Seperti Apa Cara Mengenali Haid Didalam Islam

0 2

ARTI HAID MENURUT ISLAM

Hadis Riwayat - Menurut etimologi bahasa, asal makna haid itu adalah ‘mengalir’, tetapi yang dimaksudkan disini adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita dalam keadaan sehat, bukan disebabkan melahirkan ataupun luka.

Menurut kebanyakan ulama, waktu permulaan haid adalah mulai dari usia Sembilan tahun. Oleh sebab itu, jika ada wanita yang melihat darah keluar sebuelum sembilan tahun, maka ia tidak dinamakan darah haid, maka ia dinamakan darah penyakit. Haid itu bias berkepanjangan sepanjang umum dan tidak ada dalil yang menyatakan bahwa ia mempunyai batas waktu akhir. Jadi, jika seorang perempuan tua melihat darah keluar, maka itu adalah darah haid.

Darah haid mempunyai salah satu warna-warna berikut ini:
1.    Hitam, berdasarkan hadits Fathimah binti Abu Hubaisy, Ia sering mengeluarkan darah penyakit (istihadhah), maka Nabi saw bersabda kepadanya, “Warna darah haid adalah hitam. Jika terdapat darah yang   seperti itu, maka berhentilah mengerjakan shalat! Jika tidak demikian, maka berwudhulah dan shalatlah karena ia hanyalah darah penyakit.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Daruqutnhi yang katanya   “Semua perawinya dapat dipercaya.” Hakim mengatakan, “Ia berdasarkan syarat Muslim.”)
2.    Merah karena ini merupakan warna asli dari darah.
3.    Kuning, yakini yang tampak oleh wanita seperti nanah dengan warna kuning diatasnya.
4.    Keruh, yaitu pertengahan antara warna putih dengan hitam , seperti air yang kotor, berdasrkan hadits Alqamah bin Abu Alqamah yang diterima oleh ibunya Maryanah, yakini bekas hamba sahaya yang dibebaskan oleh Aisyah r.a.,

عن عائشة - رضي اللهُ عنها - أن النساء كُن يبعثن بالدرجة فيها الكُرسُفُ فيه الصفرةُ فتقُولُ لا تعجلن حتى ترين القصة البيضاء

Artinya: “Kaum wanita mengirimkan dirjah-dirjah kepada Aisyah berisikan kapas dengan sesuatu yang berwarna kuning. Aisyahpun mengatakan, ‘Jangan tergesa-gesa hingga kalian melihat kapas itu putih bersih.’” (HR Malik dan Muhammad Ibnu Hasan, sedangkan menurut Bukhari hadis ini adalah mu’allaq).
Akan tetapi, yang berwarna kuning atau keruh itu dikatakan haid, bila datang pada hari-hari haid. Jika pada saat-saat selain selain waktu turun haid, maka ia tidak dianggap darah haid, berdasarkan hadits Ummu Athiyah r.a. yang brkata,

رواه البخاري وأبو داود, كنا لا نعد الصفرة والكدرة بعد الطهر شيئاً

Artinya: “kami tidak menganggap warna kuning atau keruh itu sebagai darah haid setelah suci (HR Abu Dawud dan Bukhari)

Batas maksimum atau minimum haid itu tidak dapat dipastikan dengan jelas. Disamping itu, tidak ada keterangan yang dapat dijadikan alasan tentang penentuan batas lamanya itu. Akan tetapi, bila seorang wanita telah mempunyai kebiasaan yang telah berulang-ulang, maka ia boleh membuat standar waktu berdasarkan kebiasaannya itu. Hal ini berpedoman kepada haits Ummu Salamah r.a.,

أنَّهَا اسْتَفْتَتَ رَسُولُ اللهُ ص.م فى امرَاةٍ تهراق الدم فقال:لتنظر قدر الليالي والايام التي كانت تحيضهن وقدرهن من الشهر,فتدع الصلاة ثم التغتسل والتستثفر ثم تصلي "رواه الخمسه الترمذي

Artinya: Bahwa ia minta fatwa kepada Rasulullah saw mengenai seorang wanita yang selalu mengeluarkan darah. Maka Nabi bersabda: “Hendaklah ia memperhatikan bilangan malam dan siang yang dilaluinya dalam haid, begitu pun letak hari-hari itu dari setiap bulan, lalu menghentikan shalat pada waktu-waktu tersebut. Kemudian hendaklah ia menyumbat kemaluannya dengan kain, lalu kerjakanlah shalat!” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa'i, dan Ibnu Majah, Kecuali Tirmidzi)

Jika perempuan tersebut belum mempunyai kebiasaan yang tetap, hendaklah ia memperhaikan tanda-tanda darah berdasarkan hadits Fathimah r.a. binti Abu Hubaisy diatas, diamana terdapat sabda Nabi saw, “Jika darah itu adalah darah haid, maka warnanya hitam dan pasti dapat diketahui.” Jadi, hadits ini menyatakan bahwa darah haid itu berbeda dari darah-darah lainnya dan telah diketahui oleh kalangan kaum wanita.

Para ulama sependapat bahwa tidak ada waktu suci yang maksimal antara dua waktu haid. Tetapi para ulama berbeda pendapat mengenai waktu minimalnya; Ada yang menegaskan sebanyak 15 hari dan ada pula yang mengatakan 13 hari. Walau bagaimanapun, pendapat yang benar ialah tidak ditemukan dalil yang dapat dijadikan sebagai alasan untuk menetapkan jangka waktu minimalnya.

Category: Fiqih SunnahTags:
author
No Response

Leave a reply "Seperti Apa Cara Mengenali Haid Didalam Islam"