Abbas Bin Abdul Muthalib, Penasehat Kaum Muslimin

Abbas Bin Abdul Muthalib

Ia adalah paman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam, salah seorang yang paling akrab dihatinya dan yang paling dicintainya. Karena itu, beliau senantiasa berkata menegaskan, "Abbas Bin Abdul Muthalib adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas Bin Abdul Muthalib sama dengan menyakitiku.

Di zaman Jahiliah, ia mengurus kemakmuran Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Seperti halnya ia akrab di hati Rasulullah, Rasulullah pun dekat sekali di hatinya. Ia pernah menjadi pembantu dan penasihat utamanya dalam bai'at al-Aqabah menghadapi kaum Anshar dari Madinah. Menurut sejarah, ia dilahirkan tiga tahun sebelum kedatangan pasukan Gajah yang hendak menghancurkan Baitullah di Makkah. Ibunya, Natilah binti Khabbab bin Kulaib, adalah seorang wanita Arab pertama yang mengenakan kelambu sutra pada Baitullah Al-Haram.

Abbas Bin Abdul Muthalib

Abbas Bin Abdul Muthalib

Pada waktu Abbas Bin Abdul Muthalib masih anak-anak, ia pernah hilang. Sang ibu lalu bernazar, kalau puteranya itu ditemukan, .ia akan mengenakan kelambu sutra pada Baitullah. Tak lama antaranya, Abbas Bin Abdul Muthalib ditemukan, maka ia pun menepati nadzarnya itu.

Istrinya terkenal dengan panggilan Ummul Fadhal (ibunya Si Fadhal) karena anak sulungnya bernama Al-Fadhal. Wajahnya tampan. Ia duduk dibelakang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau menunaikan haji wada'nya. Ia meninggal dunia di Syam karena bencana penyakit amuas. Anak-anaknya yang lain sebagai berikut; yaitu anak kedua, Abdullah, seorang ahli agama yang mendapat doa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam, meninggal di Thaif. Ketiga, Qutsam, wajahnya mirip benar dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. la pergi berjihad ke negeri Khurasan dan meninggal dunia di Samarkand. Keempat, Ma'bad, mati syahid di Afrika. Abdullah (bukan Abdullah yang pertama), orangnya baik, kaya, dan murah hati meninggal dunia di Madinah. Kelima, Puterinya, Ummu Habibah, tidak banyak dibicarakan dalam sejarah.

Keterangan kedua ini dikuatkan oleh keterangan Abu Rafi', pembantu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Pada waktu itu, ketika aku masih kanak-kanak, aku menjadi pembantu di rumah Abbas bin Abdul Muththalib. Ternyata, pada waktu itu, Islam sudah masuk ke dalam rumah tangganya. Baik Abbas maupun Ummul Fadhal, kedua- nya sudah masuk Islam. Akan tetapi, Abbas takut kaumnya mengetahui dan terpecah-belah, lalu ia menyembunyikan keislamannya."

la selalu menemani Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Ka'bah. Ka'ab bin Malik mengutarakan, "Kami (saya dan al-Barra' bin Ma'rur) mencari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kami tidak tahu dan tidak mengenal Rasulullah sebelumnya. Kami bertemu dengan seorang penduduk kota Mekkah. Kami tanyakan di mana kami bisa menemui Rasulullah. la balik bertanya, 'Apakah kalian berdua mengenalnya?' Kami menjawab, 'Tidak!'. la lalu bertanya, 'Kalian mengenal Abbas bin Abdul Muththalib, pamannya?'
Kami menjawab, 'Ya!' Memang kami sudah mengenalnya karena ia sering datang ke negeri kami membawa dagangan.
Orang tadi lalu berkata, "Kalau kalian masuk ke Masjidil Haram, orang yang duduk di sebelah Abbas itulah orang yang kalian cari!"
Kemudian, kami masuk ke Masjidil Haram. Ternyata, kami menemukan Abbas Bin Abdul Muthalib duduk di sana dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk di sebelahnya."

