977 sebanyak 40 fakultas cabang IAIN dilepas menjadi 36 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) yang berdiri  sendiri, di luar 14 IAIN yang ada, berdasaran Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1997.

Dengan berkembangnya fakultas dan jurusan pada IAIN di luar studi keislaman, status "institut" pun harus berubah menjadi "universitas", sehingga menjadi "Universitas Islam Negeri". IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan IAIN pertama yang berubah menjadi UIN, yakni UIN Syarif Hidayatullah. Dan dalam perkembangan selanjutnya IAIN Alauddin juga berubah menjadi UIN Alauddin.

  1. Gagasan mendirikan perguruan tinggi Islam

Gagasan dan seruan untuk mendirikan Sekolah Tinggi Islam didorong oleh munculnya kesadaran bahwa umat Islam Indonesia telah jauh ketinggalan dalam bidang pendidikan. Ide-ide dan gagasan mendirikan perguruan tinggi mulai bermunculan. Pada tahun 1938 Dr. Sukiman Wirjosandjojo, di Jawa Tengah pernah menyelenggarakan musyawarah antara beberapa ulama dan kaum cendekiawan untuk membicarakan usaha mendirikan perguruan tinggi Islam.

Kemudian, Dr. Sukiman, melakukan follow-up dari musyawarah tahun 1938 itu dengan menyampaikan ide mendirikan lembaga pendidikan tinggi Islam ke dalam forum Mu'tamar Majlis Islam A'la Indonesia (MIAI) tahun 1939. Maka, dari hasil mu'tamar ini kemudian didirikanlah Perguruan Tinggi Islam di Solo yang dimulai dari tingkat menengah atas dan diberi nama IMS (Islamische Midelbare School).

Tetapi, perguruan tinggi tersebut tidak bertahan lama, karena hanya dapat bertahan sampai pada tahun 1941 dan kemudian berhenti dan ditutup karena terjadi Perang Dunia II. Sekalipun, pada saat itu institusi tersebut didirikan tidak dimaksudkan untuk sementara, tetapi ternyata secara pelan-pelan instistusi-institusi tersebut dalam perkembangannya melemah dan sampai akhirnya terhenti sama sekali apabila dikaitkan dengan situasi dan kondisi politik yang berpengaruh pada saat itu. Perguruan Tinggi Islam yang didirikan itu dikatakan belum memiliki ruh atau jiwa persatuan, karena PTI yang ada dan berkembang sampai waktu itu umumnya didirikan oleh organisasi Islam setempat yang kegiatannya terpisah dari organisasi Islam lainnya, seperti PTI Muhammadiyah, PTI Santi Ashrama, dan lain sebagainya. Walaupun corak keterpisahan itu tidak pernah menimbulkan pertentangan antara satu dengan yang lainnya, tetapi jelas kekuatan pendukungnya tidak sekuat seandainya didirikan oleh berbagai organisasi Islam seperti STI yang didukung oleh sebagai lembaga Islam yang ada. Sedangkan perguruan tinggi yang sudah bercorak persatuan dari umat Islam adalah perguruan yang didirikan berdasarkan hasil mu'tamar MIAI di Solo, namun tidak bertahan lama, karena pada tahun 1941 terpaksa berhenti disebabkan oleh situasi politik, yaitu pecahnya Perang Dunia II.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kemunduran progresif kerajaan Usmani yang merupakan pemangku khilafah islam, setelah abad ketujuh belas telah melahirkan kebangitan islam dikalangan warga Arab dipinggiran imperium itu. Diantara gerakan- gerakan yang berkembang pada saat itu, muncullah gerakan Wahabi yang merupakan gerakan terpenting karena merupakan sarana yang menyiapkan gerakan jembatan ke arah pembaharuan islam pada abad ke-20 yang bersifat intelektual.

Tokoh- Tokoh Gerakan Modernisasi Islam diantaranya: Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1787), Syekh Waliyullah (1703-1762), Sutan Manmud II (1785-1839), Muhammad Ali Pasha (1765-1849), At- Tahtawi (1801-1873), Jamaluddin Al Afghani (1839-1897 M), Muhammad Abduh (1849-1905 M), Muhammad Rasyid Ridla (1865-1935M), Sayyid Ahmad Khan (1817-1898), dan Muhammad Iqbal. Pengaruh modernisasi di Indonesia dalam berbagai bidang pembaharuan dalam bidang aqidah bertujuan untuk memperbaharui pemanahaman ajaran islam. Dalam bidang politik bertujuan untuk membebaskan umat islam dari belenggu penjajah. Sedangkan dalam bidang pendidikan bertujuan untuk menciptakan pendidikan islam yang modern.

Daftar Pustaka

Abdullah, M. Amin. 1995. Falsafah Kalam di Era Posmodenis, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Dahlan Thaib dan Moh. Mahfud MD. 1984. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta:Liberty Offsit,.
Harun Nasution. 1975. Pembaharuan dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang. Esposito,John L. 2004 . Sains-Sains Islam. Jakarta: Inisiasi Press.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islaiyah II). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.2004

Incoming search terms:

  • gerakan modernisasi islam di indonesia
  • gerakan modernisme dan puritanisme islam di india
Category: MakalahTags:
author
No Response

Leave a reply "Gerakan Gerakan Modernisme Islam di Indonesia dan Gagasan Mendirikan Perguruan Tinggi Islam"