Abbas Bin Abdul Muthalib, Penasehat Kaum Muslimin

Abbas Radhiyallahu Anhu mempunyai peran penting yang tidak bisa 1 diabaikan dalam baiat Al-Aqabah. la orang pertama yang berpidato dalam majelis itu. la berkata, "Wahai kaum Khazraj, (pada masa itu, suku Al-Aus dan Al-Khazraj dipanggil dengan Al-Khazraj saja) kalian seperti yang saya ketahui telah mengundang datang Muhammad. Ketahuilah bahwa Muhammad itu orang yang paling mulia di tengah-tengah famili-nya. la dibela oleh orang orang yang sepaham dan orang-orang yang tidak sepaham dengan pikirannya, demi memelihara nama baik keluarga. Muhammad sudah menolak tawaran orang lain selain kalian. Kalau kalian memiliki kekuatan, ketabahan, dan pengertian tentang ilmu peperangan, mempunyai kekuatan menghadapi persekutuan dan permusuhan seluruh bangsa Arab, karena mereka akan menyerang kalian dengan satu busur dan satu anak panah, maka camkanlah baik-baik terlebih dahulu, musyawarakanlah antara kalian dengan mufakat dan kebulatan tekad dalam majelis ini karena sebaik-baik bicara itu ialah yang jujur.

Kata-kata itu menunjukkan pengetahuannya yang luas dan pemikiran yang cerdas tentang berbagai persoalan. la ingin mengenali hakikat kaum Anshar dan membangkitkan kesiapsiagaan mereka. la lalu berkata lagi, "Cobalah kalian ceritakan kepadaku bagaimana kalian berperang menghadapi musuh?"

Abdullah bin Amru bin Haram bangkit memberikan jawaban, "Percayalah bahwa kami adalah ahli perang. Kami memperoleh keahlian itu berkat kebiasaan dan latihan kami dan berkat warisan nenek moyang kami. Kami lepaskan anak panah sampai habis, lalu kami mainkan tombak sampai patah, kemudian kami menyerang dengan pedang, berperang tanding hingga tewas atau menewaskan musuh kami."

Cerahlah wajah Abbas mendengarkan keterangan mereka itu dan amanlah rasanya untuk menyerahkan keponakannya itu, seorang yang paling dekat di hatinya. Seperti ada yang ia lupakan, ia berkata lagi, "Kalian mengatakan ahli peperangan. Apakah kalian mempunyai baju besi?" "Ya, lengkap," jawab mereka.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian membaiat mereka dan Abbas mengambil tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengukuhkan baiat itu.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berhijrah ke Yatsrib sedangkan Abbas tinggal di Makkah, mendengarkan berita Rasulullah dari kaum Muhajirin, dan mengirimkan berita-berita tentang kaum Quraisy, hingga berkecamuknya Perang Badar. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tahu bahwa Abbas dan keluarganya dipaksa keluar berperang oleh Quraisy sedangkan mereka tidak berdaya mengelak.

Rasulullah bersabda,

"Aku tahu ada orang-orang dari Bani Hasyim dan lain-lain yang terpaksa keluar. Mereka tidak mempunyai kepentingan untuk memerangi kami. Siapa di antara kalian yang menjumpai mereka, orang-orang dari Bani Hasyim, janganlah dibunuh; siapa yang menjumpai Abbas bin AbdulMuththalib, paman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, janganlah di bunuh karena ia keluar berperang karena terpaksa. "

Keterangan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa Sallam itu tersebar luas di kalangan orang yang pergi ke Badar. Kaum mukminin menerima baik perintahnya itu. Kecuali Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah, yang berkata dengan lantang, "Kami akan membunuh bapak kami, anak-anak kami, saudara-saudara dan keluarga kami, lalu apakah kami akan membiarkan Abbas? Demi Allah, kalau saya menjumpainya, saya akan memancungnya dengan pedangku ini!

Kata-katanya itu terdengar oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka beliau berkata kepada Umar bin Khaththab, "Ya Aba Hafsah, ada juga orangyang mau menghantam wajah paman Rasullullah dengan pedangnya!"
"Biarkanlah, ya Rasulullah, aku penggal leher Abu Hudzaifah itu dengan pedangku ini. Demi Allah, dia itu seorang munafik," jawab Umar.

Akan tetapi, Rasulullah melarang Umar bertindak membunuh kawan-kawannya yang bersalah. Beliau membiarkan mereka bertobat dan menebus dosanya masing-amsing. Ternyata, Abu hudzaifah sangat menyesali kata-katanya itu dan senantiasa mengulang-ulang perkataannya, "Demi Allah, rasanya hatiku tidak aman atas kata-kata yang pernah saya ucapkan dahulu dan aku senantiasa dikejar-kejar rasa takut olehnya, sebelum Allah memberikan tebusan kepadaku dengan syahadah!" Ternyata, harapannya itu Allah penuhi, ia meninggal dunia sebagai syahid dalam Perang Yamamah.

Pada suatu hari, Abbas pergi berhijrah ke Madinah bersama Naufal ibnul Harits. Ahli sejarah berbeda pendapat tentang tarikh hijrahnya, namun mereka sependapat bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, telah memberikan sebidang tanah kepadanya yang berdekatan dengan tempat kediamannya.

Di Madinah terjadi pertengkaran antara seseorang dengan Abbas, yang berakar sejak zaman Jahiliah, di mana orang itu memaki-maki ayah Abbas. Gangguan orang itu terhadap Abbas dilakukan secara berulang-ulang sehingga menyakitkan hatinya, lalu ia ditamparnya. Kabilah orang itu tidak senang hati, mereka siap-siap akan menuntut balas. Mereka berkata, "Demi Allah, kami akan menamparnya seperti ia menampar saudara kami!"

Ancaman mereka itu terdengar oleh Rasulullah ShaffallahuAlaihiwa Sallam, lalu beliau mengumpulkan kaum muslimin dan naik ke atas mimbar, seraya memanjatkan puja dan puji kepada Allah Subhanahu wa Ta 'ala dan bersabda,

"Wahai para hadirin, tahukah kalian, siapa orang yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu Wa ta 'ala?"
"Kamu, ya Rasulullah!" jawab hadirin
"Tahukah kalian bahwa Abbas itu dariku dan aku darinya? Janganlah kalian mengumpat orang-orang yang sudah mati, jangan sampai menyakiti kita yang masih hidup."

Kabilah orang itu datang menghadap Rasulullah seraya berkata,
"Ya Rasulullah, kami mohon perlindungan Allah dari kegusaranmu, maafkanlah dosa kami, ya Rasulullah."
Pernyataan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut menguatkan keterangan Abu Majas Radhiyallahu Anhu. tentang sabdanya,
"Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakitinya sama dengan menyakitiku."

Pada suatu hari, Abbas datang menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan memohon dengan penuh harap, 'Ya Rasulullah, apakah kamu tidak suka mengangkat aku menjadi pejabat.pemerintahan?"

Berdasarkan pengalaman, ia seorang yang berpikiran cerdik, berpengetahuan luas, dan mengetahui liku-liku jiwa orang, namun Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam tidak ingin mengangkat pamannya menjadi kepala pemerintahan; ia tidak ingin pamannya dibebani tugas pemerintahan. la menjawab harapan pamannya itu dengan manis dan penuh pengertian, "Wahai paman Nabi, menyelamatkan sebuah jiwa lebih baik daripada menghitung-hitung jabatan pemerintahan."

Ternyata Abbas menerima dengan senang hati pendapat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tetapi malah Ali bin AbiThalib Radhiyallahu Anhu yang kurang puas. la lalu berkata kepada Abbas, "Kalau kau ditolak menjadi pejabat pemerintahan, mintalah diangkat menjadi pejabat pemungut sedekah!"

Sekali lagi Abbas menghadap Rasulullah ShallaIlahuAlaihi wa Sallam untuk meminta seperti yang dianjurkan Ali bin Abi Thalib itu, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya,

"Wahai pamanku, tak mungkin aku mengangkatmu mengurusi cucian (kotoran) dosa orang.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.seorang yang paling akrab dan paling kasih kepadanya, tidak mau mengangkatnya menjadi pejabat pemerintahan atau pengurus sedekah, bahkan ia tidak diberi kesempatan dan harapan mengurusi soal-soal yang bersifat duniawi, tetapi menekannya supaya lebih menekuni soal-soal ukhrawi.

Untuk yang ketiga kalinya, pamannya itu datang menghadapnya dan berharap dengan penuh kerendahan hati, "Aku ini pamanmu, usiaku sudah lanjut, dan ajalku sudah hampir tiba. Ajarilah aku sesuatu yang kiranya berguna bagiku di sisi Allah!"Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam menjawab, "Ya Abbas, kamu pamanku dan aku tidak berdaya sedikitpun dalam masalah yang berkenaan dengan Allah, tetapi mohonlah selalu kepada Tuhanmu ampunan dan kesehatan!"

Sesudah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunaikan risalah Allah Subhanahu wa Ta 'ala dengan baik, manyampaikan agama- Nya yang lengkap kepada para pewarisnya, maka ia kembali ke rahma- tullah dengan tenang. Ternyata Abbas orang yang paling merasa kesepian atas kepergiannya itu.

Abbas hidup terhormat di bawah pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian menyusul pemerintahan Umar bin Khatthab Radhiyaffahu Anhu.

Tiap kali Khalifah hendak ke masjid ia seialu harus melewati rumah Abbas. Di atas rumahnya itu terdapat sebuah pancuran air. Pada suatu hari, ketika Khalifah Umar pergi ke masjid dengan pakaian rapi hendak menghadiri shalat jamaah, tiba-tiba pancuran air itu menum- pahkan airnya dan mengenai pakaian Umar. la kembali pulang untuk mengganti pakaian dan memerintahkan supaya pancuran itu dicabut. Sesudah beliau shalat, datanglah Abbas seraya berkata, "Demi Allah, pancuran itu diletakkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. "

Khalifah Umar menjawab, "Aku mohon kepadamu supaya kamu memasang kembali pancuran itu di tempat yang diletakkan oleh Rasulullah Shaffallahu Alaihi wa Sallam dengan menaiki pundakku."

Abbas menerima baik harapan Umar untuk memperbaiki kesalahannya itu.Abbas tidak marah, tidak pendendam di dalam hati, tetapi ia mengingatkan Umar bahwa yang meletakkan pancuran itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hati Umar yang terkenal keras dan kuat tiba-tiba bergetar ketakutan, bagaimana ia memerintahkan mencabut apa yang dipasang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. la rela menebus kesalahannya dengan menyuruh Abbas menaiki pundaknya untuk mengembalikan pancuran air itu ketempatnya semula. Setelah itu, ia memberikan penghargaan kepada paman Rasulullah Shallallahu Akihi wa Sallam itu.

Masjid Nabawi di Madinah kian hari kian padat karena bilangan kaum muslimin dari hari ke hari makin bertambah dengan pesatnya. Khalifah Umar berpikir akan memperluasnya dengan membeli rumah-rumah yang ada di sekitar masjid itu. Semua bangunan yang ada disekitarnya sudah dibeli kecuali rumah Abbas bin Abdul Muththalib. Apakah mungkin ia menyumbangkan harganya kelak di Baitulmal ataukah ia akan menerima harga ganti ruginya?.

Khalifah Umar datang menemuinya seraya berkata, "Ya Abal Fadhal, kamu lihat, masjid sudah sempit sekali karena banyaknya orang shalat di dalamnya. Aku sudah memerintahkan untuk membeli tanah dan bangunan yang ada disekitamya untuk memperbesar bangunan masjid, kecuali rumahmu dan kamar-kamar UmmahatulMu'minin yang belum. Kalau kamar-kamar Ummahatul Mu'minin rasanya tidak mungkin kami membeli dan membongkarnya, tapi rumahmu jual-lah kepada kami berapa pun yang kamu kehendaki dari Baitulmal supaya bisa meluaskan bangunan masjid." Abbas menjawab, "Aku tidak mau."

Umar berkata; "Pilihlah satu diantara tiga: kamu menjual berapa pun yang kamu kehendaki dari Baitulmal, atau aku akan menggantinya dengan bangunan Iain yang akan aku bangunkan untukmu dari Baitulmal di daerah manapun di Madinah yang kamu kehendaki, atau kamu berikan sebagai sedekah kepada muslimin untuk meluaskan masjid mereka."

Abbas berkeras, "Aku tidak mau terima semuanya."
Umar berharap, "Angkatlah seorang penengah antara kami berdua kalau kamu mau."
Abbas menjawab, "Aku setuju mengangkat Ubai bin Ka'ab."

Keduanya menemui Ubai bin Ka'ab, lalu kepadanya diceritakan segala sesuatunya dan dimintai pendapatnya. Ubai berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Allah Subhanahu wa Ta 'ala pernah mewahyukan kepada Nabi Daud, 'Bangunlah untuk-Ku sebuah rumah tempat orang-orang menyebut nama-Ku di sana.' Nabi Daud lalu merencanakan pembangunannya di Baitul Maqdis. Dalam perencanaan itu, lokasi pembangunan mengenai rumah seorang Bani Israel, Nabi Daud menawarkan kepada orang itu untuk menjual rumahnya, tapi ia menolak. Tiba-tiba terpikir dalam benak Nabi Daud untuk mengambilnya dengan paksa. Allah Subhanahu wa Ta 'ala lalu mewahyukan kepadanya.

"Hai Daud, aku menyuruhmu membangun untuk-Ku sebuah rumah tempat orang menyebut nama-Ku, sedangkan pemaksaan itu bukan watakKu. Karena itu, sebagai sanksinya, kau tidak usah memba- ngunnya!' Nabi
Daud menjawab, 'Ya Allah, aku lakukan pada anakku!' Allah berfirman lagi, 'Siapa anakmu?"

Khalifah Umar tidak bisa lagi menahan marahnya, lalu ia menyambar baju Ubai bin Ka'ab dan menggiringnya ke masjid seraya berkata, "Aku mengharapkan dukunganmu, malah kau menyudutkan aku. Kau harus membuktikan keteranganmu di hadapan kaum muslimin!"

Ia membawanya ke tengah-tengah halaqah yang diselenggarakan sahabat Rasulullah di masjid Nabawi, dimana antara lain terdapat Abu Dzar Radhiyallahu Anhu. Umar lalu berkata kepada para hadirin, "Saya mengharap dengan nama Allah, adakah diantara kalian yang mendengarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berbicara tentang Baitul Maqdis, ketika Allah memerintahkan Nabi Daud untuk mendirikan masjid tempat orang menyebut-nyebut namaNya?"

Abu Dzar Radhiyallahu Anhu menjawab "Ya, saya mendengar! Disambut oleh yang lain, "Ya, saya juga mendengar!" Dari sudut sana ada pula yang menyambung, "Saya juga mendengar!"

Khalifah Umar Radhiyallahu Anhu lalu berkata kepada Abbas Radhiyallahu Anhu, "pergilah! Aku tidak akan menuntutmu membongkar rumahmu."

Abbas Radhiyallahu Anhu berkata, "Kalau demikian sikapmu maka aku menyatakan bahwa rumahku kusedekahkan untuk kepentingan kaum muslimin. Silahkan perluas masjid mereka. Akan tetapi, kalau kau akan mengambilnya dengan tekanan dan pemaksaan, aku tidak akan mengalah."

Memang Khalifah Umar Radhiyallahu Anhu bertindak setengah memaksa karena proyek itu menyangkut kepentingan kaum muslimin dan dianggap tidak bertentangan dengan hukum Allah. Akan tetapi, apabila ada nash jelas maka tidak berlaku ijtihadnya. la harus tunduk dan menerima baik syariat Allah dan RasulNya. Sesudah Abbas melihat ketundukan Khalifah Umar kepada hukum dan perundang-undangan, ia tidak lagi mengandalkan kekuasaannya selaku kepala pemerintahan atau akan merampas haknya yang dijamin oleh undang-undang dan dilindungi oleh Islam, tetapi ia benar-benar berjuang demi kesejahteraan kaum muslimin, maka ia pun memutuskan untuk menyerahkan rumahnya itu sebagai hibah dan sedekah untuk meluaskan masjid kaum muslimin..

Demikian tokoh-tokoh model "madrasah Rasulullah" dan "madrasah Al-Qur'anul Karim" Radhiyallahu Anhum Aima 'in. Mereka angkatan kaum . muslimin yang pertama, yang telah membawa panji Islam ke seluruh jagat raya ini, membangkitkan peradaban umat manusia, yang mengajar dan mendidik manusia maju serta mengenali peradaban antara agama kebenaran dan kebatilan.

Pada suatu hari dalam pemerintahan Khalifah Umar, terjadilah paceklik hebat dan kemarau ganas. Orang-orang berdatangan kepada Khalifah untuk mengadukan kesulitan dan kelaparan yang melanda daerahnya masing-masing. Umar menganjurkan kepada kaum muslimin yang mampu supaya mengulurkan tangan membantu saudara-saudaranya yang ditimpa kekurangan dan kelaparan itu. Kepada para penguasa di daerah diperintahkan supaya mengirimkan kelebihan daerahnya ke pusat. Ka'ab masuk menemui Khalifah Umar seraya mengutarakan, "Ya AmirulMu'minin, biasanya Bani Israel kalau menghadapi bencana semacam ini, mereka meminta hujan kepada Allah dengan keluarga para nabi mereka."

Umar bekata, "Ini dia paman Rasulullah Shallallahu Akihi wa Sallam dan saudara kandung ayahnya. Lagi pula, ia pimpinan bani Hasyim."

Khalifah Umar pergi kepada Abbas dan menceritakan kesulitan besar yang dialami umat akibat kemarau panjang dan paceklik itu, kemudian, ia naik mimbar bersama Abbas seraya berdoa, "Ya Allah, kami menghadapkan diri kepada-Mu bersama dengan paman Nabi kami saudara kandung dan ayahnya, maka turunkanlah hujan-Mu danjangan biarkan kami sampai putus asa!"

Abbas lalu meneruskan, memulai doanya dengan puja dan puji kepada Allah Subhanahu wa Ta 'ah, "Ya Allah, Kamu yang mempunyai awan dan Kamu pula yang mempunyai air. Sebarkanlah awan-Mu dan turunkanlah air-Mu kepada kami. Hidupkanlah semua tumbuh-tumbuhan dan suburkanlah semua. Ya Allah, Kamu tidak mungkin menurunkan bencana kecuali karena dosa dan Kamu tidak akan mengangkat bencana kecuali karena tobat. Kini, umat ini sudah menghadapkan dirinya kepada-Mu maka tunonkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, kami memohon belas kasihMu atas nama diri kami dan keluarga kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama makhluk-Mu yang tidak bicara, atas nama hewan temak kami. Ya Allah, hujanilah kami dengan hujan keselamatan yang berdaya guna. Ya Allah, kami mengadukan semua bencana orang yang menderita kelaparan, telanjang, ketakutan, dan semua orang yang menderita kelemahan. Ya Allah selamatkan mereka dengan hujan-Mu sebelum mereka berputus asa dan celaka. Sesungguhnya, tidak akan ada orang yang berputus asa dari rahmat karunia-Mu kecuali orang-orang yang kafir. "

Ternyata doanya itu langsung diterima dan disambut Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hujan lebat turun dan tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan suburnya. Orang-orang bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta 'ala dan mengucapkan selamat kepada Abbas, "Selamat kepadamu, wahai Saqil Haramain, yang mengurusi minuman orang di Makkah dan Madinah."

Abbas hidup terhormat, baik oleh kaum muslimin maupun oleh para Khulafaur Rasyidin. Kalau ia berjalan dan berpapasan dengan Umar atau Utsman yang sedang berkendaraan, keduanya turun dari kendaraannya, seraya berkata, "Paman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam!"

Sudah menjadi sunnatullah, setiap permulaan ada penghabisannya, setiap perjalanan ada perhentiannya, demikian pula dengan Abbas Radhiyaffahu Anhu, perjalanan hidupnya terhenti dan kembali ke rahmatullah menyusul keponakannya Shallallahu Alaihi wa Sallam dan rekan-rekannya yang lain, pada hari Jumat tanggal 12 Rajab 32 Hijrah, dalam usia 82 tahun, dan dikebumikan di Al-Baqi' di Madinah, Rahimullah wa Radhiyaffahu Anhu.

Incoming search terms:

  • berapa hadits yang di hafal abbas bin abdul muthalib
Category: Kumpulan KisahTags:
author
No Response

Leave a reply "Abbas Bin Abdul Muthalib, Penasehat Kaum Muslimin"